
Hay hay, ketemu lagi sama Author Ngeselin 😁😁. Oh ya beberapa waktu yang ngeDM aku lewat instagram bertanya seperti ini :
Dan ada juga sih yang berkomentar “Sebenernya kota-kota dalam novel ini, tuh, ada di Indonesia gak sih? Setting tempatnya di mana sih? Nama kota-kotanya aneh.”
Hahahah nggak apa-apa sih, pasti kalian juga pernah penasaran tentang nama kota-kota ini.
Author Ngeselin mau bahas satu-satu dulu ya, hehhehe😂
Kota Zen.
Kota Fiksi ini bisa disebut kota metropolitan yang di mana semua sektor bisnis dan pemerintahan jadi satu. Kota ini ya agak mirip-mirip sih kek Jakarta, tapi tetap beda. Wkwkwk. Jarak tempuh dari Kota Milepolis menuju kota Zen adalah lima jam perjalanan.
Kota Zen mayoritas penduduknya adalah kalangan kelas menengah ke atas yang gaya hidup yang bisa dikatakan hedon. Eitsss gak semua penduduknya juga hedon ya! Di kota Zen warga sipil di-legalkan untuk memiliki senjata api atau senjata tajam. Itupun diperoleh dengan surat hukum yang sah, dan bisa dicabut kapanpun jika si pemiliknya melakukan tindakan pembunuhan yang nggak berdasar. Seperti kasus Anneline yang hak pemegang senjatanya dicabut sementara oleh Tuan Fernando karena kedapatan menyiksa Kinanti. Jadi dia tidak diperbolehkan membawa pistol apalagi katana (pedang khas Jepang yang bentuknya sedikit melengkung).
__ADS_1
Di Kota Zen, isteri petinggi perusahaan atau minimal perempuan yang akan dinikahi oleh pemilik perusahaan di wajibkan setidaknya memiliki ilmu bela diri atau cara menggunakan senjata dengan benar. Ini bukan tanpa maksud dan tujuan ya ....😁
Aturan ini dibuat agar isteri-isteri bisa memiliki kemampuan agar bertahan dan menyerang, walaupun memiliki bodyguard. Di Kota Zen hal membunuh bisa dihapuskan jika si pembunuh memiliki banyak uang. Tinggal kasih amplop, bersihkan area pembunuhan, maka polisi tidak akan mengungkit masalah ini.
Tuh kan ... hidup di Kota Zen ngeri-ngeri sedap. Anneline yang cantik gitu aja ke mana-mana bawa pistol. Kinanti yang berstatus pacar saja sudah memiliki kemampuan bela diri, walaupun belum menguasai penuh, hanya dasar-dasarnya saja.
Sekarang menuju Kota Milepolis. Kota yang ayem tentram.
Kota Milepolis ini juga fiksi buatan Author Ngesein ya, wkkwkwk! Kota ini bisa disebut ayem tentram karena ya ... emang belum banyak polusi. Di kota itu perusahaan yang berdiri hanya milih Ray Wijaya, itupun jaraknya sangat jauh dari pemukiman penduduk.
Kota Milepolis ini memang tidak seramai Kota Zen, tapi transportasi di kota ini lebih baik dari kota sekitarnya. Maka tak jarang penduduk di Kota Milepolis hanya sedikit yang memiliki kendaraan pribadi beroda empat, karena semua transportasi sudah terhubung dengan baik di kota ini.
Di Kota Milepolis juga ada loh kawasan elite yang hanya boleh ditinggali oleh penjabatp pemerintahan atau orang kaya yang mampu membeli tanah di tempat itu. Rayhan Wijaya salah satunya.
Kalau Ilham dan Farah memang bertempat tinggal di perumahan Puri Shita yang di mana isinya hanya orang-orang yang bekerja di kantor-kantor ataupun pemilik cafe seperti Ilham. ya bisa dibilang sepi-lah, jarang ada tetangga yang keluar sekedar main atau sebagainya.
__ADS_1
Sekarang bergeser yuk ke Kota Numa.
Kota Numa ini kota fiksi juga yang mungkin jadi impian semua orang. Jadi di kota ini emang gak terlalu luas, tapi selalu jadi kota yang sangat keren karena tingkat literasi di kota ini tinggi sekali. Bahkan setiap sudut pasti ada rak buku yang bisa dibaca kapanpun untuk menunggu kereta, bus atau trasnportasi online lainnya. Eitsss, jangan salah walaupun banyak buku yang ada di rak, penduduk sana tidak akan membawa pulang buku itu. Karena seorang yang memiliki literasi tinggi gak akan mencuri. 🤩🤩
Di kota Numa, ada suatu wisata ikonik banget yang bisa di kunjungi di episode yang akan datang. Wisatanya adalah hutan buatan. Widihhhh kerennn....😍
Yups, hutan buatan ini lokasinya berdekatan dengan toko buku milik Ray yang sebenernya diperuntukan untuk Anneline. Sayang banget Anneline gak tahu hal ini, malah Farah yang pernah mengunjunginya saat dia mencari Ilham di Kota Numa.
Di kota ini aset-aset Rayhan sangat banyak, tidak hanya toko buku itu melainkan rumah yang tak kalah besar dengan miliknya di Kota Milepolis. Ilham juga memiliki cafe yang baru buka di kota Numa, jangan lupa mampir ya. Buat pembaca gratis kok wkwkwkkwkw di novel fiksi.🤣🤣🤣
Hmmmm sepertinya sudah semua,
Mungkin ini dulu deh penjelasan dari Author Ngeselin ini. bentar aku ingat-ingat dulu mana lagi yang belum aku jelaskan.
Oh ya, kota di mana Farah, Balqis dan Jihan berasal. Aku belum nemu nama yang tepat untuk kota ini. Mungkin tidak akan ada namanya, ya karena jarang sekali setting cerita di tempat itu. mungkin jika temen-temen ada saran bisa komen di bawah ya
__ADS_1
Terima kasih, jika ada pertanyaan bisa langsung chat Author Ngeselin ini atau DM di instagram aku @ilamyharsa.
Sekian.