Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 187


__ADS_3

Episode 187: Sebatas Teman


“Hari ini berjalan sesuai kehendak,” ucap Frans sambil menyerahkan satu cup kopi kepada Ilham.


Ilham menerima kopi itu dan menyeruputnya perlahan. Lidahnya bereaksi dan mengirim signyal kepada otak jika rasa cairan hitam ini sangat nikmat. “Terima kasih, Frans.”


Frans melambaikan tanganya. Ia berjalan menuju stand kopi miliknya. Ilham hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia patut mengapresiasi pria berambut ikal yang penuh kejutan dan sedikit rasa gila.


Dering ponsel Ilham berbunyi, sebuah tanda pesan singkat masuk. Ilham merogoh saku celananya mengambil benda kotak itu. Jarinya lihai mengetuk layar ponselnya.


“Ternyata istriku sudah rindu, padahal baru ditinggal sebentar.” Ilham berjalan sambil membalas pesan itu. Ia harus menemui istrinya dengan segera.


“Ilham!”


Ilham berhenti, telinganya tak salah mendengar. Namanya dipanggil oleh seseorang. “Suara ini, suara yang telah lama tak terdengar.”


Tiba-tiba dadanya berdebar. Ia masih tak berani untuk membalikan badan. Kakinya terasa lemas. Suara itu berdengung hingga kepalanya terasa berat.


Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang hingga kopi cup yang ia bawa jatuh ke tanah berumput kering.


“Aku rindu! Aku rindu denganmu Ilham.”


Aku yakin ini buka aroma parfum Farah. Suara ini bukan milik istriku. Seketika Ilham melepaskan pelukan itu dan sedikit mendorong orang yang memeluknya dari belakang.


“Benar, kau Ilham! Ilham-ku.” Perempuan memakai dress berwarna soft blue itu menatap Ilham dengan mata yang berkaca-kaca. Ada buliran air mata yang siap meluncur deras, mengalir di pipinya.


Ilham membeliak. Ia perlu beberapa detik untuk mengingat seseorang yang baru saja memeluknya. “Ann ....” suaranya tercekat. Ia kesulitan bernapas.


“Iya, aku Ann! Anneline-mu. Kau masih mengingatku?” Anneline menyeka air matanya dan langsung memeluk Ilham untuk kedua kalinya.


****


“Ah!” Farah berseru.


Kinanti panik ketika mendengar erangan Farah. Ia meletakkan sendoknya. “Kamu kenapa?”


Farah merasakan nyeri yang menjalar di dada kirinya. Tangannya langsung memegang bagian yang sakit itu. “Enggak, aku enggak apa-apa.”


“Benar tidak ada apa-apa?” Kinanti memastikan.

__ADS_1


Farah mengangguk. Tangan kanannya masih memegang dada kirinya. Nyeri yang dirasakan saat ini seperti tersetrum aliran listrik secara tiba-tiba, dan tak lama rasa itu hilang lalu muncul kembali sampai berkali-kali. Ada apa? Kenapa aku merasa gelisah.


Farah mengecek kembali ponselnya yang tergeletak di meja. Ia mengecek pesan yang sudah terkirim kepada Ilham. “Mas Ilham sudah membaca pesanku, kenapa tak kunjung dibalas?” Farah mendesah lirih.


“Ada masalah?” Kinanti menyelidik. Sedari tadi ia memperhatikan Farah yang gelisah mengecek ponselnya hampir setiap waktu.


“Aku menunggu Mas Ilham. Aku sudah mengirim pesan ke Mas Ilham untuk ikut bergabung,” jawab Farah.


“Mungkin masih sibuk.” Kinanti hanya menimpali dengan kemungkinan yang baik.


Farah hanya mengangguk. Ia kembali pada makananya dengan rasa tidak berselera. Dada kirinya sesekali masih terasa nyeri. Aku harap semuanya baik-baik saja.


Tiba-tiba seorang pelayan menumpahkan nampan berisi tiga gelas es teh kepada Farah. Ia terlihat pucat hingga tak berkonsentrasi untuk membawa minuman ini.


“Ya ampun!” Kinanti bangkit. Bahkan banyak pengunjung yang langusng terdiam saat peristiwa itu terjadi.


Farah terkejut bukan main. Sebagian kerudung dan gamisnya basah. Ia merasa mandi dengan air sedingin es. Ia juga menjadi pusat perhatian walaupun hanya sesaat.


“Maaf, maaf! Saya minta maaf atas kesalahan saya,” ucap pelayan itu. Terlihat sekali ia merasa bersalah karena tidak berkonsetrasi. Sampai-sampai pemilik booth makanan itu harus meminta maaf atas kesalahan pelayannya dan bersedia mengganti kerugiannya.


Farah hanya mengangguk. Ia tidak menyimpan dendam pada pelayan itu karena manusia bisa saja berbuat salah. Tapi permasalahannya, busana yang dikenakan basah. Farah harus pulang untuk menganti busananya.


Farah menggeleng. “Bukannya nanti Kak Anneline bisa kebingungan? Aku akan telepon Mas Ilham saja, Kinan.” Ia lalu mengambil ponselnya dan langsung menelpon Ilham.


****


Ilham buru-buru melepaskan pelukan Anneline. Ia menelan salivanya memandang Anneline yang jauh berbeda dibanding enam tahun lalu. Mengapa dia berpakaian seperti ini? Apa yang terjadi selama ini?


Anneline tahu, bahwa pria yang di hadapannya ini memandang dirinya seperti ada yang asing. Ia tahu, bahwa Anneline-nya yang dulu tidak mungkin berpakaian serba pendek seperti ini. “Kenapa Ilham? Aku masih Anneline yang sama.”


Ilham mencoba untuk setenang mungkin. Penantiannya selama enam tahun ini cukup membuatnya kecewa. Perempuan yang selalu tersimpan rapi di sudut rak hatinya ternyata telah berubah. Mengapa kamu baru hadir di saat aku sudah menaruh rasa kepada Farah?


“Kamu kemana saja selama ini? Mengapa sekarang penampilanmu berbeda?”


Mata Anneline melebar. Ia tak menyangka jika pertama kali yang diucapakan Ilham adalah pertanyaan yang cukup sulit ia jawab. Ia menyeka air matanya yang masih mengalir dan mencoba tersenyum.


“Aku di Kota Zen. Kata Ray, kau mencariku di kota itu. Dan sekarang aku yang datang menemuimu di sini, Pangeran Es-ku!”


Ternyata dia sudah bertemu dengan Ray, batin Ilham. Sedari tadi ia mencoba menahan kerinduannya. Pelukan itu hampir meruntuhkan keyakinannya. Ia masih mengingat istrinya. Ilham tak mau jika Farah tahu tentang pertemuan ini.

__ADS_1


“Terima kasih telah susah payah datang kemari. Aku senang melihatmu dalam keadaan baik-baik saja. Semoga Allah senantiasa melindungimu, Ann.” Hanya kalimat itu yang bisa Ilham keluarkan.


“Ilham ....” Anneline meraih kedua tangan Ilham.


Ilham buru-buru mundur satu langkah. Membuat Anneline batal melakukan keinginannya. Ilham tak ingin orang yang ia kenal melihat perbuatan ini. Ia ingin segera pergi dari tempat ini.


“Maaf, Ann. Aku sudah menikah. Tolong jangan berbuat seperti ini. Aku tak ingin membuat istriku sakit hati. Aku tahu, kita pernah menjalin hubungan. Tapi, kumohon tak perlu memupuk kisah yang telah hilang enam tahun lalu.” Ilham mencoba menjelaskan keadaannya sehalus mungkin. Ia tahu, Anneline mungkin tidak akan bisa menerima hal ini. Ia juga tahu, Ann-nya orang yang sangat teguh dengan pendiriannya.


“Apa maksud ucapanmu ini?” Airmuka Anneline mendadak berubah menjadi tak bersahabat. Ia memandang tajam ke arah pria yang sangat ia cintai.


“Aku harap kamu mengerti. Aku ingin kita menjadi sebatas teman. Kamu mengerti, kan?” Ilham tersenyum sangat tulus.


Untuk pertama kalinya Anneline tidak menyukai senyuman dari pria yang ia cintai itu. Ia tak mau usahanya menanti enam tahu ini hanya menghasilkan hubungan sebatas teman. Ia tidak mau! Tidak peduli apa pendapatnya, yang jelas saat ini Anneline marah dan ingin segera membawa Ilham pergi untuk hidup bersama dengannya.


Ilham melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Maaf Ann, aku harus menjemput istriku. Lain kali aku akan mengenalkan istriku padamu. Oh ya, berkat keinginanmu yang pernah kamu bicarakan padaku sewaktu SMA, sekarang aku sudah mewujudkannya. Aku memilki cafe yang bertempat di depan perguruan tinggi. Aku harap kamu bisa mampir nanti aku juga mengajak istriku agar bisa kenal dengan sahabat terbaikku.”


Anneline masih menatap Ilham tajam. Raut wajahnya sedang menyimpan kemarahan yang setiap saat bisa meledak kapanpun seperti bom waktu.


Ilham merasa sudah tidak ada hal yang ingin dibicarakan dengan perempuan yang berdiri dengan mengepalkan tangannya itu. Ia ingin segera menyusul Farah. “Sudah dulu ya, Ann. Aku harus pergi.”


Ilham berbalik dengan rasa hati yang tak karuan. Antara menjaga dan kerinduan, ia tak tahu bagaimana rasa kecewa hadir saat apa yang ia nantikan telah hadir di hadapannya. Ia tak bisa membalas pelukan Anneline walaupun dirinya yang lain sangat ingin melakukannya. Di dalam kepalanya hanya ada Farah yang sedang menunggu kedatangannya dengan cemas. Hanya ada Farah, perempuan yang setia bersamanya selama setahun ini.


Aku harus segera pergi.


Anneline melihat Ilham yang sudah menjauh beberapa langkah dari tempatnya. Penantian dan usahanya untuk sampai di kota ini hanya dibalas dengan kehampaan tanpa berarti. “Aku tak ingin sebatas teman! Aku sudah menemui istrimu, namanya Farah, kan!”


Ilham mendengar teriakan Anneline. Demi mendengar ucapannya ia berbalik. Bagaimana bisa dia sudah tahu nama istriku?


________________________


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa

__ADS_1


__ADS_2