
Mohon maaf cerita ini sedikit mengandung unsur dewasa. Author sarankan pembaca sudah berusia 18 tahun ke atas. Semoga pembaca bijak dalam menyikapinya.
Selamat berimajinasi
_________
Perjalanan menuju ke tempat pesta pertunangan anak pemilik perusahaan ritel ternama itu memakan waktu sekitar 40 menit. Naresh juga tahu mobil adik beserta istrinya sudah sampai terlebih dahulu. Ia memang sengaja berangkat lebih terlambat, karena tidak ingin buru-buru. Toh ini hanya undangan biasa menurutnya.
Naresh belum turun dari mobil, terlebih lagi Kinant yang masih m-remas kuat-kuat tas kecil yang ia bawa. Ia masih takut dan gugup. Naresh tentu mengetahui hal ini, gadis yang duduk di sampingnya sedang merasa tidak nyaman. Lebih tepatnya dia belum pernah mendatangi pesta kecil semacam ini.
Tangan besar Naresh mengelus lembut tangan Kinanti yang sedang m-remas tasnya. “Sudah jangan takut, ada aku di sini.” Naresh tersenyum seakan memberika energi baik kepada gadis itu.
Kinanti menuduk kian dalam. “Aku belum menghapal buku panduan yang pernah Kakak berikan kepadaku.”
“Kinan, lihat aku!” Mata tajam Naresh menghujam mata indah milik Kinanti. “ Kau tak perlu menjadi orang lain, jadilah dirimu sendiri.” Jari Naresh menyentuh ujung hidung gadis itu sehingga membuatnya terkejut.
Kau pria yang baik, Kak Naresh.
“Ayo segera turun, Sayang.”
“Hah?!” Kinanti memastikan kata terakhir yang baru saja diucapkan oleh Naresh.
“Ekhm! Maksudku, segera turun, Nona.” Naresh membuat nada batuk yang demi menutupi frontal lidahnya yang tidak singkron dengan jalan pikirannya.
Kinanti hanya tersenyum. Ia memang tidak salah mendengarnya.
***
Suasana pesta yang meriah. Para tamu berdatangan lebih banyak dari teman terdekat pemilik perusahaan ritel itu. Semua orang di sini memiliki status sosial yang tinggi. Banyak sekali para pria dengan berbagai ukuran bentuk tubuh memakai tuxedo dan sedikit dari mereka memakai celana kain hitam, berkemeja putih serta rompi hitam dengan tambahan dasi kupu-kupu terlihat berjaga di setiap sudut ruangan pesta yang megah itu. Mereka juga wara-wiri membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.
Ada pemandangan menarik dia antara tamu-tamu yang berdansa dengan pasangannya. Tuan dan Nyonya Fernando tidak melakukan sebagaimana mestinya. Mereka hanya terduduk. Tuan Fernando di kursi roda khusus sedangkan Nyonya Fernado duduk di sampingnya dengan membawa gelas yang berisi air manis berwarna kuning segar. Ia menatap iri dengan pasangan konglomerat lainnya yang sedang menari, melenggak-lenggokan badannya dengan wajah yang sumringah. Ia hanya bisa duduk sebagai penonton. Dalam sudt hati terdalamnya, ia juga ingin seperti pasangan lainnya yang bisa berdansa dengan kekasih yang sempurna.
Membosankan
Nyonya Fernando meletakkan gelas yang berisi air manis berwarna kuning segar itu di meja. Ia bangkit dari tempat duduknya hendak menuju suatu tempat. Namun sebelum pergi, tangan kirinya sedang dicengkeram oleh suaminya.
“Mau pergi ke mana?”
“Aku ingin ke kamar kecil, haruskan kau ikut?” Nyonya Fernando menandang datar suaminya.
“Kalu begitu hati-hati, segeralah kembali.” Tuan Fernando melepaskan cengkeraman tanganya, membiarkan istrinya pergi.
Kebohongan Nyonya Fernando sudah dimulai, ia memang tidak akan pergi ke tempat yang bernama kamar kecil sekerdar ingin melonggarkan kandung kemihnya. Ia muak dengan pemandangan yang tersuguh di hadapannya. Ini yang membuat dirinya enggan menghadiri pesta yang penuh menggembirakan bersama sang suami.
__ADS_1
Apakah dia pantas menjadi suamiku? Bahkan untuk berjalan pun ia sangat kesusahan. Nyonya Fernando memaki dalam hari. Hari ini perasaannya sedang tidak baik karena harus menanggung aib. Alasan mengapa ia tidak suka berkumpul dengan wanita sosialita karena ia tidak ingin bersinggungan dengan aib memiliki suami yang tidak sempurna.
Pesta ini diselenggarakn di lantai tiga gedung hotel paling mewah dan mahal. Ia hanya duduk di kursi koridor yang pemandangannya mungkin jauh lebih baik. Nyonya Fernando membuka tas jinjingnya keluaran brand ternama, ia mencari sesuatu yang bisa membuatnya tenang. Selama beberapa hari ini, ia mencoba untuk merokok, menyesap rasa tembakau yang khas dan mengembuskan asapnya ke udara. Beruntung di koridor itu sepi sehingga ia bebas menghisap lintingan tembakau ini.
Api yang membakar sedikit demi sedikit kertas dan tembakau menyisakan residu abu yang berceceran di sekitar kakinya. Ia harus berhati-hati saat menyesapi rokok, karena puntung yang jatuh masih mengandung bara yang dapat merusak gaun yang dipakainya.
“Mengapa takdir tak bisa aku buat sendiri?” tanya Nyonya Fernando sambil mengembuskan asap rokok dari mulutnya yang bergincu merah merona.
***
“Sepertinya keramaian ini tidak cocok untukku,” guman Kinanti lirih. Ia tidak bisa berdansar walaupun Naresh masih bersikeras mengajaknya ke lantai dansa. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari bangunan gedung ini mencari angin segar.
Naresh yang semula berdansa dengan ibu yang bertubuh gemuk melihat Kinanti keluar meninggalkan pesta ini. Apakah dia marah aku berdansa dengan ibu ini? Lebih baik aku susul dia.
Naresh membungkukkan badannya tanda mengakhiri dansa ini. “Maaf Nyonya, lain waktu kita sambung lagi dansa ini. Ada hal yang sedang sangat genting sekali dan harus diselesaikan sekarang juga. Jadi aku mohon undur diri,” pintanya sopan.
Ibu gemuk itu tertawa, ia memang sudah berusia setengah abad ditambah ia adalah istri pemilik ritel yang sedang mengadakan pesta ini. Tentu saja, Naresh sudah mendapat izin dari pemiliknya untuk mengajak ibu ini berdansa.
“Kau manis sekali, terima kasih sudah mau berdansa denganku Yori.”
Naresh tersenyum, ia langsung mengambil sikap balik kanan siap untuk mengejar Kinanti yang menurutnya terbakar api cemburu. “Hati wanita itu unik ya, tidak berucap tapi perasaan cemburunya terasa sampai pandanganku. Bahkan kau menarikku dengan egomu yang meninggalkan pesta ini. Cukup menegaskan kalau kau tidak ingin aku berbagi dengan siapapun, Kinan.”
Naresh berhasil mengejar Kinanti yang sedang berdiri di taman bunga milik hotel itu. Angin berlari tanpa permisi memainkan rok beserta rambut gadis itu. Sungguh keterlaluan. “Mengapa kau meninggalkan pesta itu?”
“Sepertinya jauh lebih indah melihat bintang banding pesta itu.” Naresh menarik tangan Kinnati untuk duduk di kursi taman berwarna hitam yang terletak manis di dekat pohon palem yang tinggi menjulang.
“Kita duduk di sini,” ucap pria itu sambil membuka kancing jas dan melepaskannya untuk menutupi kaki Kinanti agar roknya tidak tersingkap oleh angin yang berembus sedikit kencang.
“Kak Naresh tidak melanjutkan berdansa degan ibu itu?” tanya Kinanti.
Naresh tertawa memperlihatkan deretan gigi putih yang tersusun rapi. “Apakah kau cemburu?”
Pertanyaan yang terlontar sedikit menohok hatinya. “Aku tidak cemburu! Kata siapa?!” Kinanti berusaha membela diri dari pernyataan yang baru saja dilekatkan pria itu untuknya.
“Bilang saja kamu tidak ingin aku bersama dengan wanita lain.” Naresh makin menjadi, ia sekarang bisa melihat bibir Kinanti yang mengerucut maju beberapa senti.
“Aku tidak akan cemburu ataupun marah!” jawab Kinanti dengan raut wajah yang menunjukkan kalau dia sedang kesal terhadap makhluk yang berada di sampingnya kini. “Lagipula siapa diriku bisa marah-marah sesuka hati? Bukankah dirimu adalah otoritasmu sendiri.”
Sejenak Naresh terdiam, benar sekali apa yang dikatakan oleh Kinanti bahwa dirinya tidak memiliki ikatan yang terjalin dan berpilin. Ia tahu kegundahan yang menyelimuti hati gadis itu. Ia sadar benar, ikatan itu belum terikat resmi karena usia Kinanti masih tergolong muda yang masih membara akan pencarian karir.
“Izinkan aku yang menjadi pengisi hatimu.”
Kinanti menoleh ke arah Naresh, ia sedang tidak sakit pada bagian indera pendengaran. Namun kalimat yang baru saja terucap seakan mampu menyeruak masuk ke dalam raga hingga pikirannya kacau balau karena kegugupan.
__ADS_1
“Aku sudah lama memendam hal ini,” lanjut Naresh.
“Sejak kapan Kak?”
Naresh menelungkupkan telapak tangannya membungkus tangan kecil milik Kinanti. “Sejak pertemuan kita di depan rumah Adnan.”
Kinanti hanya tergugu mendengar penuturan yang mendalam soal perasaan pria itu terhadapnya. Entah ia harus bahagia menerima kenyataan yang sejalan dengan perasaannya, atau harus bersedih ketika seorang gadis miskin ternyata memiliki daya pikat untuk mengikat Sang Tuan Muda yang kaya.
“Apakah ini nyata? Maksudku, mengapa Kakak memilihku? Bukankah di luaran sana banyak wanita yang berbaris menunggu untuk berkencan padamu?”
Pertanyaan yang seolah menampik kenyataan bahwa Kinanti juga memiliki rasa yang sama. Naresh masih tak mengerti bagaimana gadis itu berpikiran begitu jauh dalam ketakutan akan hinaan yang belum tentu terjadi. Naresh, pria yang tidak suka penolakan.
“Jika aku sudah memilihmu, izinkan aku berusaha mengambil hatimu apapun caranya.”
Tanpa persetujuan dari Kinanti, kedua tangan Naresh memegang wajah gadis itu dan segera mendaratkan bibirnya tepat di bibir Kinanti. Adu mulut dengan Naresh yang menjadi dominan dalam momen manis itu. Ia begitu lembut memainkan bibir sang pemeran utama. Kinanti tidak bisa menolak kecupan manis itu.
Dua anak manusia larut dalam malam yang bertabur bintang tanpa sinar rembulan.
***
“Pemandangan yang tidak pantas aku lihat,” guman Nyonya Fernando yang melihat kakak iparnya sedang bercumbu dengan maid pendamping. Mereka terlihat sangat nyata di atas ketinggan lantai tiga gedung ini.
Ia tidak terbakar dengan kegiatan semacam itu, bahkan terkesan tidak peduli dengan apa yang sedang mereka lakukan. Ia hanya ingin diperlakukan sama seperti istri dengan suami normal pada umumnya.
“Mengapa takdir begitu kejam bahkan tidak memberi kesempatan padaku agar memiliki kehidupan yang lebih baik.”
Nyonya Fernando mengisap terakhir rokoknya dan membuangnya yang hanya tiga senti lagi ke lantai, lalu menginjaknya hingga api kecil yang masih menyala itu padam. Ia harus pergi dari tempat itu sebelum pemandangan berubah kembali menjadi hal yang tidak lazim.
Saat ia akan kembali, Nyonya Besar itu menata kembali riasannya wajahnya dan sesekali memoleskan bedak yang ia ambil dari tas jinjing. Ia berjalan sambil bersolek, setelah dirasa sudah pas, Nyonya Fernando memasukkan kembali tempat bedaknya ke dalam tas hingga ia menabrak seseorang.
Sekarang orang yang menabrak itu mendorong tubuh Nyonya Fernando hingga terhimpit dengan salah satu sisi dinding hotel itu. Dia adalah seorang laki-laki yang wajahnya sangat familier oleh Nyonya Fernando.Mereka adu tatap dengan pandangan yang seolah seperti pembunuh yang haus akan mangsa.
“Kita bertemu kembali, Anneline ...,” ucap pria yang memakai tuxedo warna biru gelap.
________
Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author🤗
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.😁
Terima kasih
Salam Hangat,
__ADS_1
Ilamy Harsa🍀