Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 183


__ADS_3

Episode 183: Sandiwara


Anneline terbangun karena semburat sinar yang menyorot pada wajahnya. Ia merasa sedikit pusing hingga pandangannya sedikit kabur.


“Sudah bangun ternyata.”


Anneline menangkap suara berat. Ia mengucek-ngucek matanya agar yang menghalangi pandangannya tersingkirkan. Ia terkejut melihat Ray berdiri di dekat jendela, dia-lah yang membuka tirai agar sinar matahari masuk ke kamar ini.


“Ray?”


Seketika Anneline merasakan kulitnya menyentuh lembutnya selimut. Ia sadar jika semua pakaiannya sudah terlepas dari badannya.


Ray hanya memandang dingin perempuan yang baru saja bangun dengan keadaan polos seperti bayi, rambut yang berantakan dan make up yang luntur sana-sini. “Selamat pagi.”


Mata Anneline menyala galak. “Tidak sopan masuk ke kamar perempuan tanpa izin darinya!” Ia merapatkan selimutnya menutupi bagian tubunya.


Ray menaikkan alis kanannya. Yang benar saja! Apakah dia sudah lupa jika tadi malam dia meminta untuk ditiduri?


“Ponselmu berbunyi sedari pagi. Seseorang bernama Kinanti telah mengirim pesan jika dia akan menjemputmu siang ini.” Ray memberikan ponsel itu kepada pemiliknya. “Aku akan mengantarkanmu. Aku tau jika perempuan itu adalah kekasih Yori. Aku tak ingin berurusan dengan Fernando Bersaudara. Apalagi jika mereka tau aku membawa perempuannya di rumahku.”


Anneline menerimanya. “Sepertinya kau harus diajari agar jangan melihat isi ponsel orang lain!”


“Hey! Apakah kamu lupa? Kamu mabuk semalam, aku yang menggendongmu! Bahkan kamu seperti wanita ja-lang meminta untuk ditemani! Lalu dimana kesopanan seorang nyonya besar?” Ray tak tahan dengan perempuan yang sedari kemarin malam membuatnya kesal.


Anneline hanya terdiam. Pikirannya sedang kacau.


“Bersiaplah Anne, kutunggu kamu di meja makan. Aku ingin kamu meminta maaf dengan Karin atas kejadian kemarin malam.”


“Tidak.” Anneline berkata datar. Jelas ia tak mau meminta maaf pada perempuan itu.


“Kenapa tidak? Setidaknya kalian harus bekerja sama, dia adalah patnerku untuk mengelabuhi banyak orang,” ucap Ray tak mau kalah.


“Jika aku bilang tidak! Ya tidak!”

__ADS_1


“Kuharap hatimu tidak dirangkul iblis sepenuhnya.” Ray melenggang pergi meninggalkan Anneline yang masih terdiam menelaah ucapan Ray.


Anneline bangkit dari tempatnya. Ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membasuh diri. Di bawah guyuran air yang mengalir, ia berusaha mengingat kejadian selama enam tahun ini yang membuat hidupnya berubah.


Anneline sedikit tersinggung dengan ucapan Ray sebelum ia pergi dari pandangannya. “Iblis ya?”


Air matanya jatuh bersama air yang mengguyur. Ia duduk meringkuk memeluk lututnya. Semua kenangan buruk selama enam tahun ini yang membuatnya seperti iblis, mungkin jauh lebih jahat dibanding ras manusia sekarang. Ia telah membunuh keluarganya.


“Tapi aku tak butuh mereka.”


Anneline juga mengingat bagaimana ia membunuh ibu mertuannya. “Dia juga bersalah karena ikut memaksaku untuk menikah dengan Nando. Dia pantas dihukum.”


Andai aku bisa memutar waktu atau meminta agar takdir ini tak perlu terjadi di hidupku, mungkin aku masih seperti Anneline yang dulu, kan?


Anneline bergegas untuk menyelesaikan mandinya. Ia tak ingin mengingat luka-lukanya yang ia simpan selama enam tahun ini. “Apa aku harus bersandiwara lagi? Tapi hidupku sudah melebihi sandiwara. Aku harus menjadi istri yang baik walaupun memiliki suami cacat. Aku masih bisa mengasihani orang-orang di sekitarku, walaupun mereka tak mengerti bagaimana rasanya jadi aku?”


Dalam balutan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. Ia membuka lemari dari kayu jati berpelitur. Terdapat beberapa dress yang tergantung manis di sana. “Wah, aku pikir Ray tak akan menyiapkan hal ini,” ucapnya kagum.


Anneline mengambil salah satu dress berwarna peach. “Apakah aku cocok dengan warna ini?” Ia menggeleng, lalu mengambil dress berwarna soft blue. Ia menempelkan pada tubunya dan bercermin.


***


“Karin! Buka pintunya,” sahut Ray yang sedari tadi mengetuk pintu.


Karin memang sengaja tidak membukakan pintu untuk bosnya. Ia yakin, pasti Ray telah menyiapkan sesuatu. Dan satu hal, ia tak mau bertemu dengan wanita ular itu. Terlebih lagi tadi malam ia harus berurusan dengan busana wanita itu. Ray menyuruhnya agar membeli beberapa dress yang mungkin cocok untuk wanita ular. Bagaimana dirinya tidak sebal.


“Karin, ayolah. Mau sampai kapan aku berdiri di depan kamarmu dan mengetuk pintu seperti ini. Oke, aku akan membelikanmu sebuah tas mewah. Bagaimana?”


Tawaran Ray terbukti ampuh membuat Karin membukakan pintu kamarnya. Setelah terbuka ia menatap tajam pria yang tersenyum.


“Akhirnya terbuka juga.” Ray mengacak rambut Karin. “Segera sarapan, karena pura-pura menjadi kekasihku itu butuh tenaga.”


Karin hanya berdehem tanpa mengiyakan. Ia mengekor pada Ray menuju ruang makan.

__ADS_1


***


Hari ini Anneline memoleskan bedak tipis dan lipstik berwarna merah jambu bening yang ia bawa di tasnya. Hari ini ia ingin berhias senatural mungkin. Ia merasa harus bersyukur karena di kota ini dirinya tak harus memakai make up tebal untuk mengidentifikasi bahwa dia adalah orang kaya.


Setelah dirasa cukup, Anneline lalu menuju ruang makan. Sesampai di sana ia disambut baik oleh Pak Sudio kepala pelayan di rumah itu. Beliau menarik kursi untuk Anneline.


“Terima kasih, Pak.” Anneline tersenyum kepada Pak Sudiro. Hari ini ia sedikit merasakan ada perbedaan. Ada rasa yang bebas tanpa belenggu di dalam dadanya.


Sesaat kemudian, Ray dan Karin sama-sama tertegun dengan perempuan yang sedang duduk manis di kursi.


“Selamat pagi Ray! Selamat pagi Karin!” Anneline berseru semangat sekali. Ia tersenyum lebar memamerkan giginya.


Karin masih terpaku di tempatnya. Ia tak menyangka jika wanita ular itu berubah drastis. Bahkan cara berhias dan berpakaiannya jauh lebih segar daripada semalam.


Ray yang sudah duduk merasa ada yang aneh pada Karin yang memandangi Anneline tanpa berkedip. “Karin.”


Seketika sang pemilik nama langsung duduk di dekat Ray. Karin duduk berhadapan dengan Anneline yang terpisah dengan meja luas dengan hidangan yang terlihat sangat lezat. Pagi ini dirinya harus rela sarapan bersama wanita ular itu.


Anneline bangkit hingga kurisnya sedikit terdorong ke belakang dan langsung mengulurkan tangannya. “Aku meminta maaf atas kejadia tadi malam.”


Karin termangu cukup lama hingga ia membalas jabatan tangan tersebut. “Iya.”


Anneline duduk kembali. “Kenapa kalian tidak menikah saja?”


Seketika saat mendengar itu Ray tersedak. Ia berniat ingin minum susu akhirnya keluar melalui hidungnya.


________________________


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


__ADS_2