Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 180


__ADS_3

Episode 180: Wanita Ular


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


Anneline terpukau dengan halaman rumah Ray. Jika dibandingkan dengan rumah suaminya, rumah Ray jauh lebih bagus karena banyak balkon. Apakah dia tinggal sendirian?


“Silakan masuk, Nyonya. Tuan Muda kami sudah menunggu di dalam,” ucap Pak Sudiro.


Anneline masuk ke rumah besar itu. Hari ini ia sudah membuat sepasang sejoli itu berada jauh dari jangkauannya. Setidaknya malam ini ia bisa terbebas dan melakukan apa saja. Rumah Ray terbilang mewah, namun untuk selera seni masih Fernando jagonya.


Seorang perempuan sedang duduk bersantai di ruang tamu Ray. Anneline mengerutkan keningnya. Siapa perempuan ini? Mengapa gayanya sangat kampungan? Ditambah dengan kacamata yang menjijikan itu!


Perempuan itu sadar akan kedatangan Anneline, ia bangkit dan tersenyum kepadanya. “Selamat malam, namaku Karin.”


Senyuman yang membuat muak siapa saja yang melihatnya. “Selamat malam, kau siapanya Ray?” Anneline mengintrogasi perempuan menyapanya itu.


“Saya sekertarisnya Bapak,” jawab Karin.


Anneline hanya tertawa. Ia yakin jika perempuan itu hanya mainan untuk Ray. Tapi ia bingung, mengapa harus perempuan berpenampilan cupu ini seleranya. Seperti tidak ada perempuan lain.


“Ada yang salah, Nyonya?” Karin mengartikan tawa kecil itu sebuah tertawa yang merendahkan. Ia ingat jika dirinya masih berpenampilan sebagai Sasmita.

__ADS_1


Anneline mendekati Karin hingga Karin harus berjalan mundur. Ia merasakan ada hawa yang tidak menyenangkan dari perempuan yang berada di hadapannya. “Maaf, Anda tidak perlu seperti ini.”


Anneline langsung mendorong Karin hingga perempuan itu menempel dinding. “Aku heran, selera Ray ternyata rendah sekali.”


Apa? Dia menyebutku rendah? Mulutnya seperti tidak pernah mengenyam pendidikan. Karin merasa kesakitan saat punggungnya terpaksa dihantamkan dinding ini. “Maaf, Anda tidak pantas menyebut saya seperti itu!” Karin menatap galak.


“Oh seperti itu.” Anneline menjepit dagu Karin dengan kasar.


Karin makin terdesak. Ia lengah dengan perempuan yang menyakitinya itu. Ia harus melepaskan diri dari perempuan gila ini. “Anda sebaiknya menjaga sikap!” Karin mendorong tubuh Anneline hingga terjatuh. Ia terlepas dari cengkeramn yang menyakitkan itu.


Anneline tidak menyukai kekalahan. Ia langsung bangkit dan mencekik leher Karin. Ia harus membalaskan rasa sakit ketika dia jatuh ke lantai. “Kau hanya wanita murahan! Berani sekali kau menyentuhku.”


Karin berusaha melepaskan tangan Anneline dari lehernya. Ia sangat kesulitan bernapas, semakin ia bergerak, semakin erat cengkeraman itu. “To ... tolo ..long.”


“Kau harusnya mati, Sayang!” Anneline tersenyum licik.


***


Ray baru saja menutup kamarnya. Ia harus menemui Anneline yang sudah sampai di ruang tamunya. Ia berjalan menuruni anak tangga dengan santainya, hingga kejadian yang membuat matanta membulat. Ia melihat Karin sedang dicekik oleh Anneline. Sontak saja, ia berlari untuk memisahkan dua perempuan yang saling menyakiti itu.


Tubuh Karin langsung jatuh di lantai. Ia terbatuk-batuk setelah tangan Anneline terlepas dari lehernya. Ia merasa pusing hingga pernapasannya tidak stabil.


“Jangan menyakitinya, Anne!” Ray mengusap-usap punggung Karin untuk menenangkannya.


“Ternyata seleramu rendah sekali, Ray!” Anneline melipat tangannya di dada. Ia tak peduli dengan perempuan yang habis ia cekik.


Ray tak menggubrisnya, lalu ia menggendong Karin menuju kamarnya agar perempuan ini bisa beristirahat. Anneline hanya membuang muka melihat sahabat prianya sedang menggendong perempuan murahan itu. Ia merasa jijik dengan adegan itu.


Setelah masuk ke kamar Karin, ia meletakkan tubuhnya ke ranjang untuk beristirahat. Ia juga memeriksa leher Karin untuk melihat apakah ada luka. Ternyata ada tiga garis merah yang berasal dari cakaran kuku Anneline.


“Kau baik-baik saja?” Terlihat wajah Ray yang khawatir setengah mati. Biar bagaimana pun Karin tetap sekertarisnya. Ia memang mengajak Karin untuk tinggal di rumah ini agar dia tak perlu bolak-balik menjemput perempuan itu.


Karin hanya menggeleng. Ia masih mengatur napasnya.

__ADS_1


“Cih! Mengapa Anneline bisa berbuat hal gila semacam itu!” Ray mendesis. Ia kaget melihat sahabat perempuan yang bisa berbuat diluar batas wajar.


“Aku tidak apa-apa, Pak. Siapa wanita tadi?” Karin bersusah payah untuk duduk.


“Dia ... sahabat saya sekaligus bagian masa lalu dari Ilham.”


Karin terbelalak mendengar jawaban bosnya. “Apa yang ingin Bapak perbuat? Apakah Bapak akan menghancurkan rumah tangga Farah?”


Ray terdiam, ia belum menjawab.


“Pak, bukankah wanita itu sangat kejam? Apakah bapak yakin menggunakan cara ini? Bapak pastinya tahu, akan ada hati yang terluka!” Karin menjelaskan akibat buruk dari ide gila bosnya.


“Bukankah itu baik? Ilham bisa menceraikan Farah dan pergi bersama Anneline.” Ray tersenyum tipis.


“Tapi perempuan itu sangat jahat! Apakah Ilham bisa hidup dengan wanita ular itu!” Kemarahan Karin memuncak. Ia bahkan tak peduli menyebut perempuan yang mencekiknya itu dengan wanita ular. Memang kenyataannya seperti itu.


“Sebaiknya kau beristirahat. Aku tak mau sekertarisku sakit dan tak bisa menjalakan tugasnya.” Ray menutup pintu kamar Karin. Ia harus menemui Anneline di ruangan tamu.


Karin memutar bola matanya. Ia baru tahu jika sahabat bosnya sekaligus mantan Ilham adalah perempuan yang gila. “Anda sama gilanya dengan wanita ular itu!”


***


Ray berjalan menuju ruang tamu. Ia masih tak habis pikir dengan tindakan Anneline yang tidak wajar itu.


“Hai Ray, sudah selesai menyicipinya? Seleramu sungguh payah.” Anneline melempar komentarnya tanpa perasaan bersalah.


Lidahmu tajam sekali, Anne. Ray duduk di sebelah Anneline. Ia menghembuskann napas panjangnya. “Jangan menganggap Karin seperti itu.”


Anneline hanya tertawa dengan nada menghina. “Benarkan? Lagipula kau belum beristri Ray. Jiwa pengembaramu masih menyala, tak heran aku bisa menganggapnya seperti itu.”


“Aku tidak seperti yang kamu pikirkan!” Ray menyentak galak. Ia tak suka Anneline yang sekarang. Pergaulannya selama enam tahun membuat wanita itu menjadi mengerikan!


“Sejak kapan pria bergelimang harta tidak suka perempuan untuk hiburannya? Kau sangat munafik, Ray.” Anneline tertawa. Ia yakin Ray seperti lelaki kaya kebanyakan yang bisa bergonta-ganti wanita untuk ditidurinya.

__ADS_1


“Kamu ke sini hanya untuk mengejekku atau ingin membahas tentang Ilham?” Ray mengalihkan topik pembicaraan. Ia malas jika hanya membahas sisi buruknya saja. Ia pun sudah bertekat untuk tidak melakukan hal itu demi Farah.


Anneline berhenti dari tawa. Ia berdiri dan langsung duduk di pangkuan Ray. Jarinya menyentuh rahang pria itu. “Bisakah kita langsung lakukan malam ini?”


__ADS_2