
Keringat membasahi sekujur tubuh, suara napasnya terengah-engah. Ia merintih kesakitan yang luar biasa rasanya. Rasa sakit ini timbul karena sel syaraf yang bernama nociceptors yang aktif ketika bagian tubuh mengalami rasa sakit dalam level tertentu. Seperti yang Rahma rasakan saat ini. Sel syaraf itu mengirim signyal pada otak, itu mengakibatkan rasa sakit karena kontraksi sering di sertai rasa lain, seperti rasa mual, tegang dan berbagai campur rasa sakit lainnya.
Seperti itulah perjuangan seorang perempuan yang ingin menghadirkan malaikat kecil yang tumbuh dari rahimnya. Selama sembilan bulan dilindunginya dalam sebuah tempat yang dipenuhi oleh rasa sayang. Rahim, organ yang hanya dimiliki oleh perempuan. Alam di mana manusia pertama kali membentuk tubuhnya sebelum benar-benar kuat untuk terlahir ke dunia.
Saat ini Rahma sedang berjuang melahirkan bayinya, seluruh energi telah di keluarkan. Dorongan demi dorongan untuk mengeluarkan kepala si bayi. Ahli medis bersiaga, perempuan yang memakai jas putih memberikan instruksi untuk Rahma mengambil napas, sesekali ia melihat apakah kepala sang bayi sudah nampak atau belum.
Di luar ruangan, Akmal malah gelisah tidak karuan. Sesekali Akmal terduduk, ia menggoyangkan kakinya. Wajahnya selau berpaling untuk melihat pintu ruang bersalin. Farah menyadari hal itu, Ia hanya menganggap bahwa kecemasan Akmal adalah kecemasan dalama perasaan pertemanan. Mengingat Akmal dan Rahma berasal dari panti asuhan yang sama.
Perjuangan yang sangat nyata dalam diri seorang perempuan, mempertaruhkan hidup dan matinya. Wajah Rahma kian berkeringat, napasnya tersengal, ia masih menahan sakitnya. Pandangannya sedikit kabur.
Ibu ingin sekali melihatmu, kamu malaikat kecil ibu.
Rahma meneteskan air mata yang terasa hangat. Sekali lagi dorongan, kepala bayi sudah terlihat. Para tenaga medis sudah bersiap. “Ayo buk, sedikit lagi!” salah seorang meneriaki Rahma untuk berusaha lebih mendorong lagi.
“Haaaa ....” napas kelegaan Rahma.
Bayi itu berhasil keluar dari perut ibunya, ia menapaki dunia baru. Seketika tangisan bayi menggema di ruangan itu. Bayi yang masih tertutup matanya dan masih merah. Salah satu perawat membersihkan bayi itu yang masih berlumuran darah dan lendir. Lalu di lanjutkan memotong tali pusat. Semua prosedur pasca kelahiran bayi telah dilakukan.
“Bu Rahma, selamat bayinya sehat dan berjenis kelamin laki-laki,” ucap dokter itu.
Rahma merasa bahagia setelah melewati kesakitan ini, sekarang ia sedang terbaring lemas. Tangannya terpasang selang infus. Semua kesakitan ini membuatnya bahagia. Rahma melukis senyumnya.
Akmal dan Farah tersentak mendengar suara tangisan bayi yang berada di dalam ruangan. Ada perasaan lega bercampur penasaran. Akmal sudah berdiri di depan pintu ruangan, ia berharap bisa segera masuk ke dalam ruangan itu.
Salah seorang perawat membawa bayinya yang sudah bersih dari darah dan lendir. Bayi itu masih menangis, mungkin itu caranya menyapa dunia ini. Perawat itu meletakkan bayi yang ia bawa di perut Rahma. Benar saja bayi itu sedikit lebih tenang merasakan suhu tubuh ibunya. Bisa dibilang ini pernyataan yang benar, semahal apapun ranjang bayi tetap nyaman pelukan hangat dari ibunya.
Bayi kecil Rahma merayap menyusuri perut ibunya yang hangat. Rahma melihat bayi mungilnya, ia terharu bahagia. Ia menangis dalam kebahagiaan. Si bayi sedang melakukan perjalanan menyusuri tubuh hangat milik ibunya. Ia ingin mencari areola ibunya, perjalanan pertamanya. Rahma merasakan kulit bayinya yang mungil sedang merayap menuju dadanya. Amat tenang, mata si bayi masih tertutup. Di tangannya masih melekat bau air ketuban yang memandunya untuk segera menemukan areola ibunya yang berbau sama.
Si bayi terus bergerak, ia sudah sampai. Si bayi membentur-benturkan kepalanya di dada Rahma. Tepat sasaran! Si bayi berhasil menemukan areola mammae ibunya, ia segera mengulum areola dan ia sedang menghisap kolostrum, yaitu ASI pertama yang keluar.
Farah mengirim pesan singkat kepada suaminya, ia memberi tahu bahwa Rahma sudah melahirkan. Tak berapa lama dokter keluar dari ruangan itu, ia langsung dicercal pertanyaan yang bertubi-tubi dari Akmal.
__ADS_1
“Selamat ya Pak, istri Anda melahirkan dengan selamat, bayinya tampan dan lucu. Sekarang masih masa menyusui, nanti setelah itu Bapak langsung bisa mengazani si bayi,” ucap dokter itu.
Sebenarnya Akmal hendak protes bahwa ia bukan suami Rahma, namun melihat dokter yang langsung pergi membuat ia batal mengatakan itu. Tiba-tiba ponsel milik Farah berdering, ia memohon diri pada Akmal untuk mengangkat telepon dari Ilham. Akmal hanya mengangguk.
Akmal memasuki kamar di mana Rahma di rawat. Terpaan sinar rembulan memasuki kisi-kisi jendela yang berkelambu. Kedua mata Akmal menangkap sosok perempuan yang terbaring, di atasnya ada makhluk mungil. Mereka berdua dalam balutan selimut yang hangat. Akmal mengulas senyumnya melihat pemandangan indah itu.
Akmal berjalan mendekati Rahma dan juga bayinya. Ia merasa bahagia melihat Rahma yang sekarang menjadi ibu seutuhnya untuk bayi mungil ini. Si bayi sudah selesai menghisap kolostrum. Seorang perawat datang untuk mengambil si bayi dari tubuh ibunya, ia memberikan bayi itu kepada Akmal untuk diazani.
Akmal menerima tubuh bayi itu, sangat mungil. Ia merasakan rasa kebahagiaan sekaligus kesedihan ketika memandang lekat wajah bayi ini. Kebahagiaan yang Akmal rasakan yaitu, bayi Rahma lahir dengan selamat dan tidak kurang suatu apapun. Lalu bagian rasa kesedihan Akmal adalah bayi ini tidak memiliki ayah dalam satu ikatan. Rahma saja tidak tahu siapa pria yang menjadi ayah biologis anaknya.
Akmal memantapkan hatinya. Ia menyerukan suara azan di telinga kanan sang bayi.
Allaahu Akbar, Allahu Akbar. Allaahu Akbar, Allahu Akbar.
Asyhadu allaa illaaha illallaah. Asyhadu allaa illaaha illallaah.
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.
Hayya ‘alalfalaah. Hayya ‘alalfalaah.
Allaahu Akbar, Allahu Akbar.
Laa ilaaha illallaah.
Suara Akmal terdengar sangat lembut mengalun membuat si bayi tenang. Rahma meneteskan air matanya melihat Akmal mengazani bayinya. Sekarang bergantian, Akmal menyerukan iqomah di telinga kiri sang bayi. Dia masih tampak tenang menikmati alunan lembut suara itu.
Akmal menarik napas. Sekali lagi ia memantapkan hatinya.
Allaahu Akbar, Allahu Akbar.
Asyhadu allaa illaaha illallaah.
__ADS_1
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.
Hayya ‘alashshalaah.
Hayya ‘alalfalaah.
Qad qaamatish-shalaa, Qad qaamatish-shalaah.
Allaahu Akbar, Allahu Akbar.
Laa ilaaha illallaah.
Mata Akmal sedikit berair. Ia memberikan lagi bayi mungkil itu kepada perawat agar dimandikan. Rahma masih terisak mendengar alunan yang menganggumkan. Ia mengelap sudut matanya yang sudah basah.
“Apakah bayimu sudah diberi nama?” tanya Akmal.
Rahma menggeleng. “Aku bahkan belum memikirkan nama apa yang pantas untuk bayiku.”
“Boleh aku yang memberinya nama?” Akmal bertanya sekali lagi.
Rahma mengangguk sebagai jawaban menyetujui atas pertanyaan itu. Akmal berpikir keras, apa nama yang cocok dengan bayi lelaki itu. Ia berjalan menuju jendela si sisi ruangan itu. Akmal membuka sedikit kelambu jendela, ia melihat bulan yang bersinar sangat gompal, bulat penuh. Seketika Akmal memiliki nama yang baru saja terlintas di pikirannya.
__________
jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁
jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
__ADS_1
Ilamy Harsa🍀