Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 135


__ADS_3

Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author


Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


Selamat berimajinasi


_________


Bus masih melaju di jalur khusus. Farah tengah asyik membaca lagi daftar belanjaan, ia takut jik ada yang lupa dibeli. Di samping itu semua, ia merasa senang karena ia bisa naik bus ini lagi sama seperti saat bekerja di kedai.


Aku rindu bekerja di kedainya Mas Ilham.


Bus melaju lambat kaena harus beberapa kali berhenti di halte untuk mengambil penumpang atau menurunkan penumpang. Meski begitu ia merasa senang dan menikmati pejalanan kali ini. Di halte 171 terlihat ada seorang pria berpakaian serba hitam mulai dari topi, baju lengan panjang dan celana kain semua berwarna hitam masuk dalam bus. Dia memilih berdiri dan memegang handle grip.


Sosok pria itu menarik perhatian Farah. Ia melihat pria itu tanpa berkedip. Permainan klasyik semesta dimulai, sepasang mata mereka bertemu. Farah merasa pernah menemukan sepasang lekungan mata itu. Mata yang bening. Tiba-tiba ia merasa deja vu, ia berusaha mengingat bagaimana ia pernah merasakan hal ini dulu. Semakin keras Farah mengingat, semakin tidak bisa ditemukan.


Bus berhenti di halte dekat pusat perbelanjaan terbesar di Kota Milepolis. Farah dan beberapa penumpang lainnya ikut turun. Sekarang ia sudah lupa tentang di mana ia menemukan rasa yang pernah ia rasakan terganti dengan rencana belanja. Ia segera merayakan waktu berbelanja sendirinya.


Farah memasukin pusat perbelanjaan dan lansung mengambil troli belanja. Tujuan pertamanya adalah stationery atau perlengkapan alat tulis. Ia membeli beberapa kertas berwarna-warni dengan kualitas yang bagus. Wajah Farah tersenyum mengembang cantik saat melihat kertas dengan warna yang cerah, sangat cocok untuk bahan membuat kerajinan bunga.


Sosok pria serba hitam juga ikut memasuki perlengkapa alat tulis. Ia tidak menginginkan pandangannya akan Farah hilang tanpa jejak. Tempat alat tulis ini sangat senyap karena tidk banyak pengunjung untuk berbelanja kebutuhan alat tulis.


Sabar, tempat ini terlalu sepi untuk melancakan aksi. Aku harus sedikit lebih sabar lagi


Farah berlalu pergi menuju tempat lainnya yang menyediakan kebutuhan pokok. Pria serba hitam itu juga mengikutinya. Ia menjaga jarak antara perempuan itu, agar tidak ada saling ada kecurigaan dari pengunjung yang berlalu-lalang.


Tepat seperti pengamatan pria serba hitam itu, Farah tidak memiliki kewaspadaan yang tinggi. Dia sama sekali tidak merasa curiga jika dari Halte 171 sampai pusat perbelanjaan ini telah diikuti. Hatinya terlalu senang untuk merayakan kegembiraan ini.


Farah sekarang berhenti di rak panjang yang menyediakan produk toiletries. Ia mengambil beberapa sabun yang biasa ia beli dengan aroma bunga. Aroma kesukaan suaminya, Ilham. Farah mendorong troli belanja dan berhenti di rak yang berisi sabun cuci. Ia mengambil sebanyak dua pack dengan ukuran jumbo.

__ADS_1


Farah kembali memeriksa catatan belanja yang ia tulis di buku kecil. Ia membaca sambil mendorong troli, hingga tak sadar ujung troli itu menabrak pria yang membawa keranjang sedang memilih sampo. Keranjang yang berisi barang belanjaan itu tumpah ruah.


Farah yang baru sadar dan membantu pria itu mengambil beberapa barang belajaannya. “Maaf Pak, saya minta maaf karena telah menabrak Anda. Sekali lagi saya mohon maaf.”


Pria serba hitam yang ditabrak Farah hanya mengangguk tanpa menjawab. Farah kembali ke trolinya dan memilih barang-barang kebutuhannya. Ia sedikit kecewa dengan pria serba hitam tadi yang tidak menjawab pemintaan maafnya.


“Apa mungkin pria itu sedang marah?” gumannya lirih.


Sepertinya aku pernah mengenal pria itu. Di mana ya? Sayang sekali pria itu memakai penutup sebagian wajahnya, jadi aku tidak bisa mengenalinya.


Farah kembali mengabaikan perasaannya, ia kembali fokus pada catatan belanjanya. Sekarang ia harus belanja gula, garam dan margarin. Ia mendorong trolinya menuju rak yang menyediakan barang-barang itu.


Pria serba hitam itu tetap mengikuti Farah, ia tadi memang sengaja menabrakan diri agar bisa lebih dekat dengan Farah. Saat akan melancarkan aksinya, ada pengunjung lain yang berlalu melewati mereka. Kesempatan emas telah terampas, pria serba hitam itu memilih untuk lebih sabar lagi.


Ayolah hati, sabar sedikit! Aku tahu kamu sangat menginginkan perempuan itu. Sabarlah sedikit lagi. Hari ini dia berjalan tanpa perlindungan pria bodoh yang masih mencintai wanita lain.


Pria serba hitam itu tetap mengikuti ke manapun Farah bergerak. Hatinya bertanya-tanya, apakah ini sudah saat yang tepat? Apakah ini tidak memakan waktu? Entahlah, yang jelas pria itu masih mengintai mangsanya.


Ponsel Farah berdering nyaring di tas selempang yang ia bawa. Buru-buru, ia mengambil dan menjawab panggilan telepon itu.


“Assalamu’alaikum warahmatulah wabarakatuh, Mas. Ada apa?” Farah membuka percakapan itu.


“Wa’alaikumussalam warahmatulah wabarakatuh, Farah masih belanja?”


Terdengar sekali suara Ilham yang sangat terburu-buru seakan Farah adalah anak kecil yang bisa lupa di mana rumahnya.


“Masih, Mas. Bukannya Mas Ilham sedang rapat?” Farah bertanya.


“Sekarang kamu di mana?” Ilham membalas dengan pertanyaan lain.


“Di rak yang menjual bumbu dapur, Mas Ilham mau jemput aku?”


Tiba-tiba sambungan telepon terputus. Farah melihat kembali layar ponselnya. “Sepertinya Mas Ilham terlalu khawatir. Aku yakin ini karena dia takut jika aku berurusan dengan Ray. Aku bahkan yakin tidak mungkin pemilik perusahaan itu mungkin ada di sini. Tidak mungkin juga berkeliaran di jam kerja.” Dua bola mata Farah memutar malas. Ia juga mengembuskan napas kasar karena suaminya yang sedikit-sedikit mudah khawatir. Sekarang ia sedang bersandar di rak, ia ingin mengirim pesan singkat untuk Ilham agar jangan terlalu mengkhawatirnyanya.


Pria serba hitam itu mendengar kalam keluh yang keluar dari mulut Farah. Di balik penutup wajahnya ada senyuman licik yang terukir.


Ternyata kau baik, sangat baik hingga tak pernah menyadari hal buruk apa yang akan terjadi.

__ADS_1


Pria serba hitam itu mengeluarkan sapu tangan yang sebelumnya sudah dilumuri oleh bau yang membuat orang yang menciumnya pingsan. Ia menggunakan cara ini untuk membuat Farah tidak sadarkan diri, dan mengatakan yang pinsang ini adalah istrinya. Setelah itu, ia akan bebas membawa Farah dari tempat ini dan ia akan hidup bersama Farah di rumahnya.


Aku tahu ini sedikit gila, tapi aku yakin kau bisa bahagia bersamaku. Sebentar lagi semua akan berubah, Ilham akan tetap mencintai kekasihnya yang dulu walaupun perhatiannya ada padamu.


Perlahan pria serba hitam itu mendekati Farah yang masih asyik mengerakkan jarinya pada layar ponsel. Semakin dekat dan semakin dekat. Jarang mereka hanya tersisa setenga meter saja, tangan pria serba hitam itu terulur mendekati Farah.


“Awas!” Ilham menarik lengan Farah agar ia menjauh dari rak yang dibuat sandaran.


“Mas Ilham! Ada apa?” Farah terkejut, ketika ada Ilham yang menariknya.


“Kamu menghalangi Bapak ingin untuk mengambil gula yang tadi kamu tutupi.” Ilham tersenyum, ia harus mencairkan keadaan. Ia tidak boleh terlihat panik ataupun marah, hal itu bisa memicu ketakutan Farah bahkan pengunjung sekitar mereka.


“Maaf, saya tidak tahu Pak.” Farah tersenyum ramah kepada pria serba hitam itu.


Pria serba hitam itu hanya mengangguk. Ia berpura-pura mengambil satu bungkus gula dan meletakkannya di keranjang belanjaannya.


“Mas Ilham bukannya ada rapat? Kenapa bisa sampai sini?” tanya Farah.


“Rapatnya ditunda, jadi aku segera kemari untuk menemani bidadariku berbelanja.” Ilham mencubit gemas pipi kiri Farah. Hal sederhana itu membuat rona pipi istrinya kemerahan menahan malu sekaligus bahagia.


“Sekarang mau belanja apalagi? Masih ada yang kurang?” Ilham sekarang memegang troli.


“Kalau beli cumi bagaimana?” Farah menjepit dagunya dengan tangan kanan.


“Ide bagus, Sayang.” Ilham mendorong troli untuk menuju tempat pembelian bahan masakan laut.


Farah menengangguk. Sebelum ia mengikuti suaminya yang lebih dulu berjalan, ia tersenyum ramah kepada pria serba hitam itu.


Pria serba hitam itu menahan amarahnya. Hampir saja ia berhasil mendapatkan mangsanya. Sekarang kesabarannya tidak berbuah apa-apa kecuali hanya makan hati saja! sekarang ia mendengus kesal dan rasanya ingin pergi dari tempat ini.


Sial! Sungguh lacur sekali hariku! Awas kau Ilham. Jika aku mengubrak-abrik kehidupan rumah tanggamu, jangan salahkan aku! Akan kubawa kekasih masa lalumu itu untuk memisahkan kalian.


***


Ilham tersenyum. Tentu saja ia tahu siapa pria di balik penutup wajah hitam itu.


Maaf Ray, aku mengalahkanmu lagi. sampai kapanpun Farah adalah istriku dan milikku. Dengan cara apapun kau akan menemukan kekalahan.

__ADS_1


__ADS_2