Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 164


__ADS_3

Episode 164: Khalil, Aku Merindukanmu


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar sana, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


"Aaaaakkkk!” pekik seorang perempuan yang diseret rambutnya. Sedari tadi ia sudah berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan penjahat yang ada disekitarnya.


“Jangan bermimpi jika kau bisa pergi dari tempat ini, Sirena!” ucap seorang pria yang berwajah garang.


Sirena mengaduh kesakitan. Sekujur tubuhnya kini terdapat luka menganga yang cukup lebar dengan darah yang sudah mengering. Sedari tadi ia mendapat penyiksaat dari empat orang pria dan salah satunya pernah bertemu.


“Me-nga-pa kau me-nyik-sa-ku, Tu-an?” Suara Sirena terdengar lirih dan terbata-bata. Ia tampak tak kuat lagi. Pelipis kanannya robek, bahkan ia sudah muntah darah dua kali dalam malam ini.


“Aku sama sepertimu! Butuh uang yang banyak agar kehidupanku menjadi makmur.”


Sirena memang pernah bertemu pria garang ini. Dia adalah Dom, sopir yang mengantarkan Sirena dan Kinanti tempo hari. Kini ia tahu betapa busuknya pria yang menjambak rambut panjangnya.


Sirena tersenyum, bibirnya penuh dengan bekas darah yang ia muntahkan tadi. “Ter-nya-ta kau le-la-ki ba-nji^ng-an.”


Dom merasa sangat jijik dengan senyuman itu. Ia menarik rambut Sirena dan membanting tubuhnya ke lantai kayu. Perempuan itu mengerang kesakitan. Tubunya terasa remuk dan luka kembali terbentuk.


“Sudahlah Bos, jangan menyakitinya lagi. Aku tak tahan mendengar rintihannya. Lebih baik langsung matikan saja, tak perlu disiksa,” ucap salah satu pria yang menjadi anak buah Dom.


Dom yang tersulut kemarahannya langsung memukul anak buahnya itu. Pertikaian kembali terjadi. Dom memukul anak buahnya yang menurutnya sangat lancang. Ia tak suka diatur.


“Aku anak yang tak tahu diuntung!” Dom meloloskan satu pukulan mengenai wajah pemuda itu. “Asal kau tahu! Perempuan itu sama sepertimu, tak punya identitas resmi di kota ini.”

__ADS_1


Pemuda itu tersungkur di dekat perempuan yang tergolek lemah karena hajaran Dom. Kini ia bisa melihat betapa kesakitannya perempuan yang di sampingnya itu. Apakah dia baik-baik saja? pikir pemuda itu.


Sirena menerasakan gentaran yang berada di dekatnya seperti benda yang terlempar. Ia membuka matanya perlahan untuk melihat apa yang berada di dekatnya. Ia juga merasakan embusan napas seseorang dan bau darah segar. Tepat saat matanya terbuka lebar, ia melihat seseorang yang sangat ia kenal.


“Khalil ....” panggilnya lirih.


Kau sangat cantik! Pantas aja kau menjadi primadona di rumah Bordil. Pemuda itu terpesona dengan mata abu-abu milik Sirena. Walaupun terluka cukup parah, kecantikannya tak pernah pudar. Pemuda itu tersenyum. “Aku bukan Khalil.” Ia merasakan perih saat menggerakan bibirnya untuk berbicara.


“Khalil ....” Sirena memanggil lagi. Kepalanya terasa pusing telinganya berdengung dan mengeluarkan darah. Gaun putih selututnya sudah ternoda oleh darah yang berasa dari luka di tubuhnya. Tangannya mencoba meraih tubuh pemuda itu.


“Namaku bukan Khalil, tapi Philo.” Pemuda itu menyentuh tangannya. Ia yakin jika perempuan ini sedang berhalusinasi karena tadi sempat dicekoki minuman keras oleh salah satu anak buah Dom.


“Khalil ... aku sangat merindukanmu,” Sirena berbicara sangat lirih, tapi Philo bisa mendengarnya.


Sepertinya gadis ini ingin keluar dari tempat ini. Philo merasakan sentuhan tangan dari Sirena yang masih menggangapnya sebagai pria yang bernama Khalil. “Sebentar lagi kita pergi dari tempat ini.”


***


Jam sembilan malam, Farah masih berkutat dengan soal-soal masuk perguruan tinggi. Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu belajarnya selama hampir satu tahun ini. Farah sesekali menguap karena otaknya sedikit dituntut untuk menyelesaikan satu soal yang cara pengerjaannya hampir memakan satu kertas penuh.


“Kenapa dari tadi jawabannya enggak ketemu terus!” Farah menghela napas kesal. Ia membanting pensil yang sedari tadi menbantunya untuk menggores sesuatu di atas kertas.


“Sepertinya ada hal yang rumit.” Ilham meletakkan nampan yang ia bawa dari dapur. “Ada soal yang susah, Sayang?”


“Ini lihat Mas!” Farah menunjukkan selembar kertas yang berisi soal-soal. “Aku tidak menemukan jawabannya.”


Ilham meraih kertas dari tangan Farah. Ia mencoba menguraikan rumus di kertas kosong. Beberapa menit kemudian ia telah menemukan jawabannya.


“Eh! Ternyata mudah!” Farah terkejut melihat cara-cara yang ditulis oleh Suaminya.


“Perhitunganmu tadi kurang cermat, Sayang.” Ilham tersenyum. Ia merasa gemas dengan istrinya yang terkadang seperti kanak-kanak yang terkejut dengan hal-hal kecil.


“Wah, benar! Terima kasih, Mas.” Farah langsung mencium pipi kanan Ilham.


Walaupun ini bukan kali pertama Ilham merasakan ciuman, tetap saja tindakan istrinya begitu mengejutkan. Tak hanya itu, kadang sengatan itu muncul seperti pertama melakukannya. Sekarang istrinya sudah kembali berkutat dengan soal-soal itu dan seperti tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


“Ternyata istriku nakal,” ucap Ilham.


Farah menoleh dan menautkan alisnya. “Nakal?”


“Iya! Kamu nakal!” Ilham menahan tawanya. Ia ingin menggoda istrinya malam ini. “Kenapa hanya satu saja? Pipi yang kiri juga mau dicium seperti yang kanan.”


Farah tertawa sampai giginya terlihat. Ia mendekat kepada Ilham dan mencium pipi sebelah kiri. “Sudah imbang.”


Lagi-lagi Ilham merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Ia mengacak-ngacak rambut Farah yang tidak ditutup oleh kain kerudung. “Aku bawakan segelas es cokelat dan pie stroberi kesukaanmu.”


“Mas ingin aku gendut ya?” Farah menyunggingkan senyumnya.


“Tidak, aku tidak akan mempermasalahkan bentuk tubuhmu nantinya. Aku hanya ingin istriku tetap terisi energi karena belajar sangat keras sekali.” Ilham mengambil sepotong pie stoberi dan menyuapkan ke Farah.


“Sebentar lagi pendaratan pie stroberi akan terjadi. Tuttutuuuuuu ....” Ilham mengarahkan garpu yang berisi pie ke mulut Farah seperti menyuapi anak kecil.


Farah tertawa lagi. Terkadang suaminya bertingkah konyol dan menyebalkan. Ia tahu kalau Ilham sedang memaksanya untuk merasaka pie buatannya sendiri. Farah membuka mulutnya dan benar, pie itu mendarat mulus di lidahnya.


“Bagaimana rasanya?” tanya Ilham pernuh harap.


Farah mengunyah pie itu, sesekali ia ingin suaminya menunggu jawaban. “Ada yang kurang, Mas.”


“Kurang?” Ilham menautkan alisnya. “Aku sudah belajar dari resep. Semua bahan sudah kutimbang dengan benar. Bahkan cara memasaknya pun juga sudah benar.” Ilham kaget. Ia mencoba merasakan pie stroberi buatannya itu.


“Enak kok! Enggak ada yang kurang.” Ilham mencicipi lagi pie buatnnya.


Farah hanya tertawa. “Maksudku kurang banyak, Mas. Lagi ....” Farah membuka mulutnya.


Ilham merasa ditipu. Baik akan kubalas tipuanmu itu, Sayang.


Ia menyendokkan lagi pie stroberi ke mulut Farah. Dengan sengaja melecengkan arah sendoknya sehingga hidung dan pipi Farah belepotan.


“Ih ... Mas!” Farah kesal.


Ilham hanya tertawa. Ia mencium kening Farah dengam lembut. “Ini baru istriku yang lucu.”

__ADS_1


****


Maaf out of topic. Authornya senyum senyum sendiri nulis ginian, woy! udah mirip kek oranh gila pinggir jalan🤣🤣Ternyata LDR menyiksa wkwkwkkww😂


__ADS_2