
Episode 197 : Sebuah Kehidupan Baru Saja Tumbuh
“Assalamu’alaikum warahmatullah wabaraktuh,” Ilham mengucapkan salam sebelum memasuki rumahnya.
Bu Tin yang sedari tadi berjaga akhirnya membukakan pintu. “Wa’alaikumusalam, Tuan.”
Ilham menyadari tatapan dari wajah Bu Tin yang mengantuk. Ia yakin Farah sudah ketiduran karena ia pulang sangat lama dari biasanya. “Bu Tin langsung tidur saja, biar saya yang menutup pintu.
Bu Tin mengangguk dan langsung berjalan menuju kamarnya. Penantian untuk menunggu majikannya pulang akhirnya selesai.
Ilham sudah mengunci pintu. Ia berjalan menuju ruang tamu yang ternyata Farah tertidur di kursi panjang. Dia terlihat damai sekali dan begitu setia kepada Ilham. Ilham jadi terharu ketika mengingat itu semua. Ia menggendong tubuh Farah untuk memindahkannya ke kamar. Seperti biasanya, Farah ketika sudah tertidur, dia tak akan terganggu dengan apapun meski tubuhnya sudah berpindah tempat.
Ilham meletakkan tubuh istrinya di ranjang. Setelah itu ia membereskan buku bacaan Farah dan mengembalikannya di rak buku.
“Akhir-akhir ini Farah sering sekali membaca buku fiksi.”
Setelah semuanya rapi, barulah Ilham menutupi tubuh Farah dengan selimut. Tak lupa ada kecupan manis mendarat di kening Farah. “Aku mencintaimu, tapi aku takut berbicara jujur yang berakibat pada hubungan kita. Aku tak mau kita seperti orang lain atau orang yang pura-pura bahagia padahal hatinya sudah terluka. Aku tak mau hubungan yang seperti itu.” Ilham menggelengkan kepalanya.
Sekarang Ilham sedang membersihkan diri, dan mengganti pakaiannya dengan kaus biasa. Ia lalu berbaring di dekat Farah yang sudah tidur dengan ketenangannya. Sesekali Ilham mandangi wajah Farah dan menyentuh lembut pipinya yang sedikit chubby. Ilham tak mempermasalahkan hal itu. Baginya, perubahan tubuh Farah adalah hal yang lumrah. Dulu saat-saat awal menikah, tubuh Farah cenderung kurus.
Ilham teringat sesuatu. Beberapa kali ia juga menyadari Farah pernah mual dan selalu menghindari bau yang menyengat. “Kamu juga sering makan buah. Jangan-jangan kamu sedang mengandung?”
Ilham memeluk tubuh istrinya. Ia membayangkan bagaimana jika Farah mengandung anaknya. “Tapi, kenapa kamu belum memberitahuku?”
Ilham terlelap semua menjadi nyaman dan hangat.
***
“Assalamu’alaikum, aku pulang Farah.” Ilham tersenyum bahagia tatkala ia pulang membawa sekeranjang stoberi segar.
Tepat saat membuka pintu, pemandangan sangat mencengangkan. “Kenapa kamu ada di sini, Ann?”
Perempuan bernama Anneline itu tersenyum. Sedari tadi ia telah bercengkerama dengan Farah. “Kau lupa ya? Aku adalah istrimu, Ilham.”
“Bukan! Bukan!” Ilham menggeleng. Ia menjatuhkan keranjang yang berisi buah-buah stroberi itu. “Farah! Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?”
Farah terus merunduk. Matanya tak berani menatap Ilham. Raut wajahnya sangat suram dan terus menyembunyikan kemarahan.
“Farah, jawab aku!” Ilham mendekati Farah yang sedang duduk di sofa. Tangannya m-remas gamisnya hingga meningalkan jejak kusut.
“Apa kamu lupa, Mas? Mbak Anneline ini juga akan istrimu, calon istri keduamu,” jawab Farah dengan suara yang sangat lirih seperti terendam air.
“Apa maksudmu? Ada apa ini?” Ilham semakin bingung. Ia benar-benar tak ingat sejak kapan Anneline bisa menjadi isrinya.
__ADS_1
“Kau sangat pelupa, Ilham. Bukankah malam itu, setelah mengantarku pulang. Kita berbuat hal itu. Kau tidur denganku, dan kau berjanji untuk menikahiku. Bahkan aku sudah telah satu bulan. Aku yakin ini adalah anakmu.” Anneline tersenyum, ia mengelus perutnya yang rata seperti ada kehidupan yang baru dimulai.
“Tidak mungkin! Aku tak pernah melakukan hal itu! Kamu pembohong, Ann!” Ilham mengerang galak. Otot di kepalanya terlihat karen menahan ketidakmampuan tentang apa yang terjadi saat ini.
“Aku tidak pernah berbohong padamu, aku berkata yang sejujurnya. Dan aku aku membawa bukti yang menjelaskan semuanya.” Anneline mengambil beberapa foto yang berada di tasnya. Semua foto itu adalah pose Ilham dan Anneline yang tidur dalam ranjang yang sama dan tanpa busana.
Ilham terkesiap. “Itu bukan aku! Aku tak pernah melakukan hal itu!” Ilham lalu menyentuh tangan Farah. “Percayalah aku tidak pernah melakukannya, kamu percaya sama aku, kan?”
Farah tertunduk lesu lalu menggeleng. “Apakah Mas lupa, jika aku bagian darimu berarti kita harus berbagi rasa, berbagi apapun termasuk masa lalu. Aku selalu terbuka untuk Mas, tapi kenapa kamu malah sebaliknya? Kamu menutupi ini semua. Demi apa?”
Ilham menggeleng. “Aku sungguh tidak pernah melakukannya. Aku minta maaf jika aku tak pernah terbuka untukmu. Tolong percayalah padaku, Farah.” Ilham masih saja meminta kepercayaan dari istrinya.
“Kau mau mengelak apalagi, Ilham? Semuanya sudah jelas,” timpal Anneline.
“Aku tidak pernah melakukan hal itu!”
****
“Tidak! Tidak! Tidak!”
“Mas, mas bangun!” Farah menggoyang-goyangkan tubuh Ilham. Ia terbangun karena suaminya yang mengigau dengan keras.
“Mas Ilham, bangun.”
“Mas kenapa? Tadi Mas teriak-teriak seperti itu,” ucap Farah.
Ilham akhirnya ikut duduk di sebelah istrinya sambil menyeka wajahnya yang berkeringat. Ia melirik jam yang terpasang di dinding kamarnya. Jam menunjukkan pukul dua pagi.
“Aku mimpi buruk gara-gara lupa baca doa dan ada yang kelupaan sesuatu,” jawab Ilham.
Farah menyernyitkan keningnya. Wajahnya sedikit kusut dengan balutan baju daster panjang tak mengurangi nilai kecantikannya. “Kelupaan apalagi?” tanyanya.
“Sebuah ciuman sebelum tidur, kamu belum belum memberikannya padaku, lho!” Wajah ilham memberengut seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen.
“Mas Ilham tadi pulannya malam banget, jadi ketiduran nungguin kamu.”
Ilham mengelus puncak kepala Farah. Ia merasakan betapa lembutnya mahkota hitm yang dimiliki istrinya. Dia benar-benar menjaga keindahannya itu.
“Maaf ya, tadi ada urusan yang harus diselesaikan.”
Tiba-tiba Farah memeluk tubuh suaminya. “Akhir-akhir ini Mas sering sekali ada urusan yang mendadak dan pulang larut malam. Aku jadi khawatir.”
Seketika Ilham tak menjawab. Ia masih bimbang bagaimana mengatakan hal yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Anneline. Ia takut Farah malah semakin menjauh dan menjadikannya asing.
__ADS_1
“Maaf, jika aku sering membuatmu khawatir. Aku boleh tanya sesuatu?” Ia masih mengelus puncak kepala Farah yang masih memeluk tubuhnya.
Farah melepaskan pelukannya. Ia menatap lembut pria yang telah bersamanya salam setahun ini. “Boleh, Mas ingin tanya tentang apa?”
“Apakah bulan kamu sudah haid?” tanya Ilham.
Mata Farah melebar. Ia tersenyum penuh makna. “Mas menghitung jadwal menstruasiku, ya?”
“Eh!” Seketika wajah Ilham memerah.
“Sudah satu bulan lebih aku belum mengalami haid lagi, Mas.” Farah merunduk. Ia sedikit mengelus perutnya. “Mas sudah tahu ya?”
“Jadi benar? Setiap pagi kamu selalu mual muntah karena ada ....”
Farah mengangguk. “Iya, sebuah kehidupan, mungkin. Tapi aku belum mengeceknya sama sekali. Kata Bu Tin, semua ini tanda-tanda kehamilan.”
Antara bahagia dan sedih. Ilham bahagia karena akan ada malaikat kecil yang datang di tengah keluarga kecilnya. Akan tetapi, kesedihan adalah mengapa bahagia ini selalu ada orang yang akan merusaknya.
Farah melihat raut wajah Ilham yang sedikit murung. “Mas lagi sedih ya?”
Ilham menggeleng. “Aku bahagia, besok kamu cek ya.”
“Besok? Maksudnya nanti pagi? Ini, kan sudah jam dua pagi, Mas.” Farah tertawa kecil.
“Aku lupa.” Ilham ikut tertawa sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Mas mau lanjut tidur lagi atau aku buatkan teh hangat?” tanya Farah.
Ilham meraih tubuh Farah dan ikut membelai lembut perutnya. “Seandainya ini sebuah kehidupan, aku harap kamu menjaganya.”
Farah hanya mengangguk. Setitik kebahagiaanya mampir di tengah keluarga kecilnya.
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
__ADS_1