Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 23


__ADS_3

Sesampainya di kelab malam. Rahma mengikuti Susi menuju kursi panjang di sudut kelab ini. Di sana Susi berbicang dengan ibu paruh baya yang sedikit gemuk, memakai polesan make up tebal dan bergaun seksi.


“Madam, aku dan temanku ini butuh uang. Kita kerja part time bisa kan Madam?” tanya Susi.


Rahma hanya diam saja. Ia sedikit merasa risih dengan pakaian dari Susi yang sangat kurang bahan dan menampilkan bentuk tubuh yang sempurna ditambah polesan make up sedikit, seperti remaja yang sudah ranum. Manis sekali.


Ibu paruh baya yang disebut Madam, mengiyakan permintaan Susi. Madam memandangi Rahma.


“Anak baru ya?” tanya Madam.


Rahma hanya mengangguk.


“Iya Madam, baru dan masih segel,” sahut Susi.


Rahma tak paham apa yang dikatakan Susi. Madam hanya memberi pekerjaan untuk menemani minum para tamunya. Tentu saja Rahma yang polos menyetujui untuk melakukan pekerjaan yang menurutnya mudah.


Rahma menemani salah seorang tamu Madam. Usia pria ini sekitar 30 tahun. Rahma hanya menemani minum pria itu. Berkali-kali pria itu menawarkan minuman kepada Rahma, tetap saja Rahma menolak. Namum Pria itu tidak kehilangan akalnya.


“Akan aku bayar satu juta rupiah untuk meminum satu gelas ini,” ujar pria tersebut.


Rahma yang gelap mata serta membutuhkan uang, mau saja minum air yang berada di gelas itu. Namun sayang Rahma tidak mengetahui kalau air di gelas itu sudah dicampur obat tidur. Di mana si peminum itu akan merasa pusing dan merasa mengantuk sekali hingga tidak kuat berjalan.


Rahma merasakan efek samping itu setelah meminum habis air yang berada di gelas yang disodorkam oleh pria itu. Rahma tertidur. Ia tidak mengingat apapun. Dan malapetaka itu terjadi.


Rahma mendapati dirinya sendirian di kamar. Ia seperti bayi yang polos. Rahma menyadari sesuatu.


“Tidak! Ini pasti tidak mungkin!”katanya tegas.


Rahma menemukan dua amplop yang satu berisi uang ratusan ribu yang banyak sekali. Dan amplop satunya berisi surat. Rahma membaca surat itu.


Terima kasih untuk tadi malam. Dirimu sangat memuaskan.

__ADS_1


Rahma tak percaya. Dia sudah berbuat senista ini. Ia menangis menyesali perbuatannya. Rahma sekarang tahu maksud dari perkataan Susi kemarin, Mendapatkan uang dengan cara yang menyenangkan.


Rahma segera memakai busanannya. Ia ingin segera pulang. Saat Rahma membuka pintu kamar, ia melihat Susi sudah berganti dengan pria yang lain. Saat Rahma meninggalkan kelab, ia bertemu Madam.


“Sungguh pelayanan Nona sangat memuaskan untuk tamuku. Jika mau, aku bisa membuatmu menjadi primadona di kelab malam ini,” kata Madam.


Rahma sudah diujung kemarahannya. “Aku tak butuh itu dan aku tidak akan kembali ke tempat kotor ini!” jawab Rahma. Lalu Ia meninggalkan Madam yang masih berdiri di ambang pintu kelab malam miliknya.


Rahma menangis, ia sudah tidak memperdulikan penampilannya yang sudah sekusut apa. Ia hanya ingin pulang ke kostnya.


Rahma menyesali perbuatannya. Ia menangis. Dirinya sudah membasahi tubuhnya dengan air yang keluar dari shower. Ia duduk di bawah shower. Sejak hari ini Rahma membenci Susi, membenci Madam itu dan terlebih lagi, ia membenci dirinya sendiri.


Semejak itu, Rahma kembali bekerja menjadi kasir minimarket. Ia berusaha melupakan kejadian malapetaka itu.


Sebulan setelah kejadian itu, Rahma merasakan ada yang aneh di dalam tubuhnya. Ia sering mual muntah di pagi hari. Sering merasakan pusing bahkan letih. Tubuhnya pun merasakan lebih cepat lapar dan Rahma merasa sudah tidak haid selama satu bulan ini.


Lalu Rahma membeli alat tes kehamilan untuk memastiakan apakah ia hamil. Tentu saja Rahma melihat terdapat dua garis merah yang muncul pada alat itu.


Selamat empat bulan Rahma menyembunyikan kehamilan ini, tapi tetap saja perut yang membesar tidak bisa ia tutupi. Akhirnya Rahma diberhentikan dari tempat ia bekerja.


***


“Sejak saat itu, saya berusaha untuk kuat menahan beban ini Mbak Farah. Saya ingin membesarkan bayi ini, meskipun dulu saya pernah terbesit ingin menggugurkan kandungan ini,” jelas Rahma.


“Lalu bagaimana Mbak Rahma bisa bekerja di kedai itu?” tanya Farah.


“Saat saya dipecat dari pekerjaan saya, 3 bulan yang lalu, saya memutuskan untuk pindah ke kota ini. Mencari kontrakan murah dan saat saya mencari pekerjaan, tanpa sengaja bertemu dengan Akmal,” jawab Rahma, “Dan saya memohon padanya agar saya diberi pekerjaan apapun itu,” lanjut Rahma.


“Lalu pria yang melakukan hal itu, tahu soal Mbak Rahma yang hamil?” tanya Farah yang masih penasaran.


“Tidak, saya bahkan tidak mengenalnya,” jawab Rahma.

__ADS_1


“Apakah Kak Akmal tahu soal ini Mbak?” tanya Farah lagi.


Rahma mengangguk.


“Mbak Rahma masih menyukai kak Akmal?”


Rahma menggeleng. “Tak apa Mbak Farah. Akmal berhak mendapatkan perempuan yang jauh lebih terhormat dibanding saya,” kata Rahma.


“Mbak Rahma, saya tidak pernah dengar kalau jodoh itu harus kaya dengan kaya atau miskin dengan miskin. Tapi yang saya tahu perempuan yang baik akan berjodoh dengan pria yang baik pula. Dan masalah jodoh, kita tidak bisa memilih jodoh kita seperti apa, yang jelas kita harus memperbaiki diri menjadi yang lebih baik,” balas Farah.


“Saya tidak ingin berharap Mbak Farah. Saya hanya ingin fokus untuk membesarkan buah hatiku ini,” kata Rahma.


Hari semakin siang. Farah mengajak Rahma untuk pulang.


Hari ini Rahma merasa lega. Ia bisa mengikhlaskan segalanya. Dan bisa menerima dengan hati yang lapang.


***


Sesampainya di kontrakan Rahma, Farah langsung pamit untuk pulang. Ia tidak bisa berlama-lama karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Rahma masuk ke kontrakan kecilnya. Ia memasuki kamarnya untuk menggantung tas yang ia pakai tadi.


Rahma melihat pantulanya di cermin lemarinya. Ia memandangi dirinya, perutnya semakin buncit. Rahma masih terngiang-ngiang tentang ucapan Farah saat di taman dekat apotek.


Mbak Rahma, saya tidak pernah dengar kalau jodoh itu harus kaya dengan kaya atau miskin dengan miskin. Tapi yang saya tahu perempuan yang baik akan berjodoh dengan pria yang baik pula. Dan masalah jodoh, kita tidak bisa memilih jodoh kita seperti apa, yang jelas kita harus memperbaiki diri menjadi yang lebih baik.


Rahma membuka lemarinya, ia mencari sesuatu. Sudah lama sekali ia tidak menggunakannya. Tiba-tiba ia menemukan apa yang ia cari. Kain kerudungnya.


Rahma memakai kerudung itu. Sudah lama sekali ia tidak menggunakan hijab. Rahma merasa dirinya seperti di panti. Rahma terharu sampai tak sadar air matanya menetes.


Rahma mengelus perut buncitnya. “Sayang, mulai hari ini ibu akan memakai kerudung seperti tante Farah. Ibu memakai kerudung agar kamu juga terlindungi sayang.” Rahma berbicara pada bayi yang masih di kandunganya.

__ADS_1


Rahma terharu. “Ya Allah, sekian lama hidupku hancur, aku lupa untuk melibatkan – Mu dalam semua urusan hidupku.”


__ADS_2