
Pukul sembilan malam. Farah masih menunggu Ilham di ruang tamu. Suaminya belum juga pulang. Ia sempat meminta nomor Ilham. Sempat menelpon beberapa kali namun tidak dijawab malah ponsel Ilham tidak aktif. Farah juga mengirim beberapa pesan singkat untuk Ilham. Farah memutuskan untuk menunggunya di kamar mereka.
Malam semakin larut, sudah berganti hari. Pukul satu dini hari, Ilham pulang. Langsung saja menuju kamar untuk tidur. Ilham melihat Farah yang terkantuk – kantuk menunggunya. Kelihatanya Farah tidak tidur karena menunggu Ilham.
Begitu Farah tahu bahwa Ilham pulang, langsung saja Farah menyambut suaminya, tersenyum walaupun dengan keadaan yang mengantuk. Farah tidak marah bahkan tidak bertanya mengapa Ilham baru pulang selarut ini.
Farah mengambil kaos untuk Ilham agar suaminya mengganti baju yang Ia kenakan. Sepatu Ilham yang berserakan akan dipungut Farah, namun Ilham mencegahnya.
“Jangan sentuh sepatuku!” kata Ilham, membuat Farah batal mengambil sepatunya.
Ilham berjalan menuju sepatunya. Memungutnya, dan meletakkanya di rak sepatu kecil. Di sudut kamar itu dekat lemari.
“Bukankah itu tugasku Mas?” tanya Farah bingung.
“Aku bisa melakukannya sendiri, tak perlu bantuanmu. Aku terbiasa melakukan hal itu sendiri!” kecam Ilham.
Ilham mengambil kaos yang berada di tangan Farah. Berlalu menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Beberapa saat kemudian Ilham keluar dari kamar mandi. Berjalan menuju lemari dan mengambil selimut. Ia memutuskan untuk tidur di sofa kamarnya.
Farah tak percaya. Mengapa Ilham melakukan semua ini. Bukankah ranjang ini sangat luas? Mengapa harus tidur di sofa?
Farah menghela nafas panjang.
“Mengapa Mas tidak tidur di sini?” tanya Farah.
“Aku terbiasa tidur sendirian,” jawab Ilham datar.
“Bukankan sekarang ada aku Mas? Bukankah seharusnya kita berbagi rasa, berbagi cerita? Bukankah aku juga bagian darimu?” suara Farah terisak.
“Diamlah. Dan segara tidur!” tegas Ilham.
Mendengar hal itu Farah memutuskan untuk tidur. Menarik selimutnya. Menangis tanpa suara.
Ya Allah semoga esok, semua akan baik-baik saja. Dan bukakan pintu hatinya agar mau menerimaku. Dan semoga kesedihan ini berkurang sedikit saja. Tidak muluk-muluk sedikit saja. Aamiin.
***
Azan subuh berkumandang. Rasanya baru sebentar Farah tidur. Pelupuk matanya masih berat sekali untuk terbuka.
__ADS_1
Farah melihat sofa. Ilham tak ada di sana. “Kemana dia? Mungkin sholat subuh di masjid,” guman Farah.
Hari itu Farah sedang haid. Farah menunggu suaminya pulang dari masjid. Tak berapa lama yang ditunggu akhirnya datang juga.
Ilham tahu istrinya sudah bangun. Ia memilih mengabaikannya. Segera Ilham menuju kamar mandi, ia harus bersiap pagi ini ke kedai. Mulai hari ini Ilham harus berangkat sepagi mungkin. Karena jarak kedainya lumayan jauh. Semenjak tinggal di rumah bunda, Ilham sering kerepotan jika ia akan berangkat menuju kedainya. Sepertinya ia harus tinggal di rumahnya sendiri yang jaraknya tak begitu jauh dari kedainya.
Farah mulai terbiasa dengan ‘kecuekan’ Ilham. Farah tahu jika Ilham mandi. Farah menyiapkan kemeja yang akan dikenakan Ilham untuk bekerja. Farah teringat percakapan mamanya ketika setiap pagi harus menyiapkan pakaian papa.
“Mama kenapa sih, harus menyiapkan bajunya papa, bukankah papa bisa mengambil bajunya sendiri?” tanya Farah.
“Terkadang pria membutuhkan perhatian kecil semacam ini sayang, kelak jika kamu sudah punya suami, kamu akan mengerti dengan sendirinya,” jawab Mama tersenyum.
“Ah, kenangan itu lagi!” potongan kenangan akan mama dan papa masih berseliweran di pikiran Farah.
Ilham telah selesai mandi, melihat Farah yang sedari tadi menunggunya. Farah menyerahkan kemeja untuk Ilham. Farah tersenyum padanya. Ilham mengambil kemejanya dari tangan Farah. Diam tanpa bicara. Lalu masuk lagi ke kamar mandi untuk memakai kemejanya.
Farah sedikit senang, setidaknya Ilham mau menerima kemenjanya tanpa penolakan. Farah keluar dari kamar menuju dapur untuk membatu Yu Minem menyiapkan sarapan.
Yu Minem merasa aneh. “Non, biasanya nih pengantin baru itu bangunnya siang karena malam pertama. Kenapa Non malah di dapur,” tanya Yu Minem.
“Saya sedang ada tamu bulanan Yu. Dan saya juga mau bantuin Yu Minem membuat sarapan sama seperti biasanya.”
***
“Ilham kemarin pulang jam berapa?” tanya Bunda.
“Jam satu,” jawab Ilham singkat.
“Harus selarut itu pulangnya?”
“Bukannya Bunda tidak pernah membatasi jam berapa Aku pulang?” Ilham nampak tenang, seperti tidak menghiraukan lawan bicaranya.
Bunda terlihat kesal dengan jawaban Ilham. Farah dan mas Damar memutuskan untuk diam mendengarkan dan melanjutkan makan mereka.
“Ilham, kamu sudah menikah, tidak seharusnya kamu meninggalkan istrimu. Sebagai pemilik kedai tak bisakah kamu mengambil libur beberapa hari?” tanya Bunda jengkel.
“Enggak.”
“Tapi kamu harus berlibur bersama Farah!”
__ADS_1
Ilham dengan sangat cepat menghabiskan sarapanya, kemudian berdiri. Ia tak mau memperpanjang perdebatanya dengan Bunda.
“Ilham berangkat Bunda,” ujar Ilham sambil mencium tangan Bundanya, dan berpamitan kepada mas Damar.
Farah juga langsung berdiri, ia berjalan mengikuti Ilham yang akan menuju kamar untuk mengambil sepatu.
Sebelumnya sepatu llham telah di bersihkan oleh Farah saat Ilham sedang mandi. Sepeti perlakukan mama dan papanya dulu, Farah juga ingin seperti mereka.
“Tak perlu!” tegas Ilham.
“Tapi aku ingin melayanimu, sudah aku bersihkan sepatu kamu Mas.”
“Aku terbiasa melakukannya sendiri!”
Ilham masih sama, dingin, tak mau dibantu. Farah heran mengapa dia bisa hidup seperti ini.
Apa llham sedang amnesia jika dia sudah punya istri yang siap melayani dan membantunya.
Sementara Farah masih sibuk dengan pikiranya, Ilham sudah selesai mengikat sepatunya dan hendak membuka pintu kamar. Hal itu membuat Farah bergerak dengan cepat menuju pintu dan menahannya.
“Mas tidak ingin berpamitan denganku?” tanya Farah.
“Bukannya kamu sudah dengar jika aku mau pergi!”
“Mas tangan kamu ada apa itu ...!” kata Farah sedikit menunjukan ekspresi terkejut.
Membuat Ilham refleks melihat tangannya. Seketika itu Farah mencium tangan Ilham. Sontak saja membuat Ilham terdiam. Kaget.
Farah tersenyum dan bilang, “Have a nice day.”
Ilham tidak menggubrisnya. Diam dan pergi menuju kedainya.
Aku tahu kamu berlum terbiasa dengan hal ini. Aku yakin suatu saat kamu akan terbiasa menerima aku di sisimu.
Farah harus bersiap. Setelah sarapan, ia dan bunda akan mengantar mas Damar ke bandara. Mas damar tidak bisa berlama-lama di sini. Dia harus segera kembali ke rumahnya di Bali.
***
“Dia pasti sengaja, kenapa aku bisa lengah! Perempuan itu membuat aku gila! (dan mungkin bahagia)” kata hati kecil Ilham, “Tidak mungkin. Dan hal itu tidak boleh terjadi!” desis Ilham saat mengendarai mobilnya. Perasaannya campur aduk, baru kali ini setelah sekian lama tangannya disentuh perempuan selain bundanya.
__ADS_1