Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 24


__ADS_3

Farah melirik jam tangan miliknya,masih ada waktu untuk ia membeli alat tulis. Selama ini Farah belajar di waktu malam setelah selesai bekerja. Ia masih menumpangi taksi online. Farah minta tujuan ke toko buku yang terkenal di dekat Pasar Grosir.


Farah turun dan membayar ongkos perjalanannya. Ia masuk ke toko buku itu dan langsung menuju rak yang menyediakan buku tulis dan alat tulis. Farah memilih mengambil beberapa buku tulis, bolpoin dan alat tulis lainnya. Ia juga melihat buku-buku novel fiksi maupun non fiksi yang dipajang pada rak-rak itu. Farah memilih judul buku yang bagus menurutnya. Setelah memilih Farah memutuskan untuk membeli novel karya Dee Lestari yang berjudul Aroma Karsa. Setelah selesai Farah membayar semuanya di kasir. Ia lalu keluar dari toko buku itu.


Toko buku ini bersebelahan dengan Pasar Grosir. Farah memandangi seorang perempuan yang menjadi juru parkir di sebuah toko pakaian. Ia merasa kenal dengan perempuan yang bergaya mirip lelaki itu. Ia memastikanya sekali lagi.


“Benar! Itu Kinan,” gumannya.


Farah menghampiri Kinan. Alangkah terkejutnya Kinan bahwa ada yang menghampiri dirinya.


“Kenapa kamu ada disini?” tanya Kinan.


“Aku sedang membeli alat tulis. Kamu kerja jadi tukang parkir disini?” tanya Farah balik.


Kinan tidak menjawab. Kinan mengajak Farah untuk duduk di pinggir trotoar dan memesan dua gelas es teh.


“Kita ngobrol disini saja,” ujar Kinan.


“Kenapa kamu kerja seperti laki-laki?” tanya Farah.


“Ada banyak jawaban untuk pertanyaanmu. Yang jelas aku harus bekerja apapun itu yang penting halal,” jawab Kinan setelah menyeruput es teh dengan sedotan.


“Memang tak ada pekerjaan lain yang lebih baik dari ini?” tanya Farah yang memandangi wajah Kinan yang kepanasan, berkeringat dan berminyak.


“Aku belum mendapat pekerjaan, jadi ya ini yang bisa aku kerjakan.”


“Kinan, apa ijasah terakhirmu?”


“SMK, teknik mesin, “ jawab Kinan singkat.


“Mengapa tidak bekerja sesuai keahlianmu?” tanya Farah.

__ADS_1


“Hari ini kau cerewet sekali Farah, lebih cerewet dari kemarin. Jika aku mengikuti sesuai keahlianku banyak lowongan mengutamankan pekerja laki-laki dibanding perempuan,” jawab Kinan menjelaskan.


Farah terdiam, Ia meminum es teh itu. Rasa segar dan dingin masuk ke kerongkonganya.


“Maaf jika aku terlalu banyak bicara,” ucap Farah.


“Tak apa, aku mengerti. Jika aku punya pekerjaan yang lebih layak, aku akan pindah dari pekerjaan ini. Aku sangat membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Ibuku sudah meninggal, Ayahku bekerja namun gajinya selalu habis untuk membayar hutang. Aku mempunyai adik yang harus aku urus dan aku penuhi kebutuhannya,” jawaban Kinan membuat Farah terdiam.


“Kamu beli buku, apa kamu kuliah Farah?” tanya Kinan memecah kebungkaman Farah.


“Belum, tapi itu impianku sejak dulu Kinan. Tahun depan aku berencana untuk kuliah.”


“Mimpi kita hampir sama Farah, hanya saja aku ingin belajar mengemudi mobil atau kendaraan beroda empat lainya. Tapi aku tidak tahu kapan mimpi itu akan terwujud.”


Farah dan Kinan berbincang sampai es teh mereka habis. Farah lalu berpamitan, ia harus pulang, ia tak mau pulang terlambat untuk mempersiapkan makan malam suaminya.


***


Rasanya waktu berjalan cepat namun perasaan sangat sulit untuk terbuka. Hati Ilham masih tertutup untuk Farah. Apapun sudah dilakukan Farah, mulai dari menyiapkan apapun yang Ilham butuhkan. Namum itu belum cukup untuk menjadikan Ilham suka kepada Farah.


***


Beberapa hari ini Ilham sering sekali meninggalkan kedainya, untuk memeriksa sendiri pembangunan cabang kedai yang baru. Itu membuat waktu Farah untuk bertemu Ilham semakin sedikit, untuk waktu bercengkrama juga semakin sedikit. Ditambah peraturan untuk Farah yaitu tidak boleh mengambil mengambil hari libur atau cuti tanpa seizin Akmal.


Bunda pernah sangat marah dengan Ilham yang memperbolehkan Farah untuk menganti pekerjaan Rahma. Tapi Farah selalu berdalih jika ia bekerja secara sukarela dan bisa setiap hari bertemu dengan Ilham, membuatkan makan siang untuknya. Walaupun itu semua dengan sedikit percakapan. Namun pada akhirnya bunda mengerti. Bunda tak punya kuasa atas Farah, karena sekarang Farah adalah tanggung jawab Ilham dan surga Farah sudah berpindah pada ridho Ilham.


***


Beberapa hari Farah menyadari sesuatu, sebuah kertas yang ditempel di dekat pembatas jalan saat ia menunggu bus untuk pulang. Sebuah selembaran yang bertuliskan lowongan pekerjaan. Farah mengambil kertas itu dan memasukkanya ke dalam tas. Sebuah bus berhenti di tempat Farah berdiri. Namun Farah tidak jadi menaiki bus itu, membuat sopir bus itu geleng-geleng atas perbuatan calon penumpangnya yang tidak jadi naik ke dalam busnya. Farah berlari kembali ke kedai untuk menemui Akmal.


Setelah menemui Akmal dan bernegosiasi panjang. Akhirnya Farah memperoleh izin dari Akmal. Ia lalu berpamitan pulang, ia sangat tidak sabar untuk hari esok. Saat di halaman luar kedai Farah menghubungi seseorang agar membawa sesuatu yang ia inginkan.

__ADS_1


***


Sesampainya di rumah Farah lalu membersihkan diri. Bu Tin menyampaikan pesan bahwa hari ini Ilham tidak pulang karena menginap dekat dengan tempat cabang kedai barunya. Ilham mengawasi penuh proses pembangunan kedai barunya. Menurutnya memastikan sebuah rencana dan mematangkan tindakan itu sangat penting dalam dunia bisnisnya. Menurutnya juga sekecil apapun masalahnya harus segera diatasi sehingga masalah besar sedikit diminimalisir. Ilham tidak akan berhenti sebelum apa yang hendak dicapainya selesai.


Mendengar hal itu Farah lalu menelpon Ilham. Namun Ilham tidak menjawab. Lalu Farah mengirim pesan singkat bahwa besok Ia cuti untuk mengurusi suatu hal. Setelah semua selesai Farah merebahkan dirinya di ranjang. Ia ingn tidur lebih awal, karena besok akan jadi hari yang sangat melelahkan.


***


Ilham melihat ponselnya yang berbunyi, pesan singkat dari Farah. Ilham terbelalak, tak percaya. “Dia mengambil cuti lagi!” guman Ilham.


Tanpa berpikir panjang, Ilham menelpon Akmal.


“Halo, ada yang bisa saya kerjakan Pak Ilham?” tanya Akmal yang berada di seberang sana.


“Apakah Farah meminta cuti lagi?” tanya Ilham.


“Benar Pak.”


“Apa alasanya? Ke dokter kandungan lagi?”


“Bukan Pak, mbak Farah hanya bilang bahwa dia ingin membantu seorang teman baik.”


Mendengar hal itu Ilham mengusap wajahnya. Bingung terhadap apa yang akan dilakukan Istrinya kali ini. Merepotkan sekali!


“Oke, besok kamu ikutin Farah, jangan sampai ketahuan. Hanya ikuti kemana dia pergi. Untuk kedai biar aku yang menjaga. Kamu paham Akmal?!”


“Baik Pak. Saya akan melaksanakan perintah Pak Ilham.”


Ilham pun menuntup telponnya. Malam ini Farah sukses membuat Ilham khawatir apa yang akan dilakukannya lagi.


“Siapakah yang kau sebut teman baik itu? Apakah temanmu itu laki-laki atau perempuan?” guman Ilham.

__ADS_1


Ilham memejamkan mata, ia bisa bekerja semalam suntuk, bekerja tak kenal lelah. Tapi saat apa yang dilakukan Farah diluar kebiasaanya itu yang menjadi ruang beban pikiran Ilham menjadi sangat luas hanya untuk Farah. Terkadang Ilham tak habis pikir, mengapa Farah selalu mendadak memiliki rencana yang mungkin tanpa pemikiran yang matang saat melakukannya.


__ADS_2