Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 111


__ADS_3

Selamat membaca


_________


Ruangan yang sangat mewah berlantai pualam dan lampu bak kristal yang menggantung indah di langit-langit. Sebotol sampanye dan gelasnya teronggok manis di meja. Halaman terkahir dari buku yang berjudul “DERANA” telah usai ia rampungkan. Buku yang sangat ekslusif dari penulis yang tidak pernah diketahui identitasnya aslinya, sosoknya pun tak pernah muncul dilayar media.



“Apakah malam ini gadis itu harus mengkonsumsi sari bunga mistik lagi, Nyonya?” tanya seorang perempuan paruh baya yang rambutnya mulai beruban. Ia sudah berdiri cukup lama untuk menunggu perintah ini.


“Aku sedang tidak berniat untuk menyiksa dia lagi, bukankah terlalu lama terpapar bunga itu bisa menyebabkan kebal?” Nyonya itu meraih gelas yang berisi sampanyenya.


“Baik Nyonya, saya pamit undur diri,” ucap maid perempuan yang bernama Saka.


Nyonya Fernando menggoyang-goyangkan gelas yang berisi sampanyenya. Sesekali ia menghirup aroma yang dikeluarkan oleh minuman beralkohol itu. Ia memang kerap kali menyiksa siapapun yang menjadi pendampingnya dengan Bunga Mistik yang hanya bisa diperoleh pada daerah yang masih perawan hutannya. Bunga itu tumbuh subur di antara celah batu. Efek samping dari penggunaan bunga itu bisa berakhibat berhalusinasi dan bisa menggiring pemikiranya untuk merasakan kesakitan.


Kali ini ia senang mendapatkan pendamping dengan kondisi yang bisa dibilang sangat unik. Biasanya para pendamping itu akan langsung mengundurkan diri karena merasa tertekan jika merasakan masa lalu yang cukup menyedihkan. Orang yang menggiring si pemakai bunga mistik haruslah memiliki masa lalu yang sangat menyakitkan dan rasa dendam sebagai pemanis buah kehidupan yang pernah terjadi.


“Kau perempuan yang kuat Kinan, keraguanku ternyata salah besar. Kau mampu untuk menerima semua kejadian pahit ini.” Nyonya Fernando sedikit bermain-main di lingkaran gelas sebelum meminum sampanyenya.


***

__ADS_1


Naresh merasa sangat bersalah atas kejadian siang tadi. Ia menatap bulan yang gompal bersinar di kelamnya langit malam tanpa pasukan kerlap-kerlipnya. Bulan itu sendirian sama seperti dirinya di rumah kecil yang jauh dari hiruk pikuk rumah adikknya. Sudah belasan tahun ia tinggal di sini sendirian, sepi yang menikam.


Naresh masih ingat cerita tentang rubah putih yang berubah menjadi teman yang sama sepertinya. Ia sudah menemukan rubah putih itu dan sekarang ia tinggal jauh di mess maid. Ia terpaksa mencari sendiri rubah miliknya agar memiliki teman lagi. Sejujurnya ia merasa sedih jika gadis yang ia bawa hanya tinggal namu tidak menetap. Ia tahu Kinanti hanya tinggal di sini karena ingin melunasi utang uang tidak sengaja ia gunakan waktu dulu. Namun tidak aja jaminan apakah ia akan menetap bersamanya.


“Apa aku tindakanku begitu keterlaluan hingga sorot matamu ketakutan?” Naresh berbicara kepada dirinya sendiri. Ia terpuruk ketika rubahnya bersedih karena tindakkanya. Ia benar-benar tidak ingin Kinanti pergi dari sisinya.


***


Pagi satu malam yang terlewati. Pagi membawa penuh janji, membawa penuh harapan dan penuh kasih yang baru. Sepagi ini Kinanti sudah berangkat menuju kediaman Fernando, ia memang berniat untuk menghindari Naresh. Ada hal yang tidak bisa pria itu lakukan jika semua sudah mendekat dengan sang nyonya besar, maka dari itu Kinanti memilih untuk pergi lebih awal.


Naresh yang setiap pagi sebelum ia berangkat bersama Fernando, selalu menyempatkan dirinya untuk mengunjungi kamar Kinanti. ia juga ingin meminta maaf kepada gadis itu karena telah membentaknya. Namun kenyataan yang terjadi, ia sudah pergi dari kamarnya, sudah dapat dipastikan bawah dia telah berangkat menuju ratunya.


'Maaf' kata aku belum bisa aku lafalkan untukmu.


***


Selama 24 jam Kinanti bermain peran untuk menyembunyikan kesedihan dengan wajah yang selalu mengulas senyuman di depan siapapun. Nyonya Fernando tentu tahu dengan permasalahan yang sedang dihadapi perempuan ini, tapi ia memilih acuh karena ia senang mendapat boneka yang bisa ia bentuk karakternya.


Hari ini spesial untuk Kinanti, ia diberi latihan khusus dari Nyonya Fernando tentang pengetahuan pesta dan etika makannya. Tak hanya itu, ia juga mengajari Kinanti untuk berhias memoleskan bedak dan memadu-padan warna lipsik dan eyeshadow untuk kelopak mata sesuai agar tampak lebih menarik. Kinanti juga diajari cara berjalan dengan sepatu berhak tinggi.


“Kau harus latihan menggunakan sepatu ini untuk pesta Kinan,” ucap Nyonya Fernando.

__ADS_1


Kinanti merasa asing dengan dengan semua barang-barang yang seharusnya sudah ia kenal. Sekarang pun ia dipaksa untuk membakai gaun yang sangat mengekspos tubuh mungilnya. Ia tidak bisa menolak perintah itu dan memakai gaun dengan belahan dada rendah. Kinanti sekarang sudah bermetamorfosa seperti gadis kota yang sedang ingin berangkat menuju pesta. Nyonya Fernando melakukan make over itu hampir seharian penuh.


Saat Kinanti melihat dirinya dari pantulan cermin, ia tercengang melihat sosok yang begitu cantik bak bidadari.


Apakah ini aku?


Kinanti bahkan membayangkan bahwa dirinya sedang berada di pesta dan berdansa dengan pria yang sangat tampan. Imajinasinya sangat liar menangkap hal-hal semacam itu, pria yang sangat memikat tapi terlalu sakit untuk digenggam.


Naresh Yori Alvarendra, pria baik yang mengikatku dengan rasa sakit ini di tempat yang penuh keji.


________


Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author🙏😁


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.😆


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀

__ADS_1


__ADS_2