
Menjelang sore Farah sudah pulang. Ia melihat Bu Tin mengecek semua barang bawaanya. Ada satu koper dan satu dus yang diikat menggunakan tali. Rupanya Bu Tin sudah bersiap akan berangkat.
“Nona Farah sudah pulang?” tanya Bu Tin yang mengetahui kalau majikannya sudah pulang.
“Sudah, hari ini saya memang pulang cepat. Bu Tin sudah siap ternyata,” jawab Farah.
“Iya Nona, kereta saya berangkat satu jam lagi berangkat, saya sebenarnya ingin ke kedai dulu menemui Nona Farah, tapi sekarang Nona sudah ada di sini, jadi saya batal pergi ke kedai.”
“Saya sudah di sini, kalau Bu Tin mau berangkat sekarang boleh.”
“Terima kasih Nona. Tadi saya sudah memasak untuk Nona makan malam, mungkin hari ini tuan tidak pulang, tidak apa-apa ‘kan saya tinggal sendiran di rumah ini?”
“Tidak apa-apa Bu Tin. Kalau Bu Tin memperbolehkan, saya mau mengantar Bu tin ke statsiun,” tawaran Farah.
“Tidak perlu Nona, saya berangkat sendiri saja. Nona Farah baru pulang pastinya capek.”
Tak berapa lama ada mobil yang berhenti di depan rumah. Ternyata taksi online yang dipesan oleh Bu Tin sendiri.
Bu Tin tetap bersikukuh ingin berangkat sendiri. Farah tidak memaksa, Ia mengantarkan bu Tin sampai bu Tin naik ke dalam mobil.
“Semoga pernikahan anaknya Bu Tin berjalan lancar,” ucap Farah.
“Terima Kasih Non atas doanya. Saya pamit pulang. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.”
Mobil yang sudah ditumpangi oleh Bu Tin terlihat sudah jauh. Akhirnya Farah sendirian di rumah. Ia segera menutup pagar, dan menutup rumah.
***
Bu Tin tiba di rumah Bunda. Yu Minem menyambut kedatangan bu Tin.
“Titin, kamu sudah di tunggu nyonya di dalam,” kata Yu Minem mengajak Bu Tin untuk masuk ke dalam rumah Bunda.
Bunda duduk di kursi ruang keluarga. Sedari tadi bunda sudah menunggu kedatangan bu Tin.
“Akhirnya yang ditunggu sudah datang,” ujar Bunda saat melihat Bu Tin yang sudah berada di hadapannya.
“Selama sore Nyonya,” sapa Bu Tin.
Bunda tersenyum. “Ceritakan, bagaimana perkembangan mereka.”
__ADS_1
“Maaf sebelumya Nyonya. Saya takut kalau tuan Ilham tahu saya telah berbohong. Acara pernikahan anak saya masih minggu depan. Saya takut kehilangan pekerjaan Nyonya,” jawab Bu Tin sopan.
“Sudah, saya pastikan Bu Titin tidak akan dipecat. Ceritakan bagaimana perkembangan mereka. Apakah Ilham dan Farah sudah terbiasa?” tanya Bunda antusias.
“Bisa iya bisa tidak Nyonya. Tuan Ilham dan nona Farah masih tidur di kamar yang berbeda. Pagi hanya ada percakapan kecil lalu mereka bertengkar lagi. Saya pernah mendapati tuan masuk ke kamar nona Farah, namun hanya sebentar. Lalu tuan kembali ke kamarnya. Untuk beberapa minggu ini tuan sangat sibuk dalam pekerjaanya,” jawab Bu Tin.
Bunda menghela nafas setelah mendengarkan cerita dari Bu Tin.
“Tuan pernah pulang karena nona Farah sakit saat di cafe, dan malamnya ...”
“Farah sakit? Sakit apa Bu Titin?” tanya Bunda memotong cerita Bu Tin.
“Nona Farah kelelahan dan anemia, lalu di bawa ke rumah sakit. Namum nona Farah meminta pulang, dan malamnya tuan menungguinya sambil tidur di kursi. Tuan mengompres nona Farah. Paginya tuan juga menyuapi nona Farah.”
“Berarti Ilham sudah menerima Farah?” tanya Bunda.
Bu Tin menggeleng tanda tidak tahu. “Sebelum nona Farah meminta pulang paksa, ada sahabat nona Farah yang bernama Kinanti. Dia memarahi tuan di depan nona Farah. Kinanti menganggap kalau tuan terkesan membiarkan nona Farah bekerja,” ujar Bu Tin.
***
Farah berada di rumah sendirian, ia sudah menutup semua jendela dan menguncinya. Farah juga menutup pintu utama dan menguncinya. Ilham mempunyai kunci duplikatnya, dia bisa kapan saja pulang dari pekerjaannya. Farah yakin kalau Iham tidak akan pulang malam ini.
Farah tertidur di sofa yang biasa digunakan untuk menonton televisi. Ia tertidur dengan televisi yang menyala.
Lagipula besok adalah hari minggu, ia harus pulang dan beristirahat sehari saja di rumahnya sendiri. Ilham yakin kalau Farah besok akan bekerja. Dia tak mungkin mengajukan cuti pada hari minggu. Ilham bisa memastikan itu, karena ia yang membuat semua aturan waktu Farah bekerja dan waktu libur Farah di kedai.
Ilham pulang sangat larut, ia masuk menggunakan kunci duplikat yang ia bawa setiap waktu. Saat memasuki rumahnya ia mendengar suara televisi yang masih menyala.
“Dia menonton televisi selarut ini?” tanyanya dalam hati.
Ilham berjalan menuju ruang keluarga. Benar saja televisi masih menyala, namun Farah sudah tertidur pulas.
“Ini namanya televisi yang menonton orangnya.” Ilham berguman sambil mematikan televisi itu.
Ilham melihat dengan jelas wajah Farah yang sembab. Wajah yang sembab? Ilham menyadari sesuatu.
Dia habis menangis?
Ilham mengangkat tubuh Farah untuk dipindahkan ke kamar Farah. Tetap saja Farah tidak berontak, dia sudah tertidur pulas sekali. Kelelahan dengan hari yang dilaluinya.
Ilham meletakkan tubuh Farah di tempat tidur. Ilham menyadari bahwa Farah tidak memakai hijabnya. Mungkin Farah yakin kalau Ilham tidak akan pulang malam ini. Sekali lagi keyakinan Farah salah besar.
__ADS_1
Ilham melihat lamat-lamat wajah Farah dengan rambut yang tergerai panjang. Harum sekali bau rambutnya. Ternyata Farah merawat rambutnya walau berhijab. Ilham menyibak rambut Farah yang menutup wajahnya. Pandangan Ilham tiba pada pelipis sebelah kanan Farah.
“Luka memar?” mata Ilham terbelalak melihat warna merah keunguan kecil di pelipis Farah, lalu Ilham melihat kaki Farah juga memar di bagian depan. Lalu tangan Farah ada luka memar yang terlihat sedikit.
“Siapa yang melakukan ini! Mengapa banyak luka memar?” Ilham terkejut dengan luka-luka di tubuh Farah. Di tambah wajah yang terlihat sehabis menangis.
Ilham lalu menelpon Akmal, tak ada jawaban. Ponsel Akmal dinonaktifkan.
“Besok saja aku cari tahu,” guman Ilham.
Hari ini pekerjaanya sangat banyak sekali, Ilham menyeleksi para karywan dan karyawati, juru masak, barista, bahkan store manager untuk kedai barunya. Kedainya memang belum sepenuhnya jadi. Sudah berbentuk hanya belum ditambah interior pendukung kedai. Ini membuat Ilham ekstra sibuk.
Ia merasakan lelah sekali ingin tidur rasanya, mengantuk. Akhirnya Ilham tidur di samping Farah. Baru saja Ilham memejamkan matanya. Ia terbangun karena mendengar suara teriakan Farah.
“Jangan! Jangan sakiti aku. Aku mohon!” teriak Farah dalam igauannya. Ia menjerit ketakutan bahkan dalam tidurnya.
Ilham yang terkejut langusung membangunkan Farah.
“Farah, Farah bangun, kamu kenapa?” tanya Ilham sambil mengguncang-guncangkan tubuh Farah.
Farah membuka mata, ia berhenti menjerit. Ia sekarang tersadar, nafasnya terengah-engah ketakutan. Ilham menyuruhnya untuk beristighfar, lalu memberinya minum. Farah nampak sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
“Kamu kenapa teriak-teriak?” tanya Ilham.
Farah menggeleng tidak bersuara.
“Mimpi buruk ya?” tanya Ilham lagi.
Farah mengangguk, tanpa bersuara.
“Pasti kamu lupa membaca doa sebelum tidur,” ujar Ilham.
Tak ada jawaban dari Farah. Keringat bercucuran di wajah Farah. Ia masih mengingat detil mimpinya tadi.
Dalam mimpinya, Ray mencengkram kuat tangan Farah untuk ikut bersamanya. Itu yang membuat Farah takut sampai-sampai terbawa mimpi.
“Sudah kembalilah tidur, aku yang akan menjagamu,” ujar Ilham.
Sebenarnya Ilham sangat mengantuk, memaksa matanya untuk terjaga. Farah sudah kembali tidur. Malah sudah terlelap seakan melupakan jeritan tadi.
Ilham masih berada di samping Farah, “Mengapa dia merasa ketakutan? Dan luka-luka itu? Sepertinya ini masalah seius,” guman Ilham. Ia harus memastikan ini besok.
__ADS_1
Jam dua pagi. Masih ada sedikit waktu untuk Ilham merebahkan tubuhnya. Ia tertidur sambil memeluk Farah. Beruntung Farah memiliki cara tidur yang unik, jika sudah tidur, dia tidak akan merasakan apapun. Hanya tidur itu saja.
Ilham terbangun, pukul empat pagi. Ilham merasa baru saja tertidur dan ini terbangun lagi. Farah masih tidur dengan nyenyaknya. Ia keluar dari kamar Farah.