
Episode 196 : Jadikan Aku Istri Keduamu
“Seperti apa Fernando di matamu?” tanya Ilham.
Anneline terdiam sejenang. Ia memejamkan matanya, mengingat semua yang pernah ia alami. “Setiap pagi, dia selalu mengajakku untuk sarapan dengan pancake yang disiram saus caramel, itu makanan kesukaannya. Tapi, aku selalu menolak dengan berbagai alasan. Semenjak kejadian merusak chip itu, Fernando jadi lebih sering mengunjungiku ataupun membelikan sebuah hadiah.”
Anneline berhenti ketika memperhatikan pandangan Ilham. “Kau cemburu ya, Ilham? Tenang, Fernando itu payah soal memberi hadiah. Dia tak pernah tahu apa yang aku mau. Aku pernah memintanya ke kedai es krim. Dia tidak menjawab, beberapa jam kemudian, dia malah memberikanku es krim lengkap dengan pembuatnya. Mungkin sebagian perempuan akan senang dengan pemberian luar biasa itu, tapi aku tidak mau. Karena bukan itu yang aku mau.”
Ilham mendesah pelan, ternyata kehidupan rumah tangga Anneline lebih parah dari miliknya saat di awal-awal. “Mengapa kamu tak pernah mengajukan cerai?”
Mata Anneline membulat. Mendengar kata cerai membuat dadanya sesak. “Perempuan yang telah dipilih oleh keluarga itu tidak boleh mengajukan cerai apapun yang terjadi. Itu aturan yang harus ditaati. Namun, pria dari keluarga Fernando boleh menikah lebih dari satu kali, selama ia mampu.”
Ilham merasa kehidupan di lingkungan Anneline sangat mengekang. Hidup di kalangan elit lebih mengikat dari yang aku duga. Tak heran, jika Anneline tak pernah mencariku selama enam tahun ini.
Tiba-tiba Ilham teringat sesuatu. “Bagaimana caramu ke kota ini? Bukankah, kamu bilang untuk keluar dari rumah saja selalu ada penjaga yang mengikutimu?”
“Aku memanfaatkan rasa rindu Kinanti terhadap ayahnya. Kak Naresh pria yang mudah sekali luluh pada rengekan kekasihnya sendiri. Jadi, aku bisa mengikuti mereka tanpa penjagaan. Mereka tak akan khawatir karena Kinanti masih satu kota denganku. Tak hanya itu, aku tidak jago mengemudi mobil, jadi mereka menganggap bahwa aku tak akan pernah pergi dari penginapan itu,” jawab Anneline.
Ilham menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. Setiap helaan napasnya adalah rasa sesak saat dirinya memposisikan kehidupannya dengan Anneline. “Lalu di mana pria yang bernama Naresh dan apakah suamimu tahu jika kamu di sini?”
Anneline tersenyum. “Kak Naresh sedang ada masalah di pabrik. Sedangkan suamiku sedang menjalani operasi agar bisa berjalan lagi.”
Fakta yang mengejutkan bagi Ilham. “Sepertinya suamimu sangat menyayangimu, dia rela melakukan operasi ini hanya untuk kesembuhan dirinya.”
Anneline justru tertawa lebar. Ia menganggap ucapan Ilham adalah lelucon. “Apakah dia bisa selamat? Maksudku, kenapa harus seperti itu. Bukankah dia sedang tidak menerima ketidaksempurnan pada dirinya sendiri?”
Ilham kaget bukan main dengan pikiran Anneline yang benar-benar membenci suaminya. Tiba-tiba ia teringat pada Farah yang berjuang bagaimana agar lebih pantas di dekatnya.
Anneline memandang langit malam dengan formasi ribuan bintang tanpa rembulan. Terlihat sangat indah, tapi tetap saja ada yang kurang sempurna.
“Aku sempat mengingat daerah ini, bukankah itu jalan menuju rumah Ray?”
__ADS_1
Ilham terkesiap. “Kamu sudah bertemu dengannya?”
Anneline mengangguk. “Dia masih payah seperti dulu. Aku beritahu sebuah rahasia tentang Ray, dia masih menginginkan istrimu, Ilham.”
Mata Ilham terbelalak. “Apa maksudmu? Bukankah dia akan menikah dengan Sasmita?”
Anneline tertawa. “Kau memang pembohong besar, tapi kau mudah sekali dibohongi.”
Ilham mengernyitkan dahinya. “Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Aku jelaskan ya, Ilhamku sayang. Perempuan yang bersama Ray itu adalah Karin, sekertarisnya. Jadi, mereka hanya menyamar untuk mendekati istrimu,”Anneline menjawab dengan santainya.
Ilham mengepalkan tangannya tanda ia tak terima dengan kepekaan ini. Bagaimana ia bisa lalai ketika Ray bersikap sangat manis di depan Farah.
Anneline mengetahui ekspresi itu. Ia senang karena bisa menjual ksedihannya dan mmebuat Ilham merasa iba. Ini saatnya aku memelukmu lagi, Ilham.
“Aku membuat penawaran padamu.”
“Ilham, selama enam tahun ini hidupku seperti burung dalam sangkar. Aku tak pernah mendapat kebebasan seperti dulu. Aku ingin kau mewujudkan keinginanku ini dan kau bisa melindungi Farah dari Ray.”
Ilham memandang iba pada Anneline. “Apa permintaanmu?”
“Jadikan aku sebagai istri keduamu. Jual semua asetmu dan kita akan pergi dari kota ini. Aku memiliki tabungan yang cukup. Kita bisa bawa Farah, aku yakin dia pasti mau melakukan hal ini.” Di sudut hati kecil Anneline, ada rencana yang akan ia jalankan setelah pemintaan diikuti oleh Ilham.
“Kamu ingin mengajakku berpoligami? Apa kamu gila, Ann? Itu tidak mungkin!” Ilham menolak tegas. “Kamu pikir itu hal yang sangat mudah? Aku enggak mau!”
“Mudah, kau hanya tinggal jual rumah dan dua cafemu. Lalu kita menikah, aku yakin Farah bersedia dimadu. Toh, kau bisa untuk berpoligami.” Anneline kian menuntut. Ia harus bisa menyakinkan Ilham bahwa permintaannya menarik untuk diikuti.
“Sepertinya sudah malam. Aku ingin pulang, Ann.” Ilham telah berjalan lebih dulu meninggalkan Anneline yang masih duduk di kursi taman.
Anneline ikut bangkit dan mengekor pada Ilham. Perjalanan pulang itu hanya ada kebungkaman saja, tidak ada kata yang keluar dari penghuni kendaraan pribadi beroda empat. Sesampainya di penginapan, Anneline menarik tangan Ilham, ada yang ia katakan pada pria itu.
__ADS_1
“Apalagi? Aku ingin pulang, istriku sedang menungguku di rumah,” ucap Ilham sambil melepaskan genggaman tangan Anneline.
“Aku harap kau memikirkan permintaanku ini, Ilham. Tolong aku dari jeratan ketidakbebasan ini. Kau tak harus menceraikan Farah, kau bisa bersamaku, seperti janji kita dulu, aku mohon.” Wajah Anneline memelas. Ia harus melakukannya untuk mendapat simpati dari Ilham.
“Aku tidak bisa melakukannya,” jawab Ilham.
“Mengapa?”
“Karena aku sudah berjanji kepada Farah agar selalu menjadikannya istri satu-satunya selama dia hidup. Jadi, aku takan memutuskan untuk melakukan hal itu. Kamu kembalilah pada suamimu, bilang padanya tentang keresahan yang kamu rasakan.” Ilham tersenyum. “Rasa penasaranku atas kepergianmu selama enam tahun ini sudah terbayar. Sekarang kita tetap menjadi teman dan aku mohon urusan kita selesai sampai di sini Ann. Aku yakin suaminy, Fernando itu adalah orang baik. Aku pamit dulu ya, Ann.”
Anneline tidak menjawab. Ia langsung berlari menuju rumah penginapanya dan menutup pintu dengan keras. Keinginannya lagi-lagi hancur dalam semalam. Rencana yang telah ia persiapkan berhari-hari lamanya hanya dibalas dengan penolakan. Anneline meraung dan menangis. Ia membuang semua perabotan yang ada di sebelahnya.
“Mengapa! Mengapa harus aku yang tak pernah mendapat kebahagian!”
Anneline terus saja membuang apapun yang berada di dekatnya, kadang berang yang dilemparinya pecah mengenai kakinya hingga berdarah. Ia tak memperdulikan luka dan rasa sakit itu.
“Kau tahu Ilham? Aku selalu ingin bersamamu, jika aku tak bisa bersamamu, maka orang lain tak boleh ada didekatmu. Maafkan aku Ray, aku bukan orang yang sabar jadi aku terpasa harus melakukan hal ini. Aku akan membunuh Farah hingga jiwanya bisa bersama ayah dan ibu di alam baka.”
Anneline menyeka matanya yang berair. Bibirnya membentuk senyuman yang mengerikan. “Kau korbanku selanjutnya, Farah.”
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
__ADS_1