
Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi
________
“Anne ... apakah kau sedang marah saat ini?” Ray bertanya karena raut wajah Anneline mendadak berubah lebih mengerikan.
Anneline menghembuskan napasnya, ia berusaha menahan kemarahan yang sudah memuncak. “Tidak,” jawabnya singkat.
Ray tidak melanjutkan perbincangannya. Ia berjalan melihat apa yang ada di bawah. Dalam ketinggian lantai tiga ia melihat sepasang kekasih yang sedang mengobrol dengan asiknya. Lebih lama mengamati, ia menemukan sesorang yang ia kenal. “Siapa yang bersama Yori?”
“Kekasihnya.”
“Wah ternyata sebentar lagi kau akan punya kakak ipar perempuan.” Ray masih asik mengamati Naresh dan Kinanti yang masih dalam suasana romansa suka cita. “Menurutmu perempuan itu anak konglomerat yang mana?” Ray bertanya lagi.
__ADS_1
“Dia hanya maid, lebih tepatnya dia pesuruhku. Entah kenapa kakak ipar membawanya ke rumah dan menjadikannya pendampingku. Dia memang sedikit gila.” Anneline memandang tak acuh kepada sepasang kekasih yang sedang saling bercerita di bawah pohon palem.
“Hanya pesuruh ternyata, wajahnya tidak asing bagiku.” Ray meletakkan tangan kanannya menyetuh dagu. Ia sedang mengingat-ingat di mana ia pernah melihat wajah itu.
“Kau tidak akan pernah tahu meskipun kalian berada di kota yang sama. Dia tinggal di kawasan kumuh dekat Pasar Grosir.” Anneline menjelaskan.
“Pasar Grosir? Milepolis? Berarti lumayan dekat dengan cafe milik Ilham.”
Cafe? Ilham memiliki Cafe? Dia bertahan dengan keinginanku?
Mendengar nama Ilham, seketika hatinya terketuk. Ia masih mengingat dengan jelas bhawa keinginannya adalah memiliki sebuah cafe dan Ilham yang menjadi kokinya. Kenangan yang berusaha tersimpan kini terbuka lagi seperti buku lama yang ingin diulangi lagi untuk dibaca. Buku yang ia tulis dengan tinta waktu menuliskan memori-memori yang tak terlupakan.
Mengapa kau sudah menikah? Bukankah kiat sudah berjanji akan hidup bersama? Kau sudah melupakanku? Apakah perempuan itu sudah menggantikan posisiku?
Banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala Anneline. Ia masih tidak terima dengan cerita Ray, tapi tidak ada gunaanya pria itu berbohong. Bukti jika istri Ilham bisa menarik perhatian Ray, sungguh hal yang mengejutkan.
“Bagaimana kau bisa menikah dengan Nando?” tanya Ray.
Tentu saja aku dijual oleh keluargaku yang biadab itu! Aku dijual hanya untuk memenuhi persyaratan agar pria yang hanya bisa duduk di kursi roda itu memiliki hak waris lebih banyak dibandingkan saudara tertuanya. Lebih bedebah lagi, ayahku seakan tidak peduli dengan putrinya. Dia malah senang mendapat suntikan dana untuk bisnisnya sendiri.
Batin Anneline ingin berteriak mengatakan hal itu. Namun ia masih bisa meredamnya. Ia tidak ingin orang beranggapan bahwa dia adalah gadis yang dibeli dan dinikahkan secara paksa.
“Kami menikah karena perjodohan,” jawaban itu yang bisa Anneline sajikan untuk menutupi kisah kelamnya.
“Sekarang bagaimana keadaan keluargamu? Theo! Bagaimana kabar kakakmu? Sudah lama sekali aku tidak menghubunginya, tepat saat kalian pindah rumah aku tidak bisa menemukannya.”
__ADS_1
Dia sudah mati. Semuanya sudah hilang tanpa kenangan.
Anneline hanya menggeleng, ia tidak bisa menjawab pertanyaan bagaimana kondisi keluarganya. Ia juga tidak bisa menjelaskan di mana keberadaan keluarganya. Anneline menganggap bahwa mereka semua telah hilang, meninggalkan semuanya yang tersisa hanyalah dirinya sendiri dan sakit hati yang masih terasa.
Peristiwa itu terjadi enam tahun yang lalu, ketika ia sampai pertama kali di rumah besar itu dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Tubuhnya diikat kencang dan mulutnya tersumpal dengan kain. Umurnya pun masih 20 tahun, tapi ingatan enam tahun silam masih membekas dengan jelas.
***
Flashback
Seorang wanita yang berpenampilan sangat modis bak nyonya besar memandang sadis gadis itu. Tangan kanannya menjepit dagu dan merapikan rambut yang menutupi wajah sang gadis. Wanita yang seperti ratu itu memandanginya cukup lama. Pada wajah gadis yang terikat itu ada bekas tangisan yang baru saja keluar dari sangkar matanya.
“Dia cantik, hanya perlu beradaptasi diri. Aku ambil gadis ini, untuk imbalan datanglah besok di perusahaanku.”
Benar tebakanmu, gadis itu adalah Anneline yang berusia 20 tahun. Setelah kepergian sekeluarga dari rumah, ia dijual oleh ayahnya sendiri untuk suntikan dana. Sejak saat itu Anneline sangat membenci keluarganya.
Penderitannya tidak sampai di situ saja setelah dibawa ke rumah itu, ia dikurung di kamar dengan penjagaan yang ketat. Dari mulai jendela yang berteralis besi hingga pintu yang terkunci. Saat itu Anneline masih berpegang prinsip bahwa ia akan bertahan dan mencari cara agar bisa keluar dari rumah yang terkutuk ini.
Selamat beberapa hari, ia diperlakukan dengan baik. Para maid dalam 24 jam selalu menemaninya dari luar kamar. Namun keras kepala Anneline agar segera pergi dari rumah itu akhirnya runtuh. Selama berhari-hari ia tidak memakan apapun yang disuguhkan untuknya. Tepat di hari keempat ia jatuh sakit. Sang nyonya penguasa rumah itu panik dan memanggil dokter beserta suster untuk merawatnya hingga sembuh.
Semua upaya telah dilakukan oleh Anneline untuk kabur dari rumah itu, hingga ia lelah sudah tidak ada jalan lain dan ia harus menyerah dengan takdir yang dibuat untuk memuaskan keluarganya.
Nyonya besar penguasa rumah itu berbicara bawa ia akan dinikahkan oleh anak lelakinya yang sangat tampan. Pada saat itu ia hanya tahu seorang laki-laki yang umurnya sedikit tua darinya. Lelaki itu sering mengunjungi taman bunga seroja di kala malam dengan Rembualan sebagai atap terindah. Anneline menganggap lelaki itu yang akan dijodohkan denganya.
Waktu perkenalan itu terjadi dia saat makan malam. Untuk pertama kalinya Anneline diperbolehkan makan di luar kamarnya. Mata Anneline mencari lelaki yang sering datang ke taman seroja, tapi ia tidak menangkap sosok itu. Hanya lelaki seusianya yang sedang duduk di kursi roda dan memandangannya dengan tersenyum. Lelaki itu bernama Fernando, pemilik sebagian besar perusahaan keluarga. Anneline masih tidak bisa mempercayai ini. Ia dijual hanya untuk menikahi tuan muda yang tidak sempurna!
__ADS_1
Bersambung ....