Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 132


__ADS_3

Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author


Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


Selamat berimajinasi


_________


“Nyonya, apakah Anda memiliki teman atau sahabat?” Kinanti membungkukkan badannya tanda meminta maaf jika ada perkatananya yang menyinggung. “Maaf jika pertanyaan saya sangat lancang.”


“Teman yang sekarang?” Anneline menggeleng. “Dulu aku memiliki banyak sekali teman, mungkin mereka sudah melupakanku. Sudah enam tahun ini aku hanya dikelilingi oleh maid. Hanya itu.” Airmuka Anneline sedang menyulam senyuman. Ia sedang menyembunyikan kesedihan.


Dulu? Enam tahun dengan keadaan sepi sendirian? Dia perempuan yang bergelimang harta tapi tak seperti yang aku duga, dia malah kesepian sendiri.


“Kau ingin senjata yang seperti apa Kinan?” Anneline menatap lemari kaca yang berisi banyak senjata.


Kinanti masih belum menetukan pilihannya. Ia tak habis pikir kenapa di kota ini kepemilikan senjata dilegakan. “Apakah setiap rumah orang kaya seperti ini? Bukankah mereka bisa membayar para bodyguard untuk melindungi mereka?”


“Terkadang bodyguard bisa jadi mata-mata. Mereka akan lebih setia jika ada yang memberikan uang lebih banyak. Di sini, bisnis jadi profesi gelap, banyak pemilik perusahan yang tidak mau bergabung menjadi sekutu akan mendapatkan hadiah berupa kematian sanak keluarga. Maka dari itu banyak istri pemilik perusahaan yang harus memiliki setidaknya ilmu bela diri atau cara menggunakan senjata. Jadi ... sah-sah saja jika membunuh seseorang di kota ini. Pihak polisi tidak akan tahu terlebih jika area sudah dibersihkan.” Anneline mengambil jeda, ia melirik lagi senjata yang pernah ada bersamanya.


“Semua kasus pembunuhan di keluarga kaya tidak pernah terungkap Kinan, semua bisa dibungkat dengan uang.”


Begituhkah? Tenyata mengerikan sekali dekat dengan orang kaya.


Tanpa tersadar Kinani larut dalam lamunan akan pemikirannya terhadap perempuan penguasa rumah ini.


“Nah Kinan!” Anneline berseru membuyarkan lamunan Kinanti. “Mengapa tidak pistol itu saja? Aku pernah menggunakannya, itu pistol yang mengagumkan.”


Kinanti melemparkan pandangan lain, yaitu samurai bersarung hitam yang diletakkan tegak. “Samurai yang bagus.”


“Jangan yang itu, pilihlah senjata lainnya. Senjata itu hanya keluar jika dibersihkan saja,” ucap Anneline.

__ADS_1


Dua perempuan dengan perbedaan usia enam tahun masih berdiri di lemari kaca tempat penyimpanan senjata. Anneline tak sungkan menarik tangan Anneline memperlihatkan senjata yang lain.


“Nyonya ... bukankah Anda harus menjaga jarak saya? Bukankah saya masih maid?” Kintanti memperingatkan batasannya. Nyonya itu tidak seharusnya menjadi berteman dengan seorang maid.


“Aku pikir, kita bisa menjadi teman di rumah ini. Aku tahu aku pernah berbuat jahat padamu, tapi ... apakah kau tidak ingin jadi temanku, Kinan?” Anneline tersenyum, beberapa hari ini ia memang berbeda dari Anneline yang dulu berwajah dingin. Ia hanya ingin memiliki teman untuk berkeluh kesah.


“Baik, Nyonya.”


Hari ini Kinanti mendapat teman lagi. Ia teringat dengan Farah yang selalu berbuat baik di manapun. Jika Farah bisa begitu memaafkan, mengapa dirinya tidak bisa? Kinanti tetap berlatih setiap hari di ruangan itu. Setiap pagi ia akan menyiapkan sarapan untuk Naresh. Ketika malam ia menunggu pria itu pulang, walau tak jarang ia sering ketiduran.


Naresh pria yang baik hati, meskipun tinggal dalam satu atap ia tidak berbuat sesuka hati. Ia membiarkan Kinanti hidup dengan dirinya dan tidak pernah tidur dalam ruangan yang sama. Naresh senang rumahnya tak lagi sepi. Ada yang mengantarkan kepergiannya saat bekerja dan ada yang menyambut di kala malam.


***


Sudah beberapa hari ini Kinanti belum menemukan senjata yang tepat. Kemurungan ketara sekali di raut wajahnya. Naresh yang sudah pulang dari pekerjaannya ingin mengejutkan Kinanti pun mengurungkan niatnya.


“Kenapa mendung?” tanya Naresh yang baru saja pulang.


“Mendung?” Kinanti mengangkat salah satu alisnya.


“Kenapa kau murung?” Naresh menjelaskan makna mendung. “Aku tidak suka kau seperti itu.” Naresh mencubit pipi Kinanti, ia merasa gemas dengan gadis mungilnya.


Naresh tahu keresahan hati Kinanti. Ia bergegas menuju kamarnya. Naresh kembali dengan membawa kotak yang terbuat dari kayu.


“Ini apa Kak?” Kinanti mendekati Naresh. Ia penasaran dengan isi kotak kayu itu.


Naresh perlahan membuka kotak itu. Hanya ada belati kecil berwarna putih keperakkan. “Ini milik keluargaku. Lebih tepatnya milik ibuku. Senjata yang kau lihat di lemari kaca itu semua milik keluarga Nando.” Naresh tersenyum lalu mengeluarkan belati keperankkan itu.


“Jangan salah, meskipun kecil ini cukup membuat sakit. di sarungnya terdapat racun , jika tergores sedikit saja rasanya tidak bisa didefinisikan sakitnya,” lanjutnya.


Saat pertama kali yang terlintas di benak Kinanti adalah warna keperakan yang menawan. Bentuknya kecil dan sederhana, mudah diselipkan di baju. “Belati yang indah.”


***


Sebuah ember kecil terbuat dari stanless steel berisi batu es yang sudah dilumuri oleh garam untuk menjaga agar tidak cepat mencair. Sebuah botol sampanye telah direndam dalam ember itu kemudian dibuka tutupnya dengan perlahan. Ada teknik untuk membuka sebotol sampanye penuh kenikmatan ini.


Suara khas dari tekanan botol berbunyi saat membka tutupnya. Isi botol itu adalah cairan dari fermentasi anggur putih. Warnanya agak kekuningan sekarang mengisi lengkungan gelas. Dua buah beri merah mengapung saat cairan kekuningan itu memmenuhi gelas, buihnya tak mau ketinggalan.


Nyonya Ferando menenggak sedikit demi sedikit untuk menikmati sari sampanye itu. Hari ia akan bertemu dengan seseorang. Ia sangat sabar menuggu karena tamunya adalah orang yang mengetahui tentang Ilham.

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar, salah satu maid membukakan pintu dan mempersilakan seorang laki-laki memasukin kamarnya.


“Aku sudah menunggu,” ucap Nyonya Fernando.


“Sepertinya Anda sangat ingin mengetahui informasi ini, apakah Tuan Fernando tidak keberatan ada seorang pria yang memasuki kamar permasurinya?” tanya lelaki itu.


Nyonya Fernando menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. “Suamiku tidak akan marah jika kamu yang memasuki kamarku. Bagaimana informasi tentang Ilham?”


“Sepertinya Anda sangat tidak sabaran, Nyonya. Apakah aku tidak izinkan berpesta sampanye bersamamu? Bukankah harus menu pembuka sebelum menu utama?” Lelaki itu tertawa dengan nada mengejek.


“Oh seperti itu maumu, baik!” Nyonya Fernando memberikan gelas yang berisi sampanye dengan dua buah beri merah yang mengapung kepada lelaki itu.


Belum sempat lelaki itu mengambil gelasnya, Nyonya Fernando membuang air sampanye ke lantai dan menjatuhkan gelasnya. Gelas itu pecah menjadi ujung-ujung yang lancip yang bisa melukai siapapun. Nyonya Fernando mengambil satu sisa pecahan gelas kaca itu. Dengan gerakan cepat ia menodongkan pecahan gelas itu ke arah lelaki yang berada di hadapannya.


“Jangan kau pikir aku tidak diperbolehkan memakai pistol, kau bisa bersanding denganku. Ingat! Pecahan kaca ini bisa melukai kedua bola matamu jika aku mau melakukannya.” Suara Nyonya Fernando penuh dengan penekanan. Suasana mendadak sangat mencekam.


Lelaki itu menelan salivanya. Ia tidak ingin brmain-main lagi dengan perempuan yang berada di hadapannya. “Maaf, Nyonya.” Lelaki itu membungkukan badannya tanda meminta maaf.


Nyonya Fernando menurunkan pecahan gelas itu. Menantap dingin lelaki yann berada di hadapannya. “Cepat ceritakan soal Ilham dan istrinya, jika ingin hidupmu baik-baik saja tanpa cacat pada bagian tertentu.”


Lelaki itu mengangguk. Ia memang dibayar untuk hal ini. “Pria yang bernama Ilham berada di Kota Milepolis. Dia menikah enam bulan yang lalu. Saat ini bisnis cafetarianya sudah memiliki cabang di Kota Numa. Sekarang ia bertempat tinggal di Perumahan Puri Shinta ....”


Belum selesai lelaki itu berbicara, Nyonya Fernando buru-buru memotongnyadengan pertanyaan lain. “Siapa nama istri dari Ilham?”


“Namanya Farah,” jawab lelaki itu.


Oh ... nama perempuan yang bisa menggantikan posisiku adalah Farah.


“Entah ini penting atau tidak, Ayah Kinanti bekerja di cafetaria yang berada di Milepolis. Kemungkinan besar Kinanti mengenal dengan baik siapa perempuan yang bernama Farah itu, dan umur mereka sama,” lanjut lelaki itu.


Nyonya Fernando berpikir lebih mendalam tentang informasi itu.


Jika Kinanti mengenal perempuan sialan itu, berarti dia bisa membawaku bertemu dengannya. Setidaknya akan aku bisa mempersiapkan rencana.


Nyonya Fernando berjalan menuju meja yang berada di sudut ruangan. Ia mengambil amplop coklat yang tersimpan di laci meja.


“Ini bayaran untukmu, silakan pergi!” Nyonya Fernando melemparkan amplop coklat yang berisi uang.


Lelaki itu menunduk tanda pamit pergi dari kamar ini. Nyonya Fernando menuangkan sampanyenya lagi, buih cairan itu cepat memudar dan ia langsung meminumnya.

__ADS_1


“Tunggu aku di Milepolis Farah. Jangan terkejut jika aku mengambil apa yang seharusnya aku miliki.”


__ADS_2