Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 166


__ADS_3

Episode 166: Mari Kita Mulai Permainan ini.


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


Farah meremas gamisnya karena rasa gugup. Di dalam mobil beberapa kali Ilham juga melihat istrinya yang meremas gamisnya hingga kusut. Sepagi ini Farah harus berangkat karena ia menikuti ujian pada gelombang pertama. Keinginannya untuk berkuliah hanya tinggal selangkah lagi.


“Sayang ....” Ilham mencengkeram lembut tangan istrinya agar berhenti meremas gamis.


“Iya, Mas.” Farah menghentikan kegiatannya meremas gamis.


“Tenangkan dirimu, tak perlu gugup seperti itu.” Ilham tersenyum. Tangannya mengelus lembut punggung tangan Farah, memberikan kenyamanan.


“Aku takut Mas.” Farah masih mengingat kejadian satu tahun yang lalu, di mana ia harus merasakan kehilangan segala yang ia miliki dan segala yang telah ia bangun.


“Berdoalah Sayang. Serahkan semuanya kepada Allah.”


Farah menggangguk. Setelah bedoa san memantapkan hati, ia turun dari mobil disusul Ilham. Hari ini adalah hari yang mendebarkan. Rintangan sudah ada di depan mata.


“Mas temenin kamu sampai ke ruang ujian,” ucap Ilham.


“Eh? Bukankah Mas harus bekerja?”

__ADS_1


“Aku hanya ingin mengantarkan istriku.” Ilham tersenyum.


Mereka berjalan beriringan menuju ruang ujian yang telah ditentukan jauh hari. Tepat saat melewati air mancur perguruan tinggi, mereka bertemu dengan Balqis dan Jihan.


“Akhirnya datang juga,” ujar Balqis. Ia dan Jihan memang sengaja untuk datang ke kampus demi menyemangati sahabatnya.


“Semangat Far!” Jihan menyemangati dengan nada bicaranya yang berapi-api.


“Doain aku ya ... aku kepingin satu kampus dengan kalian.” Farah memeluk kedua sahabatnya.


“Wah dianterin sama Pak Ilham ya?” Balqis mengoda pasangan ini. Ia melempar senyuan kepada Ilham.


“Lama-lama kalian makin so sweet aja! Uh! Jadi pengen nikah, kan!” seru Jihan.


Mereka berempat tertawa. Jihan selalu membuat heboh suasana walaupun nada bicaranya tidak sekalem Balqis.


“Apakah aku boleh menitipkan Farah kepada kalian?” Ilham tahu, jika istrinya sudah bersama kedua sahabatnya itu pasti ia terabaikan. Namun Ilham tidak keberatan. Ia memaklumi acara reuni ini.


“Boleh, Pak Ilham. Jika diizinkan, setelah selesai ujian nanti, kami ingin mengajak Farah ke pusat perbelanjaan. Pak Ilham tak perlu khawatir, nanti biar saya dan Jihan yang mengantar pulang.”


Balqis meminta izin dengan sopan. Ia tahu bahwa suami Farah sedikit berlebihan dalam menjaga sahabatnya itu. Jika dulu terbiasa pergi hangout bertiga, kini harus berempat. Ilham harus ikut. Itu yang membuat Balqis dan Jihan sedikit risih karena kehadiran laki-laki di tengah perbincangan yang membahas tentang apapun yang ada dipikiran perempuan. Tidak etis rasanya.


Ilham terlihat sedikit merenung memikirkan tawaran dari sahabat istrinya. Ia masih khawatir jika Ray bisa saja datang dan mengambil Farah darinya. Ia tak mau berurusan dengan pria itu.


“Boleh ya, Mas. Aku janji akan pulang lebih awal, tidak sampai malam. Aku rindu jalan-jalan bersama Balqis dan Jihan,” pinta Farah. “Tenang saja, mereka bisa menjagaku.” Seakan tahu apa yang ada di pikiran suaminya, ia memilih menggunakan ucapan bahwa selama ada dua sahabatnya ini semuanya aman.


“Hanya ke pusat perbelanjaan saja?” Ilham bertanya. Ia sebenarnya tak ingin mengurung istrinya. Ia merasa bersalah jika Farah menolak ajakan temannya walaupun hanya sekedar mengunjungi taman kota. Keresahannya terlalu berlebihan, tapi semua itu demi menebus kesalahannya .


“Iya Pak Ilham.” Balqis mengangguk.


“Oke. Tapi, jangan pulang terlalu sore.” Ilham mengikhlaskan dengan nada yang sedikit khawatir.

__ADS_1


“Aku masuk ke ruang ujian dulu, Mas.” Farah mencium tangan suaminya dan mengucapkan salam.


Ilham hanya bisa menyakinkan diri agar tidak ada hal yang buruk terjadi. Ia bergegas untuk kembali bekerja. “Aku yakin mereka akan baik-baik saja.”


***


Di ruangan yang senyap, suara ponsel menggema tanda ada pesan masuk. Ray buru-buru membaca isi pesan itu. “Ternyata dari Ann.”


Isi pesan tersebut ialah kepastian jika Anneline akan segera datang ke Kota Milepolis. Kedatangan yang sangat diharapakan oleh Ray. Sebelum mematikan ponselnya, dering itu muncul lagi dari seseorang yang ia percayai.


Ray kembali membaca isi pesan itu. sepuluh detik kemudian ia baru memahami jika kesempatan sedang berpihak padanya lagi. Ia buru-buru menghubungi sekertarisnya. “Datang ke ruanganku sekarang, Karin.”


Tak perlu menunggu waktu lama, sekertarisnya datang. Bisa dibilang Ray memiliki sekertaris yang cantik. Dia berumur dua puluh delapan tahun dan selalu rajin dengan pekerjaannya.


“Selama siang, Pak.” Karin tersenyum. Ia masih berdiri tujuh langkah dari meja Ray.


“Duduk,” pinta Ray.


Karin menurut. Ia duduk menghadap Ray dengan posisi duduk yang terbaik. Ray bangkit dan berjalan membelakangi Karin. Ia menyentuh kursi yang menjadi tempat duduk Karin.


“Apakah kau bisa menemaniku makan siang?” Ray berbisik di telinga Karin.


Sebagai sekertaris yang sudah mengabdi selama empat tahun, ia tahu betul tabiat bosnya. Ia yakin bahwa bosya akan membuat penyamaran. “Apakah Pak Ray ingin mengecoh lagi?”


Ray tidak menjawab. Ia membuka gelungan rambut rapi milik Karin hingga tergerai. “Iya, pakailah pakaian seperti seorang kekasih. Akan kutunggu di mobil. Berdandanlah senatural mungkin dan jangan lupa, namamu adalah Sasmita.”


“Siapa yang ingin Anda kecoh, Pak?” Karin bertanya lagi.


“Aku hanya ingin berada di dekat bungaku. Hanya berdekatan, jika aku sendirian tak mungkin dia mau. Setidaknya buat dia nyaman jika ada perempuan lain bersamaku.” Ray berjalan menuju jendala yang besar. Ia mengamati keadaan di luar gedung.


“Baik, Pak. Saya akan bersiap-siap.” Karin bangkit dari tempat duduknya. Ia harus segera mungkin menuruti perintah sang Big Bos.

__ADS_1


Ray tersenyum melihat Karin yang selalu menurut. Ia menyukai pribadi Karin yang terbuka. Terlebih lagi, dia tak akan mudah jatuh cinta pada Ray. Karin bukan orang yang mudah jatuh cinta dengan lawan jenis walaupun dia adalah perempuan tulen.


__ADS_2