
“Temukan gadis itu segera!” kata lelaki di seberang sana.
“Baik Bos!” jawab pria yang bertubuh kekar yang mendekatkan ponsel ke telinganya.
Pria kekar itu menutup sambungan teleponnya.
“Kita ada tugas dari bos besar. Kita harus mencari gadis berkerudung merah yang berada di kedai baru dibangun pusat Kota Numa,” ucap pria kekar itu.
***
Farah berteduh di halte bus Kota Numa, ia tak tahu harus berteduh di mana. Ia ingin menangis menumpahkah semuanya seperti hujan es ini. Sekarang pun Farah tak tahu apa yang ia rasakan, dingin? Kecewa? sakit? Semuanya bercampur jadi satu.
Ia memandang hujan es yang belum lebat ini. Membeku. Dingin. Sunyi. Tiba-tiba Farah menangis, ia berharap rasa sakit dan kecewa ini cepat berlalu.
Tiba -tiba mobil berhenti tepat di depan halte tempat Farah berteduh. Ia berwaspada kepada tiga pria yang baru saja keluar dari mobil itu.
***
“Aku mohon semoga kamu segera ditemukan. Aku sudah mengirim orang untuk menemukanmu di Kota Numa. Semoga kamu baik-baik saja,” guman Ray yang masih melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Ray sudah tiba di Kota Numa, namun masih banyak jarak yang harus ia tempuh untuk menemui Farah.
“Semoga orang-orang suruhanku bisa menemukan Farah.” Ray berharap cemas.
Kota Numa sudah diguyur hujan, ini membuat Ray semakin gelisah.
Ray sudah tiba di kedai baru milik Ilham, ia mencari Farah, namun pihak kedai mengatakan bahwa nona yang dimaksud Ray sudah pergi dari kedai ini.
Ray menyusuri jalan yang mungkin di lalui Farah, sampai Ray tertuju kepada perempuan yang sedang dipaksa masuk oleh tiga pria kekar.
Ray menajamkan mata, ia kenal ketiga pria itu adalah orang-orang yang Ray suruh untuk mencari Farah. Nampaknya Farah salah paham, dia menganggap ketiga pria yang tampangnya seperti preman itu akan berbuat jahat.
Ray tersenyum licik. “Aku akan mengambil kesempatan ini.”
Ray memiliki siasat lain.
***
__ADS_1
“Saya tidak mau ikut dengan kalian! Saya tidak kenal dengan kalian!” Farah berteriak tegas, ia tidak ingin dipaksa oleh ketiga pria ini.
“Tidak usah banyak bicara! Ikutlah, karena bos kami ingin bertemu denganmu!” ucap salah satu pria kekar itu.
“Aku tidak mau!” Farah masih memberontak. Namun tenaga Farah kalah jauh dibanding ketiga pria itu.
Pemandangan itu sungguh menyajikan adegan seperti penculikan. Ray masih diam melihat pemandangan itu, ia masih menunggu waktu yang tepat.
Karena pemberontakan yang dilakukan Farah, salah satu pria yang seperti preman itu sedikit menarik paksa kain kerudung milih Farah hingga tersobek. Seketika Farah menangis dan meraung. Ia sangat takut jika ketiga pria itu berbuat macam-macam.
Ray datang dengan penuh percaya diri. “Beraninya kalian menyentuh perempuan ini!” suara Ray meninggi.
Farah sudah terduduk menangis. Ia sangat merasa sangat gegabah, mengapa ia datang ke kota ini sendirian.
Ray sedikit mengirim kode antar matanya kepada ketiga pria itu. Kemudian ia beraksi seolah pahlawan yang menyelamatkan Farah. Adu pukul pun dimulai. Ray melawan tiga orang, jelas Ray kalah jumlah, tanpa sengaja salah satu pria itu memukul tepat di pelipis dan pipi kanan Ray.
Ray tersungkur karena mendapat pukulan itu.
Mengapa kalian memukulku dengan keras!
Ia sekarang melayangkan tinju kepada salah satu pria kekar itu. Berhasil salah satu pria kekar seperti preman. Akhirnya Ray mengedipkan matanya tanda untuk menghentikan ‘sandiwara’ ini.
Ketiga pria kekar yang tampangnya seperti preman itu meninggalkan Ray dan Farah. Kondisi Farah memprihatinkan, ia masih terduduk memeluk lututnya. Kerudung kain yang ia gunakan sobek dibagian pinggir.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Ray yang berjongkok melihat kondisi Farah yang ketakutan.
Farah menggeleng, ia melihat darah mengalir sedar di sudut bibir Ray dan luka pukulan di bagian pipi serta pelipis Ray, Farah menangis.
“Jangan khawatirkan luka-lukaku ini,” Ray tersenyum walau ia sebenarnya merasakan sakit.
Kurang ajar preman-preman itu, mereka benar-benar memukuliku!
Ray mendengus kesal.
Ray melepas jas miliknya lalu dipakaikan kepada Farah, ia tahu bahwa Farah sedikit kedinginan karena hawa hujan ini.
“Terima kasih telah menolongku, karena aku, kamu jadi terluka seperti ini,” ucap Farah.
__ADS_1
Ray tersenyum menandakan bahwa ia baik-baik saja.
“Sekarang ikut aku, kita akan mencari tempat untuk berlindung dari badai ini,” ajak Ray.
Farah bangkit dari posisinya, ia merasa bahwa Ray bisa melindunginya di Kota Numa.
“Ray, aku ingin meminta duduk di belakang boleh?” tanya Farah ragu-ragu.
Farah hanya ingin menjaga diri, tidak pantas jika dia duduk di samping Ray.
Apa?! aku tidak salah dengar?! Dia ingin menjadikanku seorang sopir? Tapi tak apalah, yang penting dia mau ikut denganku.
Ray membukakan pintu belakang mobilnya, sesuai keinginan Farah.
Farah masuk ke dalam mobil itu. Ia merapatkan jas kebesaran milik Ray untuk menutupi kerudungnya yang sobek di bagian belakang.
Ray lalu melajukan mobilnya menuju tempat favoritnya di Kota Numa yaitu sebuah toko buku yang berdekatan dengan hutan wisata Kota Numa.
Ray harus bergegas, hujan semakin deras, menjatuhkan butiran-butiran es makin kerap turun.
***
Ilham masih duduk disalah satu kedai kopi di kawasan Kota Zen bagian timur. Ia memilih meja dekat dengan jendela.
Kota Zen sudah dibungkus gerimis sejak siang tadi. Ilham menatap langit mendung itu. Ia teringat Farah yang suka bermain hujan seperti anak kecil.
Tiba-tiba ada sengatan yang berpusat dari dada kirinya. Ia memegang dada kirinya. Sudah dua kali ia dalam merasakan sengatan itu. Ilham merasa ada yang tidak beres dengan sesuatu.
Logika menggiring Ilham pada pertanyaan ‘bagaimana keadaanmu sekarang?’
Ilham langsung mengambil ponsel dari saku celananya. Ia lalu mencari nomor Farah, ia ingin menanyakan keadaanya 4 hari ini.
Tiba-tiba jari Ilham terhenti. Ia tidak bisa menelpon Farah sekarang. Ilham tidak ingin Farah tahu jika Ia berada di Kota Zen.
Ilham meletakan kembali ponselnya.
Sekali lagi, ego untuk menemukan Anneline menang di atas logikanya.
__ADS_1