Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 148


__ADS_3

Yuk bantu Author untuk :


- Like/love setelah baca cerita ini


-Tinggalkan jejak di kolom komentar


-Beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author


Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar atau DM di instagramku @ilamyharsa


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


Selamat berimajinasi


_________


Episode 148 : Saya Telah Memesan Wanita ini!


“Jun pergilah, selidiki perempuan bernama Sirena,” ucap Naresh. Ia sedang duduk di belakang meja yang penuh dengan tumpukan laporan yang harus ia baca.


“Baik, Tuan Yori.”


Jun hanya membungkuk, ia bergegas pergi keluar dari gedung ini. Ia harus mencari tahu tentang sosok itu. Bagi mata-mata sekaligus bodyguard yang berpengalaman mencari informasi identitas seseorang ampai ke akar-akarnya memang sangat mudah. Ia telah memasang semua kamera tersembunyi di setiap mobil Keluarga Fernando. Ia tinggal mencocokan hari kejadian dan mobil yang dipakai Tuan Yori waktu itu lalu mencari datanya.


***


Tenaga Kinanti telah pulih, ia memilih membasuh diri di kamar mandi milik Naresh. Ia sedikit lupa, semua pakaiannya berada di kamarnya. Di lemari yang teronggok di sudut kamar hanya ada pakaian Naresh yang semua menjadi kebesaran ketika dibalutkan di tubuh Kinanti. Namun dirinya tak ambil pusing, meskipun kemeja ini kebesaran ini lebih dari cukup untuk menutupi tubuhnya sampai di atas lutut.

__ADS_1


Sebuah ketukan terdengar ini adalah kesempatan Kinanti untuk kabur. Ia mengintip dari jendela bahwa penjagaan rumah ini sedikit longgar, mungkin hanya ada maid perempuan.


“Aku harus keluar dari rumah ini sebelum Kak Naresh pulang. Dia takkan mungkin pulang di bawah jam delapan malam.”


Sebuah ketukan pintu kembali terdengar. Suara dua maid perempuan yang tadi pagi mengantarkan makanan membuka pintu. Kinanti harus berakting layaknya orang yang sekarat agar mereka panik dan ia bisa keluar lalu lolos dari tempat ini.


“Kami mengantarkan makanan untuk Nona,” ucap salah satu maid perempuan itu.


Kinanti sengaja tak merespon. Ia harus menyakinkan maid itu bahwa dirinya sedang pingsan.


“Nona tidak menjawab. Apakah dia sedang tidur?” bisik salah satu maid.


“Coba kita lihat.” Maid yang membawa nampan itu meletakkan barang bawaanya ke nakas di samping ranjang.


Dua maid itu penasaran dengan kebungkaman Kinanti hingga tangan mereka membalikkan tubuh yang tergelatak itu. Seperkian detik Kinanti meringkus mereka. Salah satu di antaranya terkena tendangan Kinanti hingga pingsan. Tak hanya di situ, Kinanti juga berani mengikat mereka dengan kain seprai sehingga tak dua maid itu tak bisa berkutik. Salah satu maid yang masih sadar hanya bisa mengerang. Mulutnya sudah tersumpal sapu tangan yang Kinanti temukan di lemari Naresh. Dengan begitu ia bisa meloloskan diri dari tempat ini.


“Maafkan aku!” Sebelum meninggalkan kamar itu Kinanti meminta maaf serta membungkukkan badannya agar maid yang masih sadar itu mengerti bahwa ia harus melakukan hal ini.


Tanpa penjagaan di dalam rumah, Kinanti segera bergegas menuju kamarnya untuk mengambil tas. Tak lupa juga ia harus mengganti kemeja yang kebesaran ini dengan pakaian maid yang pernah ia kenakan. Pakaian khusus agar tidak mudah sobek.


Dengan penuh kewaspadaan, Kinanti keluar melalui pintu belakang. Ia yakin tak mungkin ada penjaga di pintu itu. Pintu belakang rumah ini sedikit unik, ia mengetahui rahasia kecil bahwa pintu ini menghubungkan dengan taman labirin yang mustahil ditembus oleh maid sekalipun. Ditambah dengan tanaman hijau berbentuk pagar yang tinggi. Kinanti yakin ia akan sulit di temukan.


Baru beberapa langkah keluar dari rumah itu sebuah tali melintang di kakinya. Kinanti tak bisa menghindari jebakan itu hingga sebuah bunyi terdengar. Para maid penjaga yang mengetahui bahwa “sanderanya” kabur, mereka langsung mengejarnya.


“Sial!” Kinanti yang baru saja terlepas dari jeratan tali itu mengumpat. Ia tak tahu jika Naresh akan berbuat seperti ini untuk mengurung dirinya.


Kinanti berlari di taman labirin. Ia sudah hapal di mana arah keluar dari taman ini. Ia telah puluhan kali bermain dengan Naresh di labirin ini. Kinanti yakin bahawa para maid itu tak bisa menemukannya atau bahkan akan terjebak di labirin ini sampai pagi hari.


Tubuh Kinanti memang kecil tapi ia gesit dalam gerakan. Butuh lima menit untuk mencari jalan keluar. Meski begitu hafal jalan tak jarang ia harus melakukan tendangan untuk menyingkirkan maid yang berpapasan dengannya. Tak hanya itu, saat ia di kejar salah seorang maid, ia harus segera berlari agar maid itu tersesat.


“Sungguh menyenangkan membuat mereka kocar-kacir!” Kinanti tertawa dalam pelarianya.


Tepat lima menit, ia berhasil keluar. Para maid yang mengejarnya pasti kebingungan mencari jalan keluar dari labirin itu. Sekarang ia harus berlari menuju tempat penjemuran pakaian. Karena hanya tembok pembatas tempat itu yang tidak terlalu tinggi untuk dilewati.

__ADS_1


***


Seorang pria masuk ke ruangan Naresh. Ia sudah mengetuk pintu dan langsung memberikan penghormatan kepada tuannya dengan membungkukkan badannya.


“Saya sudah menemukan identitas perempuan itu, Tuan.”


Kedua mata Naresh melebar. Ia menghentikan kegiatannya membaca map-map laporan yang bertumpuk itu. Sekarang pandangnya tertuju pada Jun yang sedang berdiri di hadapanya.


“Ceritakan!” Naresh tak ingin menunggu.


“Sirena bukan penduduk kota ini. Dia tidak mempunyai identitas resmi. Dia hanya pekerja se-ks komesial yang cukup tersohor di kota ini. Dia adalah primadona para penjabat yang memerlukan jasanya. Saya telah bertemu dengan induk semangnya, tapi dia memilih bungkam saat saya memperlihatkan foto yang berasal dari ponsel milik Nona Kinanti. Induk semang itu hanya mengatakan bahwa foto itu tidak sebar luaskan hanya di kirim pada satu nomor saja dan itu pasti nomor Nona. Saya belum bisa menemui Sirena karena jasanya sedang dipakai, tapi saya telah memesan untuk bertemu dengannya malam ini.”


Naresh melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Masih pukul 18.00. Ia bisa sejenak meninggalkan pekerjaan ini untuk menemui Sirena.


“Aku ingin menemui perempuan itu. Kau harus ikut Jun.”


“Baik, Tuan Yori.”


Naresh bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar dari ruangnya di susul Jun yang mengekor di belakang.


Hanya butuh waktu dua puluh menit perjalanan santai, Naresh dan Jun sampai di gang sempit menuju rumah Sirena. Mereka terpaksa berjalan kaki, tak sampai di situ di jam seperti ini banyak sekali perempuan berpakaian kurang bahan menggoda mereka agar mau menggunakan jasanya.


“Tuan tampan ini sepertinya kesepian. Aku bisa memberikan kehangatan untukmu, Sayang.” Seorang perempuan dengan lekuk tubuh nyaris sempurna dengan pakaian terbuka sedang menarik dasi yang dikenakan Naresh. Kuku tangannya yang berkutek merah gelap menyetuh rahang yang tegas itu.


Tanpa diperintah, Jun mendorong perempuan itu. “Jauhkan tanganmu dari Tuan Yori!” Jun menatap galak membuat perempuan itu sedikit berlari menjauh daripada ia berakhir menyedihkan di tempat ini.


Mereka telah sampai di depan rumah Sirena. Belum sempat Jun mengetuk pintu terdengar pecahan benda yang sengaja di lemparkan.


“Dasar perempuan tak tahu malu! Aku sudah membayarmu tapi kamu seakan tak sudi melayaniku!” teriak seorang pria di dalam rumah itu.


Seketika Jun membuka pintu yang tak terkunci mendapati seorang perempuan sedang bersimpuh dengan dahi yang berdarah. Di sekitarnya ada pecahan keramik dan bunga mawar yang berserakan, bisa dipastikan pecahan keramik itu berasal dari vas bunga.


“Mengapa Anda menyakiti perempuan ini!” Seru Jun yang langsung melayangkan tinju kepada pria yang kepalanya hampir botak itu.

__ADS_1


Pria yang hampir botak itu bangkit menyeka sudut bibirnya yang berdarah karena pukulan dari Jun. “Siapa kalian! Kenapa kalian mengganggu kesenanganku?”


“Saya telah memesan wanita ini!” balas Jun tak kalah garangnya.


__ADS_2