
Kinanti duduk dengan memangku tas ransel besar. Ia memang memilih tempat duduk yag berdekatan dengan jendela. Bus yang ia tumpangi berjalan membawa sedikit penumpang. Gadis dengan rambut yang dikucir kuda menatap pemandangan yang silih berganti dari jendela. Tujuannya kali ini adalah komplek perumahan Farah.
Seraya memandang dari balik jendela bus, mata Kinanti menatap hamparan kosong. Raganya berada di bus, tapi tidak dengan pikirannya yang sekarang telah berkelana memindai-mindai kejadian yang baru saja ia alami. Masih segar dalam ingatan bagaimana Ayah sangat berat melepasnya. Kinanti tak tahu apakah keputusannya sudah tepat, atau malah ini justru pilihan yang terbaik?
Apakah Kak Naresh bisa dipercaya? Apakah dia orang yang benar-benar baik?
Bus berhenti di halte dekat gapura komplek perumahan. Kinanti tersadar dari lamunannya. Ia berdiri dan menjinjing tas ransel besarnya dan turun dari bus itu. Sekarang ia harus berjalan sejauh 200 meter untuk sampai di rumah Farah. Gadis berkucir kuda itu memanggul tas ransel ke punggungnya. Ia berdiri di depan pagar rumah Farah. kedatangannya kemari hanya untuk berpamitan bahwa sebentar lagi ia harus bekerja di Kota Zen. Baginya, Farah adalah sahabat yang melebihi ikatan sahabat.
Farah yang tadi fokus mengerjakan pesanan paper craftnya untuk acara hajatan akhirnya terpaksa berjalan menuju pagar rumahnya karena mendengar suara bel. Bu Tin, asisten rumah tangganya sedang menjemur pakaian di belakang rumah. Alangkah terkejutnya Farah melihat Kinanti dengan tas besar yang berada di punggungnya. Ia mempersilakan Kinanti masuk.
“Tas besar itu untuk apa?” Farah bertanya karena penasaran.
“Nanti aku jelaskan.”
Farah dan Kinanti duduk di kursi yang disediakan di teras rumah. Kinanti menceritakan semuanya dari mulai bertemu dengan pria yang bernama Naresh, hingga utang yang telah lunas dengan bantuan dari pria itu. Farah takzim mendengarkan penuturan dari Kinanti. Lalu Kinanti menjelaskan maksud kedatangan kemari bahwa ia ingin mengucapakan salam perpisahan.
“Kenapa kamu menyerahkan diri, Kinan?” Farah masih tak percaya dengan perpisahan ini.
“Aku harus memenuhi janji terhadap pria itu.” Kinanti melihat Farah yang meraut sedih. “Tenanglah, aku di Kota Zen karena bekerja. Lagipula kita bisa saling menghubungi melalui via videocall atau via telepon. Sudah jangan sedih seperti itu, wajahmu akan jelek jika seperti itu!” Kinanti mengejek, ia tahu tak mudah bagi Farah untuk menerima salam perpisahan ini.
Farah menatap Kinanti, ia tidak marah dengan ejekan yang baru saja gadis itu ucapkan. Sebaliknya ia memeluk erat sahabatnya. Kinanti terkaget dengan serangan dekapan dari Farah, ia mengerti ikatan ini. Kinanti membalas pelukan itu. Namun tak berberapa lama ponsel Kinanti berdering. Pelukan itu terlepas, Kinanti buru-buru mengambil benda kecil yang bergetar itu di saku celananya. Ia menatap layar ponsel, nama Naresh muncul dalam tampilan benda kecil itu dan menggesar tombol jawab. Ia mendekatkan benda kotak itu ke telinganya.
“Aku sudah berada di depan tempat khursus milik Adnan,” ucap Naresh.
“Kakak bisa jemput aku di halte Perumahan Puri Shinta?”
“Baik, aku segera ke sana.”
Kinanti menutup sambungan telepon itu. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalama saku celana.
__ADS_1
“Aku harus pergi, Farah. Jaga dirimu baik-baik.” Kinanti tersenyum meskipun dalam hati kecilnya ia tidak ingin mengucapkan kalimat perpisahan ini.
“Kau harus janji, setelah sampai di Kota Zen kau harus segera memberitahuku, Kinan.”
“Iya, aku berangkat dulu. Salam buat pak Ilham dam bu Tin. Wassalamu’alaikum.” Kinanti berjalan ia melewati pagar hendak keluar dari teras rumah itu.
“Wa’alaikumussalam warahamatullah wabarakatuh. Hati-hati Kinan!” Farah melambaikan tangan pada Kinan. Dan Kinan pun membalas lambaian itu.
Sekarang Kinanti harus berjalan lagi sejaun 200 meter untuk sampai di halte tadi, tempat ia turun dari bus. Kinanti berjalan dengan pikiran yang menerka-nerka tentang apa yang akan ia alami saat bekerja dengan Naresh. Ada perasaan gundah , ada perasaan takut, ada perasaan sedih bahkan sampai perasaan yang ia tidak tahu cara mendeskripsikannya. Kakinya berjalan hingga ia melintas melewati gapura perumahan itu. Terlihat ada mobil yang berwarna hitam tengah berhenti di dekat halte itu. Ada laki-laki yang memakai setelan casual kaos berkerah sedang sibuk memainkan ponsel. Terlihat ia juga mengawasi sekeliling, seperti mencari seseorang. Kinanti tahu Pasti Naresh sedang mencari dirinya. Tiba-tiba ponsel Kinanti berdering lagi, ia mengambil benda itu di saku celananya dan menjawab panggilan telepon dari Naresh. Kinanti mendekatkan ponsel ke telinganya.
“Kamu ada di mana?”
Kinanti telah menebak bahwa Naresh memang mencarinya, terlihat dia sedikit kebingungan.
“Aku ada di sini, dekat gapura.”
Kinanti mengekor pada Naresh menuju mobil yang terparkir yang jauh dari jangkauan mereka. Naresh memasukkan tas milik Kinanti ke dalam mobil. Lalu Naresh menempatkan diri di kursi kemudi. Kinanti membujuk hatinya untuk duduk di samping kursi kemudi dan menutup pintu mobil.
Naresh melihat raut wajah Kinanti yang sedikit murung, matanya mengatakan ada ketakutan dalam diri gadis itu. Naresh merasakan hal itu, ia sangat yakin bahwa wajah Kinanti mengatakan ia tegar namun nyalinya seperti sedang di uji.
“Tidak perlu khawatir dan takut. Aku akan selalu berdiri untuk melindungimu, pegang janjiku,” ucap Naresh menyakinkan.
Kinanti menatap dua mata hitam yang sedang menegaskan bahwa janjinya bisa dipercaya. Sepasang mata itu seperti menangkap dirinya agar lebih berani untuk melangkah tanpa ragu.
“Iya Kak,” Kinanti menjawab lirih.
Naresh tersenyum mendengar jawaban dari Kinanti. Ia mengambil buku yang bersampul coklat tua yang sedari tadi teronggok di dashboard mobil dan memberikannya kepada Kinanti. “Baca ini,” pintanya.
Kinanti menerima buku bersampul warna coklat tua itu. Ia membaca judul yang tercetak dibagian depan. “Aturan dan Etika Keluarga Fernando” Kinanti mengeja judul buku itu, lalu ia membuka halaman pertama. Di situ tertulis aturan yang harus dipatuhi para pelayan, sopir berserta siapapun yang bekerja dalam Keluarga Fernando. Sekilas Kinanti mengernyitkan dahinya, ia baru membaca halaman pertama saja sudah membuat pusing. Banyak sekali daftar aturan dan etika yang harus dipenuhi untuk bekerja di keluarga itu.
__ADS_1
Naresh melihat wajah Kinanti yang sedikit mengkerut, ia tahu pasti gadis itu bingung dengan aturan yang tertulis jelas di buku itu. Naresh melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman, sekarang ia akan memulai perjalanan menuju Kota Zen.
____________
Jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet like dan beri rating 5 bintang ya ... karena ini GRATISS.😁
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
_________
Catatan :
Banyak sekali yang merequest mana cerita Ilham dan Farah? Mana Ray? Mengapa hanya Kinanti dan Naresh yang di eskpos akhir-akhir ini? Saya yakin sekali itu yang ada di benak kakak-kakak semua. Hahhaha🤣
Begini spoiler dikit ya, cerita pada bagian ini mungkin akan selesai, akan ada konflik yang panjang sebelum bagian ini tamat. Mungkin sebentar lagi ....
Saya harap kakak-kakak tetap setia membaca kisah ini.
Terima kasih
Salam hangat,
Ilam.🍁
__ADS_1