
Episode 170: Doa dari Karin
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
Selamat Berimajinasi
____________
“Farah!” Ilham memanggil nama istrinya dengan penuh amarah.
Seketika Farah menoleh. Ia kaget dengan kehadiran Ilham. “Mas, ini tidak seperti apa yang kamu lihat.”
Ray juga ikut menoleh. Ia tersenyum kepada sahabat lamanya. “Hai! Apa kabarmu, Ilham. Lama tak jumpa.”
Seketika Ilham melayangkan tinju ke arah Ray hingga pria itu terjatuh di rerumputan. Ia sudah tidak peduli dengan orang-orang yang berkumpul karena kehebohan ini.
“Mas! jangan pukul dia!” Farah menahan amarah suaminya.
“Minggir, Farah. Aku ingin memberinya pelajaran. Minggir!”
Farah menggeleng. Ia tak mau minggir dari hadapan Ilham. Biar bagaimanapun Ray tidak salah. “Enggak!”
Sekembalinya Karin, ia langsung terbelalak melihat bosnya tersungkur di tanah berumput. Ia langsung berlari dan membantu Ray untuk berdiri.
“Mas, aku mohon jangan memukuli Ray. Dia tidak salah.” Farah masih membela Ray.
Ilham tak habis pikir dengan istrinya yang membela laki-laki lain. Ia tak suka hal itu. Apakah selama ini Farah sering bertemu dengan Ray, tanpa sepengetahuanku?
__ADS_1
“Mengapa Anda memukul kekasih saya! Mengapa Anda begitu benci dengan Ray?” Karin menatapa galak ke arah Ilham. Ia memang bukan kekasih Ray, tapi ia tak rela jika bosnya ini mendapat pukulan hingga sudut bibirnya berdarah.
“Anda menghakiminya seperti orang yang memiliki kesalahan yang besar! Anda tidak pantas melakukan hal ini!” Karin berteriak kalap.
Ilham tak mau melanjukan kemarahannya, apalagi harus mengahdapi dua perempuan yang melindungi sahabat lamanya itu. “Sebaiknya kita cepat pulang, Farah!” Ia mencengkeram tangan istrinya.
Farah buru-buru menyerahkan sekatung obat kepada Karin. “Maafkan kesalahpahaman ini, Kak Sasmita. Tolong berikan kepada Balqis dan Jihan.” Ia juga melihat Ray yang terluka. “Maafkan suamiku, Ray.”
“Farah!” Ilham membentak istrinya dan menarik paksa tangannya agar segera pergi dari tempat terkutuk itu.
Farah hanya menurut. Ia ketakutan melihat suaminya marah. Ia sudah lama tak merasakan hawa kemurkaan suaminya. Farah yakin hal ini tidak baik, tapi ia harus bisa menyatukan kembali persahabatan antara mereka.
Ilham masih menarik tangan Farah hingga memasuki mobil. Bahkan saat ia menutup keras pintu mobil membuat istrinya kaget. Ilham bungkam seribu bahasa, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cuku kencang.
“Mas hati-hati, tak perlu mengebut,”pinta Farah. Namun Ilhan tidak memperdulikan peringatan istrinya bahkan ia tak segan untuk memacu kendaraannya lebih kencang lagi. Ia merasa kecewa. Ia merasa dikhianati oleh Farah.
Sepertinya aku menghancurkan harinya Mas Ilham. Ya Allah semoga semuanya baik-baik saja.
Setelah melewati gapura perumahan, mobil itu melaju perlahan hingga berhenti di depan rumah Ilham. Ia turun dari mobil dan masih menarik tangan istrinya dengan kasar.
Ilham tak peduli dengan rintihan Farah. Yang jelas, saat ini dirinya marah karena merasa dikhianati. Lebih dari itu, ternyata istrinya masih berhubungan dengan Ray. Ia masih menyeret istrinya hingga memasuki rumah.
“Lepaskan, Mas! Aku tahu, aku salah ... tapi, lepaskan tanganku. Ini menyakitkan.” Farah menangis karena semakin lama cengkeraman tangan Ilham makin erat, hingga bekas merah muncul.
Ilham melepaskan dengan kasar hingga Farah terjatuh ke sofa ruang tamu. “Kenapa kamu menemui pria brengsek itu, Farah? Jawab!” Lagi-lagi Ilham bersuara keras.
Farah meringis kesakitan. Ia mengelus-elus tangannya yang terasa sakit. Sesekali dadanya sedikit sesak karena ia sedang mengatur napas agar tidak mengeluarkan air mata di depan suaminya.
Ilham memegang kedua bahu istrinya. Ia merasa gemas karena pertanyaannya tak kunjung dijawab. “Katakan Farah! Kenapa kamu duduk bersama Ray!”
“Aku tak sengaja bertemu dengannya di pusat perbelanjaan. Dia bersama Kak Sasmita. Percayalah ... aku tidak berduaan dengan Ray.” Farah terisak.
Ilham melepaskan tangannya dari pundak Farah. Hatinya terasa sakit melihat kejadian tadi. Ini yang menjadi ketakutan terbesarnya.
“Aku tahu, Mas benci dengan Ray. Apakah semuanya harus bertahan seperti ini? Aku tahu, Ray pernah berbuat jahat padaku dan aku sudah memaafkannya. Aku berharap hubungan Mas dan Ray terjalin seperti dulu. Bukankah kalian sudah bersahabat sejak lama?” Farah berbicara sangat hati-hati.
__ADS_1
“Mengapa kamu membela Ray?” Ilham tersulit amarah. Ia tak suka jika nama Ray keluar dari mulut istrinya.
“Aku tidak membela Ray! Ini sudah berbulan-bulan, Mas. Mengapa harus membencinya? Toh dia sudah menyadari kesalahannya. Dia juga memiliki kekasih, lantar mengapa kebencian masih bersarang di benakmu?” Farah tak mau kalah. Ia hanya ingin semuanya baik-baik saja sama seperti dulu.
Ilham yang tak tahan. “Mengapa dengan Ray!” Ia marah dan membanting vas bunga yang berisi mawar. Suara pecahan itu membuat Farah takut. Pecahan keramik berserakan di lantai terlebih lagi bunga mawar yang biasa Farah susun menjadi berhamburan berserta air.
Farah menangis dan ketakutan sambil memeluk kakinya. Ia tak menyangka jika Ilham akan membanting benda di dekatnya.
Sedetik kemudian Ilham sadar dengan perbuatannya. Ia melihat istrinya yang meringkuk ketakutan. Ia menutup mulutnya karena ia tahu, hari ini dia telah menyakiti hati perempuan lagi. Hatinya teriris melihat mata Farah yang sangat kaget melihat kemarahan ini. “Farah ....”
“Pergi! Kamu mengerikan!” Farah berlari menuju kamarnya. Ia masih menangis.
Ilham terdiam dan menyadari semua kemarahan ini tidak bisa ditarik lagi. Ia melihat pecahan keramik yang berserakan. “Tak hanya menghancurkan hatinya, aku juga menghancurkan vas kesayangannya.”
***
“Aduh!” Ray mengerang kesakitan saat Karin mengoleskan salep pada sudut bibirnya yang terluka.
“Pak Ray mengapa tidak membalas perlakukan suaminya Farah? Bukankah dia sudah berlaku kurang ajar terhadap Anda?” tanya Karin sambil mengusap luka Ray.
“Aw! Tidak Karin. Itu akan membuat suasana semakin keruh. Aku yakin saat ini mereka sedang terlibat pertengkaran. Jika hal itu terjadi, aku berharap Ilham mengucapkan kata larangan itu. Talak!” Ray tertawa walaupun harus sesekali meringis kesakitan akibat pukulan yang dilayangkan dari Ilham.
Karin merasa kasihan dengan bosnya yang sangat terobsesi dengan istri orang. “Apakah hanya Farah saja perempuan di dunia ini, Pak?”
“Mengapa kau masih menanyakan hal itu?” tanya Ray.
“Saya merasa kasihan dengan Bapak. Banyak perempuan lain yang mengejar Bapak bahkan rela tidur dengan Anda. Mengapa harus dia jika ada yang perempuan lain yang bisa mencintai Bapak.” Karin menunduk. Ia telah lama mengenal Ray, bahkan ia sudah menganggap bosnya ini sebagai ayah, kakak sekaligus teman.
Karin rela menyerahkan seluruh hidupnya kepada Ray karena dia telah menyelamatkan hidupnya. Bagi Karin, Ray adalah penyelamatnya di tengah orang-orang yang mencemoohnya dengan ketidaknormalan. Iya, Karin tumbuh sebagai perempuan yang berbeda. Ia tidak sama seperti perempuan pada umumnya. Ia memiliki ketertarikan terhadap sesama perempuan. Dan hanya Ray yang menerimanya bekerja di perusahaan itu.
Ray mengacak-ngacak rambut Karin. “Tidak perlu mengkhawatirkanku, Karin. Bukankah semua manusia memiliki obsesi pada sesuatu. Aku menerima obsesi ini, aku mencintai Farah. Aku menginginkannya untuk berada di sampingku.”
Karin hanya mengangguk. Ia sudah kehabisan akal untuk menyadakan bosnya dari obesesi gilanya. “Semoga Bapak tetap mendapat kebahagiaan sejati.”
Ray tersenyum mendengar doa dari Karin. Semoga ....
__ADS_1