Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 95


__ADS_3

Kinanti kembali ke rumah, ia sudah melihat Reno makan dengan ayahnya. Sepertinya sang ayah sudah membelikan makan untuk Reno. Kinanti tersenyum, Ia juga menyambut tangan ayah dan menciumnya. Kinanti lalu berjalan menuju kamar, dan langsung merebahkan diri. Ia juga melepas sling bag yang tadi ia pakai.


Seperti biasa, jika Kinanti sudah kelelahan, ia akan melempar sling bag-nya di meja yang berada di pojok kamar. Biasanya Kinanti akan mendengarkan bunyi benturan antara sling bag yang di lempar lalu mengenai meja dengan suara yang sangat lirih, karena sling bagnya adalah benda ringan. Namun tidak untuk saat ini, ia mendengar bunyi hantaman yang keras membuat dia terperanjat. Sebetulanya ia sudah menyadari bahwa saat membawa sling bag itu sedikit terasa berat, namun ia tidak menggubrishnya, ia hanya menganggap ini akibat kelelahannya.


Dengan rasa penasaran, Kinanti akhirnya bangkit. Ia memungut sling bag-nya yang berada di atas meja pojok kamarnya. Ia merasa sling bag ini memang sedikit berat. Kinanti memberanikan diri untuk membuka isi sling bag itu. Ia membuka dengan perlahan resleting tas itu. Seketika Kinanti terkejut mendapati ada dua puluh gepok uang dan satu amplop berwarna merah. Kinanti menemuka surat yang terselip di dalamnya.


“Aku tau kamu akan membutuhkan uang ini. Jika kamu sudah memakai uang ini, aku harap segera hubungi nomor di kartu nama yang aku masukkan ke amplop ini juga. Naresh Yori Alvarendra.”


Kinanti membaca surat itu. Tiba-tiba ia merasa ada yang sesak di dalam dadanya. Ia kaget sekaligus takut dengan pria yang baru dikenalnya tadi. Ia mulai berpikir, bagaimana pria itu memasukkan uang sebanyak ini pada tasnya.


***


Sementara itu pada malam di sisi lain. Naresh sedang merebahkan tubuhnya. Ia sedang menginap di salah satu Hotel terbaik di Kota Milepolis. Ia menghela napas panjang ke udara. Naresh mengingat-ingat kejadian yang telah ia alami. Ia mulai menutup mata, potongan-potongan kejadian itu kembali terputar seperti film.


Masih segar dalam ingatan bagaimana Kinanti menyebutnya kakak dengan wajah yang sangat antusias. Wajah yang sama ketika ia disambut dengan penuh suka cita saat ia memasuki rumah yang megah bak istana. Anak kecil yang menyambutnya dengan riang gembira. Tentu saja Naresh tidak lupa dengan kejadian itu.


Tiba-tiba ia tersenyum hangat seperti musim semi. Naresh kemudian teringat pada sosok ibunya. Rasa yang tidak pernah pudar. Ia masih ingat ketika dongeng yang pernah ia dengar dari sang ibu. Dongeng yang membuatnya sayang pada anak lelaki yang memanggilnya kakak.


***


Dalam tempat tidur yang hangat dalam pelukan ibu yang sedang membacakan cerita sebelum tidur. Si kecil Naresh dengan tubuh mungilnya bersandar di bahu sang ibu. Ia merasakan kehangatan dan kenyamanan.


“Pada suatu hari ada seorang anak lelaki yang sangat tanpan dan gigih tinggal di hutan. Dia tinggal sebatang kara dan sendirian. Anak lelaki itu setiap harinya mencari ikan di sungai dan di jual di pasar yang berdekatan dengan hutan itu. walaupun dia sering keluar dari hutan menjual ikannya, ia tetap merasa ada yang kurang. Anak lelaki itu membutuhkan seorang teman. Setiap hari anak lelaki itu selalu meminta agar memiliki adik yang bisa ia ajak bermain dan mencari ikan di sungai,” sang ibu bercerita dengan nada yang sangat lembut merasuk ke dalam indera pendengaran.


“Ibu, apakah Tuhan akan memberikan adik kepada anak lelaki itu?” Naresh kecil bertanya dengan keluguannya.


Sang ibu tersenyum, sesekali ia mencium pipi Naresh kecil. “Tuhan selalu mendengar doa-doa yang dipanjatkan lebih dari satu kali. Dan Tuhan mengabulkan doa anak lelaki itu.”


Naresh hanya mengerjap, ia selalu merekam kalimat itu. Doa yang dipanjatkan lebih dari satu kali mempunyai kadar nilai yang tinggi dibanding hanya sekali, apalagi saat doa yang tergesa-gesa. Kemudian sang ibu melanjukan ceritanya.


“Suatu hari saat anak lelaki itu mencari ikan di sungai, ia melihat bercak darah yang sangat banyak. Karena penasaran anak lelaki itu mengikuti jejak darah hingga sampai di pohon yang besar. Dia melihat seekor rubah berwarna putih sedang tergeletak bersimbah darah. Lalu anak lelaki itu segera membawa rubah yang berwana putih itu ke rumahnya. Dia mengobati luka-luka yang terdapat di tubuh rubah putih itu. Anak lelaki itu merasa iba karena salah satu kaki dari rubah putih itu tidak ada, jadi rubah putih hanya memiliki tiga kaki. Dengan kesabaran anak lelaki itu merawat si rubah putih ....”

__ADS_1


“Ibu apakah rubah putih itu kesakitan? Kenapa tidak dibawa ke pak dokter aja, Bu?” Si kecil Naresh yang memiliki permikiran kritis selalu membayangkan apapun yang diceritakan oleh ibunya.


Sang ibu tersenyum, “Anak lelaki itu sanggup merawat si rubah putih itu sayang. Ibu lanjutkan ya ceritanya.”


“Lalu si rubah putih itu kembali sehat, Anak lelaki itu senang. Setiap hari setelah dia menjual ikan yang didapatnya di sungai, anak lelaki itu tak lupa membelikan daging segar untuk si rubah putih itu. Namun si rubah kecil itu tidak suka daging mentah, dia lebih suka daging yang sudah dimasak oleh Anak lelaki itu ....”


“Ibu apakah si rubah putih suka sayur?” Naresh kecil suka sekali memotong cerita dari ibunya. Namun si ibu senang, ini tanda bahwa Naresh bisa mengikuti cerita dan membayangkannya di kepala.


“Iya si rubah putih itu juga suka sayur, Jadi Naresh harus suka makan sayur juga.”


Naresh mengangguk, sepertinya setiap kata dalam cerita diserapnya dengan baik. Ini cara sang ibu agar anaknya mendapat nasehat tentang mana yang baik untuk anaknya tanpa haru dengan cara membentak atau kekerasan.


“Setiap hari si Anak lelaki itu menggendong rubah putih di keranjang yang terbuat dari bambu. Si rubah kecil amat senang, ia bisa jalan-jalan melihat sungai dan melihat pasar. Tapi suatu ketika si rubah putih itu berubah menjadi manusia. Dia berubah menjadi anak kecil yang sangat lucu. Si Anak lelaki itu kaget sekaligus senang. Sekarang di rumah kecilnya ada teman yang bisa menemani Anak lelaki itu. Dia tidak sendirian lagi. Mereka hidup saling menyayangi, walaupun si rubah kecil menjadi manusia yang tidak sempurna.” Sang ibu telah menyelesaikan dongengnya.


“Akhirnya anak lelaki itu bahagia punya teman ya, Bu.” Naresh kecil tersenyum.


“Iya sayang. Naresh, jika suatu hari nanti Naresh bertemu dengan anak kecil yang mempunyai kekurangan seperti si rubah kecil, Naresh harus menyayanginya sama seperti anak lelaki itu ya.”


“Naresh harus berjanji menyayanginya seperti adik Naresh sendiri, janji ya sama ibu.” Sang ibu mengulurkan tanganya untuk janji jari kelingking.


Naresh kecil meraih kelingking ibunya, ia juga mengikat janji jari kelingking.


“Naresh janji Bu.”


Sang ibu tersenyum, ia harus melakukan hal ini demi masa depan anaknya. Mungkin saat ini Naresh tidak tahu tentang cerita yang sebenar-benarnya. Namun sang ibu yakin, Naresh bisa memaknai kata dalam setiap dongengnya.


***


Naresh terpaksa membuka kedua matanya. Mimpi itu seperti film yang selalu menghantui ruang pikirannya. Ia merasa sesak karena selalu terngiang-ngiang dongeng si rubah putih dan janji kelingking itu. Janji yang membuat dirinya terikat dengan kehidupan yang harus ia jalani saat ini.


“Apakah janji itu masih berlaku hingga hari ini, ibu? Ada kesakitan yang aku rasakan setiap perjalanan janji itu.” Naresh mengembuskan napas beratnya.

__ADS_1


Sekarang Naresh tahu, rubah putih memang makhluk yang baik hanya kondisinya sangat jauh dengan kegagahan yang tergambar. Rubah kecil itu selalu kesedihan, namun setelah Naresh bertemu dengan rubah kecil versi di kehidupannya, ia tahu kegembiraan anak kecil itu ketika mendapat kakak seperti dirinya.


____________


Jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet like dan beri rating 5 bintang ya ... karena ini GRATISS.😄


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


_________


Novel Rekomendasi saat menunggu Perempuan Pilihanku update :



OB Kerudung Biru – Author Putri Tanjung


Hasrat Tuan Muda – Author Cmeely Ayu


Cinta Luar Biasa – Author Khoirun Nisa


Cassandra – Author Nadira Bee


Our Love – Author Lee Via


__ADS_1


__ADS_2