Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 87


__ADS_3

Satu mingggu setelah Akmal menyatakan melamar Rahma, mereka melangsungkan akad nikah. Tidak ada pesta, hanya akad nikah saja yang dihadiri beberapa saksi. Farah ikut merasakan bahagia. Ia menggendong si kecil Argian yang sekarang berusia satu bulan untuk menyaksikan ibunya menikah sekaligus baby Argian memiliki ayah.


Acara ijab qobul pun berjalan lancar. Rahma tampak terharu, ia tak kuasa membendung kebahagiaan yang selalu ia mimpikan. Suara Akmal terdengar sangat syahdu saat mengucapkan qobul, begitu mantap di atas keteguhan hati.


Terasa sekali atmosfir keharuan dalam bahagia menguar di sudut-sudut ruangan itu. Baby Argian juga merasakan hawa bahagia, ia tidak menangis sediki pun saat berada di pangkuan Farah. Mulai sekarang Rahma sah menajadi seorang istri dan sekarang juga Akmal juga telah sah menjadi suami sekaligus ayah dari Argian.


Setelah acara ijab qobul selesai, Rahma beserta Argian diboyong menuju tempat milik Akmal. Mereka bertiga akan memulai kehidupan dengan tempat yang baru meskipun masih satu kota di Milepolis. Sebenarnya Farah masih menginginkan agar si kecil Argian tinggal di rumah ini, namun Ilham dengan kesabarannya membesarkan hati Farah untuk menerima ini semua. Ilham berdalih jika merindukan Argian, Farah bisa langsung mendatangi rumah Akmal yang letaknya cukup jauh dari kawasan perumahannya. Farah hanya mengangguk dengan wajah masamnya. Ilham merasa gemas langsung mencubit ujung hidungnya.


Tempat tinggal Akmal memmang sedikit jauh dari kawasan perumahan Ilham. Akmal memboyong keluarga kecilnya untuk tinggal di sana. Akmal bahagia, sekarang ia memiliki istri yang cantik sekaligus memiliki bayi yang sangat menggemaskan.


Kebahagiaan akan terasa indah jika bertemu dnegan waktu yang tepat. Sang Semesta tidak akan memberikan kesedihan saja,namun selalu ada porsi kebahagiaan yang senantiasa mengikutinya. Dan hari ini Rahma membuktikan ini semua. Kesedihan yang datang silih berganti membuat porsi kebahagiannya dipupuk kian tinggi. Mungkin hari ini adalah hari panen kebahagiaan untuk Rahma.


***


Malam semakin naik dalam waktu yang tidak lama, Farah masih merasa kesepian semenjak ditinggal Argian. Untuk menghilangkan kesedihan istrinya, Ilham pun mengajak Farah untuk menonton film di rumah. Ilham juga sudah menyiapkan berbagai macam camilan untuk menemani film yang akan mereka tonton. Farah hanya bisa mengangguk, sepertinya malam ini serangan lemak akan bertambah karena Ilham membuat camilan yang begitu banyak dan tak ketinggalan dua cangkir minuman coklat.


Di ruang keluarga, Ilham duduk di sofa panjang menghadap televisi ukuran 42 inci. Farah juga duduk di samping Ilham. Mula-mula Farah sangat menikmati alur cerita dalam film romantis ini, terkadang tertawa karena cerita film itu sedikit menambahkan unsur komedi. Terkadang Ilham mengelus lembut puncak kepala Farah yang membuat pemiliknya bersemu malu.


Tiba pada scene film yang menampilkan adegan berciuman mesra di antara dua tokoh utama. Langsung saja mata Farah membulat, ia sesegera mungkin menutup wajahanya dengan kedua telapak tangan. Seakan-akan tidak ingin melihat adegan dalam romansa cinta itu.


Ilham yang memandangi Farah sedikit tertawa melihat tingkahnya. Ia sebagai pria dewasa sudah tahu kemana arah cerita cinta yang dimulai dari adegan berciuman.


“Kenapa harus ditutup sih?” Ilham sedikit menahan tawanya karena merasa gemas dengan istrinya


Farah sedikit mengintip di balik telapak tangannya, memastikan apakah adegan tadi sudah selesai. Dirasa sudah tidak ada lagi adegan yang menurutnya syur, Farah melepaskan kedua telapak tangan dari wajahnya.

__ADS_1


“Dulu kalau aku menonton film ada adegan begituan, mama akan langsung menutup mataku. Katanya ini adegan berbahaya yang hanya boleh ditonton oleh orang dewasa,” Farah menuturkan alasan mengapa ia sempat menutup wajahnya karena scene film tadi.


Ilham tertawa, ia sedikit menggelengkan kepalanya. “Ternyata istriku masih saja polos.”


Farah hanya memasang wajah manyun, benar ia tidak pernah melakukan hal yang seperti di film itu. Ia masih merasa takut dan malu.


“Terserah!” gerutu Farah. Ia masih sebal karena Ilham masih menertawainya.


Farah akhirnya mengambil dua cangkir cokelat yang berada di sampingnya. Satu cangkir untuk dirinya dan cangkir lainnya untuk Ilham. “Lebih baik, Mas minum cokelat ini.”


Farah mencicipi minuman cokelat itu, ia ingin mengambil es batu untuk membuat minuman ini cepat dingin dan menyegarkan. Lalu kemudian ia kembali ke tempat duduknya, melanjutkan film yang telah ia tonton.


“Mas Ilham mau cokelat dingin? Ini rasanya enak sekali.” Farah menyodorkan cangkirnya kepada Ilham.


“Aku tahu bagaimana cara menikmati cokelat yang lezat itu.”


Farah hanya memandang suaminya, seperti menunggu kalimat yang baru saja Ilham ucapkan. Tiba-tiba Ilham langsung mendaratkan bibirnya tepat di bibir Farah. Mata Farah terbelalak merasakan sensasi ini. Ilham memejamkan matanya. Ia merasakan bibir Farah yang sedikit dingin dan ada rasa cokelat yang tertinggal di bibir itu. Seperti sihir, dua bibir ini anggun berayun, mendekat melekat. Jantung Ilham dan jantung Farah memiliki detakan yang berbeda, walaupun berirama sama, tidak karuan.


Farah merasakan sensasi hangat dan sedikit menggelikan. Napasnya sedikit tersengal dalam permainan bibir itu. Ilham melepaskan ciumannya dengan lembut, ia tahu sekarang istrinya sedikit terkejut karena aksinya ini. Meskipun hal ini lumrah bagi pasangan suami istri, namun bagi Farah ini adalah hal yang baru.


Farah kembali menatap televisi, walaupun matanya melihat benda kotak 42 inci itu, namun pikirannya sedang kacau karena ia telah melakukan first kiss. Ada jejak yang masih tertinggal di bibirnya. Ada sensasi yang belum pernah ia rasai, bibir masih merasa sentuhan-sentuhan itu. Ia kembali meminum cokelat dinginnya.


“Ini ciuman pertamaku. Maaf aku belum terlalu pandai melakukannya,” ucap Farah.


Ilham hanya tersenyum. Ia seperti sedikit memberikan teknik dasar dalam memadu kasih.

__ADS_1


“Ini yang kedua kalinya,” Ilham menjawab singkat.


Apa kedua kalinya! Kapan aku melakukan hal ini dengan Mas Ilham?!


Farah masih tak percaya, ia menantap sepasang bola mata yang berwarna hitam itu.


“Kapan aku melakukan hal itu? Seingatku baru kali ini merasakannya, Mas.”


Ilham tersenyum, ia sedikit mengelus puncak kepala istrinya. “Aku mengingatnya jauh lebih ingat dibanding kamu, Sayang.”


Farah masih tertegun, ia memang merasa baru kali ini berciuman. Farah tidak pernah lupa tentang kegiatan apa yang sudah ia lakukan. Ia masih berpikir, kapan ia pernah melakuan hal ini untuk pertama kali. Sekarang Farah sibuk dengan pikirannya. Ia sekarang seperti orang yang melamun.


Ilham tahu, pasti Farah sedang mengingat-ingat kapan pertama dia melakukan hal ini. Ketika bingung, wajahnya sangat menggemaskan. Ilham tertawa kecil melihatnya. Jelas saat melakukan ciuman itu, ketika Farah dan Ilham berada di ruang baca. Farah tertidur dan Ilham sudah merenggut bibirnya, mana mungkin Farah mengingat hal itu. Hanya Ilham yang dapat mengingatnya.


____________


jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁


jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀

__ADS_1


__ADS_2