
Episode 173: Terbuat dari apakah hatimu?
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
Selamat Berimajinasi
____________
“Semuanya mengerti?” tanya Frans kepada beberapa orang yang ia tunjuk sebagai panitia.
Semua orang menggangguk. Acara yang terselenggara ini adalah hasil “kegabutan” Frans untuk membuat produk lokal banyak diketahuin oleh warga Kota Milepolis. Bisa dibilang sudah lama sekali acara seperti ditiadakan, alasannya tidak jelas. Namun, pria berambut ikal bernama Frans menghidupkan kembali acara seperti ini.
Semua orang sudah dibebas tugaskan. Ilham mengambil ponselnya dari saku celana dan mencoba menghubungi Farah. Sedikit lama, akhirnya tersambung juga. Ia menanyakan di mana dia sekarang. Setelah tahu jika Farah masih di stan komunitasnya, Ilham berjalan menuju tempat itu. Menurut denah yang ia pelajari tadi saat rapat. Stan komunitas yang digawangi Farah berjarak kurang lebih lima puluh meter dari tempatnya berdiri.
Tak menyia-nyiakan waktu, ia segera berjalan ke arah barat. Tak butuh waktu lama, ia menemukan hawa-nya. Ia tak langsung menemui istriya. Ia masih memandangi Farah yang sedang berdiri di kursi karena memasang hiasaan untuk stan yang akan ia jaga esok lusa.
“Setahun kita menjaga pernikahan ini, kamu membawa warna yang sama seperti Ann.” Seketika memori lama berputar bagaimana Ilham mengenal perempuan yang pernah mengisi relung hatinya. Perempuan yang mengajarkan arti kehidupan dan mendukungnya agar memiliki kedai, dan perempuan penyuka buku.
“Astaga! Aku tidak boleh memikirkannya lagi.” Ilham memukul kepalanya. Ingatan manusia terlalu lancang saat menyebut nama seseorang. Semua kenangan itu berputar dengan sendirianya, bahkan tanpa aba-aba.
“Aku sudah memiliki perempuan yang jauh lebih sabar menghadapiku, walaupun terkadang menyebalkan.” Ilham memberikan keteguhan kepada hati dan pikirannya. Ia melambaikan tangan ke arah Farah.
__ADS_1
Farah merasa terpanggil dengan pria yang melambaikan tanganya. Pandanganya beralih kepada pria yang sedang berdiri dengan senyuman sehangat senja. Hal itu membuat keseimbangan Farah sedikit goyah, kursi plastik yang ia pijak mendadak patah di bagian kakinya.
Ilham yang melihat hal itu dengan sigap langsung berlari menuju Farah. Tepat saat Farah terjatuh, Ilham menjadi penolong walaupun mereka harus sama-sama tergeletak di tanah.
“Sakit, Mas ....” Farah memberengut.
Ilham hanya tertawa. “Untung kamu jatuh dipelukanku.”
Mereka bangkit dari jatuh yang romantis. Banyak pasang mata yang melihat kejadian itu akhirnya tertawa kecil.
Ilham hanya tersenyum bahkan ia sedikit tersipu karena istrinya yang memang sedikit ceroboh. “Kamu enggak apa-apa, kan?”
“Kakiku sakit. Harusnya aku tidak naik-naik seperti itu!” Farah mendengus kesal pada kursi plastik yang tiba-tiba patah di bagian kaki.
“Aku malah kasihan dengan kaki kursi itu,” ucap Ilham.
Farah mendelik ke arah suaminya. “Mengapa harus kasihan dengan kaki kursi itu?”
“Sekarang jalan-jalan yuk, aku pengen naik bianglala itu!” Farah menujuk wahana yang bentuknya seperti kerangka roda yang berputar dan bercahaya karena dihiasi lampu warna warni.
Ilham mengangguk, ia menggandeng tangan istrinya untuk naik ke wahana itu. Belum sampai di tempat pembelian loket sepasang kekasih sedang menyapa mereka. Ilham sangat mengenal pria itu.
“Farah!” suara Karin membuat Farah menoleh. Ia langsung berlari memeluk perempuan itu, seperti kawan lama yang baru saja bertemu.
“Selama malam,” nada bicara Ray tenang. Ia harus mengontrol emosinya agar tidak meledak-ledak.
Ilham tidak menjawab, ia malah membuang muka. Ia tak suka kehadiran Ray. Menurutnya terlalu merusak pemandangan.
“Wah! Kak Sasmita akhirnya datang juga,” ujar Farah. Dia tampak senang melihat Ray dan kekasihnya datang memenuhi undangannya.
__ADS_1
“Bagaimana bisa, kami menolak undangan itu.” Karin tertawa.
“Harusnya kalian tak perlu repot-repot memenuhi undangan istri saya. Bukankah orang elit tidak akan bermain di tempat seperti ini.” ucapan Ilham mengandung nada ketidaksukaannya terhadap Ray. Ia menekankan kata “orang elit” yang dimaksudkan adalah Ray.
Kepala terasa panas dan mau meledak. Ia tak suka pria seperti Ilham. Namun sebeum ia bertindak, Ray sudah lebih dulu mencegahnya agar tidak terpancing emosi.
“Bukankah aku juga warga sipil sama seperti kalian?” Ray masih bisa menahan amarahnya dengan senyuman. Ia sudah kebal dengan sindiran semacam ini. Baginya tidak penting. Asal dia masih bisa dengan dengan Farah, itu sudah lebih dari cukup.
Farah mencubit lengan suaminya. Ia menatap tajam seakan memberi tanda jika tujuan Ray dan Kak Sasmita datang ke mari karena permintaan yang di ajukan tempo hari. Ilham yang menangkap isyarat itu akhirnya mengalah. Ia tak lagi menyindiri hal seperti ini.
“Oke Ray, dan Mas Ilham. Sebaiknya kalian tetap seperti dulu. No perkelahian, no debat! Oke!” Farah jadi turun tangan untuk masalah yang sudah berbulan-bulan. Ia hanya ingin hidupnya lebih baik tanpa harus ada yang dibenci.
Ray mengangguk sambil tersenyum. Ia harus mempertahankan ketenangannya. “Aku harap permintaan maafku diterima dengan baik.” Ray mengulurkan tangannya ke arah Ilham sebagai tanda jika ia bersungguh-sungguh.
Ilham cukup lama mendiamkan tangan Ray. Belum menjawab ataupun menjabat tangan. Ia masih merasa marah ketika ingat bagaimana istrinya diperlakukan kasar.
Farah kembali menatap tajam suaminya. Ia merasa gemas kenapa tak kunjung dijawab ataupun membalas jabat tangan Ray. “Mas ... aku yakin Ray sudah berubah. Katamu, kita harus memberi kesempatan kepada orang yang ingin berubah menjadi baik.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Farah, hati Ray serasa terbasuh air hujan yang sangat menyejukkan di padang yang tandus. Begitu indah dan melegakan. Selama ini kamu telah tulus memaafkanku, Farah? Terbuat dari apakah hatimu? Apakah sudah dimurnikan sejak lahir?
Dengan berat hati, Ilham menerima tangan Ray dan menjabatnya. Ia tersadar jika mengajarkan berbuat baik, maka dia harus berbuat baik juga. Menurutnya, Farah benar, perempuan yang menemaninya satu tahun ini membuatnya tercengang.
Farah tersenyum melihat dua sahabat saling meminta dan menerima maaf. Dengan begini, tak ada dendam yang tercipta. “Jika sudah, aku ingin merasakan kuliner di sini bersama Ray dan Kak Sasmita. Boleh ya, Mas?” Farah memasang wajah semelas mungkin dengan mata kucing yang membulat. Ia yakin, suaminya tak akan menolak jika ia telah mengeluarkan jurus ini.
“Hemm ... baiklah.” Ilham pada akhirnya mengalah dengan keputusan istrinya.
Mereka berempat akhirnya berjalan menuju stan penjual ramen yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Farah sudah melupakan keinginannya untuk menaiki wahana bianglala.
Seperti double date pada umumnya, yang terlihat dua pasang kekasih yang sedang bergandengan. Ilham menggamit tangan Farah dan Ray yang terpaksa menggamit tangan Karin. Terpaksa, kata yang pas untuk mengungkapkan bagaimana hubungan Ray dan Karin. Meski begitu, Karin tak punya pilihan selain menuruti permintaan bosnya.
__ADS_1
Di satu meja persegi yang lumayan panjang menjadi tempat bagaimana kencan ganda itu dilaksanakan. Sama seperti tadi, Ilham duduk bersama Farah dan Ray duduk bersebelahan dengan Karin. Setelah menunggu beberapa saat, empat mangkuk ramen sudah tersedia di meja mereka lengkap dengan minuman yang dipesan masing-masing.