
Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi
_________
Kota Milepolis bukanlah kota yang besar, bukan juga daerah perindustrian. Tapi kota ini menyajikan banyak cerita bagi warga kotanya. Satu perusahaan berdiri di bagian selatan kota ini, yaitu perusahaan kontruksi milih Rayhan Wijaya. Hanya itu perusahaan yang berdiri di Milepolis.
Kehangatan tampak menguar dari salah satu Perumahan Puri Shinta yang letaknya tak jauh dari pusat kota. Di sana sepasang manusia bernama Ilham dan Farah hidup bersama.
Kata orang bahagia karena cinta itu sedehana. Kita melakukan segalanya bersama, dalam satu paduan haru, tawa, dan senyuman. Semuanya bercampur jadi satu. Cinta dalam satu atap membuat setiap harinya terasa hanya itu-itu saja. Namun tidak pernah ada rasa bosan, dari waktu pagi hingga malam lalu ke pagi lagi seperti perputaran yang tiada habisnya sampai ajal memisahkan.
Hari ini saat waktu senja, Farah dan Ilham larut dalam obrolan seputar pagi. Ilham memilih pulang siang karena istrinya memasak udang saus pedas kesukaannya. Farah tahu bagaimana menyenangkan suami.
“Kau cantik!” seru Ilham.
Farah hanya tersenyum. “Setiap hari Mas Ilham selalu mengatakan hal itu. Sehari bisa tiga kali seperti meminum obat. Akan tambah dua kali jika ada udang atau cumi saus pedas di meja.”
“Karena kamu istriku, jadi aku sebut cantik.” Ilham tersenyum simpul, ia sangat merasa gemas dengan istri kecilnya.
Selama tiga bulan ini Ilham masih mencoba mencintai Farah, tertatih dan perlahan. Namun Farah tidak menuntut yang macam-macam. Baginya, Ilham suami yang baik, setiap malam ritualnya pun tidak ketinggalan. Menyisir rambut Farah yang kian lama makin memanjang. Ilham pernah mengatakan bahwa rambut yang lusuh menandakan bahwa hatinya sedang tidak baik, di luar rasa malas.
Setiap hari mereka membangun jalinan ikatakan yang kokoh. Setiap hari pagi selalu kecupan manis di kening Farah. Semua dilakukan untuk menyenangkan hati agar jangan terluka lagi. Sebagian diri Ilham masih dalam jeratan kemunafikan. Semua yang ditampilkan sedikit dibumbui semu.
Apakah aku berdosa?
__ADS_1
Apakah aku jahat?
Apakah aku telalu menyakiti?
Entahlah ....
***
Pukul 22.00 Farah telah selesai dalam belajarnya, seminggu ke depan ia akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Seperti biasa, Ilham akan menyisir rambut Farah.
“Aku merasa seperti Rapunzel, yang rambutnya selalu disisir oleh Penyihir Gothel,” ucap Farah.
“Wah ... berarti aku disamaakan dengan penyihir! Dih, sayangku ternyata kejam.” Ilham tertawa.
“Bukan seperti itu, Mas. Hanya aku bisa melakukan sendiri. Pasti Mas Ilham lelah seharian bekerja dan malamnya masih meluangkan waktu untuk menyisir rambutku ini.” Farah tersenyum, ia sebenarnya bahagia atas perhatian dari suaminya.
“Apakah aku harus memotong rambutku? Sepertinya sudah tambah panjang dan lebih lebat dari sebelumnya,” lanjut Farah.
Ilham membalikan tubuh Faarah, ia menyentuh pundak Farah. “Lihat aku!” Ilham menatap istrinya, “kamu cantik apa adanya Farah, aku suka rambut panjangmu. Aku tidak keberatan menyisir rambut ini.”
Ilham membalasnya dengan pelukan yang erat, seakan tidak mau terlepas lagi. Tangan kanannya mengelus rambut. “Mas juga.” Ilham melepaskan dekapannya, ia memegang pipi Farah dengan kedua tangannya.
“Tidak perlu menangis,” ucap Ilham sebari menghapus jejak kristal yang telah tumpah membekas di pipi Farah.
Farah hanya mengangguk. Terima kasih Ya Allah ... kebahagiaan yang terindah dari milik-Mu adalah lelaki di depanku ini.
Ilham kembali menyisir rambu Farah. Ia dengan sabar mengurai kekusutan agar mahkota ini tetap indah di kepala istrinya.
“Mas tahu tentang rumah singgah yang dekat statsiun kereta?” tanya Farah.
“Rumah singga yang baru dibangun, iya Mas tahu. Ada apa?” Ilham masih berada di belakang Farah untuk menyisir rambut panjangnya.
“Aku ada sedikit kelebihan uang. Bolehkah uang itu aku sumbangkan ke rumah singgah itu?”
Ilham tahu usaha istrinya berkembang pesat. Sekarang dia sudah memiliki komunitas tersendiri untuk mengembangkan bisnisnya. Farah juga tidak sungkan untuk berbagi ilmunya. Setiap minggu sore dia akan di undang untuk mengisi pelatiha keterampilan yang diselenggarakan oleh pemerintah kota.
__ADS_1
“Boleh.” Ilham menyetujui kebaikan hati istrinya. Ia tidak bisa menghentikan derasnya kebaikan Farah.
“Benarkah?! Waahhh terima kasih Mas.” Farah memeluk Ilham untuk kedua kalinya. Namun Ilham berpura-pura tidak bisa menahan istrinya hingga mereka terjatuh di empuknya kasur. Posisi mereka saling merangsang. Farah berada di atas tubuh suaminya. Mata mereka bertatapan.
“Sepertinya jelitaku meminta bagian malam ini. Buktinya, kamu menyergapku di ranjang ini.” Ilham berbicara dengan nada lucu yang dibuat-buat.
Farah memanyunkan bibirnya, ia tahu Ilham suka kali membuatnya kesal. “Mas pasti sengaja menjatuhkan diri. Aku sedang masa merah saat ini.”
Ilham bangkit, ia duduk dengan bersadar di sisi ranjang. Tubunya masih kuat untuk menjadi tempat duduk istrinya. “Iya, aku tahu. Aku juga tidak meminta sekarang, tapi ... aku memminta ini.”
Ilham mencium kening Farah dengan lembut, ia mengangsurkan bibrnya melewati hidung Farah. Tak sampai di situ, Ilham juga memainkan peran di bibir istrinya. Sekarang Farah sudah tahu rasanya melawan peran. Mereka hanyut dalam kendali.
“Sudah malam seger tidur, Sayang.” Ilham mengelus puncak kepala Farah.
Farah menurut, ia turun dari tubuh suaminya dan tidur meringkuk di samping Ilham. Sekarang ia memiliki cara tidur yag unik, yaitu tidur di lengan suaminya.
***
Pagi satu malam yang terlewati lagi. pagi semangat baru menguar lagi. Di meja makan telah tersedia roti panggang, telur dan sosis. Farah yang menyiapkan semuanya, ini adalah kebiasaan yang harus ia dilakukan setiap harinya.
Isi piring telah tandas, Ilham bergegas berangkat menuju kedainya. Seperti ritual yang harus dilaksanakan, Ilham akan mencium kening istrinya. Farah selalu menyambut kepergian Ilham dengan mencium punggung tangannya. Di situ terdapat doa-doa yang selalu dipanjatkan untuk melindungi suainya dari marabahaya.
“Mas, apakah boleh aku pergi berbelanja kertas?” Farah meminta izin kepada Ilham. Ia harus melakukan hal ini sebelum kakinya lengkah sejengkal untuk keluar. “Mungkin sekalian belanja bulanan,” imbuhnya.
“Boleh, saat jam makan siang ‘kan? Insya Allah nanti aku antarkan, Sayang.” Ilham mencubit gemas hidung istrinya.
Farah mengangguk. Ia tersenyum dan menjawan salam perpisahan dari Ilham. Setelah suaminya berangkat, ia akan melihat daftar-daftar pesanan yang harus dibuat.
“Hemmm ... ternyata banyak sekali pesanan yang belum aku kerjakan.”
Dengan ketekunan dan keluletan Farah, ia membuat pesanan paper craft itu dibantu dengan Bu Tin. Seperti ini hari-hari yang ia lalui, pagi membuat pesanan dan malam belajar. Ia mempunyai garis waktu agar pekerjaan ini selesai dalam empat hari ke depan.
Catatan: adegan di atas hanya dilakukan untuk profesional yang sudah sah. Terimagajih
Hahahahah .....😂😂😂
__ADS_1