Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 30


__ADS_3

Farah sudah pulang ke rumah. Setelah berbelanja perlengkapan bayi dengan Rahma. Ia juga membeli beberapa kertas tebal untuk kerajinan kertas berupa hiasan ruangan. Farah mahir sekali untuk masalah lipat melipat kertas.


Teringat dulu almarhum mamanya pernah mengajarinya untuk membuat hiasan dekor dari kertas. Di waktu senggang, di luar jam kerja di kedai, Farah sering membuat kerajian berbentuk bunga yang di tempelkan di kamarnya. Bu Tin yang terkadang melihat hiasan itu saja langsung menyukainya dan minta dibuatkan.


***


Keesokan harinya Farah tetap bekerja seperti biasanya. Berangkat paling awal dan pulang malam. Sekarang ia sudah merasa sehat. Hari ini tugasnya adalah menjadi pelayan pengantar pesanan di lantai empat kedai.


Seorang pria berusia 30 tahun memanggil Farah. Ia memesan 2 gelas jus mangga dan kentang goreng. Lalu Farah menyampaikan pesanan pria tersebut kepada juru masak di dapur.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pesanan pria itu sudah di antar.


“Tunggu!” kata pria itu kepada Farah.


“Iya, ada yang bisa saya bantu lagi Pak?” tanya Farah sopan.


Pria itu meminta kertas dan bolpoin. Lalu Farah menyobek selembar kertas dari buku kosong kecil yang biasa digunakan untuk mencatat pesanan para pelanggan, dan memberinya pulpen.


Pria itu menuliskan suatu, dengan sabar Farah menunggu. Lalu pria itu menyodorkan kertas yang telah ditulisnya kepada Farah.


“Baca,” pinta pria itu.


Farah membaca tulisan itu.


‘Hai hari yang sangat cerah. Namaku Ray. Saya sudah memesan dua gelas jus mangga, satu milikku dan satunya belum ada yang memiliki. Saya berharap Anda pemilik jus mangga ini dan duduklah di kursi itu. Boleh kita berbagi cerita?’


Farah telah selesai membaca tulisan di kertas. Pria itu memandang Farah seperti menunggu jawaban dari Farah.


Farah melipat kertas itu lalu menyodorkanya kembali ke pria yang memberinya tadi.


“Terima kasih atas ajakannya Pak. Saya minta maaf Pak, pekerjaan saya masih banyak. Mohon agar tidak mengganggu pekerjaan saya. Terima kasih,” balas Farah menolak dengan sopan. Farah lalu kembali ke meja dekat kasir.


Ray masih tidak percaya atas penolakan seorang pelayan yang cantik menurutnya. Ia tak pernah diperlakukan seperti ini.


“Suatu saat nanti pelayan itu akan duduk bersama denganku. Akan aku pastikan itu” guman Ray.


Banyak para pelayan lainnya yang melihat penolakan yang dilakukan Farah.


“Farah! Kenapa kamu tolak sih ajakan Pak Ray? Padahal dia tajir melintir. Kamu temani dia bisa kecipratan uang,” ujar salah satu pelayan yang mengetahui penolakan Farah.

__ADS_1


“Iya, aku tadi sempet iri sama kamu Farah, kenapa nggak aku aja yang yang nyamperin Pak Ray. Kalau aku di posisimu, nggak bakal deh aku sia-siain kesempatan ini,” sahut pelayan yang lain.


Andai kalian tahu, kalau aku sudah menikah.


“Memangnya dia siapa? Sepertinya Kakak-kakak ini mengenal pria itu?” tanya Farah yang penasaran siapa pria yang bernama Ray itu.


“Di kota ini tidak ada yang tidak kenal dengan Pak Ray, dia pemilik perusahan konstruksi yang terkenal itu.”


“Iya, bahkan saking tajirnya banyak perempuan yang mengantri untuk sekerdar diajak kencan,” jawab pelayan lainnya.


Farah melihat Ray yang masih duduk di tempatnya. Tiba-tiba Akmal menghampiri pria yang bernama Ray itu. Mereka tampak sangat mengenal satu sama lain.


***


“Lho, ada Pak Ray disini, tumben banget,” kata Akmal yang melihat Ray sedang duduk meminum jus mangga pesanannya.


“Kamu Akmal ‘kan? Orang kepercayaannya Ilham. Kemana bosmu?” tanya Ray tanpa basa-basi.


“Pak Ilham sedang mengawasi pembangunan cafe barunya. Jika ada pesan, saya bisa sampaikan kepada pak Ilham,” ujar Akmal.


“Tidak, saya cuma ingin berbicara bisnis dengannya. Saya sudah ke tempat kedai barunya beberapa hari yang lalu, katanya dia ada di kota ini. Saat saya berada di kota ini, dia malah kembali. Sungguh membuat pusing saja,” gerutu Ray sambil tersenyum kecut.


“Jus itu seharusnya ada pemiliknya, namun sang pemiliknya tidak mau menerimanya,” jawab Ray.


***


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, jam kerja Farah sudah habis. Ia bergegas pulang ke rumah. Ia berjalan keluar dari kedai menuju ke halte yang jaraknya sangat dekat dari kedai ini.


Farah menunggu bus hampir 10 menit lamanya. Kota ini termasuk kota besar jam seperti masih ramai kendaraan berlalu-lalang. Ditambah banyak pedagang kecil yang menggelar lapaknya di dekat kawasan kampus.


“Sendirian saja?” sapa seorang pria yang muncul entah dari mana.


Farah tidak menjawab pertanyaan itu, Ia sudah mengetahui kalau pria yang menyapanya adalah Ray.


“Mau pulang ya? Mari saya antar dengan mobil saya,” ajakannya sopan sekali. Tapi Farah tidak menggubris ajakan Ray.


Farah melihat Ray menggunakan mobil mewah. Namun Farah tidak tertarik, ia lebih memilih menunggu bus.


“Ayolah, aku sudah menunggumu lama sekali. Tidakkah kau hargai penantianku,” ujar Ray lagi.

__ADS_1


“Saya tidak meminta untuk ditunggu.”


Tidak lama kemudian bus yang di tunggu Farah datang, Ia segera naik ke dalam bus itu. Ia tak ingin berurusan dengan Ray.


Ray masih tidak percaya ada wanita yang menolaknya untuk kedua kali dalam sehari ini meskipun ia membawa salah satu mobil mewahnya.


“Semakin kamu menolaknya, semakin aku penasaran dengamu,” kata Ray memandang bus yang ditumpangi Farah sudah hilang di belokan.


Beruntung Farah tidak diikuti oleh Ray. Mulai sekarang Farah memulai berhati-hati dengan pria yang bernama Ray.


Farah akhirnya sampai di halte dekat dengan gapura perumahan. Ia segera berjalan cepat menuju rumahnya.


***


Demi meredam kekecewaan, Ray melajukan mobilnya ke kelab malam yang terkenal dengan layanan prostitusinya.


Ia memesan minuman beralkohol kesukaanya. Ray minum banyak sekali. Ia mulai berhalusinasi tidak jelas.


“Perempuan itu sangat cantik. Kenapa aku bisa jatuh hati saat pandangan pertama di cafe itu. Sial dia membuatku lebih candu dibanding minuman ini. Akan aku pastikan dia jatuh di pelukanku. Ingat itu!” Ray berguman tidak jelas.


***


Farah mengetuk pintu itu dengan irama yang cepat sekali.


Ayolah bu Tin segera buka pintu ini!


Bu Tin mendengar ketukan pintu itu dan membukanya. Secepat kilat Farah menerobos masuk ke dalam rumah dan langsung mengunci pintu itu. Ia sangat ketakutan.


“Nona Farah kenapa?” tanya Bu Tin.


“Saya tidak apa-apa,” jawab Farah berbohong.


Farah berjalan menuju kamar milik Ilham. Ia harus menceritakan kejadian ini.


“Mas, mas Ilham!!” panggil Farah sambil mengentuk pintu kamar Ilham.


“Nona Farah, tuan tidak pulang malam ini. Mungkin beberapa hari ke depan. Karena sekarang tuan sedang sibuk merekrut karyawan karyawati yang akan bekerja di cafe barunya Nona,” ujar Bu Tin.


Kenapa Mas Ilham tidak ada saat aku aku membutuhkannya.

__ADS_1


__ADS_2