
Mobil milik Ray sudah berada di Kota Milepolis, ia sudah menempuh perjalanan tiga jam dari Kota Numa. Perjalanan yang hening dan sunyi. Tiga jam dengan kebungkaman yang luar biasa walaupun dalam mobil itu ada dua anak manusia. Mungkin bulan akan tertawa melihat karena tidak ada percakapan dalam perjalanan ini.
Ray tahu bahwa Farah sedang dilanda kesedihan yang tak pernah ia tahu. Ray senang melihat senyuman yang melengkung manis di wajah Farah. Namun begitu pedih jika mendung tiba-tiba menyelimuti gadis itu.
Ray sudah memasuki komplek perumahan Farah. Ray sangat mengenal perumahan ini, karena sahabatnya Ilham juga tinggal di sini. Ia berpikir bahwa Farah adalah tetangga dengan Ilham.
“Rumah kamu yang mana?” tanya Ray saat mobilnya baru saja berhenti di dekat gapura perumahan.
“Sekitar 200 meter lagi, rumah bercat warna hijau dan berpagar tinggi,” jawab Farah.
Akhirnya Ray menjalankan pelan mobilnya, sambil mencari-cari rumah bercat warna hijau. Ray memasang matanya dengan awas.
“Aku turun di sini Ray.”
Ray menghentikan mobilnya. Ia melihat rumah bercat hijau dengan pagar tinggi itu.
Farah sudah turun dari mobil Ray, ia sangat ingin mengistirahatkan raga dan pikirannya. Ray juga keluar dari mobilnya.
__ADS_1
“Ini.” Farah mengembalikan tongkat baseball yang ia bawa sejak dari Kota Numa itu kepada Ray.
Ray tersenyum menerima tongkat baseballnya kembali.
“Terima kasih Ray, sudah mengantarku sampai rumah. Sekarang sudah malam, segeralah pulang,” ucap Farah yang mengandung sedikit kata pengusiran
“Apakah kau baik-baik saja? Aku akan mengantarmu sampai ke dalam rumah,” balas Ray.
“Maaf aku tidak bisa menerima tamu.”
“Asal kau tahu, ini rumah...”
“Sekali lagi, terima kasih atas semua yang terjadi hari ini. Selamat malam.”
Farah berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia buru-buru menutup pagar rumah Ilham. Farah sudah tidak kuat untuk membendung air bah sungai yang mengalir deras membanjiri pipinya. Hari ini ia tahu, bahwa pernikahannya seperti sisi tembok yang kokoh dan Farah dipaksa untuk menghancurkan tembok itu.
Setiap hari, ia selalu berdoa agar bisa melunakkan hati suaminya. Setiap hari jarak selalu menjadi penghalang baginya untuk bersatu dengan Ilham. Setiap hari, cinta itu belum juga bersemi walaupun semua hal sudah diberikan. Bahkan hingga saat ini Ilham belum menyentuh Farah sedikit pun.
__ADS_1
Ray tahu bahwa gadis itu sedang menahan tangisannya. Gadis itu seperti angin sejuk bagi Ray. Ia bisa merasakan kehadiran angin itu, namun ia tidak bisa memeluk angin yang menari. Ray bisa merasakan kesedihan Farah, namun ia tidak bisa memeluk raganya. Tidak bisa.
Ray memejamkan matanya, ia masih berada di depan pagar rumah Farah. Ray menghirup nafas dalam lalu mengembuskannya pelan. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, sepasang matanya membulat menatap pagar rumah itu.
“Bukankah ini rumah Ilham?! Lalu mengapa Farah masuk ke rumah Ilham?” guman Ray.
Jangan-jangan Farah istri dari Ilham?
Ah mana mungkin! Ilham belum menikah. Lalu mengapa Farah tinggal di rumah ini?
“Apa mungkin Farah adalah adik Ilham, tapi Ilham pernah bercerita bahwa adiknya telah meninggal dunia 20 tahun silam?”
Lalu siapa Farah?
“Mungkin Farah adalah anak pembantunya Ilham yang bernama bu Titin. Dia tinggal di sini untuk menemani ibunya menjaga rumah ini, karena Ilham sudah beberapa ini mencari kekasihnya di Kota Zen.” Ray mencoba berpikir kemungkinan yang lain.
Ray mengembangkan senyumannya. “Ternyata Semesta suka sekali memberi takdir yang mengejutkan! Mungkin jika aku tidak mengenal Ilham, aku juga tidak mengenal anak pembantunya.”
__ADS_1
Ray masuk ke dalam mobilnya dengan wajah sumringah, ia yakin sebentar lagi ia akan mengikat Farah dalam ikatan suci.
Ray lupa jika terlalu bahagia, itu tidak baik. Dia tidak mengetahui fakta yang sebenarnya jika Farah memang istri sah Ilham. Ray ingin memilih takdir indahnya, tapi dia lupa Semesta mungkin memiliki takdir lain untuknya.