Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 119


__ADS_3

Selamat berimajinasi


_________


Nyonya Fernando keluar dari ruang ganti, ia sudah meminta pelayan untuk membungkuskan gaun yang ia pilih tadi. Sekarang ia harus mencarikan gaun yang cocok untuk dikenakan gadis yang berusia 20 tahun. Mata Nyonya Fernando beredar dan akhirnya menemukan Kinanti yang tengah bergeming menatap sebuah gaun yang menurutnya sederhana.


“Apa kau menyukai gaun itu?”


Kinanti sedikit tersentak kaget mendengar dari Nyonya Fernando. Ia buru-buru memperbaiki sikap agar tidak terjadi kesalahan. Ia sedikit lengah, mengapa terlalu lama memandangi sesuatu yang mustahil ia dapatkan.


“Gaunnya memang indah, Nyonya.” Kinanti tersenyum. “Apakah ada gaun yang anda pilih sudah cocok?”


“Sudah,” ujar Nyonya Fernando, “Kinan, apakah kau bisa mengambilkan buku catatanku yang berada di mobil?”


“Baik, Nyonya.”


Punggung Kinanti sudah tidak nampak, ini adalah kesempatan untuk Nyonya Fernando melaksankan perintah Naresh.


“Gaun ini juga saya ambil,” ucap Nyonya Fernando dengan pelayan yang masih berdiri di belakangnya.


Setelah semua selesai, Kinanti membawa barang belanjaan dari Sang Ratu. Agenda selanjutnya, menuju ke salon kecantikan langganannya. Kinanti langsung menginjak pedal gas meninggalkan butik itu.


Nyonya Fernado melakukan treatment kecantikan seperti biasanya. Kinanti dengan sabar menunggu hingga selesai. Pukul 15.00 mereka memutuskan untuk pulang kembali ke rumah. Terlihat sekali Nyonya sangat puas dan sedikit kelelahan. Ia memutuskan untuk beristirahat sebelum persta nanti malam dimulai.


“Beristirahatlah Kinan, sebelum kau kelelahan karena sudah seharian penuh mengantarkanku.”


Mata Kinanti membulat. Ia masih tak percaya dengan permintaan Sang Nyonya Besar ini. Ia berpikir, apakah ia sudah melakukan kesalahan. Ini tidak seperti biasanya.


“Apakah saya sudah melakukan kesalahan Nyonya?” tanya Kinanti dengan penuh hati-hati.


Nyonya Fernando tersenyum, ini lengkungan yang tulus yang pernah ia perlihatkan kepada Kinanti. “Tidak, hanya saja aku sedang ingin sendiri. Bisakah kau mengabulkan permintaanku?”


“Baik Nyonya,” jawab Kinanti. Setelah mengatakan hal itu, ia pergi meninggalkan kamar Nyonya Besar. Ia hanya berpikir bahwa ini adalah hari baiknya, bisa beristirahat lebih lama dari biasanya.


Benda berbentuk kotak itu mengeluarkan bunyi dan bergetar, tanda ada pesan singkat masuk. Nyonya Fernando mengetuk layar ponselnya dan membaca isi pesan tersebut.


Adik ipar jika sudah selesai, biarkan dia beristirahat.


“Sebelum kau menyuruh, aku sudah melaksanakan perintahmu kakak ipar,” guman Nyonya Fernando.


***


Di kamar yang tidak begitu luas, tubuh mungil Kinanti meringkuk di empuknya kasur. Bisa dibilang ini adalah keberuntungan karena ia bisa istirahat lebih awal. Tubuhnya yang tidak begitu letih bisa mengembalikan energi lebih cepat. Kinanti menatap langit-langit kamarnya. Ada potongan-potongan pertanyaan yang harus ia ketahui jawabannya.


Apakah aku akan di sini terus? Jika tidak, sampai kapan ini berakhir?


Bagaimana kabar Ayah?


Bagaimana kabar Reno?

__ADS_1


Aku rindu Kota Milepolis-ku, aku rindu rumahku.


Kinanti terus berangan-angan hingga pelupuk matanya berat. Ia memeluk rindu yang belum tentu bisa tuntas jawabannya. Ia sangat ingin pulang walau sebentar. Raganya yang mungil sedang menanggung meminta janji petemuan.


Tak berapa lama suara ketukan pintu yang iramanya semakin tak karuan, mengusik indera pendengaran Kinanti yang super peka terhadap rangsangan suara. Tubuhnya tidak bisa mengabaikan sinyal yag telah dikirimkan gendang telinga menuju otak. Matanya mengerjap mengumpulkan pandangan .


“Siapa dia?”


Kinanti bangkit, ia telah menguap melepaskan kantuknya. Ia berjalan lalu memberikan tekanan pada tuas pintu, hingga pintu itu terbuka. Kinanti hanya melihat seorang maid pria yang sedang membungkukkan badannya.


“Maaf, ada apa?” Ia masih berprasangka, bahwa utusan maid ini dari Nyonya Fernando.


“Saya ditugaskan untuk menjemput Nona Kinanti. Karena kehadiran Anda telah ditunggu oleh Tuan Yori di rumahnya, mohon segera bergegas untuk memenuhi panggilan tersebut,” ucap Maid laki-laki yang rambutya rapi dan mengkilat karena produk minyak rambut yang ia gunakan.


Kinanti belum memberikan jawaban. Tebakannya sudah melenceng dari apa yang dikatakan oleh Maid Laki-laki ini.


Mengapa Kak Naresh meminta aku ke rumahnya? Bukankah ia bisa datang kemari tanpa perlu perantara maid?


“Maaf Nona, waktu kita tidak banyak,” ucap maid itu mengingatkan.


“Baik saya akan segera ke sana.” Kinanti tersenyum, ia mengambil ponselnya lalu menaruh benda kotak itu ke saku celana denim panjang yang ia kenakan. Ia hanya menduga bahwa ini ada hal penting yang ingin Naresh bicarakan dengannya.


Jarak antara mess maid perempuan dengan rumah Naresh tidak begitu jauh, setidaknya ia berjalan dengan baik ketimbang dulu yang tubuhnya pun harus diseret dan dipaksa merasakan kasarnya jalan. Maid laki-laki itu berjalan di belakangnya seperti sedang menjaga sesuatu.


Akhirnya mereka sampai di depan rumah Naresh yang di kelilingi tumbuhan rapat dan tinggi sebagai pagar. Mata Kinanti liar mencari sosok pria yang memanggilnya kemari. Pintu rumah itu terbuka, terlihat hanya dan Bibi Saka yang berdiri menunggu kehadirannya.


“Bibi Saka?”


Untuk pertama kalinya Kinanti mendapatakan perlakuan ini dari Bibi Saka, seorang maid senior yang bekerja sebagai penantu.


“Mengapa Bibi Saka memberi hormat kepada saya? Bukankah saya yang harusnya membungkuk?”


Bibi Saka tersenyum. “Anda harus terbiasa dengan hal ini Nona.”


Terbiasa dengan hal ini?


Kinanti melangkah memasuki rumah Naresh. Terlihat ada tiga orang yang tidak Kinanti kenal, tapi barang-barang yang mereka bawa adalah jawaban atas kehadiran mereka.


“Apakah dia perempuan pilihan Tuan Yori?” tanya salah satu perempuan itu yang rambutnya dicat warna ungu dengan make up berwarna ungun juga mulai dari lipstik yang digunakan hingga eyeshadow yang menghias kelopak matanya.


Seorang pria bertubuh jangkung dengan gaya yang lemah lembut dan warna rambut mirip kuning jagung menghampiri Kinanti. Ia mengelilingi tubuh Kinanti dan memperhatikan dengan saksama.


“Nona ini cantik walaupun tubuhnya kurus. Wajahnya juga manis walaupun jarang tersentuh bedak dan pensil alis. Rambutnya oke sih ... tapi kok ya kurang gimana gitu!” Nada suaranya khas seperti dibuat-buat.


Kinanti yang mendengar celoteh pria jangkung ini sedit kesal. Dia menjabarkan keindahan sekaligus kekurangan yang ia miliki. Rasanya ingin sekali Kinanti menyumpal mulut pria yang sedikit tulen ini dengan sapu tangan. Namun ia mengurungkan niatnya.


Seorang wanita lagi yang memiliki gaya rambut bob dengan poni yang menutupi kening yang lebar seperti bandara itu tersenyum melihat Kinanti. Ia tidak berkomentar apapun kecuali hanya tersenyum melihat bentuk wajah Kinanti yang akan dipoles dengan warna yang seperti apa, sudah tergambar pada benaknya.


“Dia cantik dengan semestanya,” kata wanita yang memiliki gaya rambut bob berponi.

__ADS_1


Kinanti yang bingung dengan kehadian mereka lansung menatap tajam Bibi saka yang masih berada di dekatnya. “Bibi Saka, mereka siapa?!”


________


Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author🤗


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.😁


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


_________


Novel Rekomendasi saat menunggu Perempuan Pilihanku update :




My Only You (MOY) – Author Versa




Penantian Seorang Istri – Author Bintang Timur




Suddenly I Became A Rich Man – Author Kata Pandu




(0330) Cinta dalam Keabadian – Author Sa_Nf




Dataran Lafier– Author Haritstataqi Jaman


__ADS_1



__ADS_2