Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 161


__ADS_3

Episode 161: Halte, Waktu, dan Kamu


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar sana, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!🤣🤣🤣


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


Farah mendengus kesal. Ia sudah beberapa kali mencoba menghubungi suaminya untuk memastikan Ilham sudah pulang atau belum. Sekarang ia sedang duduk di halte menunggu bus koridor 5F dengan tujuan halte dekat gapura perumahannya.


Ini hal yang cukup menyebalkan bagi Farah. Bus koridor ini armadanya tidak begitu banyak sehingga ia harus menunggu lebih lama. “Sepertinya aku harus menunggu.” Ia melihat langit sore yang masih cerah. Musim kemarau membuatnya sedikit merasakan hawa panas.


“Sedang sendirian?” sapa seorang pria.


Farah menoleh. Ia tersentak melihat seseorang yang dikenalnya duduk di bangku halte itu. “Maaf, saya harus pergi.”

__ADS_1


Pria itu menarik tas Farah. “Aku tidak akan menyakitimu. Aku janji! Aku hanya ingin mengobrol denganmu, Farah.”


“Jangan ganggu aku, Ray!” Farah menarik tasnya.


“Aku mohon jangan pergi dulu.” Ray memang tak sengaja melihat Farah yang sedang duduk sendirian di halte. Ia bermaksud menghampirinya karena rasa rindu. “Jika aku menyakitimu atau berbuat jahat padamu, telepon saja polisi! Aku ke sini untuk mengobrol seperti dulu.”


Hati Farah melunak. Ia tak jadi kabur dari halte itu. Ray sengaja mengambil tempat duduk dengan jarak tiga kursi. Farah tetap duduk di tempatnya seperti semula.


“Apa kabarmu?” tanya Ray. Baginya moment seperti ini sangat langka. Bagaimana tidak? Semenjak kejadian itu, Ilham sangat overprotektif kepada istrinya.


“Alhamdulillah baik,” Farah hanya menjawab singkat. Ia terus berharap agar bus koridor 5F segera datang, sehingga ia tak perlu berlama-lama di tempat ini.


“Bagaimana kabar Ilham?”


“Kebetulan aku lewat di daerah ini. Entahlah, semenjak kejadian itu, kamu jarang keluar rumah sendirian. Beda dengan dulu, saat kamu bekerja.” Ray berbicara jujur. Jika ingin dikatakan alasan, sepertinya tidak tepat.


“Sepertinya hal itu tidak perlu kita bahas, Ray. Aku sudah bersuami. Aku mohon jangan menggangguku lagi.” Farah memandang ke arah depan, melihat beberapa kendaraan lalu lalang.


“Aku bertanya karena kamu yang bilang sendiri jika aku ini temanmu. Ingat?” Ray tertawa renyah seperti dipaksakan. “Baiklah jika itu maumu, aku akan bahas hal lain. Dua hari lagi ada ujian masuk perguruan tinggi. Apakah kamu ikut?”


Farah mengangguk. “Iya Ray. Aku ingin berkuliah tahun ini.”

__ADS_1


“Bagus! Semangat ya! Aku yakin kamu bisa!” Ray mengepalkan tangannya memberikan kekuatan semangat pada Farah.


Farah hanya tersenyum membuat Ray rindu waktunya yang dulu. Ia suka sekali dengan senyuman yang terukir manis di wajah Farah.


Anda saja kita bertemu lebih awal, mungkin keindahanmu itu hanya untukku.


“Ray, lima hari lagi akan ada event besar di dekat balai kota. Aku ikut mengisi stan di sana, apakah kamu mau datang? Maksudku berkunjung ke stan lainnya juga.” Entah mengapa, kata hati Farah ingin mengajak Ray. Ia ingin agar Ray bisa lebih dekat dengan Ilham seperti dulu.


Ray menjepit dagunya. “Tawaran yang menarik!” Ia berseru. “Aku akan datang ke stanmu nanti, Farah.”


“Aku tunggu!”


Farah dan Ray tertawa, seakan dinding pemisah telah roboh. Mereka bisa satu frekuensi dalam keadaan seperti ini. Seperti teman yang sudah lama tak bertemu.


Bus koridor 5F terlihat dari kejahuan. Farah bangkit dari duduknya membuat Ray melempar pandangannya ke arah belakang. Ah bus datang terlalu cepat! Ray tersenyum kecut. Ia sebal karena setiap pertemuanya dengan Farah, selalu saja bus datang seakan ada yang tidak mengizinkan untuk lebih lama menahan momen ini.


“Ray, aku harap hubungan persahabatanmu dengan Mas Ilham kembali seperti dulu.” Farah tersenyum. “Aku pulang dulu, Assalamu’alaikum.” Ia langsung menaiki bus meninggalkan Ray di halte.


Ray melambaikan tangannya. “Mungkin setelah ini Ilham akan membenciku seumur hidupnya. Nikmati kebersamaanmu dengannya, Farah, karena sebentar lagi Ilham akan meninggalkanmu. Dia lebih memilih bersama Anneline, kekasih lamanya.” Ray tersenyum membayangkan semuanya di kepala.


“Mungkin aku akan berperan sebagai antagonis dalam hubungan pernikahan kalian. Aku harap semuanya berjalan dengan baik agar kamu jatuh ke pelukanku, Farah.”

__ADS_1


Bus melaju kembali menyisakan Ray dan imajinasinya.


Jika kalian berkenan, mampir ke ceritaku yang berjudul THE LAST ROMEO. Novel itu menceritakan perjalanan Devan yang ingin melindungi sang istri yang bernama Ruellia dengan perantara Faresta, pemuda miskin yang tak pernah merasakan gaya hidup mewah. Novel ini tak hanya menceritakan kisah romansa tapi juga misteri di balik kematian Devan.


__ADS_2