Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 72


__ADS_3

Farah dengan wajah yang meraut sedih tetap menunggu di samping Ilham. beberapa kali ia mengelus-elus rambut suaminya.


“Ketika kamu sakit, aku juga merasa sakit. Kamu berbahagia, aku juga akan merasa bahagia Mas. Karena aku bagian darimu.” Farah menatap lekat tubuh suaminya yang masih diam tidak bergerak.


Farah merasakan hangat tubuh Ilham. Ia berharap suaminya segera tersadar dari tidur yang panjang ini. Malam semakin memuncak, air mata Farah sudah terbendung untuk sementara. Ia naik di atas ranjang dan ikut tertidur di samping suaminya.


Jika kemarin Farah tidur dalam dekapan Ilham, sekarang Farah ingin mendekap tubuh Ilham yang ukurnya lebih besar darinya. Farah hanya ingin memeluk tubuh suaminya. Hanya Ilham, keluarga yang Farah miliki.


Lekas pulih dari kesakitan apapun itu. Semoga aku dan Mas Ilham di jauhkan dari hal-hal yang dapat memisahkan kita. Dan semoga, apa yang kita inginkan selalu direstui Tuhan.


Farah tertidur, dengan mendekap tubuh Ilham yang hangat. Semoga malam ini semua luka dapat tersembuhkan.


***


Ilham tersadar, ia membuka mata melihat sekelilingnya. Ilham merasa sangat aneh dengan tempat ini. Ia sedikit terpukau dengan tempat yang ia pijak saat ini, semua bebatuan mengeluarkan warna hijau yang menyejukkan mata.


Ilham benar-benar tidak tahu ini tempat apa. Ia hanya melihat pepohonan yang tinggi menjulang dan ada air terjun. Gemericik air terjun dan nyanyian arus sungai yang pelan membuat keindahan bagai simfoni yang candu. Ilham sedikit menajamkan mata melihat ke arah air terjun yang mengalir itu. Sebuah sungai besar yang entah di mana ujungnya. Air yang sangat jernih. Bahkan pantulan sinar rembulan pun sangat elok di air sungai itu.


Ada sesuatu di tengah sungai itu. Ilham memperhatikan ada seorang manusia yang memiliki sayap. Benar! Manusia itu memiliki sepasang sayap yang berwarna putih dan indah. Dia mengepakkan sayapnya, dan dia berdiri diatas batu besar di tengah sungai. Sangat anggun saat diterpa sinar lembut milik rembulan.


Ilham tersenyum melihat makhluk yang dan cantik itu. Sepertinya dia lahir murni dari cahaya bulan. Lambat-laun Ilham merasa familiar dengan manusia bersayap indah itu. Ia mencoba masuk ke dalam sungai itu dan berenang menuju batu besar yang berada di tengah.


Ilham sampai pada batu besar itu. Ia merasa sedikit lebih dekat dengan manusia bersayap itu. Ternyata makhluk elok ini adalah seorang perempuan. Dilihatnya perempuan itu yang sedang terduduk menatap pantulan bulan dari air sungai.


“Maaf Nona? Mengapa kau ada di sini?”


Ilham mencoba bertanya pada perempuan bersayap yang cantik ini. Perempuan itu merespon dengan baik. Ia bangkit dan berbalik untuk menjawab pertanyaan dari Ilham. Perempuan bersayap itu mengangkat kepalanya dan tersenyum dengan sangat manis.


Farah!

__ADS_1


Mata Ilham melebar. Perempuan bersayap itu adalah Farah! Ilham masih tercenung melihat keindahan ini. Ilham melihat di tangan Farah ada gumpalan asap yang membentuk bola berwarna abu-abu pekat.


“Mas.” Farah tersenyum memanggil Ilham dengan nada yang lembut mengalun di setiap celah angin.


“Mengapa kau di sini? Dan mengapa wujudmu seperti ini?” tanya Ilham yang sangat penasaran mengapa Farahnya sangat berbeda.


Farah masih tersenyum. Kedua kelopak matanya tertutup. Ia berbisik lirih, “Aku ingin bersama lelaki ini.”


Seketika bola asap yang Farah pegang menyebar, mereka menggerogoti sayap-sayap indah Farah, menggerogoti dengan sangat rakus. Farah mengerang kesakitan. Sayap-sayapnya telah habis dimakan oleh bola asap itu. Habis tanpa bersisa.


Farah tersenyum dan ia jatuh tersungkur lemas. Punggungnya berdarah karena bekas gigitan bola asap itu. Ilham langsung mendekati tubuh Farah. Ia sedikit menggoncang-goncangkan tubuh perempuan itu.


“Mengapa?! Mengapa terjadi seperti ini?” Ilham tak mengerti akan semua ini. Ia menepuk-nepuk pipi Farah.


Farah tersenyum setelah rasa sakit yang teramat sangat itu. Ia membuka matanya perlahan. Pertama kali yang ia lihat adalah wajah lelaki yang telah di takdirkan oleh Sang Maha Kuasa.


“Bukankah Mas yang telah memilihku? Kau lelaki yang memilihku untuk menemanimu dalam petualangan masa depan?” Farah masih tersenyum walaupun ia sedikit merasa kesakitan.


“Ini pilihan yang harus aku relakan. Aku sudah memutuskan untuk memilih bersamamu dan mengorbankan sepasang sayapku.” Farah menjelaskan.


***


Ilham terbangun, ia membukan matanya. Dilihatnya langit-langit kamar yang tidak asing baginya. Ia sadar sekarang ia berada di kamar miliknya. Dan dekapan tangan kecil membuat Ilham menoleh kepada pemiliknya yang sedang tertidur.


Mimpi itu seperti kenyataan yang menamparku!


Ilham melihat wajah Farah yang sembab dan lelah. Ia mengelus puncak kepala Farah yang tertutup oleh hijab. Ilham merasa nyeri ketika sedikit menggerakkan badannya. Ia menyingkirkan tangan Farah dengan hati-hati. Ilham terduduk dan menyingkap selimut yang ia kenakan, terlihat jelas bekas luka memar dan sedikit balutan perban yang menempel pada tubuhnya.


Karena pertarungan itu, aku menjadi seperti ini!

__ADS_1


Ilham masih mengingat dengan jelas bagaimana dia bertarung dengan Ray. Andai saja ia memakai pedang sungguhan, mungkin Ilham akan menghunuskan pedang itu ke arah Ray. Namun sayangnya pertarungan itu memakai pedang kayu.


Farah merasa tangannya tak lagi menyentuh tubuh suaminya. Seketika ia langsung terbangun dan menemukan Ilham yang diam terduduk. Mata mereka bertemu dalam satu pandangan.


“Terbangun karena gerakanku ya?” tanya Ilham.


Farah menggeleng. Ia melihat suaminya yang sudah sadar walaupun belum sepenuhnya pulih.


Ilham bangkit dari ranjangnya. Ia berjalan menuju meja untuk mengambil sebuah sisir. Terlihat tubuh kekar dan kuat milik Ilham yang sedikit berbalut perban, dan ia masih memakai celana panjangnya. Ilham datang mendekati Farah yang masih duduk di ranjang.


Ilham mengelus puncak kepala Farah dan ia membuka hijab yang Farah kenakan. Farah hanya terdiam dan menurut, tidak menolak. Ilham tersenyum, ia mulai menyisiri rambut Farah. Dengan sabar, Ilham merapikan rambut Farah yang sangat indah bergelombang itu.


Ilham telah selesai menuntaskan kegiatan itu. Ia meletakkan sisir itu sedikit menjauh. Ilham menjulurkan tangannya menjangkau pipi Farah. Ia mengelap semua bekas air mata Farah yang tadi jatuh mengalir.


“Kau jelitaku, jangan pernah bersedih. Kecantikanmu akan hilang, bunga akan layu, dan aku yang akan sakit.” Ilham tersenyum setelah mengucapkan sebaris kalimat indah itu.


Farah hanya terdiam, pipinya sedikit merona merah.


Ilham mencium kening istrinya dan memeluknya sangat erat. Farah yang jatuh dalam dekapan hangat itu merasa sangat bahagia, ia telah mengemasi semua cemasnya dalam pelukan itu. Kesedihan telah larut dalam dekapan hangat itu.


________________


jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁


jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,

__ADS_1


Ilamy Harsa


__ADS_2