
Episode 154: Aku Cemburu!
Selamat Berimajinasi
_____________
Mobil melaju di siang yang tidak begitu terik. Kinanti bersadar di kursi mobil bagian belakang bersama Naresh. Pria itu menggamit tangan Kinanti, seakan dia tak mau kehilangan lagi. Sedari pagi, sifat manja Naresh keluar sampai Kinanti dibuat bingung.
Insiden panekuk dark mode membuat Kinanti harus turun tangan untuk memasak. Tak sampai di situ, bayangkan saja pria berumur hampir tiga puluh tahun meminta disuapi saat sarapan. Hal itu membuat Kinanti merasa punya bayi besar yang sangat manja. Bahkan Reno yang masih sekolah dasar pun tak pernah sebegitu manjanya.
“Oh ya! Aku teringat sesuatu.” Naresh merogoh saku celananya.
Kinanti menoleh ke arah pria itu. Ia penasaran apa yang terlintas di pikiran Naresh. Tak berapa lama, Naresh memasangkan gelang nila yang pernah Kinanti lepaskan.
“Jangan dilepas lagi ya Nona-ku! Dengan ini aku bisa menjagamu kapanpun. Ingat itu!
Kinanti memandang gelang yang sudah lama bersarang di pergelangan tangannya ketika pertama kali memasuki rumah besar itu.
“Apakah ini yang menjadi tanda untukku seperti Nyonya Anneline yang ditandai oleh Tuan Fernando?”
Naresh mengangguk, ternyata gadis di sampingnya ini telah mengetahui semuanya. “Aku telah memilihmu. Apapun yang terjadi tetaplah menjadi pasanganku.” Naresh mencium punggung tangan Kinanti.
Hari ini gadis itu merasa Naresh melimpahkan cukup banyak rasa perhatian dan kasih sayang. Kinanti tahu kalau Naresh melakukan hal ini karena kesalahanan terbesarnya dan ia belum mempercayai pria itu.
“Bagaimana jika takdir tidak menginginkan aku bersamamu?” tanya Kinanti.
“Apakah kamu masih tidak mempercayaiku, Kinan?” Naresh tahu, pertanyaan semacam itu hanyalah penguji. Aku sangat yakin, di sudut kecil hatimu masih ada diriku.
“Jangan mengalihkan topik pembicaraan, Kak! Jawab saja pertanyaanku.” Kinanti kian menuntut.
“Aku akan berusaha mengubahnya. Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu.” Naresh meredam amarahnya. Ia yakin jika ego hadir pasti memperburuk suasananya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. “Gunakan ini, kalau perlu habiskan.” Naresh menyerahkan kartu kreditnya kepada Kinanti.
“Apakah kamu ingin menyogokku, Kak?”
“Bawa saja, kalian harus bersenang-senang hari ini.”
“Kalian?” Kening Kinanti terlipat.
“Kamu dan Sirena. ajaklah berbelanja atau menonton atau apa saja yang jelas harus ada uang yang keluar dari kartu ini.”
Kinanti menerimanya dengan berat hati. Ia tak tahu akan belanja apa.
***
__ADS_1
Sesuai permintaan Naresh, Sirena telah duduk di kursi taman kota. Ia mengenakan gaun selutut, berlengan panjang dan berwarna hitam. Kontras dengan kulitnya yang putih poselen cenderung pucat.
Kinanti bersama Naresh menemui Sirena. Kinanti sebenarnya hendak protes, tak perlu melakukan hal semacam ini. Namun Naresh tetap mengajaknya. Mereka sampai di taman kota. Entah angin apa, perempuan yang bernama Sirena itu lebih cantik dari yang pernah Kinanti lihat dalam foto. Ia merasa sedikit iri dengan kemolekan yang dimiliki Sirena.
“Sirena!” Naresh melambaikan tangan.
Sirena yang merasa namanya terpanggil, lantas mencari sumber suara itu. Ia melihat Naresh bersama seorang perempuan datang menghampirinya.
“Selamat siang, Nyonya Yori. Hari ini Anda terlihat sangat cantik.” Sirena menundukkan kepalanya. Ia sangat tahu tata cara menyambut seseorang yang sangat penting.
Kinanti terkejut melihat Sirena dengan sopannya. “Tidak perlu seperti itu.”
Sirena tersenyum ia berjalan mendekati Kinanti. Sangat dekat dan tinggi mereka dapat dibedakan. Sirena jauh lebih tinggi dibanding Kinanti.
“Silakan, saya akan menahannya.” Sirena menutup matanya, ia tahu setelah ini perempuan yang bersama Naresh akan memarahinya.
“Apa maksudnya? Menahan untuk apa?” Kinanti tak mengerti dengan tindakan Sirena yang berdiri di hadapannya. Bahkan karena itu, ia harus mundur selangkah.
Sirena membuka matanya, ia menatap bingung kekasih Naresh yang tampat terkejut. “Biasanya jika saya dipertemukan dengan istri pria yang pernah dekat dengan saya, tamparan atau jambakan akan terjadi. Saya sudah rela jika Nyonya Yori akan melakukan hal itu.” Sirena tersenyum, ia sudah beberapa kali mendapat tamparan ataupun jambakan dari istri lelaki yang ketahuan menidurinya.
“Aku tak punya alasan untuk itu,” ucap Kinanti.
“Sepertinya kalian harus segera berkenalan. Kinan, aku harus kembali bekerja, biarkan supir yang bernama Dom itu mengikuti kalian. Siren, titip kekasihku ya!” Naresh harus bergegas pergi, ia tak mungkin bersama dengan dua perempuan yang sedang berselisih.
“Dengan senang hati, Tuan Yori.” Sirena tersenyum.
“Nyonya Yori, terima kasih.” Sirena membungkukan badannya seperti maid-maid di rumah besar itu.
“Terima kasih? Untuk apa?” Kinanti sedikit bernada ketus keada Sirena.
“Karena Nyonya Yori tidak menampar saya.” Sirena tersenyum, mata abu-abunya sangat indah kontras dengan wajahnya yang cantik.
“Iya.” Semakin lama Kinanti menjadi kesal hati, bahkan mengutuki siang ini yang harus bertemu dengan perempuan yang sempat tidur dengan Naresh.
“Apakah Anda sedang marah, Nyonya?” tanya Sirena.
“Iya! Maksudku ti-tidak.” Kinanti lupa tidak menahan ucapan itu. Pikirannya kalah dengan hati yang merasa cemburu.
“Ternyata benar kata Daddy.” Sirena tertawa, “menyembunyikan rasa cemburu lebih sulit dibanding menyembunyikan rasa cinta.” Ia masih tergelak hingga tubuhnya sedikit berguncang.
Kinanti tidak bisa menampik tentang argumen perempuan bergaun hitam itu. “Hati siapa yang tidak cemburu kekasihnya tidur dengan perempuan lain.”
Sirena menghentikan tawanya. Ia merasa istri Tuan Yori sedikit kekanak-kanakan, “Saya tidak pernah melakukan hal itu kepada suami Nyonya. Itu hanya sebuah foto. Jika aku tidak melakukan hal itu, sebuah hal buruk akan terjadi.”
__ADS_1
“Apakah kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan kekasihnya?” Kinanti masih merasa kesal.
Sirena berlutut di hadapan Kinanti. Sontak membuat Kinanti terkejut dan melangkah mundur.
“Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya Yori.” Sirena bersujud. Ia sudah tak tahu lagi bagaimana untuk meminta maaf.
Di taman itu memang tak banyak orang yang berlalu-lalang. Namun aksi yang dilakukan Sirena benar-benar sedikit berlebihan. Kinanti harus membantunya bangkit.
“Bangun! Jangan seperti ini!” Kinanti mendesak.
“Saya tidak akan bangun sebelum Anda memaafkan saya.” Sirena tak mau mengalah. Ia bersikeras agar pertemuannya dengan istri Naresh berjalan dengan mulus, hingga bisa membebaskannya dari tempat terkutuk itu.
Tak ada cara lain. Kinanti harus melakukan hal itu. “Iya! Aku memaafkanmu! Sekarang bangunlah.”
Sirena bangkit, ia sudah mendapatkan secuil permintaam maaf dari istri Tuan Muda itu. “Terima kasih Nyonya Yori.”
“Iya, Nona.” Kinanti beruntung, aksi berlebihan yang dilakukan oleh Sirena akhirnya selesai.
“Panggil saya Sirena saja, Nyonya,”
“Iya, Sirena. Apakah kamu punya tempat rekomendasi untuk kita berbincang?”
Seketika Sirena mengangguk. Ia akan menunjukkan tempat favorit para perempuan. Lantas saja mereka pergi dari taman itu dan menaiki mobil milik Naresh dengan supir yang bernama Dom.
Di dalam mobil itu, Sirena tak henti-hentinya berdecak kagum. “Ternyata Anda sangat cocok sekali dengan Tuan Yori. Semuda ini sudah menjadi Nyonya Besar.”
“Aku belum pernah menikah, Sirena. Panggilan ‘nyonya’ belum cocok untukku.” Kinanti akhirnya mengakui statusnya.
Sirena terkejut, ia tak mungkin salah dengar kan?
“Kami memang tinggal dalam satu rumah yang sama. Namun tidur dengan kamar yang berbeda,” ujar Kinanti.
Seketika Sirena menepuk keningnya. “Astaga! Kalian tinggal dalam satu rumah namun tak ada ikatan?”
Kinanti mengangguk. Justru aku iri padamu, Sirena. Karena bagaimana pun, kau pernah tidur bersamanya. “Dia sudah berkomitmen untuk tidak menyentuhku selama belum ada ikatan yang sah dan legal.”
Sirena menyunggingkan lengkungan manisnya. Ternyata kisahmu sama seperti milikku, Nyonya Yori.
________________________________
Hay, aku up lagi nih. Biasakan meninggalkan Like dan komentar setelah membaca cerita ini. Jika memiliki poin, jangan ragu-ragu untuk berbagi dengan Author. Ini sebagai bentuk apresiasi ya ....
Terima kasih telah membaca kisah ini.
__ADS_1
Salam Hangat,
Ilamy Harsa.