Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 175


__ADS_3

Episode 175: Aku Sangat Mencintaimu


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


Di Kota Zen


Sudah beberapa kali ini, Kinanti menatap pintu kamar Naresh yang tak kunjung terbuka. “Aneh! Biasanya dia sudah bangun dan selalu menggodaku saat menyajikan sarapan,” gumannya. “Atau jangan-jangan, dia sedang sakit?”


Kinanti perlahan-lahan mengetuk pintu kamar Naresh. Tak ada jawaban dari sang pemilik, Kinanti jadi semakin curiga jika Naresh bisa saja demam. Ia membuka pintu kamar itu dan melihat Naresh sedang tidur dengan gelisah. Pria itu beberapa kali mencengkeram selimutnya dengan mata tertutup.


Kinanti naik ke ranjang, ia berniat membangunkan Naresh yang sedang gelisah dalam tidurnya. “Kakak ....” Ia menyentuh lengan pria itu. “Kakak ....” Kinati memanggilnya lagi.


Seketika Naresh terbangun dengan napas terengah-engah dan keringat dingin yang bercucuran. Ia tampak pucat dan ketakutan. Saat matanya terbuka, ia cukup lama menyadari jika dirinya masih ada di kamar.


“Apakah Kakak sedang demam?” Kinanti meletakkan punggung tanganya ke dahi Naresh. “Tidak panas,” ucapnya.


Perlu beberapa detik Naresh untuk sadar jika gadis yang berada di dekatnya dan menyetuh keningnya adalah Kinanti. Dia bangkit dari tidurnya dan mengucek sepasang matanya lalu menguap dengan lebar.

__ADS_1


“Whooaamm ... selamat pagi duniaku,” ucapnya sambil meregangkan diri. Ia baru saja mengalami mimpi buruk. Mimpi yang membuatnya harus berkeringat dingin.


Kinanti sedikit tersipu dengan sapaan pagi dari Naresh, entah itu untuk dirinya atau apapun yang jelas sepagi ini pria itu telah membuatnya tersenyum. “Apakah Kakak sedang sakit? Jika sakit, tak perlu memaksakan diri.”


Naresh hampir lupa, hari ini sudah akhir pekan. Ia harus menunaikan janjinya untuk mengantarkan Kinanti pulang ke Kota Milepolis. Ia meraih kedua tangan Kinanti dan mencium punggung tangannya. “Maaf ya, aku terlambat bangun. Tunggulah sebentar lagi, aku akan mandi.”


Kinanti selalu tersipu dengan perhatian kecil seperti ini. Baginya, pria yang mencium tangannya ini amat istimewa terlepas dari jabatan atau harta, Naresh selalu memprioritaskan dirinya. Tak hanya itu, dia selalu melindungi Kinanti apapun kondisinya.


Naresh tersenyum dan mengacak rambut Kinanti. “Sepertinya Nona Mesum-ku ingin ikut mandi?” Ia telah menanggalkan pakaian atasanya. Terlihat sekali tubuh yang kokoh dan berotot.


“Tidak! Aku ingin menyiapkan sarapan.” Kinanti bergegas keluar dari kamar Naresh. Ia tak ingin melihat tubuhnya yang polos tanpa busana. Ia sudah kapok memergoki seperti itu.


***


Naresh merasakan guyuran air dari shower yang ia pakai. Tubuhnya terasa sedikit rileks karena partikel air seperti terserap melalui pori-porinya. Ia memejamkan mata, merasakan aliran air itu. Di dalam kepalanya masih teringat mimpi buruk yang terjadi sepanjang malam. Ia melihat perempuan bergaun putih dengan wajah yang sangat pucat dan sedang meminta tolong. Perempuan itu bernama ....


Seketika otaknya menghubungkan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Ia merasa ada pihak lain yang turut andil dalam hal ini. “Jangan-jangan, Sirena ....”


***


Kinanti tersenyum melihat Naresh yang datang lalu duduk di kursi meja makan. Ia senang jika hari ini pria itu mengizinkan dirinya untuk pulang. “Silakan sarapan, Kak.”


Naresh tersenyum, kebahagiaannya pagi ini terasa lengkap. Melihat Kinanti melahap makanannya sudah merupakan hal yang manis di pagi hari.


“Kok makananya belum dimakan? Tidak sedap ya? Atau aku buatkan lagi?” Kinanti memergoki Naresh yang sedari tadi memandanginya. Hal itu membuatnya sedikit risih.


Naresh sedikit gelagapan. Ia mengeleng dan langsung memakan sesuap telur goreng yang ada di piringnya. Ia memang kerap seperti ini, hidup serumah tapi rasa sayang makin menggebu-gebu. “Nanti, aku ingin bertemu dengan ayahmu. Boleh, kan?”


Kinanti yang mendengar ucapan dari Naresh, langsung tersedak dan batuk-batuk. Ia tak menyangka jika pria yang sarapan bersamanya membicarakan hal ini. “Nanti?”

__ADS_1


Naresh mengangguk. “Iya. Mau sampai kapan kita tinggal satu rumah tapi berbeda tempat tidur?”


“Tapi ... apakah Kakak mau menerima keluargaku? Ayah dan Reno?” Kinanti menunduk. Ia takut jika ada ketidakcocokan.


“Aku menerimamu berserta semua keluargamu dan masa lalumu, apapun itu. Aku hanya ingin memiliki perempuan yang bersedia mendampingiku, bersedia menjadi bagian dari hidupku, dan bersedia menjadi ibu dari keturunanku kelak.” Naresh meletakkan alat makannya. Ia menautkan tangannya ke tangan Kinanti. Seolah semua akan baik-baik saja.


Kinanti merasa beruntung, ia dicintai pria yang baik. “Bolehkah aku mengatakan sesuatu?”


“Apa?”


“Aku ... sangat mencintaimu.”


***


Anneline masih memakan potongan buah apel di kamarnya. Ia sedang menantikan seseorang, matanya tak berhenti untuk melihat layar ponsel yang ia pegang. Sepagi tadi, Fernando mengajaknya berbincang melalui via videocall. Dia bilang bahwa hari ini, kakinya akan dioperasi dan diganti dengan kaki robot dengan kecerdasan buatan. Tentu berita ini tidak menarik minat Anneline. Ia hanya berpura-pura untuk senang dan menanti kedatangan suaminya.


Hari ini, ia telah bersiap. Anneline tak mungkin melewatkan hari ini. Ia telah mengirim pesan singkat kepada Ray jika hari ini ia akan datang ke Kota Milepolis.


Anneline sudah membayangkan bagaimana melihat lagi wajah kekasihnya, Ilham. Sejujurnya, ia rindu ingin sekali memeluknya. Ia rindu akan masa itu. “Tunggulah aku, Sayang. Kita akan bersama lagi.” Ia berguman sendiri.


“Jika Romeo yang harus berusaha untuk menemui Juliet di balkon kamarnya, maka izinkan aku menjadi Juliet yang menjemput Romeo-nya dari rumah. Dengan begitu, kita akan hidup bahagia.”


Suara dering ponsel itu mengalihkan imajinasi sang pemiliknya. Anneline mengetuk layar ponsel itu dengan jari lentiknya. Terlihat ada pesan baru yang muncul. Setelah membaca pesan itu ia tersenyum dan tertawa sendiri membuat maid yang berada di dekatnya bergidik ngeri.


“Sepertinya aku punya hewan peliharaan yang hebat.”


Anneline masih pada tawa kengeriannya. Ia telah membaca pesan yang dikirimkan oleh Dom. Supir penurut itu berhasil meminta keinginannya. Hari ini ia bisa memastikan bahwa Naresh tidak ikut bersamanya. Taktik yang ia jalin selama ini harus berhasil agar tujuannya tercapai walaupun harus mengorbankan banyak sekali harta bahkan nyawa. Yang jelas Naresh tidak boleh ikut denganya ke Kota Milepolis.


Anneline patut memuji kehebatan Dom dengan memberikan lebih banyak uang. “Satu orang lagi akan terbunuh.” Tiba-tiba Anneline menancapkan pisau ke buah apel merah yang masih utuh.

__ADS_1


__ADS_2