
Episode 178: Taktik Anneline
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
Selamat Berimajinasi
____________
Anneline menangis, ia harus memaksakan matanya untuk memproduksi air mata itu. “Mengapa? Mengapa kau masih menganggapku gila!”
“Bukan! Bukan seperti itu.” Naresh merasa ucapannya sudah menyinggung perasaan adik iparnya.
“Aku sudah enam tahun ini tidak pernah keluar dari kota itu! Bolehkan aku tetap di sini, aku janji tidak akan menyakiti Kinan-mu!” Anneline terisak. Melelahkan memang, tapi ia harus berakting seperti ini agar Naresh percaya. Ditambah, Kinanti sedang mengamati pertengkaran ini dari balik kamar. Anneline harus pandai menjual kesedihannya.
“Kau tetap pulang bersamaku, setidaknya kau aman jika berada di jangkauanku. Aku harus menjagamu, jika terjadi apa-apa denganmu, aku akan disalahkan oleh Nando!” Naresh masih tak mau mengalah, ia tetap bersikeras membawa adik iparnya ke Kota Zen.
Anneline menangis lebih kencang lagi. Ia bahkan melempar bantal kotak yang ada di sofa ruang tengah kepada Naresh. “Kau jahat!” setelah mengatakan hal itu, ia berlari menuju kamarnya yang berada tak jauh dari ruang tamu.
Naresh yang merasa pikirannya carut marut. Ia menghempaskan tubunya di sofa. “Mengapa dia jadi tidak menurut.” Naresh teringat, jika selama enam tahun ini, Anneline hampir tidak keluar dari Kota Zen. Ia hanya keluar jika ingin berbelanja ataupun diajak suaminya untuk urusan bisnis. Selain itu tidak ada perjalanan yang ia lakukan lagi.
Kinanti yang mendengar pertengkaran itu dari lantai dua memutuskan untuk turun. Ia yakin jika kekasihnya sedang dirundung permasalahan yang lumayan kompleks. Setidaknya ia harus melakukan sesuatu agar bisa menjadi pertimbangan Naresh untuk menyelesaikan masalah ini.
Kinanti sampai di ruang tengah, ia duduk di sebelah Naresh. Ia juga baru saja mandi karena insiden tercebur di kolam tadi. “Mengapa Kakak harus membawa Nyonya?”
Naresh masih tak menoleh, ia melihat langit-langit rumah penginapan itu. “Aku rasa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Aku tidak mau dia jauh dari pantauanku.”
“Mengapa Kakak bisa berpikir seperti ini?” Kinanti menanyakan lagi.
__ADS_1
Naresh menggeleng, ia tak memiliki alasan yang kuat. “Insting.”
Kinanti mengerutkan alisnya. Ia tak percaya jawaban dari Naresh. “Hanya itu?”
“Ayolah, mengapa kita tidak mencurigainya? Kau pernah disakiti olehnya, lalu jika dia tinggal denganmu, adakah jaminan agar kamu baik-baik saja? Aku mengkhawatirkanmu.” Naresh berpikir jauh ke depan tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Dia tidak mau jika kekasihnya berakhir seperti dulu.
“Kakak berlebihan. Mengapa lelaki selalu berpikiran sangat jauh, padahal belum hal itu terjadi. Enam tahun bukanlah waktu yang singkat, dia merasa terkurung, Kak.” Kinanti meraih tangan Naresh. “Aku yakin, Nyonya Fernando akan baik-baik saja.”
“Bukankah kau harus mengunjungi keluargamu? Itu berarti kau juga meninggalkan dia di sini. Lagipula Anneline tidak bisa hidup mandiri, tidak ada maid yang ikut. Lebih baik aku mengajaknya pulang.” Kini Naresh menatap Kinanti.
Kinanti terdiam. Hal itu benar, Nyonya Fernando tidak bisa hidup sendiri. Semua kebutuhannya selalu disiapkan oleh maid.
“Aku akan membawanya pulang.” Naresh bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju kamar Anneline.
Pintu kamar Anneline tidak dikunci, ia masuk begitu saja dan melihat Anneline sedang terngkurap dan masih menangis. “Ayo kita pulang, Ann.”
“Tidak!” Anneline masih memberontak. Ia melempari Naresh dengan bantal dan guling. “Kau tahu, aku hanya ingin hidup seperti perempuan pada umumnya. Aku ingin berlibur! Aku ingin mengunjungi tempat-tempat baru! Kumohon jangan rusak keinginanku!”
Akhirnya Kinanti berdiri di bingkai pintu kamar itu. Ia menatap iba Nyonya Fernando. Ia tahu, jika perempuan itu sangat kesepian. Dia hanya ingin bebas.
Isi kepala Naresh masih tak karuan. Ia tidak berhasil membujuk perempuan berusia dua puluh enam tahun yang sekarang sedang merengek seperti anak kecil berusia lima tahun. Naresh memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Tangisan Anneline makin membuatnya pusing.
“Bagaimana jika dia menyerangmu?”
“Bukankah hak penggunaan senjata Nyonya Fernando sedang dicabut? Di kota ini semua warga sipil dilarang membawa senjata api ataupun senjata tajam. Mustahil dia bisa menyakitiku, Kak.”
Naresh terdiam. Ia lupa hak izin kepemilikan senjata Anneline sudah dicabut. “Dia juga tidak lancar mengemudi mobil. Lalu apa yang aku khawatirkan?”
“Kau bekerja sangat keras, hingga banyak bagian yang terlupakan. Tenang saja, aku belum bilang ke Ayah jika aku sudah ada di Milepolis. Jadi aku bisa menginap semalam di sini.” Kinanti tersenyum.
“Terima kasih Nona Mesum-ku.” Naresh mencubit gemas pipi Naresh.
***
Kinanti melepas kepergian Naresh. Sekarang ia tinggal mengurusi Nyonya Besar yang masih mendekam di kamarnya. Malam pertama dirinya di kota tempat kelahiranya.
__ADS_1
“Semoga Kakak mendapat perlindungan dari Sang Maha Kuasa.”
Kinanti memutuskan untuk tinggal di penginapan ini. Anneline baru sahaja keluar dari kamarya dengan keadaan yang lusuh dan sembab. Ia sedang duduk di sofa ruang tamu dengan memeluk lutut.
Dia, perempuan yang menyedikan, pikir Kinanti.
“Nyonya, apakah Anda merasa lapar?” tanya Kinanti ketika melihat Anneline di ruang tamu.
Anneline tak menjawab. Ia masih pada posisinya. Kinanti yang merasa pertanya tidak dijawab akhirnya mendekati nyonya itu. “Apakah Anda baik-baik saja?”
Tiba-tiba Anneline memeluk Kinanti, membuat gadis itu terkejut setengah mati. Pelukannya makin hangat, walaupun wajahnya sedikit basah.
“Nyonya ....”
“Terima kasih telah mempercaiyaiku, Kinan,” ucap Anneline.
Pelukan itu terlepas. Anneline tersenyum karena ia masih bisa di kota ini. “Aku merasakan bebas,” imbuhnya.
“Apakah selama enam tahu itu Nyonya benar-benar tidak keluar dari Kota Zen?” Kinanti menyelidiki.
“Pernah, tapi jika bersama suamiku,” jawab Anneline.
“Mengapa Tuan Fernando tidak memperbolehkan Anda keluar?”
“Mungkin dia khawatir padaku. Aku pernah keluar dari rumah itu tanpa seizinnya, lalu hal buruk terjadi.” Anneline tersenyum.
Hal buruk?
Anneline sedang berpikir agar Kinan mau meninggalkan rumah penginapan ini. Ia harus mencari cara untuk itu. “Hey Kinan, apa kau tak rindu ayahmu?”
“Saya akan menginap semalam di sini.”
“Kau boleh pulang, Kinan. Jangan khawatirkan aku, lagipula aku tak akan kemana-mana. Aku tidak mahir mengendarai mobil. Aku juga tak punya kenalan di sini. Bolehkah aku sendirian di rumah penginapan ini? Hanya semalam saja, kumohon ....” Anneline berbicara dengan nada yang sedikit memelas. Ia harus menggunaan rasa empati Kinanti agar bisa pergi ke rumah Ray.
“Tapi saya harus menjaga Nyonya.” Kinanti berkilah.
__ADS_1
“Percayalah padaku, aku tak akan kabur dari tempat ini.”
l