
Episode 204: Sang Pembunuh 1
Anneline akhirnya membuka kado yang sudah ia siapkan. Sebuah pisau yang tajam terlihat mengkilat di bawah sinar lampu. “Kau telah menolakku Farah. Aku sudah mempersiapkan kematianmu malam ini.”
Farah bergedik ngeri, ia langsung berlari ke arah kamarnya untuk mengambil ponselnya. Aku harus menelpon Mas Ilham!
Sebelum niat itu terlaksana, Anneline sudah memegang tangan Farah. Farah jatuh ke lantai. Tarikan tangan Anneline terlalu kuat.
“Jangan sakiti aku!” pekik Farah ketika tangan Anneline siap menancapkan pisaunya.
Tanpa Anneline sadari, Bu Tin membawa frying pan dan langsung menghantamkannya ke tubuh Anneline, hingga dia tersungkur. Tangan Farah terlepas dari cengkeraman Anneline. Ia mengaduh kesakitan.
“Kamu perempuan gila! Pergi dari sini sebelum saya panggilkan polisi!” Bu Tin menggeram marah. Ia berjalan menuju telepon rumah yang teronggok manis di meja.
Anneline bangkit. Ia membawa vas yang berisi bunga mawar merah. “Aku pernah membunuh seorang pembantu. Tak masalah jika aku melakukannnya lagi!”
Tepat saat telepon itu tersambung, Anneline menghantam kepala Bu Tin dengan vas. Seperkian detik kemudian tubuh Bu Tin ambruk. Kepalanya berdarah, dan vas bunga yang menghantam kepalanya pecah berserakan di sekitarnya.
Farah menjerit ketakutan melihat perbuatan Anneline begitu sadis yang tanpa ragu menyakiti siapapun. Tiba-tiba mata Anneline menatap Farah. Mata yang menggambarkan haus akan darah.
__ADS_1
“Maaf ya, Farah. Pembantumu itu terlalu ikut campur urusan kita. Jadi, bagaimana dengan penawaranku? Apakah kau ingin menolaknya?”
Farah bangkit, ia harus keluar dari rumah ini. Ia berlari menuju pintu utama. Tapi, ia salah besar, Anneline memiliki kelincahan lebih baik. Dia mampu menjerat Farah untuk diam tidak bisa berkutik.
Anneline menyergap Farah. Ia membanting perempuan berhijab itu ke lantai. Sekarang posisi Farah terdesak, ia tak bisa memberontak karena Anneline telah berada di atas tubuhnya. Terlebih lagi, kekuatan Anneline lebih besar.
“Tolong, jangan sakiti aku ....” Farah menangis, ia ketakutan karena pisau yang berada di tangan kanan Anneline.
“Kau tahu Farah, bertahun-tahun aku merasakan ketidakbahagiaan dalam pernikahanku. Aku datang kemari, hanya ingin mengambil kebahagiaanku yang pernah dijanjikan oleh Ilham. Hanya itu, kupikir kau akan bersedia berbagi suami. Ternyata kau tak lebih dari penghalang.” Anneline mengangkat pisaunya. Ia sudah bersiap-siap untuk mengeksekusi Farah. Ia sudah tak peduli jika perempuan itu menangis.
Farah menatap ujung pisau yang tajam. Ia harus mengulur waktu dan mencari celah dari perempuan pembunuh ini. “Apakah jika kamu membunuhku, Mas Ilham akan menerimamu?”
“Iya, jika aku mati di tanganmu, apakah Mas Ilham bersedia hidup bersama sang pembunuh? Semua lelaki akan berpikir berulang kali untuk hidup bersama pembunuh. Bisa aja mereka berpikir, kamu adalah perempuan gila.” Farah memberanikan diri menatap sepasan mata wanita yang membawa pisau itu. Walaupun tubuhnya gemetar ketakutan. Setidaknya ia bisa mengulur waktu.
Anneline menjepit dagu Farah dengan tangan kirinya secara kasar. “Mungkin pikiran itu hanya berlaku di kota ini, tapi tidak di Kota Zen! Fernando, lelaki yang masih memperbolehkan aku merasakan kebebasan walaupun dia tau aku sudah membunuh keluargaku sendiri!”
Farah kesulitan berkata-kata. Ia terbungkam dengan fakta jika Anneline pernah membantai keluarganya sendiri!
“Dengar, Farah!” Anneline menjepit dagu Farah lebih kasar lagi hingga Farah merasakan kesakitan. “Jika Ilham tidak menerimaku karena aku telah istrinya, aku bisa mengambil nyawaku sendiri. Kau tak perlu khawatir jika dunia akan membenciku karena perbuatanku sendiri. Yang jelas, jika aku tidak bisa memiliki Ilham, maka kau juga tidak bisa memilikinya!”
__ADS_1
Anneline mengangkat pisaunya kembali. “Sambutlah kematianmu, Farah!”
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
Yuk baca ceritaku lainnya di Watpad😁
__ADS_1