Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 15


__ADS_3

Penampilan Farah berubah 180 derajat daripada biasanya. Dia masih melihat dirinya di depan cermin. Dulu memang Farah hanya memakai celana panjang, baju berlengan panjang, dan berjilbab ala kadarnya, yang penting menutup. Sekarang ia memakai gamis dan kerudung yang lebih panjang dari sebelumnya.


“Haruskah aku berpakaian seperti ini?” Farah mendengus sebal.


Farah masih teringat perkataan Ilham tempo hari. Ingat istri yang baik harus mematuhi perkataan suaminya, tanpa protes!


“Mungkin aku yang belum terbiasa, lagipula gamis ini bagus, kainnya juga bagus.” Farah mencoba berpikir lebih positif.


Farah lalu keluar kamar untuk menyiapkan sarapan. Ia menatanya secantik mungkin. Menu kali ini nasi goreng dan telur dadar.


Ilham datang menuju meja makan. Dia sedikit pangling dengan penampilan Farah kali ini.


Perempuan ini manis juga kalau pakai gamis.


Seulas senyuman terlihat di wajah dingin Ilham.


“Mas Ilham, silahkan sarapan. Aku juga sudah membuat kopi untuk Mas,”kata Farah sedikit terkaget menyadari Ilham sudah berdiri di belakangnya.


Ilham tidak menjawab, Dia melangkah menuju kursi dan duduk. Farah menyiapkan nasi goreng dipiring Ilham dan satu telur dadar. Farah juga mengisi air putih digelas Ilham. Semunya sudah siap.


“Mau kemana kamu!” kata Ilham datar. Menyadari Farah akan pergi setelah menyajikan sarapan untuk Ilham.


“Seperti biasa, ke depan perkarangan rumah. Menyirami tanaman,” jawab Farah.


Setelah kejadian beberapa waktu yang lalu, Ilham memang meminta untuk makan sendiri. Farah hanya boleh menghidangakan makanan saja, setelah itu dia harus pergi.


“Duduk,” kata Ilham dingin.


Hah? Apa Aku tidak salah dengar? Mas Ilham menyuruhku untuk duduk?


“Tapi ...” jawab Farah lirih. Nyalinya menciut.


“Jika aku bilang duduk ya duduk!” bentak Ilham, membuat kaget Farah kaget. Sontak saja membuat Farah langsung duduk di kursi.


“Temani aku sarapan,” ucap Ilham datar.


Mendengar itu Farah menjadi lega, baru kali ini ia satu meja dengan Ilham. Itu membuat Farah senang.


“Kau, juga ikut makan,” ucap Ilham lagi.

__ADS_1


Kali ini Farah dan Ilham sarapan dalam satu meja. Hanya terdengar bunyi sendok beradu dengan piring.


Setelah selesai makan, Ilham meminum kopi buatan Farah. Sepertinya suasana hati Ilham sedang baik. Kesempatan ini Farah ingin mengajukan suatu permintaan.


“Mas, aku boleh izin? Aku boleh mengikuti puasa sunnah senin kamis?” tanya Farah.


“Boleh,” Ilham menjawab singkat.


“Kalau, aku membuat kerajinan kertas, untuk mengisi waktu luang, dan menjualnya boleh tidak?”


Ilham mengernyitkan dahi. “Terserah, lakukan apa yang kamu suka, tidak perlu menunggu izin dariku.”


Setelah mengatakan itu, Ilham bangkit dari tempat duduknya, Ia akan berangkat menuju kedai.


Farah senang dengan pagi ini, Ilham memperbolekan apa yang Farah mau. Sekarang ia tak akan merasa jenuh jika berada dalam rumah.


***


Pukul sebelas malam, Ilham pulang. Ia terlihat sangat lelah. Akhir-akhir ini proyek cabang kedai barunya memaksa waktunya tersita kembali. Alhasil ia selalu pulang larut malam. Bu Tin tahu Ilham sudah pulang dan membukakan pintu untuk Ilham.


Ilham berjalan menuju kamar tidurnya, ia ingin beristirahat segera. Belum sampai menuju kamar, Ilham melihat Farah tidur dengan posisi duduk kepala di letakkan di meja. Terlihat sekali meja itu berantakan, karena sobekan beberapa lembar kertas, buku – buku dengan halaman terbuka. Ilham menghampiri Farah. Ia melihat salah satu lembar yang berserakan di dekat Farah. Mencermati isi lembaran kertas itu.


“Ini bukannya soal tes masuk perguruan tinggi? Jadi dia belajar ini. Ternyata tekad untuk kuliah besar juga,” guman Ilham.


“Maaf Tuan, tadi nona bersikeras ingin menunggu Tuan pulang, hingga tertidur seperti ini. Bagaimana jika saya bangunkan nona untuk pindah tidur di kamar, boleh Tuan?” ujar Bu Tin.


“Jangan. Jangan bangunkan dia. Bu Tin ambil dua selimut dan dua bantal sekarang,” pinta Ilham.


Tanpa disuruh dua kali, Bu Tin mengambilkan apa yang diminta tuannya.


Ilham meletakkan bantal di ujung sofa. Dia mengangkat tubuh Farah agar berbaring di sofa. Kemudian ia menyelimutinya.


“Jangan pernah menganggap ini rasa cinta untukmu. Bukan! Aku hanya salut pada tekadmu untuk menggapai impianmu,” guman Ilham pada Farah yang tertidur pulas.


“Whooaaaaaa .... ” Ilham menguap. Ia sangat mengantuk. Ilham mengambil satu bantal dan satu selimut yang lain. Lalu ia tidur di sofa sebelah Farah. Hari ini sangat melelahkan.


***


Ilham baru terbangun menjelang waktu subuh. Pertama kali yang Ia lihat adalah sofa di sebelahnya kosong hanya ada bantal dan selimut yang sudah dilipat rapi. “Kemana perginya Farah?”

__ADS_1


“Tuan sudah bangun, tadi nona Farah berpesan bahwa nona sedang pergi ke pasar,” kata Bu Tin.


“Sepagi ini?” jawab Ilham bingung. Mengapa ke pasar harus pagi – pagi sekali.


“Iya Tuan, katanya ada bahan makannya yang harus dibelii dan adanya di waktu pagi,” Bu Tin menjelaskan.


Ilham mengangguk, Ia bergegas untuk mengambil air wudhu. Sudah masuk waktunya subuh.


***


Farah terbangun, ia melihat Ilham sedang tertidur. Nampaknya Ilham sangat lelah. Bu Tin menjelaskan bahwa semalam Farah belajar sambil menunggu Ilham pulang, tetapi Farah tertidur dan Ilham pulang sudah sangat larut.


Bu Tin menceritakan bahwa yang mengangkat Farah ke sofa, dan menyelimuti Farah adalah Ilham. Farah senang mendengarnya. Setidaknya Ilham mau untuk membuka hatinya. Farah memutuskan untuk membeli udang dan cumi-cumi. Bahan laut itu tersedia segar jika dibeli di pagi hari.


“Aku akan memasak kesukaannya mas Ilham. Pasti dia makan dengan lahap,” guman Farah sambil tertawa riang.


Semua bahan yang diperlukan Farah sudah dibeli. Sekarang waktunya pulang. Farah tidak sabar untuk memasak ini semua.


***


Setelah menunaikan shalat subuh Ilham merasa terganggu dengan panggilan ponselnya. Sepagi ini siapa yang menelponya.


“Ada apa Akmal?” Ilham mengangkat ponselnya mendekatk benda itu di telinganya.


“Maaf mengganggu Pak Ilham, saya mendapat laporan bahwa tanah yang Bapak beli ternyata adalah lahan sengketa,” jawab Akmal pada intinya.


“Baik, saya segera ke kedai,” Ilham mengakhiri percakapan itu.


Ilham bergegas mandi dan berganti pakaian. Tak ada waktu untuk sarapan. Ia langsung meluncur secepat yang ia bisa. Masalah sekecil apapun harus segera ditangani sebelum semuanya menjadi kacau atau yang lebih parahnya lagi, semua bisa hancur.


Ilham memacu kendaraannya lebih cepat. Pukul 05.15 pagi, jalanan masih lenggang. Ilham bisa sampai ke kedai lebih cepat dari biasanya.


Setelah Ilham berangkat, barulah Farah sampai di rumah. Ia melihat bahwa mobil suaminya sudah tidak ada.


Apakah mas Ilham sudah berangkat? Tapi mengapa sepagi ini?


Farah memastikan. Ia langsung mencari Bu Tin.


“Nona, tuan baru saja berangkat. Kelihatanya ada masalah tentang pembangunan cabang kedai baru,” kata Bu Tin menjelaskan.

__ADS_1


Farah mengerti, Ilham sibuk sampai - sampai tidak bisa sarapan. Tadi sudah dibayangkannya kalau ia akan memasak udang saus pedas. Namun sayang Ilham telah berangkat.


Tiba – tiba Farah memiliki ide, ia akan memasak udang dan cumi ini untuk makan siang Ilham.


__ADS_2