Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 97


__ADS_3

Mobil hitam itu mantap berhenti di lahan parkir di samping pohon yang rindang. Ilham sudah sampai di kedainya. Hari ini ia mendapat pesan singkat dari kawan sesama bisnis pagi ini. Ilham berjalan menuju ruangnya. Namun langkahnya terhenti ketika ada seorang karyawan menyampaikan pesan dari Akmal.


“Maaf Pak Ilham, ada pesan dari pak Akmal bahwa ada tamu dan sekarang berada di ruangannya,” karyawan itu berucap sangat sopan.


“Iya, terima kasih.” Ilham mengangguk. Ia segera menuju ruangan Akmal.


Terlihat di sana ada dua pria yang sangat ia kenal. Mereka tengah berbincang hangat sebelum Ilham memasuki ruangan. Kedua pria itu bangkit seraya melihat Ilham memasuki ruangan. Mereka terlihat akrab sekali, bahkan salah satunya tersenyum lebar dan merentangkan tangannya hendak memeluk.


“Lama tak jumpa, Ilham.” Pria itu tersenyum lebar dan memeluk Ilham seperti kawan lama yang baru saja bertemu.


“Sudah lama kau menungguku, Adit?” Ilham membalas pelukan dari kawannya.


“Adit? Bukankah nama Anda, Frans?” Akmal mengernyitkan dahi. Ia menerima informasi bahwa nama pria yang memeluk bosnya adalah Frans. Akmal pun sudah memastikan bahwa ia tidak salah mendendengar nama pria itu saat pertama kali berkenalan.


“Fransiskus Adit nama lengkapnya,” Ilham menjelaskan kepada Akmal.


“Kebanyakan orang akan memanggilku dengan nama Frans, hanya bos-mu saja yang memanggilku dengan nama Adit.” Frans tertawa.


Akmal hanya mengangguk tanda mengerti. Sekarang Ilham mengajak Fransiskus Adit untuk mengobrol secara intens di ruang kerjannya. Mereka menaiki tangga untuk menuju ruang kerja milik Ilham yang berada di lantai lima.


Ilham sangat mengenal pria yang berada di sampingnya. Pria berwajah oriental berumur 27 tahun ini adalah bos penyuplai biji kopi jenis apapun terutama greenbean untuk beberapa cafe, kedai hingga coffee shop di kota ini. Tentu sangat terkenal dan pria yang bernama Frans ini baru saja pulang dari Vietnam, negara penghasil kopi terbesar urutan kedua di dunia. Negara anggota ASEAN ini menghasilkan kopi mencapai 1.829.791 ton kopi per tahunnya. Bagi Frans kopi adalah perlambangan filosofi dalam hidupnya. Bukan sekedar teman bagi kaum indie dan pencinta senja, namun kopi lebih dari itu. Biji kopi mengalami banyak sekali proses hingga menjadikannya bubuk kopi yang siap untuk diseduh


***


Ilham sangat mengingat kata-kata yang pernah diucapkan oleh Frans, saat membangun kedai ini. Dulu saat Ilham terpuruk karena kedainya hampir di ujung kebangkrutan, Frans dengan santainya memasak di dapur kedai itu. Semula Ilham hanya duduk memandang dapur yang kosong, seisi kedai sepi karena tidak ada pelanggan sama sekali pada waktu pembukaan kedai itu. Frans yang mengetahui bahwa sahabatnya sedang mengalami kepahitan berbisnis seketika ia mengambil tiga buah panci yang sudah diisi oleh air. Kemudian Frans meletakkan ketiga panci itu di kompor dengan api yang sudah dinyalakan. Ilham hanya diam melihat Frans yang sedang mengambil sesuatu di lemari penyimpanan bahan makanan. Ia sangat tidak bersemangat karena musibah yang ia alami.


Frans kembali ke ketiga panci yang airnya sedang dipanaskan. Ia hanya membawa dua buah wortel dan beberapa butir telur. Lalu ia mengambil satu toples kaca yang berisi bubuk kopi di lemari penyimpanan yang terletak di bagian atas. Kemudian Frans memasukkan satu buah wortel tersebut ke dalam salah satu panci yang airnya sudah mendidih. Lalu Frans juga melakuka hal yang sama dengan panci kedua. Ia memasukkan sebutir telur di dalam air yang mendidih. Pada panci ketiga, ia juga melakukan hal yang sama, memasukkan bubuk kopi ke dalamnya.


Semula Ilham hanya diam tidak mengerti. Ia hanya menjadi penonton atas tindakan yang di lakukan oleh Frans di dapurnya.


“Coba ke sini,” Frans melambaikan tangan ke arah Ilham agar dia segera mendekati ketiga panci yang sedang merebus tiga bahan makanan yang berbeda.


Dengan langkah gontai, Ilham menghampiri Frans. Ia bingung tentang apa yang sedang di lakukan oleh sahabatnya dengan merebus sebuah wortel, sebutir telur dan beberapa sendok bubuk kopi. Ilham sedang malas untuk menerka-nerka apa yang sedang dibuat oleh Frans.


Frans mematikan kompornya. Hal pertama yang ia lakukan adalah meniriskan wortel yang telah direbus tadi dan meletakkannya di piring. “Coba perhatikan!” Frans menyodorkan wortel yang telah direbus kepada Ilham.


“Buat apa sih?” Ilham sedang malas untuk menerka-nerka maksud dari Frans.


“Patahkan wortel ini,” pinta Frans.


Dengan wajah yang meraut segan, Ilham mematahkan wortel yang telah direbus itu dengan mudah karena tekstur yang sudah melunak karena proses perebusan. Lalu Frans menyodorkan wortel lain yang tidak direbus kepada Ilham. “Patahkan seperti wortel yang sebelumnya.”

__ADS_1


Ilham mengambil wortel yang masih mentah itu. Ia menuruti permintaan Frans seperti sebelumnya. Sedikit kesusahan Ilham mematahkan wortel yang belum dimasak itu. Setelah mengerahkan tenaganya barulah wortel itu patah menjadi dua bagian. Lalu Frans bergeser, ia sekarang berfokus kepada panci kedua yang berisi telur rebus. Ia mengambil telur rebus itu dan memberikannya kepada Ilham. Dengan perasaan sedikit bosan dan bingung, Ilham menerima telur rebus yang masih hangat itu.


“Belah telur itu menjadi dua bagian,” ucap Frans.


Ilham menghela napas, ia merasa telah masuk ke dalam permainan aneh temannya. Sesuai permintaan Frans, Ilham mengambil pisau dan membelah telur rebus itu. Terlihat di dalam cangkang telur yang sudah mengalami perebusan, tekstur isinya lebih padat dibandingkan telur yang tidak direbus.


Frans bergeser lagi ke panci ketiga, ia menuangkan isi panci ketiga ke dua buah cangkir. Terlihat cairan kopi yang nikmat. Lalu Frans menyodorkan salah satu cangkir kopi kepada Ilham.


“Coba hirup aromanya, lalu minumlah. Setelah itu jelaskan padaku bagaimana rasanya.”


Ilham menerima cangkir itu, ia menghirup aroma kopi. Indera penciumannya bekerja memproses bagaimana aroma yang tercipta dari kopi itu. Kemudian meneguk sedikit cairan yang berada di cangkir itu. Indera pengecapan Ilham mulai memproses rasa kopi yang baru saja mengalir di lidahnya. Ada rasa harum dan aroma kenikmatan yang menjalar di sistem syaraf Ilham.


“Wangi dan enak,” Ilham menjawab singkat.


Frans hanya tersenyum mendengar penuturan dari Ilham. Ia juga melakukan hal yang sama menghirup aroma kopi dan meminumnya.


“Jelaskan apa maksud semua ini?” Ilham tahu semua permainan yang baru saja dikerjakan ada maksud dan tujuannya. Ilham sangat mengenal pria yang sekarang sedang mencicipi kopi buatannya sendiri.


Frans meletakkan cangkir kopinya, ia tertawa kecil. Seperti dugaannya, Ilham akan bertanya demikian. Ini adalah permainan ala Frans tentang memahami suatu kondisi untuk kehidupan. Mungkin orang lain akan bertanya aneh atau buang-buang waktu karena tidak langsung berterus terang. Namun Frans menyampaikannya dengan cara yang berbeda agar dapat memaknai.


“Bukankah seharusnya kamu sudah mengetahui arti semua ini?” Frans tersenyum kepada sahabatnya.


“Sekarang jelaskan secara rinci, apa makna dari semua ini.” Ilham menatap Frans dengan sepasang mata yang tajam.


“Asal kau tahu Ilham, semua bahan ini mengalami proses perebusan yang sama. Kau bisa mematahkan wortel rebus ini dengan muda karena teksturnya lebih lunak dibanding wortel yang masih mentah bukan? Wortel yang belum tersentuh proses masak apapun sedikit sukar dipatahkan. Ini menujukkan seseorang yang semula kuat, keras dan tegas, lalu saat diterpa masalah dalam hidupnya apa yang terjadi? Dia bisa menjadi sangat lemah dan tidak sekuat sebelumnya,” imbuhnya.


Lalu Frans meletakkan kembali kedua wortel itu. Sekarang kedua tangannya memegang separuh telur rebus dan sebutir telur. Ia memperlihatkan kedua telur itu kepada Ilham.


“Kamu lihat telur ini? Keduanya tampak sama, mungkin tak ada bedanya jika belum terbelah seperti ini wujud dari telur mentah dan telur rebus nyaris tidak ada bedanya. Di balik cangkang ini ada kelembutan, namun setelah direbus isi telur ini menjadi padat. Seseorang yang dulunya lemah lembut dan sangat santun, tapi begitu ada masalah dia menjadi keras, bebal rasa walaupun secara fisik sama, namun peragainya sudah berbeda.” Frans tersenyum, ia meletakkan kembali menaruh telur-telur itu ke piring.


Frans mengambil cangkir kopinya, ia bertanya, “Bagaimana rasa kopi ini?”


“Nikmat,” Ilham menjawab singkat.


Frans tersenyum, ia menyeruput kopinya dalam satu tegukan. “Kopi ini juga mengalami perebusan, sama seperti wortel dan telur ini. Kopi juga dimasak dengan suhu yang panas, tapi hasilnya nikmat bukan?”


Ilham mengangguk. Ia terkesima dengan penjelasan oleh Frans sahabatnya.


“Di dunia ini, masalah akan selalu hadir mengiringi manusia-manusia itu. Jadi apa yang harus kamu lakukan ketika tertimpa masalah? Apakah kamu akan seperti wortel? Telur? Atau kopi ini? Tidak perlu kamu jawab, pasti dirimu ingin seperti kopi ini ‘kan?” Frans tertawa riang.


Sekarang Ilham memahami semua makna dari permainan sahabatnya.

__ADS_1


***


Di ruangan yang dipenuhi oleh rak buku. Frans dengan santainya duduk di sofa berwarna hitam, nampaknya ia sudah menganggap ruang ini sebagai ruangan yang sangat ia kenali walaupun dia baru pertama kali memasuki ruangan ini. Ilham juga duduk di sampingnya, ia tahu Fransiskus Adit-sahabatnya akan berkunjung untuk membicarakan sesuatu hal yang penting.


“Ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan?” Ilham bertanya langsung pada inti pembicaraan kali ini.


“Kedaimu berkembang sangat pesat. Dulu tidak seperti ini, bahkan kau selalu bersedih jika tidak ada pelanggan yang memasukki kedaimu, tapi lihat sekarang! Kedaimu selalu ramai, ah nikmatnya!” Frans berseru kegirangan.


Ini yang membuat Ilham sedikit mangkel pada Frans. Ia bertanya apa, jawabannya pasti melenceng sangat jauh. Ia sedikit dongkol dengan tabiat sahabatnya. Rasanya ingin melemparinya dengan batu bata.


Frans melihat airmuka Ilham yang sedikit kesal, ia tahu Ilham sangat tidak menyukai jawabannya. “Kedatanganku kemari ingin mengajakmu menjadi panitia bazar di balai kota. Aku ingin mengadakan event bertajuk pengusaha muda. Tidak hanya usaha kuliner tapi usaha lainnya agar produk mereka banyak dikenal masyarakat. Untuk surat pengajuan lokasi sudah diterima dan diizinkan. Sekitar tiga bulan lagi event akan dimulai.” Sekarang Frans menjawab dengan serius pertanyaan dari Ilham.


Ilham menimbang ajakan Frans. Ia sedikit tertarik dengan event itu. Tak berapa lama Ilham menyetujui bahwa jabatannya adalah panitia dalam event itu.


“Untuk teman-teman lainnya agar saling kenal, rapat akan diadakan nanti sore di coffe shop-ku. Semoga kau berkenan hadir.” Frans tersenyum.


____________


Jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet like dan beri rating 5 bintang ya ... karena ini GRATISS.😁


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


_________


Novel Rekomendasi saat menunggu Perempuan Pilihanku update :


I’m The Necromancer King – Author Mostrpi


Mafia’s in Love – Author Sisca Nasty


Cinta Aku Bersamanya – Author Sila


Reinkarnasi Cinta Si Cantik Ruby – Author Diar Rochma


Passion of My Enemy – Author Dianaz

__ADS_1


Hope you like it🤗


__ADS_2