Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 143


__ADS_3

Yuk bantu Author untuk :


- Like/love setelah baca cerita ini


-Tinggalkan jejak di kolom komentar


-Beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author


Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


Selamat berimajinasi


_________


“Sepertinya aku akan makan malam sendiri lagi.” Kinnati mengembuskan napas kecewanya. Ia baru saja menerima telepon dari Narsh bahwa dirinya akan terlambat pulang.


Mulai saat menyantap makanan, sebuah ketukan pintu terdengar membuat Kinanti mengurukan diri untuk memasukkna makanan itu ke mulutnya.


“Siapakah dia? Jangan-jangan Kak Naresh sudah pulang?” Dengan wajah gembira, Kinanti berlari untuk segera membukakan pintu itu.


Alih-alih tentang kepulangan Naresh, justru Anneline yang berdiri di balik pintu. Dia tersenyum melihat Kinanti.


“Selamat malam, apa boleh aku masuk?” tanya Anneline.


“Silakan, Nyonya.” Kinanti membuka daun pintu agar lebih lebar. Ia mempersilakan Anneline untuk masuk ke dalam rumah ini.


Anneline duduk di sofa hitam yang empuk dan nyaman. Seperti sudah lama dia tidak berkunjung ke rumah ini.


“Maaf, Nyonya. Kenapa malam-malam Anda datang kemari? Apakah ada sesuatu yang ingin di sampaikan ke Kak Naresh?”

__ADS_1


Anneline tersenyum. “Aku ingin bertemu denganmu.”


Kinanti membulatkan matanya, ia masih bertanya-tanya dalam hati, mengapa Nyonya Fernando sudi datang kemari. “Apakah tentang penundaan keberangkatan Anda, Nyonya?”


Kinanti duduk dan ia merunduk. Harusnya Nyonya Fernando tahu bahwa ia tidak diperkenan untuk ke Milepolis sebelum akhir pekan dan itu harus bersama Naresh.


“Tidak Kinan,” ucap Anneline, “aku hanya ingin bertanya padamu sebagai sesama wanita di keluarga ini.”


Perasaan Kinanti kian tak menentu. Tak biasanya Nyonya Fernando membicarakan hal ini, pikirnya.


“Apakah kau di sini karena di beli?”


Raut wajah Kinanti seketika terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari Nyonya Fernando. Ia tak menyangka jika dia akan bertanya hal ini.


Anneline menyadari pertanyaannya terlalu tepat sasaran. Ia sebenarnya sudah tahu hal ini dari suaminya, tapi akan lebih mengesankan jika ia mengulik sedikit hal memalukan ini. Anneline harus menggiring Kinanti agar terjebak pada permainannya.


“Apakah nasibmu sama sepertiku? Maksudku, aku bisa menikah dengan Tuan Fernando akibat dibeli. Sungguh ironi memang, kenyataan aku adalah gadis belian.” Anneline menutup matanya. “Apakah kau juga demikian?”


Kenyataan selalu berbicara apa adanya kadang terkesan menyakitan. Kinanti tidak bisa mengingkari jika ia bisa kemari karena dibeli. Bukan secara langsung, tapi ia masih ingat bagaimana Naresh memberikan bergepok-gepok uang di sling bag-nya. Itupun Naresh tidak ingin dikembalikan.


Kinanti tertunduk ada raut keraguan yang terpancar jelas. Anneline yang memperhatikan sedari tadi merasa kegirangan. Ternyata mudah sekali memancingmu masuk dalam air keruh, pikir Anneline.


Hening.


Kinanti belum menjawab pertanyaan yang lontarkan kepadanya. Ia hanya sedang bertarung hebat antara hati dan logikanya. Ia mempercayai Naresh seutuhnya. Baginya, dia adalah pria yang baik. Walaupun terlihat galak, dia tak luput untuk menlindungi Kinanti. Dia pria yang selalu memaksa, tapi selalu menjadikannya hal yang paling istimewa.


“Tak perlu terlihat bingung seperti itu. Jika diperbolehkan aku ingin minuman dingin.” Anneline mengalihkan permbicaaraan sementara waktu. Ia tak ingin targetnya meleset.


Kinanti mengangguk, ia berjalan menuju ke sudut dapur, di mana letak lemari pendingin. Ia mengambil dua buah jus kemasan dan menyodorkannya ke ‘tamu tanpa diundang itu’. saat ini hatinya sedang berkecamuk. Ia termakan oleh perbincangan ini.


Anneline meminum sedikit jus rasa jeruk ini. Begitu menyegarkan saat melewati kerongkongan.


“Apakah kau tahu Kinanti? Pria yang terlahir di keluarga kelas atas mampu memiliki wanitanya lebih dari satu. Mungkin suamiku pengecualian, dia mau tak mau hanya memiliki diriku saja. Tapi kalau Kakak Ipar ....”


“Cukup!” Kinanti memotong ucapan Anneline yang belum sepenuhnya tuntas. “Kak Naresh hanya memiliki satu wanita dan itu saya, Nyonya! Tolong hargai perasaan saya!” Ia terisak.


Anneline sedikit tersentak dengan Kinanti yang sedikit membangkang. Ia tahu bahwa gadis itu sedang menahan sakit, di sisi lain kenyataan ini memang benar adanya.

__ADS_1


“Oh ya? Apa buktinya jika dirimu hanya satu-satunya? Kakak Ipar tidak menjalin ikatan suci denganmu. Mungkin saja dia sedang rumah perempuan lain.” Anneline tersenyum licik, pikirannya harus menggiring Kinanti ke lembah kehancuran.


Apakah benar yang dikatakan Nyonya Fernando? Apakah aku bukan wanita satu-satunya?


Keraguan demi keraguan muncul. Kinanti sangat tidak nyaman dengan perasaan ini.


“Dengar Kinanti, jangan pernah percaya dengan janji sebelum adanya pembuktian. Kau dan aku ... kita, adalah wanita belian. Harga kita ditukar dengan uang. Jika memang Kakak Ipar mempunyai wanita lain apa yang akan kamu lakukan? Sederhananya kita terlalu dimanjakan dengan segelintir kekayaan dan sedikit kebebasan. Harusnya pria yang kau sayangi itu memperbolehkanmu untuk keluar dan terbang bebas ....”


“Saya mohon cukup Nyonya! Saya mohon jangan usik kepercayaanku pada Kak Naresh.” Tangisan Kinanti pecah. Ia merasa tak nyaman dengan janji-janji yang pernah disemai.


“Aku tak berniat untuk itu. Ketahuilah, aku hanya memberi tahu agar kau tak kecewa nantinya.”


“Jika Nyonya sudah selesai, segeralah beristirahat. Angin malam tak cocok untuk Anda.” Kinanti menahan amarahnya. Ia mengusap kasar wajahnya yang berlinang air mata.


Anneline beranjak dari tempat duduknya. Ia tahu maksud ucapan Kinanti. Dirinya harus pergi dari rumah ini.


“Terima kasih.” Anneline berjalan menuju pintu. Sebelumnya ia harus segera menuntaskan pekerjaannya.


“Kinan, kuberi tahu sesuatu. Pergilah jika memang diharuskan. Jangan sampai kamu kehilangan segalanya seperti diriku.”


Kinanti mendengar tapi tidak menjawab. Ia berusaha memalingkan diri.


Anneline keluar dari rumah itu dan menutup pintu. Misinya akan segera berhasil. “Aku menunggu kehancuran ini.”


Ia sudah menyiapkan skenario terbaik.


****


Malam makin larut, Naresh mungkin akan terlambat pulang ke rumah. Pekerjaannya sangat banyak hingga menyita waktunya untuk bersama Kinanti. Ia sudah memberi tahu gadis itu tentang kepulangannya.


“Bersabarlah sedikit Kinanti, sebentar lagi aku akan pulang.” Naresh masih mengemudikan sendiri mobilnya. Ia tak terbiasa menggunakan jasa sopir walaupun banyak yang bersedia melayaninya.


Di jalan yang lenggang tak banyak mobil yang merayap di waktu malam ini. Naresh hanya berpapasan dengan beberapa truk. Sepi dan sunyi. Tubuhnya sedikit lelah dan tanpa sadar hal itu mengaburkan kefokusannya hingga ia tak menyadari ada sekelebat hal yang mengangetkan. Dengan cepat Naresh menginjak rem dan mobil berdecit.


Ia segera keluar dari mobil dan menyadari seorang wanita berambut panjang memakai jas hitam sedng kesakian, mungkin tersenggol mobilnya.


“Apakah Anda baik-baik saja, Nona?”

__ADS_1


__ADS_2