Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 69


__ADS_3

“Mulai sekarang, kita tidur bersama layaknya suami istri.”


Mata Farah membulat. Ia membeku mendengar kalimat yang diucapkan oleh Ilham. Dalam hatinya bergejolak. Namun Farah tidak bisa menolak ajakan suaminya.


Farah menunduk. “Aku ingin menyimpan buku-buku dan alat tulisku di kamar itu Mas.”


Ilham yang semula menghalangi pintu, langsung bergeser agar Farah dapat masuk di dalam kamar milikknya. Tidak lama kemudian, Farah keluar dari kamarnya. Ilham dengan wajah yang tersenyum menggandeng tangan istrinya, agar mau mempercepat langkahnya menuju kamar milik Ilham. Sejauh ini Farah hanya menurut, tidak menolak.


Untuk pertama kalinya desiran ombak mengalir dalam diri Farah. Ia merasa tangan besar milik suaminya menggamit tangan kecilnya. Detak jantung Farah sudah tidak karuan bunyinya. Ia senang sekaligus ada rasa malu.


Apakah Mas Ilham menginginkannya saat ini?


Ilham menyuruh Farah untuk duduk di ranjangnya. Sementara itu Ilham mengunci pintu kamarnya. Benar! Dalam satu bilik itu hanya ada Ilham dan Farah. Namun kecanggungan lagi-lagi hadir di tengah-tengah mereka.


Farah duduk di pinggiran ranjang. Sementara itu Ilham juga duduk di ranjang namun berjauhan. Mereka berkata tapi tidak berbicara, masing-masingnya berbicara dengan dalam pikiran. Cukup lama, keheningan yang mereka ciptakan.


Apakah ini akan menyakitkan? Apakah harus malam ini?


Farah sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di kepalanya.


Ilham merasa gemas dengan sikap diam Farah. Ia melihat raut wajah Farah yang sedikit kebingungan. Ilham yakin bahwa gadisnya sedang berpikir untuk melakukan malam pertama yang sudah tertunda tiga bulan ini.


Atau jangan-jangan dia menginginkannya sekarang? Atau aku perlu mengajarinya? Sepertinya dia benar-benar naif.


“Bukankah, tadi kamu bilang mengantuk?” tanya Ilham memecah keheningan ini.


“I-ya,” Farah menjawab dengan sedikit terbata-bata.


Apakah aku harus mandi dulu, untuk memulai permainan ini?Aku tidak ingin mengecewakan Mas Ilham.


Ilham sedikit terkejut melihat rona merah yang berada di pipi manis Farah. Ditambah ekspresi yang bingung dan menggemaskan. Mungkin jika Farah itu boneka, Ilham akan langsung memeluknya. Sayangnya Farah adalah boneka yang menggemaskan dan hidup.


“Apakah aku harus membersihkan diri dulu?”


Pertanyaan yang baru saja diucapkan Farah membuat Ilham terpaku. Ilham berpikir, sepertinya Farah masih ketakutan untuk disentuh.


Dia masih terlalu kecil, mungkin aku bisa mengajarinya gerakan dasar dulu.


Ilham bangkit, ia berjalan mendekati Farah. Ia meraih pipi Farah dan tersenyum. Detak jantung Farah semakin beradu, hingga rona merah di pipinya muncul.


Apakah Mas Ilham menginginkan sekarang?


Ilham mendekatkan wajahnya. Farah panik, ia memang tidak tahu bagaimana memulainya. “Mas, aku belum tahu caranya.”


Sontak saja Ilham tertawa lepas mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Farah. Ilham tertawa karena keluguan Farah. sangat lugu. Ilham mengelus puncak kepala Farah.


“Segeralah tidur istriku.” Ilham membaringkan tubuh Farah untuk menyentuh kasur yang empuk itu. Ilham membaringkannya sangat lembut.


Farah merasa ia mendapatkan sesuatu hal yang menurutnya sangat nyaman. Suaminya sudah mau menerima dirinya, kebahagiaan yang ia tunggu selama tiga bulan ini. Ilham akhirnya tidur di samping Farah. Ia harus mengumpulkan energinya untuk esok.


Kidung malam yang mengalun dari ibu bulan sejenak memberikan rasa kantuk dan bahagia. Farah tidur dengan membelakangi suaminya. Kali ini, ia sudah terlelap tidur. Namun Ilham masih terjaga. Ia memandangi tubuh istrinya. Sangat tertutup, bahkan kain hijab masih membalut kepalanya. Ilham mengerti bahwa Farah masih kekanak-kanakkan. Namun Ilham masih bisa bersabar dengan hal ini.


Aku tidak akan terburu-buru menikmati rasa cinta kita. Semoga aku bisa menang melawan Ray. Aku tidak ingin kau terus dihantui Ray dengan rasa cintanya. Ini salahku, yang meninggalkanmu lima hari di Kota Zen.


Ilham meraih tubuh istrinya. Ia mendekap hangat tubuh mungil itu. Ilham tahu persis jika Farah sudah tertidur, dia tidak akan merasakan apapun. Ilham tetap mendekap tubuh mungil itu. Hangat, nyaman dan bahagia. Itu yang dirasakan Ilham sekarang.


Malam ini suara romatis ibu bulan mengalun menjadi lagu pengantar tidur dan lagu pengantar kebahagiaan. Bintang-bintang juga berseru merdu mengikuti irama ibu bulan.


Semoga apa yang menjadi milikku tetap ada di sisiku.


***


Pagi yang masih berselimut malam, membuat alarm alamiah Farah bekerja. Ia bangun, dan mendapati Ilham yang memeluknya hangat. Ia sedikit bergerak, namun pelukkan Ilham semakin erat. Ilham tahu bahwa istrinya sudah bangun. Namun ia memilih untuk mengeratkan pelukkannya.


“Mas, aku ingin bersiap untuk sholat,” pinta Farah.


Ilham melepas pelukkanya, ia juga sudah terbangun. Lebih tepatnya Ilham tidak benar-benar tidur. Ia hanya ingin memeluk tubuh gadisnya.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Farah dan Ilham membawa doa mereka bersama. Dalam upaya yang salam pula. Mereka bersama menggaungkan doa meminta kepada Sang Maha Pengasih. Untuk pertama kalinya, Ilham menjadi pemimpin ibadah ini. dan Farah mengikutinya dari belakang. Setelah itu tangan mereka terangkat dan terbuka. Tangan yang sebagai wadah doa.


Setelah memenuhi kebutuhan rohaninya. Ilham tetap mencegah Farah untuk beranjak pergi. Ia masih ingin bersama gadisnya.


“Mas, aku harus memasak. Dan bekerja ke kedai nanti.” Farah memohon kepada suaminya.


“Sebentar saja, tinggalah di sini. Dan aku mohon jangan pergi ke kedai hari ini.”


Ilham tidak menginginkan jika tiba-tiba Farah diringkus lalu di bawa paksa oleh Ray. Farah hanya menurut, tidak berusaha menolak lagi. Ilham bangkit, ia mengambil sebuah sisir yang tergeletak di meja dekat tempat tidurnya.


“Buka hijabmu,” ujar Ilham.


“Hah?!” Farah hanya terkejut dengan perintah suaminya.


Ilham menjadi gemas hingga tidak sabaran. Ia sedikit memaksa dengan kelembutan. Ilham membuka kain hijab yang melilit kepala Farah. Dengan sangat lembut Ilham membuka kain itu.


Farah yang masih duduk di ranjang hanya bisa pasrah. Ilham sudah melepas kain hijab milik Farah. Ia juga melepas ikatan rambut yang mengikat rambut indah Farah. Rambut Farah terurai indah. Ia masih tidak mengerti apa yang ingin Ilham perbuat untukknya.


“Aku ingin menyisir rambutmu, istriku.” Ilham tersenyum. Perlahan tangannya mulai cekatan mengisir rambut Farah, sedikit demi sedikit. Mungkin hal itu yang bisa Ilham berikan. Bukan sekedar bunga atau kartu ucapan, melainkan curahan perasaan yang hangatnya seperti mentari.


Farah hanya terdiam, melihat suaminya dengan suka rela menyisir rambutnya. Ada perasaan yang tak kunjung usai. Desiran yang tidak kunjung berhenti. Ilham menyisir dengan sangat lembut boneka hidupnya. Dari mulai rambut yang kusut dan berantakan menjadi halus dan tertata. lham merasa sangat sayang dengan gadisnya.


“Terima kasih, Mas.”


Ilham tersenyum, hari ini ia menjadi penata rambut tidak resmi. Ia suka dengan rambut Farah yang panjang namun bervolume. Aroma rambutnya sangat wangi.


Apakah ini termasuk keindahan dalam perempuan? Dia cantik jika tidak berhijab. Mungkin ini keindahan tambahan untuk seorang suami.


“Hari ini, aku sudah memutusakan. Upah gaji Rahma tidak akan berkurang, dia tetap dia anggap bekerja. Jadi aku mohon tetaplah tinggal di rumah,” ucap Ilham dengan nada penekanan.


Mengapa Mas Ilham begitu cemas, apakah dia akan pergi lagi?


“Apakah Mas akan pergi?” wajah Farah meraut sedih. Ia benar-benar tidak ingin ditinggal dalam kemesraan ini.


“Iya.” Ilham mencoba menggoda gadisnya.


“Aku akan pergi untuk bekerja,” Ilham tertawa. “Doakan aku agar segera kembali untuk menyelesaiakan kerinduanmu.”


“Siapa bilang?! Aku tidak rindu.” Farah mengelak dengan wajah manyun yang menggemaskan.


Ilham mengacak-ngacak rambut Farah dan menncubit hidungnya. Ia terlampau indah jika harus ditinggalkan lagi dan Ilham sudah menyesal melakukan hal itu.


Pagi ini seperti biasa, Farah memasak untuk suaminya yang akan pergi bekerja. Ilham sudah membersihkan dirinya dan bersiap untuk sarapan. Makan dengan orang yang paling kita cintai dalam satu meja menciptakan momentum yang menyenangkan. Sangat menyenangkan.


Setelah menyelesaikan sarapan, Farah mengantar suaminya menuju pintu depan. Bagi Ilham pagi ini adalah pertarungan yang mungkin akan berakhir kesakitan. Ia harus benar-benar memperjuangankan apa yang ia miliki.


Ilham melihat raut wajah berseri Farah. Senyuman yang membuat siapa saja akan candu melihatnya. Tak terkecuali Ilham. Farah mencium punggung tangan suaminya. Ini kebiasaan baru bagi Farah. Ilham masih menatap lekat wajah Farah hingga, ia dengan cepat mencium lembutnya kepala Farah.


Begitu lembut, hingga membuat Farah kaget sekaligus tersipu. Akhirnya Ilham sudah mau mencium puncak kepala Farah.


“Doakan agar aku segera pulang.”


Farah terdiam, ia mengangguk. Di setiap doanya selalu terselip nama suaminya.


Dengan berat hati, Ilham berpamitan dan ia pergi menuju tempat pertarungan. Hari ini ia harus mempertahannkan apa yang harus jadi miliknya. Penyesalannya harus segera dibayar dengan tuntas.


Ilham mengendarai mobilnya menuju kawasan elit yang berada di dekat taman kota. Kawasan yang hanya di isi oleh orang-orang ber-uang yang memiliki jumlah yang fantastis. Ilham akan mengakhir ini semua, dendam yang harus dibayar tuntas.


***


Ray sudah mempersiapkan tempat untuk bertarung. Ia pernah melakukan pertarungan ini dengan Ilham enam tahun yang lalu. Di mana ia ingin merebutkan Anneline. Sebenarnya ia hampir menang, kalau saja Theo tidak menyudahi acara menyambut kematian itu.


Ray sudah terlatih untuk bertarung. Insting pembunuh Ray selalu bergejolak menginginkan korban. Hari ini ia sedang memandangi gaun indah berwarna putih bersih. Gaun yang ia peruntukkan untuk Farah.


Ray sudah tidak peduli dengan apapun status yang sandang Farah saat ini. Dia adalah istri lelaki lain. Dan Ray tidak peduli akan hal itu. Ray yakin Farah masih seperti kuncup bunga yang masih perawan belum tersentuh.


Ray tahu tabiat Ilham, dia memang tidak bisa memaksa seorang wanita. Ray sudah pernah mengalah di masa lalu. Ia begitu rela melepaskan Anneline untuk lelaki yang ia sebut dengan sahabat.

__ADS_1


“Ilham adalah sahabat sekaligus musuhku!”


Ilham sudah sampai di istana milik Ray. Ia sudah disambut banyak pelayan. Bahkan Pak Sudiro sudah mempersilakan Ilham untuk mengikutinya menuju ruangan bertarung. Ilham berpikir apakah Ray akan menggunakan tangan kosong untuk pertarungan ini? Entahlah. Ilham akan berusaha untuk memenangkan pertarungan ini.


Ray sudah duduk bersila di dalam ruangan yang lantainya terbuat dari kayu. Ini seperti ruangan untuk rumah tradisional jepang pada umunya. Bahkan pintu dibuat sama persis dan membukanya pun harus digeser.


Ilham melihat hanya ada Ray, beberapa pedang katana dan gaun pernikahan.


Untuk apa gaun pernikahan di sini?


Ray tersenyum, lawannya sudah datang. Ray menatap Ilham bagai pembunuh yang haus akan darah. Ia harus bisa membuat ruangan ini berdarah.


Ilham menatap Ray, bergeming tidak menunjukkan ekspresi ketakutan. Hanya ia penasaran mengapa gaun pernikahan harus dimasukkan ke dalam arena bertarung.


“Untuk apa gaun itu?” Ilham bertanya langsung pada intinya. Ia tidak suka bertele-tele.


Ray menyerigai kecil. Ia tahu bahwa Ilham akan langsung bertanya tanpa kata permisi.


“Gaun untuk istrimu yang akan dipakainya saat pernikahan antara aku dan dia nanti.” Ray tersenyum licik. Ia tentu tahu kalimat yang baru saja ia ucapkan mengandung bara yang akan memanaskan hati Ilham.


Ilham yang mendengarnya sedikit tidak rela. Ia sangat tidak suka dengan kalimat itu. “Kapan kita bertarung?”


Ternyata nyalinya masih sama. Aku akan memenangkan pertarungan ini. Akan aku buat kamu menyesal karena sering membuat Farah memangis. Dan jangan salahkan aku jika darahmu akan memenuhi tembok dan lantai ruangan ini.


“Mengapa terlalu terburu-buru. Kita bicara santai saja sahabatku.” Ray masih menampilkan senyum liciknya. “Bagaimana kabar kekasihmu, Anneline. Apakah sudah kau temukan?”


“Aku tidak suka mengulur waktu! Segera selesaikan pertarungan ini!” Ilham berseru galak.


Ray tersenyum seakan mengejek lawan yang berada dihadapannya. “Jika aku menang, kuncup kembang yang masih perawan itu akan menjadi milikku.”


Ray menyodorkan sebuah pedang kayu kepada Ilham. Ray menginginkan pertarungan dengan memakai pedang kayu. Ia tidak memakai katana, pedang samurai untuk pertarungan kali ini. Ray ingin menyiksa Ilham dengan rasa sakit yang bertubi-tubi. Ia tidak ingin merobek kulit lawannya. Namun darah harus mengalir di ruangan ini.


Ilham tertegun dengan pertarungan kali ini. Senjata yang dipakai adalah pedang kayu bukan katana. Ia yakin ada hal lain yang ingin Ray tunjukkan kepadanya. Ilham sangat yakin.


Insting pembunuh Ray bergejolak, sudah lama ia tidak menemukan lawan yang seimbang. Dan ini saatnya membalaskan dendam. Pak Sudiro sudah bersiap, ia yang akan jadi wasit sekaligus juri dalam pertandingan ini.


Ray sudah berada di sisi kanan Pak Sudiro. Ilham juga sudah bersiap di sisi kiri Pak Sudiro. Mereka hanya tinggal menunggu aba-aba dari wasit. Ray dan Ilham sudah mengacungkan pedang kayunya masing-masing.


“Mulai!”


***


Farah sedang membersihkan kamar dan mengumpulkan baju-baju kotor. Tiba-tiba ada sengatan yang menjalar di rongga dadanya. Ia memegang dada sebelah kiri. Pikiran sudah tertuju pada sosok suaminya.


“Apakah ada sesuatu yang tidak beres? Mengapa perasaanku tidak tenang?”


Akhirnya Farah memutuskan untuk salat dua rakaat untuk menenangkan hatinya. Ia bersuci dengan air wudhu. Setelah itu ia berusaha menguatkan hatinya untuk menjalani ibadah ini. Gerakan salat, dari niat hingga akhir. Dengan kelembutannya, Farah mengangkat kedua tanganya. Ia memohon pada Sang Ilahi agar suaminya selalu berada dalam lindungan Allah. Hanya itu permintaan dari Farah. Ia hanya ingin Ilham dilindungi dari marabahaya.


***


Untuk ketiga kalinya Ilham tersungkur. Tubuhnya penuh kesakitan karena hantaman dari pedang kayu. Walaupun terbuat dari kayu, rasa sakitnya sangat luar biasa karena dorongan dari rasa dendam.


“Apakah kau mempersunting istrimu dalam pernikahan siri! Hingga kau tidak sudi menggundangku, Ilham?” Ray tertawa puas, ia masih unggul dalam pertarungan ini.


Sekali lagi Ilham melawan, ia sebenarnya tidak mahir dalam pertarungan bersenjata pedang. Namun ia tetap ingin mempertahankan rumah tangganya. Ilham melayangkan perlawanannya kepada Ray.


Sekali lagi Ray dapat menangkis dengan mudah serangan yang dilancarkan oleh Ilham. Gerakan Ray bak tarian pedang yang mematikan. Jika di serang ia bisa dengan cepat menghindar lalu melancarkan serangan yang tiba-tiba. Ray mahir dalam pertarungan ini.


“Aku heran mengapa status suami yang kau sandang saat ini seperti hinaan untukmu! Kau tidak pantas untuk menjadi seorang suami!” Ray tertawa keras. Ia puas sebentar lagi lawannya akan kalah. Sesuai keinginannya darah Ilham sudah menodai lantai kayu arena pertarungan ini.


Ilham mengumpulkan kekuatannya. Ia tidak ingin kehilangan gadisnya. Ilham bangkit, ia hanya punya kenekatan untuk memenangkan pertarungan ini. Ia kembali mengacungkan pedang kayu kepada Ray.


Pertarungan terjadi, mereka masih adu pedang. Entah ada hawa apa Ilham merasa ada kekuatan yang mengelilinginya. Ray tumbang dalam pertaruangan itu. Namun Ilham masih menyerang. Ia tidak ingin membiarkan kesempatan ini. Hingga Ray tersungkur, pedangnya sudah terjatuh jauh dari jangkauannya. Ilham sudah mengacungkan pedangnya ke leher Ray. Jika itu katana mungkin leher Ray bisa langsung ditebas oleh Ilham.


“Aku menang, “ ucap Ilham dengan raut wajah yang sudah berdarah dan lebam. “Jangan ganggu kehidupan rumah tanggaku lagi.”


Ray terdiam, ia baru saja dikalahkan oleh Ilham. Ia telah kalah dengan telak. Ilham memohon diri, ia ingin segera keluar dari ruangan ini. Ia sangat merasa kesakitan.

__ADS_1


Keinginan Ray sudah sirna.


__ADS_2