
Episode 190: Jas Milik Ray
Ilham merasa jauh lebih nyaman dibanding beberapa menit yang lalu. Ia menyandakan punggungnya ke kursi kemudi, lalu ia merain ponselnya dan membaca apa yang tertulis dari Anneline. Hanya ada sebuah nomor dan alamat rumah penginapan yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
“Aku tak pernah takut akan ancamanmu, Ann. Jangan pernah berharap aku akan datang.”
Tiba-tiba pintu mobil terbuka. Farah terengah-engah masuk ke dalam membuat Ilham terkesiap. Ternyata istriku, aku pikir Anneline akan kembali.
Farah tersenyum kepada suaminya. “Maaf ya sedikit lama, pasti Mas udah nunggu aku dari tadi.”
Ilham hanya tersenyum. Ia mengatur dirinya agar setenang mungkin seperti tidak terjadi apapun. Ia melirik jas pria yang dikenakan oleh istrinya.
Farah memperhatikan wajah suaminya. Ada yang janggal, lalu ia menyentuh kening Ilham. “Mas sedang sakit ya? Mas berkeringat dingin dan sedikit pucat.”
“Eh! Enggak. Mungkin cuma agak pusing aja.” Ilham buru-buru mengantongin ponselnya. Ia tak mau Farah spontan memainkan ponselnya.
“Oh begitu.”
“Itu jas dari siapa?” Ilham bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
“Jas milik Ray. Tapi jangan salah sangka dulu.” Farah merasa takut jika suaminya marah. “Tadi aku sempat ketemu dengan Ray dan Kak Sasmita di dekat parkiran ini. Ray memberikan jasnya untuk menutupi noda ini.” Farah membuka jas yang ia kenakan. Terlihat noda bercak dan ada yang masih basah di bagian gamisnya.
“Gamismu kok bisa seperti itu?”
“Tadi aku dapat musibah, Mas. Ada pelayan yang membawa pesanan es teh, dia jatuh dan aku duduk tak jauh darinya. Yah! Aku seperti mandi es teh.” Farah menjelaskan.
“Harus pakai jasnya Ray, ya?” tanya Ilham bernada sinis. Ia menyalakan mobil dan melajukannya keluar dari parkiran.
Farah merasa pertanyaan dari suaminya mengandung sebuah kecemburuan. “Tidak, hanya saja Ray ingin membantuku. Berjalan di tengah banyak orang dengan pakaian seperti ini agak tidak pantas. Lagipula Kak Sasmita juga memperbolehkan, nanti setelah kita pulang akan kukembalikan lagi kepada pemiliknya.”
__ADS_1
Ilham mengembuskan napas kasar sampai terdengar oleh istrinya. Ia memang sengaja melakukan hal ini agar Farah tahu betapa kesalnya dirinya kepada pria bernama Ray. Ia yakin jika Sasmita tak akan berani
“Mas marah ya? Aku sudah bilang, Ray hanya ingin membantuku. Tak lebih dan tak kurang. Kumohon percayalah.” Farah tak tahan dengan sikap suaminya yang sangat overprotektif. Ia merasa sedikit terkekang jika menyangkut dengan lawan jenis terlebih lagi dengan Ray.
“Jika kamu tanya seperti itu, berarti sudah jelas bukan? Suami mana yang tidak marah ketika pria lain sangat care dengan istrinya?” Ilham mendengus kesal. Ia mengemudikan mobil lebih cepat, membuat Farah harus memegang erat-erat seatbelt.
Setelah melewati keadaan yang mendebarkan, mereka sampai di rumah. Ilham membanting pintu mobil sebagai tanya kemarahannya masih berlanjut. Farah masih bersabar, ia tak ingin berdebat di depan rumah.
Ilham tak mengacuhkan istrinya. Ia tahu Farah sudah menyeka air matanya. Sepertiny aku sedikit keterlaluan.
Farah terdiam. Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tubuhnya lengket karena air es teh yang mengandung gula. Setelah beberapa menit, ia keluar dan memilih gamis yang lebih cantik.
Ketika ia memasangkan bros di kerudungnya. Ilham masih menatap dengan pandangan menusuk. “Aku harap kamu tidak berdekatan dengan Ray.”
“Bisakah kita tak usah memperdebatkan kebaikannya?” Farah duduk di depan meja hiasnya. Ia masih membetulkan letak bros berbentu kupu-kupu itu.
“Aku ingin bertanya pada Mas. Jika Mas berdekatan dengan perempuan lain, bolehkah aku marah seperti itu?”
Seperti tamparan keras, Ilham terdiam. Seketika isi kepalanya terngiang-ngiang ucapan Anneline. Munafik dan penuh kedustaan, itulah dirimu!
“Kenapa kamu menanyakan hal itu?” Ilham menjawab pertanyaan dengan melempar pertanyaan.
Farah yang sudah kesal sedari tadi akhirnya bangkit dan berjalan menuju bingkai pintu kamarnya. “Biar aku bisa balas dendam! Tak adil jika hanya aku saja yang mendapat perlakuan semacam ini!”
Ilham tahu, ucapan Farah adalah sebuah keluhan, bukan kemarahan. Ia sadar jika selama ini, ia banyak mengekang istrinya terlebih lagi menyangkut soal Ray. “Maaf, aku terlalu banyak melarangmu. Kamu berhak memarahi jika aku salah.”
Farah menggeleng. Ia langsung memeluk Ilham, membenamkan wajahnya ke dada suaminya. “Jangan batasi apa yang aku lakukan jika itu masih dalam keadaan wajar. Aku selalu terbuka, tak pernah menyembunyikan apapun dari Mas. Jadi Mas Ilham harus percaya sama aku.”
“Iya.” Ilham mengusap punggung istrinya memberikan kenyamanan. “Maaf ya, jika aku sering marah-marah.”
__ADS_1
****
Anneline baru kembali ke booth makanan, Kinanti masih ada di sana sibuk dengan ponselnya sendiri. “Maaf jika agak lama.”
Kinanti memandangan Anneline. “Uh! Akhirnya Kak Anneline datang. Aku sempat khawatir karena ponsel Kakak tidak aktif. Takut jika nyasar.”
Anneline menggeleng. Ia melanjutkan memakan batagor yang sudah ia pesan. “Farah kemana?” Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari perempuan yang telah mengambil kekasihnya.
“Dia pulang, Kak. Tadi dia sempat mendapat musibah kecil. Pelayan yang membawa minuman, kakinya tersandung dan jatuh hingga meminuman yang ia bawa tumpah di baju Farah.” Kinanti menjelaskan panjang lebar.
“Oh.” Anneline hanya ber-oh lalu melanjukan makananya. Ia memandangi Kinanti yang masih sibuk dengan ponselnya. “Dari kakak ipar ya?”
Kinanti mengangguk. Ia tadi sempat menelpon Naresh. Pria itu jadi super sibuk sekali. Tak hanya perusahaannya yang kehilangan CEO dengan tragis, Sirena yang pernah dekat dengan Naresh ditemuka tewas di pabriknya. Situasi yang sulit terlebih lagi ketika rumor yang disebarkan yang diolah oleh oknum yang ingin menjatuhkan sehingga banyak spekulasi yang mendera posisi Narehs saat ini.
“Mungkin Kak Naresh tak akan pulang dalam waktu dekat,” ucap Kinanti.
“Aku percaya, jika kakak ipar bisa mengatasi masalah yang sedang terjadi.” Anneline mengusap punggung Kinanti. “Kita cukup menunggu saja, Kinan.”
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
__ADS_1