
Farah telah membersihkan diri, ia berjalan menuju dapur untuk membuat dua gelas coklat hangat. Ilham juga keluar dari kamarnya dengan membawa handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Ilham menuju dapur, ia menghirup aroma coklat. Ilham melihat seorang perempuan berambut panjang dan basah, sekian detik ia baru menyadari kalau itu adalah Farah. Ilham sedikit terkejut jika Farah tidak memakai hijabnya sekilas bukan Farah.
Ilham menghampiri Farah. Ia mengambil satu gelas coklat hangat dan meminumnya. Farah tak menyadari jika Ilham juga berada di dapur itu. Ia kaget saat Ilham langsung mengambil coklat hangat buatanya.
Farah sadar ia tidak memakai hijabnya. Ia ingin kembali ke kamarnya untuk mengambil hijabnya sebelum Ilham marah.
“Tunggu! Mau kemana?” tanya Ilham yang menarik tangan Farah agar tidak pergi.
“Mau ke kamar, mengambil hijabku.” Farah menunduk. Ia takut jika Ilham marah hanya gara-gara ia melanggar perintah dari Ilham.
“Tidak perlu, rambutmu masih basah biar kering dulu. Sudahlah tak perlu malu.”
“Ini benar tidak apa-apa? nanti Mas marah lagi,” tanya Farah memastikan sekali lagi.
“Iya tidak apa-apa, kamu cantik kok.” Ilham menjawab tanpa sadar.
Astaga,mengapa aku bisa keceplosan!
Ilham yang menggerutu atas ketidaksingkronan hati dan logikanya.
“Hah?!”
Farah terkejut mendengar Ilham berkata seperti itu.
Farah tersenyum, air mukannya memerah lalu ia menunduk.“Terima kasih.”
Farah membawa segelas coklat hangat menuju meja makan yang berada dekat dengan dapur untuk mengindari rona pipi kemerahannya jika di lihat Ilham.
Ilham melihat Farah pergi, ia sangat ceroboh sudah membiarkan hatinya untuk berbicara tanpa adanya filter sebelum keluar dari mulut.
Ia menghampiri Farah yang sudah terlebih dulu duduk di meja makan, Farah sedang menyeruput coklat hangatnya sambil membaca novel. Aroma Karsa. Ilham membaca judul di sampul depan novel itu.
Duh, Mas Ilham kok malah ke sini. Pipiku masih merah enggak ya. Canggung sekali rasanya!
__ADS_1
Farah menyadari kalau Ilham duduk di meja makan menghadapnya. Ilham hanya diam dan meminum coklat hangatnya.
Ya ampun kok malah canggung seperti ini. Aku yakin sekarang Farah sudah besar kepala gara-gara aku bilang bahwa dirinya cantik. Sebenarnya memang cantik sih, dan aku baru menyadarinya sekarang.
“Kamu suka ya baca buku?” tanya Ilham membuka percakapan.
“Bukan hanya suka, ini hobiku.” Farah yang sudah menutup bukunya saat Ilham berbicara.
Ilham merasa bahwa Farah memiliki hobi yang sama dengan Ann. Membaca novel. Ilham teringat kalau ia pernah mengantarkan Ann untuk membeli buku. Ann suka berkeliling rak bolak-balik hanya untuk mencari buku yang pas untuk dirinya. Bahkan Ann sanggup mengelilingi satu toko buku selama dua jam hanya untuk mencari buku yang menurutnya menarik.
Ilham menyadari sesuatu. Ia memiliki sesuatu yang bisa membuat Farah senang.
“Aku ingin mengajak kamu, ke tempat yang mungkin kamu suka,” ujar Ilham.
“Kemana Mas?” tanya Farah sambil mendongak karena Ilham sudal lebih dulu berdiri.
“Sudah ikut saja, sekalian bawa coklat hangat itu.”
Sesuai permintaan Ilham, Farah membawa coklat hangatnya. Ia mengikuti kemana Ilham pergi.
Ilham membuka pintu kamar itu dan mempersilahkan Farah untuk masuk. Farah terkejut ternyata isi kamar ini menakjubkan.
Kamar ini tidak besar hanya semua dindingnya di tutup oleh rak-rak buku, di sini hanya ada jendela yang besar dan lebar. Di dekat jendela itu ada dipan dengan alas yang berasal dari kayu jati, halus dan berpelitur. Farah yakin ini adalah dipan yang dipesan khusus. Ilham sudah duduk di dipan itu ia melihat pemandangan dari balik jendela.
Farah juga naik di atas dipan. Dipan ini unik, disebut kursi tapi sangat lebar dan panjang, bahkan bisa dibuat untuk tempat merebahkan diri.
Ilham melihat sorot mata Farah yang takjub akan ruangan ini. Bahkan sekarang Ia bisa melihat wajah Farah jelas di hadapannya.
“Ini buku-buku milik Mas?” tanya Farah yang terpukau dengan seisi ruangan ini.
Ilham mengangguk.
“Wah, keren!” puji Farah.
“Kamu suka tempat ini?”
__ADS_1
“Iya Mas, suka sekali.” Farah yang tersenyum takjub dengan apa yang ia lihat.
“Ini tempat favoritku ketika aku sedang merasa hariku tidak menyenangkan. Mulai sekarang kamu bisa memasuki kamar ini semaumu,” ujar Ilham.
Mendengar hal itu Farah merasa senang. Senyuman mengembang di wajahnya.
Senyumannya manis juga.
Farah memandangi Ilham, ia sangat bahagia bisa duduk bersama, berbincang bersama Ilham ditemani coklat hangat.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu, Aku merasa aneh jika dipandangi terus menerus,” ucap Ilham menyadari kalau Farah sedang memandanginya, bergeming sedikitpun.
“Tidak, aku hanya sedang merekam moment ini, agar aku dapat mengingat semuanya. Semua moment yang menyenangkan ini.”
“Oh ya aku mau meluruskan tentang cerita mbak Rahma Mas,” lanjut Farah.
Mendengar nama Rahma, raut wajah Ilham berubah menjadi raut kebencian. Ia tak suka jika Farah menyebut nama itu.
“Aku tahu Mas akan marah. Tapi Mas harus mendengarkan aku, sekali ini saja aku mohon.”
Ilham bergeming. Ia ingin mendengarkan Farah apapun yang dikatakannya.
“Sebenarnya mbak Rahma itu korban, dulu ia mantan kasir disebuah minimarket, lalu ia kehabisan uang gara-gara kehidupan hedon. Mbak Rahma butuh uang dan dia sebenarnya tahu jika dia dilecehkan. Setelah itu mbak Farah hanya mengingat ciri lelaki itu tanpa tahu namanya,” jelas Farah.
Ilham baru mendengar kebenaran ini dari mulut istrinya. Selama ini Ilham hanya mendengar desas-desus dari karyawan-karyawati kedainya. Mereka hanya bilang kalau Rahma adalah perempuan malam.
“Selain itu, mbak Rahma berasal dari panti asuhan yang sama dengan kak Akmal,” lanjut Farah.
Sejak saat ini Ilham mengerti mengapa Akmal memperbolehkan Rahma untuk bekeja di kedainya meski dalam kondisi hamil.
Ilham tersadar apa yang dilakukan Farah untuk Rahma adalah rasa kasihan karena Rahma tidak memiliki sanak saudara dan sekarang tengah hamil tua.
“Tolong sampaikan permintaan maaf padaku untuk Rahma.”
Farah mengangguk mengiyakan. Sekarang Farah sudah tidak akan berdebat lagi jika harus meminta izin karena mengantarkan Rahma untuk memeriksakan kandungannya.
__ADS_1