Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 8


__ADS_3

Malam itu Bunda datang ke kamar Farah. Membawa dua gelas yang berisi coklat hangat dan sepiring cookies coklat. Sepeti biasa Bunda mengelus pucak kepala Farah yang tertutup hijab. Tersenyum.


“Farah, Bunda ingin bicara penting dengan Farah,” ujar Bunda.


Farah mengernyitkan dahi. “Bunda mau bicara tentang apa?”


“Bagaimana jawaban Farah?” tanya Bunda.


“Jawaban atas pertanyaan apa Bunda?” balas Farah yang sebenarnya tak paham jawaban apa yang diminta oleh Bunda.


“Waktu itu, waktu Bunda bertamu di rumah Farah bersama Ilham. Masih ingat?”


Tentang perjodohan itu. Bunda menginginkan jawaban sekarang.


Sebetulnya Farah memikirkan ini sejak tinggal di rumah ini. Dulu ia pernah membentak mama soal perjodohan itu. Hal itu yang diminta mama dan papa sebelum mereka meninggal. Dan bunda, orang yang baik.


Apa harus aku menolak perjodohan ini?


Ia teringat pada berdebatan Balqis dan Jihan beberapa bulan lalu di perpustakaan sekolah. Balqis bilang bukankan ridho orang tua menuntun kearah yang lebih baik.


Jika Aku menerima perjodohan ini, aku mungkin bisa menerima Ilham, bahkan belajar untuk mencintai dia. Lalu apakah aia bisa menerimaku? Menerima segala kekuranganku. Apa mungkin dia bisa belajar untuk mencintaiku atau minimal menyukaiku?


Batin Farah bergejolak.


“Maaf Bunda, aku belum bisa menjawabnya sekarang. Aku perlu istikharah dulu.”


Akhirnya Bunda mengerti dan mau menunggu jawaban Farah lagi.


***


Ilham terhentak, nafasnya terengah – engah, melirik jam dinding yang ada di kamarnya. Pukul tiga pagi. Ia masih tak percaya, sudah tiga kali ini Ilham bangun dengan kondisi seperti ini. Dan sudah tiga kali pula ia memimpikan gadis itu.


Dalam mimpinya gadis itu memakai gaun pernikahan berwarna putih terkesan sederhana namun elegan. Mengenakan hijab namun tidak meninggalkan perintah syar’i. Di hijab gadis itu terpasang mahkota bunga yang indah. Gadis itu membawa seikat bunga mawar merah dengan tangan yang memakai henna membuat kesan indah dan cantik.

__ADS_1


Ilham memang melakukan istikharah karena diminta Bunda, tapi tak menyangka hanya gadis itu yang kerap singgah. Masih tak percaya. Lalu ia memutuskan untuk shalat tahajud, agar pikiranya tenang.


***


Karena posisi tidur kurang ke tengah, Farah akhirnya jatuh dari dipan kasur meluncur ke lantai. Ia terbangun.


"Astaghfirullah."


Mimpi apa Farah semalam. Ia melihat Ilham sedang menunggunya di dekat danau. Ilham terlihat mengenakan setelah jas berwarna putih, celana kain yang berwana putih juga. Kalau dipikir-pikir itu baju pengantin lelaki.


“Kenapa dia bisa mampir di bunga tidurku?” guman Farah.


Tak lama Farah merasakan bahwa dahinya sakit akibat jatuh tadi. Sedikit memar sepertinya. Saat itu Farah melirik jam yang bergantung di tembok kamarnya. Pukul empat pagi, sebentar lagi adzan subuh berkumandang. Farah bergegas membersihkan diri, berwudhu lalu shalat subuh.


***


Kembali kepada pagi yang selalu memberi energi yang baru. Pagi adalah satu malam yang terlewati. Terlihat banyak anak sekolah yang tengah bergegas menuju ke sekolah. Ada pegawai negeri, guru, pegawai kantoran, pedagang sayur-mayur dan semua profesi sibuk dengan urusannya masing-masing.


Pagi itu kesibukan juga terjadi pada toko kue bunda. Melayani pesanan-pesanan pelanggan. Pagi ini saja sudah banyak orang yang mengantri untuk membeli sepotong roti untuk bekal sarapan. Kesibukan ini memberikan sedikit ruang untuk Farah agar tidak memikirkan mimpinya tadi malam.


Tapi tetap saja Farah juga tidak mau ‘bersusah payah untuk peduli’. Lebih baik Farah membersihkan meja-meja saja.


***


“Ini bisa membuatku gila Bun. aku sudah mengikuti saran dari Bunda,” ujar Ilham sedikit kesal.


“Lalu jawabannya tetap dia kan?” tanya Bunda.


“Iya dia yang muncul lengkap dengan gaun pengantin, mahkota bunga yang melingkar di kepalanya, membawa seikat mawar merah darah dan tangannya memakai henna.”


“Berarti dia jodohmu,” kata Bunda tersenyum.


“Bukan!" jawab ketus Ilham.

__ADS_1


“Ilham harus berapa tahun lagi agar kamu mau menikah? Umurmu sudah matang dua puluh enam tahun.”


“Tapi aku belum siap Bun. aku bahkan tak mengenalnya.”


“Itu karena kamu tak mau berbincang-bincang dengannya walau sebentar. Tapi Bunda yakin kamu akan mengenalnya saat kalian sudah menikah nanti.”


“Aku nggak bisa melakukan hal ini Bun!” tegas Ilham.


“Mengapa? Kamu masih menunggu orang yang mungkin sekarang telah menjadi milik orang lain. Bahkan orang itupun sudah tak ada kabar di mana keberadaannya selama enam tahun ini,” ujar Bunda tak kalah tegas.


“Terserah Bunda!” Ilham mendengus kesal.


“Bunda mohon, kamu jangan pernah meninggalkan keputusan yang sudah pasti. Apalagi menukarnya dengan penantianmu yang sia-sia itu,” balas Bunda tenang.


“Di dunia ini tak ada yang diciptakan untuk menjadi sia-sia.” Setelah beradu dengan bundanya, Ilham berlalu pergi meninggalkan ruangan kantor bunda. Pergi dengan amarah, kekecewaan dan rasa kesal.


***


Farah melihat Ilham berlalu pergi dan sedikit membanting pintu ruangan bunda. Terlihat penuh amarah.


Farah yang tengah asik membersihkan meja, tiba – tiba diminta untuk menghadap bunda di ruangannya.


Farah tak mengerti. “Mengapa bunda memanggilku?” guman Farah


Setelah masuk ke ruangan bunda dan duduk di kursi menghadap bunda, saat itulah bunda mengeluarkan pertanyaan yang mengejutkan.


“Apakah akhir-akhir ini Farah bermimpi?” tanya Bunda dengan tatapan yang tak teralihkan.


Farah hanya mengangguk. Ia jujur tidak ada yang ditutup-tutupi.


“Farah bermimpi tentang apa?” tanya Bunda lagi.


Farah mengatakan dengan jujur. “Aku bermimpi melihat Ilham, eh .... maksud saya Mas Ilham lengkap dengan menggenakan baju pengantin pria berwarna putih.”

__ADS_1


Bunda tersenyum. “Kalian memang berjodoh.”


__ADS_2