Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 109


__ADS_3

Selamat berpetualang


_________________


Sang surya sudah turun dari singgasananya, waktunya telah habis untuk menampakkan dirinya. Senja yang telah hanyut berganti dengan langit yang kian lama mulai gelap dan menampakkan kemilau kerlap-kerlip yang bertaburan. Kinanti terbangun dari mimpi buruk, dua kali dalam kurun waktu dua minggu ia telah terperlakukan seperti ini dan terbangun dengan perasaan takut sekaligus kebingungan.


Ia bangkit dari ranjang yang telah bersedia menampung tubuhnya. Tetap sama seperti kemarin, ada secarik kertas kecil yang sengaja di letakkan padaa cermin yang terpasang di dinding. Dalam kertas itu tertulis bawah semua yang dilakukan oleh Nyonya Fernando adalah mutlak untuk pendampingnya dan tidak diperkenankan untuk membocorkan kejadian apapun kepada siapapun termasuk Tuan Yori. Benar secarik kertas ini berisi peringatan yang harus ia patuhi.


Kinanti melangkah gontai menuju kamar mandi bersama yang berada di ujung mess. Tempat yang sangat sepi. Ia masuk ke dalam dan segera mengguyurkan air ke tubuhnya. Sekarang raga dan pikiran terasa sangat tenang karena air menyapu bersih kotoran bahkan bisa merelaksasi apa yang dibutuhkan tubuh. Setelah dirasa bersih, Kinanti mengusaikan kegiatannya dan masuk ke kamar untuk beristirahat.


Di kasurnya yang empuk, ia mencoba untuk menenangkan diri menantap langit kamar yang remang. Ia sengaja untuk tidak menyalakan lampu yang begitu terang. Kinan hanya ingin memeluk gelap yang senatiasa hadir walaupun ia telah berlari sejauh mungkin. Lelah juga mengiringi setiap langkah anak manusia di muka bumi ini.


“Bolehkah aku pergi dari tempat ini?”


Hal itu yang selalu ditanyakan oleh Kinanti sebelum tidurnya. Ia ingin sesegera mungkin melunasi semua utangnya pada Naresh kemudian pergi dari kota ini. Kinanti sudah tidak betah dengan semua yang dilakukan Nyonya Fernando kepada dirinya. Memang tidak ada kekerasan secara fisik yang nampak, tapi Kinanti merasa perasaannya yang disiksa. Kinanti selalu memastikan hari penyiksaan itu, Nyonya Fernando selalu melakukannya ketika Naresh ditugaskan ke luar kota. Ditambah para maid yang tidak pernah mengadukan hal ini kepada tuan besar ataupun Naresh.


“Semoga aku kuat menjalani kehidupan ini.” Kinanti hanya bisa berdoa. Sekarang ia mencoba untuk memejamkan matanya berusaha mengusir rasa lelahnya dengan tidur. Gelap, semua fungsi tubuhnya melemah. Detak jantunya berdetak perlahan, sistem pernapasannya juga mengalami penurunan frekuensi. Sempurna, Kinanti telah terlelap dalam dunia mimpinya.


Malam semakin larut, sudah tidak ada kegiatan yang dilakukan di rumah besar itu. Para maid telah beristirahat, kecuali para penjaga yang harus bekerja 24 jam untuk menjaga keamanan kediaman Fernando. Di semak-semak yang tumbuh tinggi, terlihat ada bayangan sesosok manusia yang berusaha menyelinap. Dia berpakaian serba hitam dan lihai sekali saat berjalam mengendap-endap. Dia memiliki tujuan untuk ke mess khusus maid perempuan.


Dengan penerangan yang tersorot lansung dari sinar rembulan, ia melancarkan aksinya. Saat ia tiba di salah satu jendela kamar maid perempuan. Tanpa basa-basi, ia mengerahkan kekuatannya untuk memcongkel jendela itu. Beberapa detik kemudian, ia bisa membuka jendela itu dan masuk ke dalam kamar dengan sangat hati-hati tanpa menimbulkan bunyi yang akan mengundang perhatian apalagi membangunkan sang pemilik kamar.


Seperti dugaannya, pemilik kamar ini sudah tidur pulas. Seorang gadis yang tidur meringkung di ranjangnya. Ia melihat wajah gadis itu dan mengelus puncak kepalanya dengan lembut agar tidak membuat pergerakan yang bisa membangunkannya.


“Sepertinya tak cukup waktu untuk bersua denganmu. Maaf aku baru mengunjungimu setelah empat hari ini, Kinanti,” ucap pria itu.


Gadis itu hanya diam, ia tidak mendengar suara seorang pria yang kini jarak mereka sangat dekat sekali. Pria itu membentangkan selimut yang semula terlipat dibagian pojok kasur dan menyelimutkannya ke tubuh gadis mungil itu. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang, pria itu tidak bisa bertindak lebih jauh lagi walaupun dasar kejantanannya meronta untuk memangsa apa yang tersaji di hadapanya. Namun dia dididik untuk menjadi manusia yang bermartabat bukan seperti hewan, ia urungkan niatnya itu.


“Selamat tidur Kinan.”


Pria itu kembali mengelus puncak kepala Kinanti sebelum meninggalkan kamar ini. Jika ia menginap di kamar ini, akan banyak masalah bagi gadis itu. Sekarang ia hanya bisa mendekapnya dari kejahuan dan berharap hari baik selalu mengikuti perempuan itu.

__ADS_1


***


Di Kota Milepolis ....


Ilham sudah mematangkan rencana yang ia buat tadi malam. Jiwa lamanya kembali, ia tidak merindukan Anneline hanya ia butuh penjelasan. Tentu rencana ini tidak diketahui oleh istrinya. Ilham akan kembali menemukan Anneline, ini sejalan dengan ajakan Frans untuk membuka cabang suplay biji kopi di Kota Zen. Hal bisa menjadi kesempatan yang bisa ia manfaatkan sebaik mungkin.


Ia sudah mengantongi izin dari Farah, tentu jika masalah pekerjaan dia tidak pernah rewel untuk mengizinkan suaminya pergi dengan catatan kemana perginya harus jelas dan selalu memberi kabar tidak seperti dulu.


Pagi itu Farah merasakan ada yang berbeda dengan tubuhnya, setelah membantu merapikan baju untuk suaminya dan menyiapkan sarapan, ia merasa pandangannya sedikit kabur. Ia membawa secangkir kopi untuk Ilham. Belum sampai ia meletakkannya, Farah menjatuhkan cangkir yang berisi kopi dan tubuhnya pun ikut jatuh tersungkur.


“Farah!” Ilham terkejut dengan suara pecahan benda yang terbuar dari keramik dan istrinya juga jatuh tergeletak di lantai.


Tanpa pikir panjang, Ilham mengendong Farah dan memanggil Bu Tin untuk ikut menuju klinik kesehatan terdekat. Ia memacu mobilnya jauh lebih cepat, kecemasannya melebihi apapun. Tak berapa lama mobil Ilham sampai di depan pelataran klinik kesehatan. Ia turun dari mobil dan menggendong tubuh Farah, Bu Tin juga ikut membantu. Sekarang Farah diperiksa oleh dokter perempuan. Hanya Ilham yang berharap cemas, ia takut akan terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.


“Nyonya Farah tampaknya mengalami kelelahan berat, belum lagi riwayat anemia yang pernah ia derita,” ucap dokter setelah selesai memeriksa tanda-tanda vital Farah.


Mendengar diagnosis dari dokter itu, Ilham baru mengingat sesuatu. Dalam seminggu terakhir ini Farah sibuk dengan pesanan-pesanan paper craft. Ilham juga sedang sibuk dengan kedai yang berada di Kota Numa jadi pulang pun selalu larut malam.


“Sepertinya Nyonya Farah tidak menunjukkan gejala kehamilan.” Dokter itu tersenyum.


***


Farah sudah sadar dan beristirahat di kamarnya sendiri, keadaannya sangat lemah dan pucat. Ia sudah makan dan minum obat. Ilham merasa ragu jika harus meninggalkannya ke Kota Zen. Ia juga merasa bersalah ketika tadi pagi menyuruh untuk merapikan baju yang dibawa ke kota metroplitan itu.


Ilham yang duduk di pinggir ranjang merasakan ada tangan yang menyentuh lembut tangannya. Perempuan yang sudah bersamanya selama hampir enam bulan itu tersenyum di tengah pucat pasi wajah ayunya. Matanya seperti kehilangan binar yang indah.


“Bukankah Mas Ilham akan berangkat, kenapa masih di sini?” Farah bersuara sangat lirih.


“Kamu sakit Sayang, tidak mungkin Mas tega meninggalkan kamu walaupun ada Bu Tin,” Ilham menggenggam tangan Farah.


Farah tersenyum, ia menarik tangan kanan Ilham dan menempelkan pada pipinya yang hangat karena sedikit deman. Ia merasakan ada kenyaman pada telapak tangan suaminya, begitu tenang dan damai

__ADS_1


.


“Mas Ilham, apakah jika aku sakit mas akan setia menungguku?” Farah masih menggerakan tangan kanan Ilham, ia ingin bermanja dengan suaminya.


Pertanyaan yang keluar dari mulut Farah seakan mempertanyakan kesetiaan Ilham. Ia begitu mahir untuk menutup dengan rapi semua kebohongan, namun ia tidak bisa menutup rasa hati yang telah tertaut. Dalam pertanyaan itu, Ilham tidak memjawab. Ia hanya mengangguk.


“Benarkah? Berarti aku termasuk wanita yang beruntung. Hanya Mas llham keluarga yang aku punya sampai akhir nanti.” Farah tersenyum dengan bibir yang sangat pucat dan kering pecah-pecah.


Ucapan Farah membuat hatinya ngilu, bagaimana ia bisa berpikiran untuk meninggalkan perempuan yang sudah menjadi pilihannya. Ia langsung memeluk tubuh istrinya dan sedikit menangis karena haru mendengar penuturan Farah.


“Mas Ilham kenapa menangis?” Farah juga membalas dengan pelukan yang erat.


Ilham masih memeluknya seakan-akan tidak ingin kehilangan sosok perempuan yang telah menetap di hatinya. Perempuan yang dengan tulus mencintai apa adanya, yang sabar di kala hal yang ingin merenggut kebahagiaanya.


“Mas Ilham tidak berangkat ke Kota Zen? Bukankah ini sudah terlambat?” Farah bertanya lagi dalam dekapan tubuh Ilham.


Ilham menggeleng.


Aku tidak kuasa untuk menggantikanmu dengan sesosok masa lalu yang aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.


________


Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author😁🙏


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.🤗


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀

__ADS_1


__ADS_2