
Episode 188: Datanglah ke Penginapanku
Anneline melihat Ilham yang sudah menjauh beberapa langkah dari tempatnya. Penantian dan usahanya untuk sampai di kota ini hanya dibalas dengan kehampaan tanpa berarti.
“Aku tak ingin sebatas teman! Aku sudah menemui istrimu, namanya Farah, kan!”
Ilham mendengar teriakan Anneline. Demi mendengar ucapannya ia berbalik. Bagaimana bisa dia sudah tahu nama istriku?
“Kamu sudah bertemu dengan istriku?” Mata Ilham terbelalak. Rasa ketakutannya saat ini sedang memuncak. Ia tak ingin Anneline memberitahu tentang masa lalunya dan hubungan semasa sekolah.
“Iya, dia memakai gamis dengan motif bunga dengan warna merah jambu. Aku mengenalnya,” jawab Anneline dengan nada yang dingin.
Ilham menarik napas dalam-dalam, berusaha setenang mungkin. “Syukurlah. Tolong jangan beritahu dia tentang apapun yang pernah kita lakukan, Ann.”
Kau munafik, Ilham!
“Untuk apa? Bukankah kalian menikah karena perjodohan? Aku yakin kau mencintai wanita itu hanya untuk rasa tanggung jawabmu!” Anneline masih berusaha memancing sisi sensifitas Ilham. Ia yakin bahwa pria itu tidak mungkin mencintai Farah seutuhnya.
Ilham terdiam, perutnya sedikit mual karena harus menyimpan kepahitan yang selama ini ia rasakan. Anneline berkata benar tentang isi hatinya. Farah sekarang memang jadi istri dan ia harus bertanggung jawab sesuai perannya sebagai suami.
“Kamu salah! Farah sudah bersamaku selama setahun ini! Farah adalah istriku.” Ilham tetap berdalih.
Ucapan Farah adalah istriku begitu menusuk sanubari Anneline. Ia tahu Ilham hanya membual karena keteguhannya mulai goyah. “Kau munafik, Ilham! Akan memberitahu istrimu tentang hubungan yang pernah kita jalani.”
Anneline dengan penuh amarah akhirnya pergi dari pandangan Ilham. Ia ingin memberitahukan semua ini kepada Farah, tentang apa yang selama ini suaminya sembunyikan. Ia sudah tak tahan lagi, mungkin cara ini yang membuat rumah tangga mereka hancur dengan memberikan sedikit rahasia kelam.
Ilham yang mengetahui Anneline akan pergi lanngsung mencegahnya. Ia menarik tangan perempuan itu. “Jangan pernah ganggu dia! Tolong jangan hancurkan rumah tanggaku, Ann!” Ilham memperingati.
Anneline melepas cengkeraman tangan Ilham. Ia menyapukan tangan seperti membersihkan debu yang berada dari tangan pria itu. “Pantaskan seorang suami menyimpan rahasia kelam dari istrinya? Dengar ya, Tuan. Farah itu begitu polos sampai-sampai dia tak tahu bahwa suaminya pernah mengejar perempuan yang ia cintai selama lima hari di kota Zen. Oh! Dia tidak polos, tapi sedang dibodohi oleh suaminya.” Anneline tertawa lepas setelah mengucapkan kata yang menusuk itu. Ia tak peduli bahwa yang mendengarkanya bisa sakit hati.
“Ann! Kamu ....”
__ADS_1
“Apa!” Anneline menatap galak. “Benarkan? Apa kau pantas menyebut hubunganmu dengan Farah sebagai rumah tangga? Munafik dan penuh kedustaan, itulah dirimu! Aku tak sabar bagaimana Farah yang ketika mengetahui hal ini. Suami yang selalu ia taati, suami yang selalu ia cintai ternyata memiliki rahasian yang sangat menciderai hatinya. Hahahaha! Aku sangat menanti kejadian itu.”
Tanpa banyak bicara Ilham langsung menarik tangan Anneline untuk berjalan menuju mobil miliknya yang parkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia tak mau pertengkaran semacam ini memicu perhatian orang yang lalu lalang.
“Kau ingin membawaku kemana!” protes Anneline.
Ilham tak menjawab. Ia sedikit mengasari Anneline dengan menyeretnya agar lebih cepat berjalan. Sesampainya di mobil, ia membukakan pintu dan menyuruh Anneline untuk masuk ke dalamnya.
Anneline hanya menurut. Rasa kesal bercampur marah masih membara di hatinya. Ia menyilangkan tangannya di depan dada. “Untuk apa membawaku kemari!” tanyanya ketus.
Ilham menutup pintu mobilnya. Ini adalah tempat yang paling aman agar tidak menimbulkan kehebohan.
“Sebenarnya apa maumu, Ann? Kenapa kamu bertindak seenaknya seperti ini! Jangan pernah mengatakan apapun kepada istriku,” ucap Ilham bernada ancaman. Ia menarik napas daam-dalam agar tidak terlalu meledak.
Tebakan Anneline benar. Ilham terlalu takut akan rahasia yang terbongkar. “Aku ingin kita bertemu malam ini di penginapanku. Jika tidak ....”
“Apa kamu gila! Aku pria yang sudah beristri! Tak mungkin aku datang ke penginapanmu sendirian!” Ilham memotong ucapan Anneline sebelum sempat menuntaskannya.
“Aku tak mau!” Ilham mengerang.
“Terserah, aku pastikan istrimu tidak bisa tidur dengan nyenyak ataupun nyaman dengan pria yang tinggal satu atap dengannya. Sebentar lagi rumah tanggamu akan dipenuhi dengan kecurigaan, Sayang.” Anneline menyentuh rahang Ilham. Ia bersiap-siap ingin mengecup lelaki itu.
Ilham sigap mendorongnya untuk menjauh, ia tak sudi melakukan hal semacam ini dengan perempuan lain kecuali dengan istrinya. “Jangan macam-macam kamu!”
“Kau sangat jual mahal, Sayang! Persis seperti awal pertemuan kita.” Anneline tersenyum. Ia berhasil membuat Ilham dalam keadaan terhimpit.
Dering ponsel Ilham mengambil alih suasana. Ilham buru-buru mengambilnya dari saku celana, lalu membaca layar yang ditampilkan itu. Sebuah panggilan masuk dari istrinya. Ia cukup lama untuk memutuskan apakah ia harus menjawab panggilan itu atau tidak. Jika ia menjawab, ia takut suara Anneline bisa memicu kecurigaannya. Jika tidak dijawab, ia yakin Farah akan berlipat-lipat kali mencemaskannya.
Anneline mengetahui panggilan telepon itu berasal dari Farah. Ia yakin ekspresi Ilham sedang bingung antara menjawabnya atau tidak. “Jawab saja panggilan itu. Aku akan diam.” Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Ilham menatap lekat perempuan masa lalunya yang kini memiliki kepribadian 180 derajat berbeda dengan enam tahun lalu. Ia menjawab panggiln masuk itu. “Wa’alaikumsalam. Ada apa?”
__ADS_1
“Mas dari tadi kemana? Kok belum ke stand-ku? Tadi aku sempat bertemu dengan Kak Frans di tempat perkumpulan panitia. Katanya, Mas sudah pergi untuk menemuiku. Sekarang Mas ada di mana?”
Ilham lupa tujuan awalnya adalah menemui Farah, tapi semua itu musnah karena Anneline lebih dulu menghambat jalannya. “Aku sedang ada di parkiran. Ada apa? Apa ada masalah?” Sesekali mata Ilham mencuri pandang dengan perempuan yang duduk di sebelahnya. Ia juga mengawasi sekitar takut Farah sudah mendekat. Ia tak ingin dipergoki membawa perempuan lain masuk ke dalam mobilnya.
“Tadi aku kena musibah, Mas. Nanti aku ceritakan. Sekarang aku ingin pulang untuk mengganti gamisku.”
“Aku jemput kamu ya, kamu masih di tempat perkumpulan panitia, kan?” Ilham makin was-was. Ia harus segera mungkin menyelesaikan masalah ini, atau jika tidak semuanya akan runyam.
“Tidak perlu, Mas. Aku yang akan ke parkiran saja. Mas tunggu di sana ya.”
“Biar aku ....”
Sambungan telepon terputus. Sekarang Ilham berada diposisi yang sulit. Ia harus mengeluarkan Anneline dari mobilnya sebelum Farah datang.
“Wah, wah, wah! Bagaimana jadinya jika Farah tahu di dalam mobil ini suaminya sedang berduaan dengan perempuan lain.” Anneline tersenyum. Ia harus memanfaatkan situasi ini.
“Kumohon sekarang pergi dari sini. Aku tak mau Farah berprasangka buruk ketika melihat ini semua. Tolong jangan rusak rumah tanggaku.” Suara Ilham mulai melemah. Ia meminta dengan sepenuh hati kepada Anneline.
“Boleh, tapi ada syaratnya.” Anneline terkekeh penuh kebahagiaan. “Kiss me.” Itu permintannya.
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
__ADS_1