
Ray sudah bangun pada pukul dua pagi, ia memang menyiapkan hal ini untuk membuat sarapan. Ray turun dari kamarnya yang berada di lantai dua.
Para pelayan kaget dengan keberadaan Ray yang sudah bangun. Mereka tergopoh-gopoh segara mendekat untuk melayani keperluan Ray.
“Maaf Tuan Muda, ada apa? Mengapa Tuan sudah bangun?” tanya Pak Sudiro yang melihat Ray turun dari kamarnya.
“Saya ingin ke dapur, tolong kumpulkan semua juru masak,” pinta Ray.
“Baik Tuan!” seru Pak Sudiro yang heran dengan permintaan tuannya.
Semua juru masak telah berkumpul di dapur. Mereka berjumlah tujuh orang. Mereka juga bingung mengapa jam seperti ini Tuan Ray meminta untuk berkumpul.
“Apa Tuan Ray kedatangan tamu khusus sehingga kita dikumpulkan disini?” tanya salah satu juru masak
“Atau jangan-jangan Tuan Ray akan memecat kita?” sahut juru masak lainnya.
Juru masak yang tadinya berisik menjadi diam seketika saat melihat Ray diikuti pelayan setianya Pak Sudiro masuk ke dapur. Semua juru masak memberikan salam dengan membungkukkan badannya.
“Aku mengumpulkan kalian semua di sini karena aku ingin kalian mengajariku untuk memasak,” ucap Ray.
Situasi tegang yang dirasakan para juru masak seketika mencair karena mendengar permintaan dari Ray.
“Apa?!” Pak Sudiro tersetak kaget. “Apa saya tidak salah dengar? Tuan Muda ingin memasak? Bukankah Tuan Muda bisa meminta juru masak untuk memasak makanan yang Tuan Muda inginkan tanpa harus Tuan turun tangan?” lanjut Pak Sudiro.
“Kali ini aku ingin belajar memasak,” tegas Ray.
Untuk pertama kalinya Ray memegang pisau dan alat masak lainnya. Kali ini ia akan membuat steak. Ray mencoba mengiris bawang bombay. Para juru masak sedikit canggung ketika Ray berada di dapur.
“Aaakhh ...!” jari telunjuk Ray terluka saat mengiris bawang bombay, darah mengalir.
Dengan sigap Pak Sudiro langsung menyuruh pelayan untuk memanggilkan dokter. Namun langsung dicegah oleh Ray.
__ADS_1
“Tidak perlu berlebihan, ini hanya luka kecil. Tidak perlu sampai memanggil dokter!” tegas Ray, “Bawakan aku plester itu,” pinta Ray.
Salah satu pelayan membawakan kotak P3K dan mengambil plester untuk Ray.
Ray tetap melanjutkan kegiatannya. Ia membuat steak, dan ia bersikeras untuk memasaknya sendiri, para juru masaknya hanya boleh menginstruksikan langkah-langkah memasaknya.
Ray telah menyelesaikan masakannya. Ia memanggil Pak Sudiro untuk menyicipinya.
“Pak Sudiro tolong cicipi masakan saya, dan beri penilaian yang jujur,” pinta Ray.
Pak Sudiro pun mencicipi masakan dari tuan mudanya.
Astaga! Ini rasanya sangat hambar. Ini lebih cocok untuk makanan kucing!
Ray melihat raut wajah Pak Sudiro setelah merasakan masakannya, “Ada apa?! apakah masakanku tidak enak?” tanya Ray.
Ini bukan hanya tidak enak, melainkan tidak layak untuk dimakan!
Ray merasa Pak Sudiro telah berbohong. Kemudian ia mencicipi masakannya sendiri. Sangat jauh dari kata lezat.
Akhirnya Ray meminta untuk mengganti bahan masakan yang lebih mudah. Ia ingin memasak nasi goreng. Ia tetap sama bersikeras untuk dibantu. Ray ingin memasaknya sendiri. Namun hasil tetap sama, nasi gorenganya tidak sama seperti ekspetasinya. Masakan ini lebih parah dari sebelumnya.
Ray merasa sebal, ia meminta untuk mengganti bahan masakannya lagi. Ia ingin membuat omlet. Benar, sekali lagi Ray memasak dan hasil masakannya tetap sama dengan rasa yang jauh dari kata enak.
Ray merasa kesal karena gagal membuat satu masakan untuk Farah. Ia membanting semua alat masakan yang berada di sekitarnya. Ia merasa tak mampu untuk membuat sesuatu yang sederhana yang indah.
Tiba-tiba salah seorang juru masak membawakan bahan makanan lainya yaitu roti tawar tanpa kulit, selai coklat dan keju. Juru masak yang satu ini tidak takut akan kemarahan Ray. Juru masak itu memasak di dekat Ray. Ia sangat tidak terganggu dengan tatapan tajam dari Ray. Si juru masak itu tetap menyelesaikan masakannya.
“Maaf Tuan Ray, saya lancang untuk memasak tanpa izin dari tuan,” ucap juru masak itu sambil menyodorkan sepiring roti panggang isi coklat dan keju yang lumer.
Ray masih terdiam mencoba memahami apa yang di lakukan oleh si juru masak itu.
__ADS_1
“Saya yakin Tuan Ray ingin memasak untuk gadis yang Tuan sukai. Saya yakin sekali. Saya sarankan Tuan memasak roti seperti ini, saya percaya bahwa gadis itu tidak seperti gadis pada umumnya, mungkin peragainya sederhana. Dan roti isi coklat ini cocok untuk dia,” ucap si juru masak itu.
Tiba -tiba air muka Ray memerah karena semua ucapan juru masak itu benar, ia sedang belajar memasak untuk seseorang yang ia sukai.
“Berani sekali kamu berbicara seperti itu di hadapan Tuan Muda! Keluarkan dia dan sekaligus pecat dia sekarang juga!” seru Pak Sudiro.
“Tunggu!” Ray angkat bicara. “Dia tidak perlu dipecat dari pekerjaannya. Beri dia bonus,” lanjut Ray.
“Terima kasih atas kemurahan hati Tuan,” Si juru masak membungkukkan badannya berkali-kali tanda berterima kasih.
“Tolong ajari saya untuk membuat roti seperti ini,” pinta Ray.
***
Farah terbangun dengan mata sembabnya, semalam ia menangis. Farah menatap layar ponselnya. Masih sama tidak ada kabar dari Ilham. Ia merasa sunyi mencekam hatinya. Ia bersiap untuk berangkat ke kedai.
Walaupun sudah mandi dan berpakaian yang baik, tetap saja wajah Farah terlihat kacau. Ia mencoba menghubungi Ilham, tetap sama tidak ada jawaban. Akhirnya Farah melangkahkan kaki menuju halte dekat gapura perumahannya.
Bagaimana bisa memikirkan seseorang bisa membuat sakit seluruh raga ini?
***
Ray telah selesai membuat roti isi coklat dan roti isi keju. Ia bersiap untuk membersihkan diri agar terlihat segar saat melihat Farah. Ray sudah mengatur siasat untuk pertemuan kali ini.
Hari ini Ray tidak akan memaksa Farah namun ia akan minta persahabatan agar Ray bisa masuk ke dunia Farah secara perlahan. Mengingat beberapa waktu ini Farah sering mengabaikan Ray karena ia ingin langsung memiliki hati Farah tanpa harus bersusah payah.
Untuk hari ini Ray sudah menyiapkan siasat yang mungkin akan berhasil. Ia akan membuat Farah terbiasa dengan kehadiaran Ray yang baik bukan Ray yang suka tergoda banyak wanita dan kejam.
Ray akan langsung berangkat menuju halte dekat perumahan Farah. Ia diantar oleh sopir. Hari ini Ray memiliki agenda untuk meeting dengan salah satu perusahaan untuk bekerja sama. Ia tidak ingin terlambat menuju kantornya, maka dari itu setelah mengantar Farah, ia lansung menuju kantornya.
Ray tiba di halte dekat perumahan Farah. Ia beberapa kali mengecek arloji memastikan waktu. Ia menunggu di halte dengan membawa sekotak tempat makan yang berisi roti yang ia buat sediri dan dua cup yang berisi susu segar. Ray tak sabar ingin melihat Farah memakan roti buatannya
__ADS_1