Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 138


__ADS_3

Mohon maaf cerita ini sedikit mengandung unsur dewasa. Author sarankan pembaca sudah berusia 18 tahun ke atas. Semoga pembaca bijak dalam menyikapinya.


Selamat berimajinasi


_________


Di kamar yang berlantai pualam putih berurat coklat adalah ruang paling nyaman milik Tuan Fernando. Ruangan yang sangat tenang, cocok untuk waktu membaca buku sebelum tidur. Jangan tanyakan apakah di ruangan itu dia kesepian? Tuan Fernando selalu tidur sendiri walaupun sudah menikah selama enam tahun ini.


Fernando pria yang sudah beristri tapi merasa tidak memiliki istri. Baginya Anneline hanya sebuah boneka yang sangat tidak mau disentuh. Terlalu berharga untuknya, hingga tak ingin dilepaskan begitu saja walaupun kesalahannya sudah melebihi batas kewajaran.


Malam ini, ia ingin habiskan dalam kenyamanan sebelum lepas landas untuk hari esok yang menjanjikan. Ia sangat berharap agar kaki bioniknya cocok untuk dirinya dan dia tidak akan duduk terus-menerus di kursi roda. Fernando sangat memimpikan dalam pesta ia berdansa dengan istri tercintanya.


Suara ketukan pintu mengaburkan kesunyian dan . Fernando merasa sedikit terkejut ada maid yang mengetuk pintu kamarnya. “Masuk!”


Seseorang masuk dengan suara sepatu dan aroma yang khas wewangian floral.


Siapa dia?


“Maaf, jika aku mengganggu malammu,” ucap wanita yang baru saja menawan hati Ferando, hingga sepasang bola matanya menerkam semua lekukan tubuh yang indah itu.


Anneline? Mengapa dia datang kemari?


“Honey, apakah aku menganggumu? Aku ingin malam ini kita bicara lebih lama dari biasanya.” Anneline tersenyum. Malam ini Anneline memakai memakai jubah beludru biru tua panjang sampai jenjang kakinya.Terlihat sangat cantik.


Fernando menutup buku santapan malamnya. Ada yang lebih menarik perhatian dibanding bacaan itu. “Ada apa, Honey?” Ia memperbaiki posisi duduknya.


“Aku ingin menemanimu, boleh kan?” Anneline mendekati Fernando. Ia merangkak dengan manjanya di ranjang. Gerakan tubuhnya membuat jubah yang ia kenakan sedikit membuka dibagian pundak kanan.


“Tumben sekali? Aku jadi curiga jika kedekatanmu ini ada maksud tertentu.” Fernando memicingkan matanya. Seharian ini istrinya selalu tampak manja.


Anneline menggeleng, ia tersenyum dan jubah birunya sengaja ia lepaskan terhempas ke lantai. Tubuhnya hanya gaun putih yang sangat pendek dan tipis hingga banyak lekukan yang terekspos. Sangat menggiurkan.


Sebuah hasrat kejantanan sang tuan bangkit. Enam tahun menahan, apakah ini kebahagiaanya?


Anneline masih saja bermain, ia tak ragu untuk menyentuhkan tubuhnya sedikit mengesek ke kulit suaminya. “Aku hanya ingin bersamamu malam ini.”


Dengan ganas Anneline menyerang dalam permainan semesta ini. Feranando menerima kecupan yang datang bertubi membuat napasnya memburu tidak karuan. Anneline memegang kendali semua permainan ini. Peleburan putih menjadi satu merobek banyak hal yang terampas dari seorang wanita yang seharusnya diberikan.

__ADS_1


Semua harus ada dalam kendali Anneline, semua gerakan yang berlenggok dan memainkan peran utama serba bisa. Meliuk menghancurkan pertahanan, sesekali bibirnya berpacu dalam irama menyentak.


Dalam semua kendali, Annelin hanya memamerkan sandiwara kenikmatan untuk mengecoh. Semua harus ada dalam gengamannya tak peduli berapa banyak mani yang masuk. Malam ini penyatuan yang harusnya terjadi enam tahun lalu.


Yang Mulia, biarkan aku jadi pendosa yang menjilat ludahku sendiri! Kenikmatan ini bisa menikam seorang pria manapun. Ini kartu terakhirku agar bisa menukar dengan kebebasan yang sebenarnya.


“Akkkhhhh!” Anneline mengerang, ini batasnya untuk melakukan permainan ini. Semburat kenikmatan telah berhasil mencapai puncaknya.


Anneline kelelahan karena memang ia yang sangat aktif memainkan tarian. Ia tergeletak di samping Fernando yang raut wajahnya sangat puas untuk pelayanan malam ini. Sangat puas.


“Sepertinya kau sedang kelelahan, Honey.” Fernando merapikan rambut Anneline yang menutupi wajah manisnya. Dia sudah jatuh tertidur mengistirahtkan tubuhnya luar dalam. “Terima kasih untuk jamuannya malam ini.”


Irama tarian itu sudah selesai. Napas memburu berangsur normal di bawah kendali. Baik Fernando maupun Anneline tanpa busana tertidur dalam pelukan yang harusnya sudah hadir enam tahun yang lalu.


Aku mengingkan anak darimu Anneline. Agar kita bisa hidup lebih lama lagi ....


Aku mencintaimu dari dalam lubuh hatiku.


Hanya itu permintaan yang selalu digaungkan Fernando pada setiap malam tanpa henti. Doa dan harapan yang baik untuk dirinya yang tidak sempurna.


Semburat cahaya pagi masih malu-malu untuk menampakkan dirinya. Pukul tiga pagi, Anneline terbangun dalam dekapan suaminya. Tubuhnya terasa sakit karena permainan tadi malam terutama organ kewanitaannya yang masih berdenyut. Ia melihat Fernando yang tidak henti menatapnya.


“Apakah kau tidak tidur?” Anneline mengerjap, rasa kantuk masih menyelimuti dirinya terutama sepasang matanya yang masih berat untuk terbuka lebar.


“Tidak, aku malah tidak bisa tidur. Aku masih mengagumi kaya seni yang sangat inda dari Tuhan.” Fernando tersenyum.


“Sebaiknya kau tidur walaupun sebentar, Honey. Masih ada waktu sebelum keberangkatanmu.”


Fernando menyunggingkan lengkungan manisnya. “Kau yang memikatku malam itu, bagaimana aku harus menghindarinya?” Ia memeluk tubuh istrinya yang hanya berbalut selimut.


“Aku sangat berharga bagiku. Tak peduli bagaimana orang melihatmu, tetap saja kau yang sesuatu yang sangat indah untuk kumiliki.”


Andai saja yang mengatakan hal ini bukan kamu, Nando. Aku sangat berharap yang mengatakan hal ini adalah Ilham, Ilham!


Anneline merasa dekapan Fernando tanpa sandiwara. Ini bukti ketulusan seorang pria yang enam tahun tidak pernah menuntut apapun kecuali satu hal, sesuai perjanjian.


Ini saatnya ....

__ADS_1


“Jika aku wanita yang berharga, maka Kinanti jauh lebih berharga.” Anneline bermanja lagi. Ia harus menjalankan semua di bawah kendalinya.


Airmuka Fernado berubah, ia memang tidak suka jika Anneline merendahkan dirinya. Apalagi merasa iri dengan perempuan yang belum jelas statusnya di rumah ini.


“Mengapa kau selalu membandingkan dirimu dengan Kinanti? Asal kau tahu, Honey, Kinanti adalah gadis yang dibeli oleh Kakak. Sama sepertimu, hanya saja taktik Kak Naresh lebih mengutamankan pilihan. Lagipula sekarang kedudukanmu lebih tinggi daripada dia. Kinanti belum resmi menikahi Kak Naresh, dia masih bawahanmu jika kau ingin menyebutnya begitu.”


“Bukan karena status, Honey. Hanya ....” Anneline adalah pemeran sandiwara yang hebat. Wajahnya dapat meluluhkan pria manapun.


“Apa?! Kau punya segalanya, Honey.” Fernando memotong kalimat istrinya yang belum selesai. Ia masih bingung apa hebatnya calon istri kakaknya itu.


“Kinanti adalah perempuan yang merdeka. Dibebas kemanapun ingin pergi. Sedangkan aku ... hanya wanita yang hidup dalam sangkar seperti burung. Aku tidak pernah kemana pun kecuali pergi berbelanja, itu pun aku mendapat pengawasan yang super ketat. Aku hanya ingin bebas, aku ingin seperti Kinanti yang diperbolehkan untuk berpetualang.” Anneline menunduk sedih. Ini bagian dari sandiwaranya.


Fernando merasa bersalah, selama enam tahun ini ia memang melakukan serangkaian perjanjian agar istrinya hanya bisa di rumah. Semenjak Anneline membunuh empat orang sekaligus pada malam itu, kekhawatiran Fernando makin menjadi. Ia tak segan membayar orang untuk membersihkan semua di rumah itu agar istrinya tidak tertangkap. Ia melakukan hal ini semata-mata tak ingin ada rumor yang beredar jika Anneline adalah pembunuh.


“Maaf, maaf jika membuatmu menjadi tahanan di rumah sendiri. Aku hanya takut jika kamu diterpa rumor yang sangat berisik di telinga.” Fernando mengeratkan dekapannya. Hangat dan nyaman.


“Aku hanya ingin menjadi perempuan yang memiliki kebebasan seperti dulu. Hanya itu.” Anneline menangis. Baginya, selama ia masih bisa mengusahakan apapun untuk mencapai tujuannya, akan ia lakukan.


Ruangan itu hening, dekapan Feranando beraroma tulus. Ia hanya seorang suami yang melindungi istrinya. Hatinya melunak, enam tahun penantian terbayar tuntas di malam ini. Ia tak sadar jika sudah masuk dalam perangkap. Apapun harus berada di bawah kendali Anneline.


“Apakah kau akan membunuh lagi jika dibebaskan? Mengingat beberapa tempo yang lalu kau hampir saja membunuh Kinanti.”


“Aku sudah bertobat tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang aku bersahabat baik dengan Kinanti. Bukankah sebentar lagi dia akan menjadi bagian dari keluarga ini?”


__________


Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author


Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀

__ADS_1


__ADS_2