
Ray terlanjur lupa, ia sudah bangun pagi sekali seperti yang ia lakukan beberapa hari ini. Ray bangun pagi karena ia memiliki pekerjaan yang sangat menyenangkan baginya, yaitu mengantarkan Farah untuk bekerja. Namun tepat hari ini, ia sudah tidak bisa lagi melakukan pekerjaan seperti biasanya. Sialnya tubuh ini sudah terprogram bahwa ia harus sudah bangun di waktu pagi dan tidak bisa untuk diajak tidur kembali.
Ada perasaan yang hilang, dan Ray merasakan itu. Ada rasa yang tak kunjung mati yang masih menggemakan suara tawa riang Farah berserta gambaran akan Farah. Ia belum sepenuhnya mengikat, tapi sudah merasakan patah hati.
Ray masih menyesali, mengapa pada hari itu Semesta dengan mudahnya mempertemukan dia dengan gadis itu. Hanya lewat pandangan, keinginan Ray untuk jatuh hati pun seakaan-akan berteriak bahwa gadis itu adalah takdirnya. Sekali lagi ia salah besar menganggap hal itu sedemikian rupa.
Ray menatap lurus ke depan. Ia tersenyum licik memandang langt-langit kamar. Ray memiliki apapun, ia bisa berbuat semaunya.
“Apa yang aku inginkan harus menjadi milikku.”
***
Farah tersenyum hangat seperti musim semi, ketika sakura bermekaran dengan warna eloknya. Ilham menyukai senyuman itu. Sudah beberapa kali ia terpukau dengan istrinya, namun kali ini ia harus patuh terhadap janjinya yang pernah ia buat waktu itu.
Jika aku gagal menemukannya lagi, kali ini aku harus menyerah, melupakan Ann dan menerima Farah seperti dia yang menerimaku!
Tepat hari ini, Ilham memutuskan untuk melupakan cinta pertamanya. Ia harus menerima Farah seperti dia menerima Ilham. Harusnya ia masih memiliki waktu dua hari lagi untuk mencari keberadaan Ann di Kota Zen. Namun kali ini, situasi yang amat tidak menyenangkan. Jika sore itu Ilham tidak kembali ke Kota Milepolis, kemungkinan terburuknya adalah ia tidak menemukan Anneline sekaligus ia kehilangan istrinya. Dan Ilham mengorbankan sisa dua hari pencariannya hanya untuk menyelamatkan Farah dari cengkeraman Ray.
Sekarang Ilham bisa melihat senyum kebahagiaan yang terpancar dari kekasih halalnya. Ia melihat Farah tertawa menceritakan hari milikknya saat Ilham tidak ada di rumah. Sesekali bahu Farah terguncang karena ia tertawa renyah. Itu yang membuat Ilham baru menyadari betapa beruntungnya ia mendapat perempuan seperti Farah. Perempuan yang sangat sederhana, yang tidak meminta hal-hal yang berlebihan. Tanpa sadar Ilham membentuk senyuman dengan mata yang memandang lekat wajah Farah.
Farah merasa salah tingkah, ketika mata Ilham memperhatikannya. Ia akhirnya membalut tubuhnya kembali dengan selimut yang sebelumnya hanya menutupi bagian kakinya saja.
“Mas, aku mandi dulu ya,” ucap Farah yang membuyarkan kegiatan Ilham yang memandangi wajah manis istrinya.
“I-iya.” Ilham sedikit gelagapan.
__ADS_1
Farah bangkit dengan membawa selimut yang ia balutkan untuk menutupi tubuhnya. Ia merasakan kakinya yang sedikit terasa nyeri karena pelarian semalam. Farah juga mengambil tasnya yang berada di sudut kamar Ilham.
“Eh?! Mengapa kamu membawa selimut itu?” tanya Ilham yang heran mengapa istrinya masih malu menampakkan lekuk tubuhnya.
“Akan segera aku kembalikan Mas.” Farah sedikit mempercepat langkahnya.
Ilham tersenyum lebar melihat tingkah kekanak-kanakan istrinya. Ia sudah lama tidak tersenyum lepas seperti ini. Lima hari yang ia lalui hanya untuk mencari dan berharap pada mimpi yang semu. Tidak ada tawa dan canda saat itu.
Hari ini Ilham akan melihat situasi kedainya yang beberapa hari ia tinggalkan bersama Akmal. Mengingat semalam Akmal babak belur karena melawan Ray. Sebenarnya Akmal bukan lawan yang tepat, karena Ray memiliki ilmu bela diri yang tinggi. Ia juga menguasai beberapa senjata, seperti pedang dan pistol.
Ilham memutuskan untuk membasuh dirinya, ia akan bersiap menuju kedai. Tidak akan lama, ia tidak ingin meninggalkan Farah sendirian di rumah. Itu akan sangat berbahaya.
***
“Kirimkan undangan ini untuk pemilik cafe yang berada persis di depan perguruan tinggi.” Ray memerintahkan salah satu pelayannya.
Ray memandangi punggung pelayannya yang sudah menghilang di balik pintu. Ia tersenyum puas.
“Lihat siapa yang akan menang. Kali ini aku tidak akan kalah darimu.” Ray tertawa licik. Ia sangat menunggu waktu ini.
Sepanjang hari Ray berusaha keras, berlatih untuk menunggu saat yang tepat membalaskan dendam yang sudah mendarah daging.
“Kau memang sahabatku, tetapi kau juga musuhku.”
***
__ADS_1
Farah telah selesai membersihkan dirinya, ia memaksa untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Ilham yang keluar dari kamarnya dengan keadaan yang rapi, melihat Farah mengerjakan pekerjaan yang biasa Bu Tin lakukan. Ia teringat, bahwa Bu Tin sedang meminta izin libur selama tiga minggu.
Ilham meraih sapu yang semula dipakai Farah. “Istirahat saja.”
“Aku ingin membersihkan rumah Mas,” ucap Farah.
Ilham menggeleng, ia meletakkan sapu dan menarik Farah agar cepat duduk di kursi. Ia mendekatkan wajahnya.
“Kamu masih sakit, tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah. Biar aku pesan jasa cleaning service.” Ilham mengambil ponsel dari saku celananya, ia memesan jasa cleaning service lewat aplikasi yang berada di ponsel pintarnya. Tidak sampai lima menit, permintaan Ilham diterima. Tinggal menunggu orangnya kemari.
Ilham menjulurkan tangan, menjangkau pipi milik Farah. Ia kembali mendekatkan wajahnya. Tersenyum. Seketika airmuka Farah memerah mendapat perlakukan yang hangat dari Ilham. Perasaan Farah sudah tidak karuan. Menggebu-gebu, perasaan senang bercampur detak jantung iramanya sudah tidak menentu.
“Untuk bidadariku, kamu beristrirahat saja.” Ilham mencubit pelan pipi kiri Farah.
Mas Ilham bisa sehangat ini.
“Hari ini aku harus ke kedai untuk melihat keadaan kedai dan juga Akmal.” Ilham melanjukan kalimatnya. Ia membelai lebut puncak kepala Farah yang tertutup hijab.
Farah tidak bersuara, ia masih kaku mendapat perlakukan yang menyenangkan dari Ilham. Akhirnya Ilham melepaskan jangkauannya. Ia sudah berjalan menuju ambang pintu. Farah mengikuti suaminya.
“Ini.” Ilham menyodorkan tanganya ke arah Farah.
Seperkian detik, Farah lupa bahwa ia harus mencium punggung suaminya. Ia buru-buru melakukannya.
Ilham hanya tersenyum melihat kepolosan istrinya.
__ADS_1
Dia benar-benar menggemaskan.
Ilham berlalu pergi menuju kedai, Farah menyambut kepergian suaminya. Hari ini mentari bersinar di hatinya yang pernah merasakan dingin dan kesepian. Sejenak ia bisa melupakan kejadian semalam yang membuatnya ketakutan setengah mati.