Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 46


__ADS_3

“Mengapa kamu mengikutiku? Bukankah kamu bisa menunggu di halte depan itu?” tanya Farah yang sedikit kesal karena Ray mengikutinya.


“Aku hanya menjalankan pekerjaanku, yaitu memastikan kamu aman sampai di rumah,” jawab Ray tersenyum.


Farah kembali berjalan. Ia sudah lelah harus mengusir Ray setiap waktu, namun Ray tetap mengikutinya, bahkan Ray rela menunggu ketika Farah berangkat dan menunggu ketika Farah pulang. Dan itu sudah di lakukan beberapa hari ini.


Awalnya Farah merasa takut jika bertemu dengan Ray, namun untuk kali ini Farah merasa sepertinya Ray sekarang bukan Ray yang dulu. Ray yang dulunya suka menukar apapun dengan uang, sekarang berubah menjadi Ray yang sedikit lebih sederhana.


Farah membiarkan Ray mengikutinya. Ia berjalan sangat cepat, ia merasa gerimis ini menjatuhkan partikel hydrometeornya dengan intensitas lebih sering. Farah harus segera berteduh, ia tidak membawa payung hari ini.


Benar dugaan Farah, hujan turun dengan deras. Ia terpaksa berteduh di halte yang berseberangan dengan gapura perumahannya.


Tinggal sedikit lagi aku menuju rumah. Tadi mengapa aku tidak membawa payung!


Sesal Farah dalam hati.


Farah duduk di kursi halte, ia masih memegang pot bunga yang diberikan oleh Ray.


Ray memang sengaja berteduh di halte itu bersama Farah. Ia suka melihat raut wajah Farah yang sedikit kesal. Di perjalanan tadi ia tidak berbicara dengan Farah, ia hanya melihat punggung Farah yang berjalan di depannya. Ray menikmati waktu yang berharga ini.


Farah mendengus kesal, mengapa Ray juga mengikutinya sampai ke halte ini. ia sudah bersiap dengan semprotan cabainya jika Ray berani macam-macam. Namun Farah hanya melihat Ray diam dan sedikit senyuman terbentuk dari lengkungannya. Farah berharap Ray tidak melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan.


Farah berdiri, ia berjalan menuju pinggir halte. Ia mengulurkan tangannya, menengadahkan tanganya. Menampung air hujan yang turun. Farah memejamkan matanya merasakan air hujan yang beriak di sela-sela tangannya. Ia suka dengan hujan. Dan ia tersenyum.


Ray terpukau dengan perempuan yang berdiri di pinggir halte itu. Ia sangat suka melihat Farah tersenyum. Ia berharap saat ini waktu berhenti, agar dia bisa melihat senyuman itu lebih lama. Bahkan Ray tidak menyangka mengapa perempuan sederhana ini bisa begitu memikat hatinya.


Aku berharap, semoga dia terikat di tulang belikatku.


Ray berdoa dalam hatinya.

__ADS_1


Tiba-tiba petir menyambar, cahayanya membuat keadaan terang seperkian detik. Lalu suara gemuruh menggelegar keras, memekakan telinga. Sepertinya Semesta murka dengan doa yang baru saja dipanjatkan.


Farah menjerit. Hilang senyum yang ia ukir tadi bertukar dengan raut ketakutan. Ray melihat itu semua, ia baru saja memohon kepada sang pemilik semesta. Mengapa senyuman itu pudar lagi. Ray kehilangan momen yang berharga yang seharusnya bukan miliknya.


Farah mengambil pot bunga yang Ray berikan tadi. Ia ingin segera pulang. Farah sudah berdiri di pinggir halte, ia akan melangkah di tengah hujan.


Ray mengetahui Farah akan pergi, ia tahu Farah bisa nekat untuk basah kuyup. Ia memberikan payung yang ia simpan di balik jaketnya. Ray membuka payung itu dan memberikannya pada Farah.


“Aku tahu, kamu ingin segera pulang. Ambil payung ini, agar kamu tidak basah oleh hujan. Aku tidak mau kamu sakit,” ucap Ray saat memberikan payung itu kepada Farah.


Farah memandang Ray.


Bagaimana denganmu?


Ray tersenyum. “Tidak usah mengkhawatirkanku, bawa payung ini.”


Farah mengambilnya, dan langsung berjalan di tengah hujan yang turun. Ia masih memandangi Ray.


Ray hanya tersenyum dan melambaikan tangannya, melihat Farah yang berjalan pergi dari pandangannya. Hari ini Ray merasa senang sekaligus juga merasa pilu. Ia suka dengan lengkungan manis yang diukir Farah dalam raut wajahnya. Namun Ray sedih karena keindahan itu menghilang begitu cepatnya ketika belum mengikat sepenuhnya.


***


Farah berjalan di tengah hujan, beruntung ada manusia baik yang memberinya payung. Ia sudah tidak sabar ingin segera pulang ke rumah. Ia berharap suaminya sudah pulang. Tepat di depan rumah, mobil Ilham tidak ada. Farah kecewa, ia menangis. Farah sangat berharap suaminya pulang hari ini.


Farah masuk kedalam rumah dan meletakkan pot bunga yang di berikan Ray di kamarnya tepat dekat jendela. Farah memandangi pot bunga yang memiliki motif yang unik itu. Farah merasa Ray memiliki banyak cinta dan kasih yang mungkin menjanjikan. Namun Farah yang memiliki suami yang sekarang entah di mana. Farah merasa jatuh sejatuh jatuhnya di lautan yang tidak berdasar. Ia menangis lagi.


Farah mengambil ponselnya, mengetuk layar mencari nama Ilham. Ia mencoba menghubunginya lagi. Masih sama tidak ada jawaban. Farah menangis cukup keras hingga dadanya terasa penuh sesak dengan kecewanya.


Kemudian tangisan Farah terhenti. Ia menatap dengan sorot yang tajam. Ia mengelap pipi yang basah karena air matanya.

__ADS_1


“Aku bukan perempuan yang lemah!” ucap Farah pada dirinya.


“Tidak seharusnya aku menangis seperti ini.” Farah mengelap matanya yang masih berair. “Akan aku buktikan bahwa aku mampu melawan rasa ini!”


***


Ray pulang dengan raut yang muram seperti bulan yang tertutup awan hitam yang pekat. Ia merebahkan diri pada sofa yang lembut seperti beludru. Ia mendongakkan kepalanya menatap langit rumahnya. Ray mengembuskan nafas panjang.


Para pelayan yang melihat Ray langsung membawakan baju ganti. Mereka melihat tuan mudanya pulang dengan dengan pakaian yang basah kuyup lagi. Ray mengganti bajunya. Ia meminta kepada Pak Sudiro agar memanggil juru masak yang mengajarinya untuk membuat roti isi coklat.


Hari sudah akan berganti, Ray dengan tatapan datar menunggu seseorang di dapur. Tak berapa lama juru masak yang mengajarinya membuat roti isi coklat itu datang bersama Pak Sudiro.


“Maaf Tuan Ray, ada apa memanggil saya?” tanya juru masak itu.


Ray menghampirinya. Juru masak itu takut dan semakin menunduk.


“Ajari aku memasak malam ini,” ucap Ray.


Juru masak itu mengangkat kepalanya, ia masih tidak percaya akan permintaan dari tuannya.


“Baik Tuan,” kata juru masak itu.


Ray meminta diajari untuk membuat spaghetti bolognese. Juru masak itu mengangguk, ia mulai mengambil bahan-bahan dari tempat penyimpanan.


Ray melihat dan mendengarkan dengan saksama apa yang juru masak itu katakan. Ia juga membantu mengaduk pasta, dan sekarang ia cukup bisa untuk mengiris bawang bombay. Ia juga cekatan untuk menggunakan piasau, spatula dan alat masak lainnya.


***


Malam sudah larut, Ilham kembali ke hotel tempatnya menginap. Ia merasa letih sudah beberapa hari ini ia mencari keberadaan Anneline. Ia terkadang kesal pada dirinya mengapa Anneline tidak bercerita tentang alasan mengapa dia pergi begitu saja.

__ADS_1


Ilham sudah mengorbankan apapun demi mencari Anneline. Bahkan ia berani memutus kontak dengan siapapun termasuk Farah istrinya. Ia bahkan membiarkan kedainya tanpa pengawasan. Ilham hanya ingin mencari Anneline. Waktunya di Kota Zen ini tinggal empat hari lagi.


__ADS_2