
EPISODE 149: Terima Kasih Tuan Yori
“Saya telah memesan wanita ini!” balas Jun tak kalah garangnya.
“Oh jadi perempuan ini sudah dipesan.” Pria hampir botak itu menendang kursi yang berada di dekatnya. “Dia milikku! Dia harus tidur denganku! Aku telah memesannya jauh sebelum kalian.”
Naresh hanya menatap tajam. “Selesaikan dia, Jun.”
Ucapan dari Naresh tidak begitu keras namun begitu menusuk. Ini adalah perintah untuk Jun. Tanpa disuruh dua kali, Jun langsung menghajar pria hampir botak itu. Tak hanya di situ ia juga menendang keluar pria itu dari rumah ini.
Naresh menolong Sirena, ia membantu perempuan itu untuk duduk di sofa. Jun yang telah menyelesaikan perintah Naresh, sekarang sedang mencari sapu untuk menyingkirkan pecahan keramik yang berserakan di lantai.
Naresh meminta Sirena untuk menunjukkan di mana letak kotak obat. Jari terlunjuk Sirena mengarah ke kamarnya. “Di sana Tuan.”
Naresh langsung berjalan menuju kamar Sirena. Ia menemukan kotak obat di meja riasnya dan langsung mengambilnya untuk mengobati luka yang berada di dahi Sirena.
Dengan penuh kehati-hatian Naresh mengobati kening Sirena. Kening perempuan ini berdarah tapi lukanya tak terlalu dalam. Ia menghentikan darah yang masih memancar.
Sirena tersenyum, sepasang matanya tak lepas dari peragai Naresh yang sangat tampan, begitu yang ada di pikirannya.
“Mengapa kau melihatku seperti itu?” Naresh menangkap sepasang mata yang melihatnya tanpa berkedip.
“Tuan mirip seperti seseorang yang saya sayangi,” jawab Sirena. Matanya perlahan tergenang air. Ia ingin menangis.
Naresh tak menimpali. Ia membalut luka di kening Sirena dan tak butuh waktu lama, kegiatan itu selesai.
Tanpa izin yang terucap Sirena segera memeluk Naresh. Ia menangis sekencang-kencangnya di dada Naresh. Ia meraung memanggil nama Ayah.
Naresh terkesiap dengan tindakan perempuan ini. Jun yang melihat perbuatan tidak sopan itu segera memisahkan Sirena, tapi Naresh mengangkat tangannya memberi isyarat untuk membiarkan Sirena menangis.
“Ayah! Mengapa kau tak kunjung datang! Bawa aku dari tempat terkutuk ini!” Sirena masih meraung, ia tak bisa membendung air matanya.
Naresh tidak membalas pelukan itu. Ia hanya mengelus punggung perempuan itu agar sedikit tenang. Ia yakin sekali kemejanya akan basah karena air mata.
Isakan Sirena perlahan mulai reda. Ia bisa mengendalikan keadaan yang kacau balau dalam hatinya dan melepaskan pelukannya.
“Maaf, Tuan Yori,” katanya sambil mengelap pipinya yang basah. “Anda sangat mirip dengan Ayah saya.”
Naresh tak menjawab. Benar, kemejanya basah.
“Ada apa Tuan Yori datang kemari? Apakah Anda datang untuk membeli saya?” Ada binar harapan yang terpancar jelas di mata Sirena yang habis tergenang, seperti pelangi yang menampakkan diri.
“Iya.” Naresh hanya menjawab singkat.
Senyuman Sirena seketika mengembang. Jawabannya hanya tersusun dari tiga huruf “I-Y-A” namun, ini seperti hadiah yang tak terduga baginya. Lain dengan Sirena, Jun malah mengerutkan keningnya. Ia tak percaya jika tuannya mau membeli perempuan ini.
__ADS_1
“Tapi Tuan? Bagaimana dengan perasaan Nona Kinan?” Jun jelas menentang keputusan ini. Ia kaget bukan main tentang jalan pikiran Tuan Yori.
“Nona Kinan?” Sirena mengulangi nama itu. Ia langsung menoleh ke arah Naresh meminta penjelasan siapa nama perempuan itu. “Apakah dia istri Tuan?”
“Iya. Dia kekasihku,” jawaban Naresh sangat ringan seakan tak perlu menyembunyikan hubungannya ini.
“Oh ... pasti dia sangat cantik.” Sirena terpaksa menarik lengkungan manisnya menampilkan senyuman seolah ia bahagia walaupun di sudut hatinya ada yang remuk.
“Apakah kau ingin pergi dari tempat ini, Sirena?” tanya Naresh.
“Iya! Iya Tuan! Saya sangat ingin keluar dari pekerjaan ini. Tolong beli saya Tuan Yori,” jawab Sirena penuh harapan.
“Aku akan membebaskamu dari tempat ini, dan aku janji kehidupanmu akan jauh lebih baik dari ini. Tapi ... aku meminta syarat yang harus kamu lakukan.”
Kening Jun makin terlipat. Saat ini ia sangat tidak memahami tuannya. Apa yang ingin dilakukan Tuan Yori? Syarat apa yang akan beliau katakan?
“Saya akan melakukan apapun agar terbebas dari tempat ini!” Sirena menerima tawaran Naresh tanpa rasa takut. Hati kecilnya berkata bahwa pria di hadapannya kini adalah malaikat penyelamat kedua dalam hidupnya.
“Besok siang aku akan mengatur pertemuanmu dengan kekasihku, Kinanti. Tugasmu, yakinkan dia bahwa di antara kita tidak ada hubungan. Berikan dia penjelasan tentang foto kita kemarin, bilang padanya bahwa itu hanya cara untuk menjatuhkanku dan meretakkan hubungaku dengan Kinanti. Jika kau berhasil, kau akan terbebas dari pekerjaan ini.” Naresh tersenyum, ia sudah memperhitungkan kemungkinan resiko yang terjadi.
“Apa!” Jun tak percaya dengan ide gila Naresh.
Sirena tampak berpikir dan berusaha berdiskusi dengan hati dan pikirannya.
“Maaf Tuan! Bagaimana bisa Anda berpikiran ....”
“Saya bersedia!” Sirena menjawab mantap hingga memotong perkataan Jun. Ia menerima syarat yang diajukan oleh Naresh.
“Kau memang perempuan yang baik. Pilihanmu sangat tepat, Sirena.” Naresh memberikan tepuk tangan sebagai tanda tawaran ini berhasil. “Besok siang, kau harus datang di taman kota.”
“Baik, Tuan. Terima kasih atas kemurahan hatimu Tuan Yori.” Seperti orang yang punya adab. Sirena bangkit dari tempat duduknya dan membungkuk di hadapan Naresh sebagai tanda terima kasih yang sangat besar.
Naresh bangkit dari duduknya. Ia senang Sirena menerima syaratnya, itu berarti mengembalikan kepercayaan Kinanti padanya. Ia yakin kemungkinan ini akan menghasilkan sesuai keinginannya.
“Sepertinya pembicaraan kita cukup sampai di sini. Terima kasih. Selamat malam, Si-re-na.” Naresh dengan sengaja mengucapkan nama perempuan itu dengan cara mengeja. “Jun, kita harus pulang.”
Jun mengiyakan permintaan tuannya. Ia berjalan mengekor di belakang Naresh.
“Tunggu!” seru Sirena,
Naresh menghentikan langkahnya. Ia membalikan tubuhnya memandang Sirena. “Ada apa?”
“Terima kasih telah membiarkan saya menangis di pelukan Anda, Tuan Yori.” Sirena membungkukkan badannya lagi. “Pelukan Anda sangat hangat dan nyaman seperti pelukan Ayah saya.”
“Iya.” Narsh tersenyum. Ia berjalan keluar dari rumah itu dan menyusuri lagi jalan kecil di gang sempit yang dipenuhi oleh para perempuan dengan baju kurang bahan.
__ADS_1
Sesampainya di mobil, Naresh meminta untuk pulang ke rumah. Ia tahu Jun pasti merasa tidak nyaman dengan syarat yang ia ajukan untuk Sirena, terbukti dia terlihat sangat gelisah sepanjang perjalanan ini.
“Mengapa kau menunjukkan ekspresi itu, Jun?” tanya Naresh
“Apakah Tuan berniat menjadikan Sirena menjadi bagian Keluarga Fernando sama seperti Nona Kinanti?” Jun melempar pertanyaan kepada Tuannya.
“Mengapa kau bisa berpikir seperti itu?” Naresh menoleh, ia melihat pemandangan yang silih berganti dari jendela mobil. “Aku hanya merasa kasihan dengan perempuan itu.”
“Bagaimana Anda bisa berbuat seperti ini? Bagaimana dengan calon istri Tuan? Apakah ini tidak menyakitinya?”
Naresh menghela napas panjang. “Hari ini kau cerewet sekali Jun. Aku yakin Kinanti bisa menolong Sirena. Aku pernah mendengar ceritanya soal sahabatnya yang sangat baik. Dia berani menentang suaminya hanya untuk memperbaiki kehidupan seorang pe-la-cur. Dia menyakinkan suaminya agar bisa melihat sisi kasihan terhadap wanita itu. Aku yakin Kinanti akan melakukan seperti sahabatnya.”
Mata Jun terbelalak. Mana mungkin ada perempuan seperti itu?
“Kau terkejut ya mendengar hal ini?” Naresh bisa menangkap airmuka Jun dari kaca kecil yang terpasang di depan.
“Apakah cara mempertemukan Nona Kinanti dan Sirena adalah cara terbaik, Tuan Yori?” Jun masih berfokus pada jalanan yang lenggang sambil mengemudikan mobil ini.
“Entahlah, yang jelas aku punya firasat baik terhadap hal ini. Hanya firasat.”
Suara denting terdengar dari ponsel Naresh. Ia mengambil dari saku celana dan mengusap layar benda kotak itu. Ia mendapa sebuah pesan peringatan.
“Apa! Tidak mungkin!” Naresh sangat terkejut saat membaca pesan itu. Ia merasa ada yang sakit di bagian dadanya. Sangat sakit.
“Ada apa Tuan? Apakah ada masalah yang serius?”
____________________________
Yuk bantu Author untuk :
- Like/love setelah baca cerita ini
-Tinggalkan jejak di kolom komentar
-Beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar atau DM di Instagram @ilamyharsa
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
__ADS_1