Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 9


__ADS_3

Ilham dengan keterpaksaan harus datang ke rumah Bunda. Kata Bunda ada hal penting yang harus dibicarakan. Bunda tahu semarah-marahnya Ilham, jika Bunda menyuruh Ilham datang, maka Ilham segera datang. Ia tak ingin Bunda kecewa dan dia tidak bisa menolak permintaan Bunda.


“Mengapa malam-malam Bunda memanggilku? Memang tak ada hari esok?!" protes Ilham.


“Bunda hanya ingin segera menyelesaikan tentang perjodohan ini.”


“Aku sudah bilang, bahwa aku belum siap untuk menikah. Lagipula si Farah juga belum tentu siap!”


“Jika Farah siap, berarti kamu harus menerimanya,” tukas Bunda.


“Apakah ini sebuah keharusan?! Apa aku tidak boleh menolak perjodohan ini Bun?”


“Kenapa harus menolak? Bunda memilihkan pendamping yang terbaik untukmu Ilham.”


“Ini namanya pemaksaan Bun!”


“Bunda tidak memaksa, Bunda hanya meminta dan kamu harus menerimanya. Sudah enam tahun berlalu kamu tidak memperkenalkan wanita yang ada di hidupmu kepada Bunda.”


“Itu bukan suatu alasan yang logis untuk menjodohkanku dengan perempuan itu!” suara Ilham tak kalah tegas.


Bunda bersimpuh di lantai. Merendah.


“Bunda mohon, terimalah Farah sebagai pendampingmu Ilham. Bunda tahu bagimana sifatnya.” Terlihat Bunda meneteskan air mata memohon.


Pemandangan itu sungguh memilukan bagi Ilham. Bagaimana tidak, Bunda bersimpuh di hadapannya memohon. Tak tega dalam hati kecil Ilham. Ilham meraih bahu bunda agar bunda berdiri.


“Tidak boleh Bunda bersimpuh seperti ini di hadapan anaknya,” kata Ilham. Hati Ilham melunak.


Sebenarnya Ilham sadar apa yang dikehendak Bunda. Yaitu kebahagiaan Ilham. Sudah lama sekali Ilham tidak memperlihatkan sisi jatuh cinta pada perempuan lain. Lebih banyak berfokus pada pekerjaan yang Ia tekuni saat ini. Mungkin itu yang membuat Bunda menjadi khawatir kepada Ilham.


“Kamu menerima perjodohan ini Ilham?” tanya Bunda sekali lagi.


Ilham menghembuskan nafas panjang. Ia mengangguk. Anggukan yang mahal sekali tanda Ilham bersedia menerima perjodohanya.


Lagipula sejak bunda menyuruh Ilham untuk beristikharah, hanya Farah yang selalu muncul lengkap dengan gaun pengantin beserta hiasanya. Tak bisa digantikan oleh wajah perempuan lain. Itu yang sering membuatnya sedikit kacau.


***


Malam itu Farah tak ada niatan untuk mengerjakan soal-soal tes masuk perguruan tinggi. Ia masih terngiang-ngiang atas perkataan Bunda siang tadi.


Aku berjodoh dengan Ilham? bagaimana mungkin?

__ADS_1


Teringat dulu Farah pernah bertengkar dengan mama karena perjodohan ini. Farah menghembuskan nafas yang berat.


Ya Allah, apa mungkin ini kehendak – Mu? Jika aku menerima perjodohan ini apakah cita-citaku akan terkubur? Bagaimana dengan impianku untuk berkuliah, apakah harus aku buang impian itu? Bagaimana tentang masa mudaku? Apakah aku akan kehilangan moment untuk melakukan hal yang aku sukai? Traveling, bekerja, kuliah, hangout bersama kawan. Apakah harus aku kubur dalam-dalam?


Ungkapan hati Farah yang bergejolak atas pemikirannya.


Farah merebahkan diri di kasur itu. Memandang langit-langit kamar. Memejamkan mata. Apa yang harus Aku lakukan? Hatinya tak tenang.


Kadang Farah berpikir apa sebaiknya ia kabur saja dari rumah ini? Tak mungkin walaupun Farah bisa melakukannya. Ia tidak mau Bunda khawatir setengah mati atau mungkin bisa disebut tak tahu malu sudah diurusi, dipenuhi kebutuhanya oleh Bunda namun dengan mudahnya pergi .


Terdengar suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan Farah. Ternyata Yu Minem.


“Maaf Non. Non Farah dipanggil nyonya di ruang keluarga,” kata Yu Minem.


“Iya Yu,” balas Farah.


Langsung saja Farah memakai hijabnya sebelum keluar dari kamar.


Yu Minem berlalu meninggalkan Farah yang masih berada di kamar.


“Ada apa Bunda memanggilku di jam seperti ini? Aneh! Lebih baik aku segera datang ke ruang keluarga,” guman Farah.


“Akhirnya yang ditunggu sudah datang,” ujar Bunda. Mempersilahkan Farah duduk dekat Bunda.


“Maaf, ada apa Bunda memanggil Farah?” tanya Farah.


“Bunda ingin segera menyelesaikan ini, masalah perjodohan tempo hari. Bagaimana jawaban Farah sekarang?” tanya Bunda dengan nada lembut.


Tentang perjodohan ini. Bagaimana Farah menjawabnya, bahkan ia pun tak tahu harus menjawab apa. Memutuskannya bagaimana. Farah masih bingung. Sesekali Farah melirik Ilham. tatapan Ilham masih sama, tak ada ubahnya.


“Apakah boleh saya mengajukan persyaratan sebelum menerima perjodohan ini Bunda?” tanya Farah.


Bunda dan Ilham mengernyitkan dahi. Menerka-nerka apa persyaratan yang diminta oleh Farah.


“Boleh sayang.” Bunda tersenyum, “Apa persyaratan dari Farah.”


“Bismillah,” kata Farah. Entah dalam keadaan ini, Farah ingin mengajukan persyaratan yang mungkin bisa menjadi solusi terbaik terhadap kedua belah pihak.


“Jika saya menerima perjodohan ini. saya mohon setelah menikah nanti, saya masih diperbolehkan untuk mengejar impian saya, termasuk berkuliah, pergi bersama sahabat-sahabat saya yang tentunya sudah mendapat izin dari suami saya kelak. Dan jika diizinkan saya juga ingin bekerja. Insyaa Allah, meskipun saya mengajukan persyaratan ini, hak dan kewajiban saya terhadap suami tidak berkurang ataupun melalaikannya. Hanya itu Bunda, syarat dari saya,” pinta Farah. Terasa lega hati Farah mengatakan itu semua.


“Bagaimana Ilham? apakah kamu bisa menerima persyaratan dari Farah?” tanya Bunda kepada Ilham.

__ADS_1


“Aku menerima semua persyaratan itu,” jawabnya datar.


Bunda tersenyum, air mukanya terlihat bahagia, “Alhamdulillah Ya Allah, perjodohan ini berjalan sesuai kehendak – Mu.”


Farah mendengar semua itu menunduk, terlihat ada lengkungan manis di wajahnya.


Mama, papa perjodohan ini sudah Farah jalankan. Dengan kata bersedia, aku menerima lelaki yang ada di depanku, kelak dia yang akan menjadi suamiku.


Farah sedikit terisak.


“Tapi ada permintaan dariku Bun,” kata Ilham, dengan sorot mata yang tajam.


“Katakan Nak,” balas Bunda.


“Aku minta tidak ada pesta untuk pernikahanku, hanya akad saja. Bunda tak perlu mengundang sanak saudara jauh, teman-teman Bunda, rekan bisnis Bunda, atau siapapun kecuali mas Damar beserta istrinya, pak Parmin sopir kita beserta istrinya. Dan untukmu Farah, Kamu tidak boleh mengundang sembarang orang, pilihlah yang akan menjadi wali dan saksimu. Hanya itu permintaanku Bunda.”


Sontak saja Bunda dan Farah kaget bukan main terhadap permintaan Ilham.


“Kenapa Ilham? kenapa kamu harus menyembunyikan pernikahanmu, ini seperti pernikahan siri?” geram Bunda tak mengerti mengapa anaknya meminta hal seperti ini.


“Aku tidak menikah siri. Aku akan menikahi perempuan ini secara sah dalam agama dan legal dalam hukum. Tak perlu ada pesta dan tak perlu mengundang banyak orang. Cukup keluarga kita dan keluarga paling dekat dengan calon mempelai wanita,” balas Ilham.


“Tak bisa begitu, pernikahan harus disiarkan tidak ditutup-tutupi!” Bunda tak setuju dengan permintaan Ilham.


“Saya menerimanya Bunda, tidak apa-apa tanpa pesta. Lagipula saya tidak mempunyai sanak saudara dari mama ataupun papa. Saya memilih keluarga Balqis untuk menjadi wali saya,” ujar Farah.


Seketika bunda diam, tak mengerti mengapa putranya meminta seperti ini. Dan Farah menerimanya. Iba sekali bunda mendengar jawaban dari Farah.


“Oke ... masalah perjodohan sudah selesai, segeralah memilih tanggal pernikahannya Bunda, sebelum aku berubah pikiran,” jawab Ilham datar. “Ilham pamit.”


Ilham pergi berlalu meninggalkan rumah bunda dengan perasaan kesal bercampur aduk dengan marah dan sebal. Ilham meluncur dengan mobil hitamnya. Mengendarai bak orang kesetanan. Memacu lebih kencang dari biasanya.


Farah juga pamit ke kamarnya. Sudah tidak ada lagi yang di bicarakan.Farah meninggalkan Bunda yang masih terpaku di sofa ruang keluarga.


***


Farah menutup pintu kamar, menguncinya juga agar tidak ada yang tiba-tiba masuk bergitu saja. Farah menangis. Harusnya ia bahagia seperti perempuan pada umumnya ketika sudah memenukan pelabuhan hatinya.


Farah masih ingat detail bagaimana Ilham menerimanya. Mengapa pernikahanya seperti dirahasiakan, jika dia tak menerima perjodohan ini mengapa tidak menolaknya saja. Dan menikah dengan perempuan pilihanya sendiri.


“Ya Allah, kuatkan hati hamba. Sampaikan pada mama dan papa kalau putrinya akan menikah dengan pria pilihan mereka. Hamba mohon ceritakan yang baik saja pada mama dan papa di sana,” pinta Farah.

__ADS_1


__ADS_2